Pilihan Cinta

Pilihan Cinta
Chapter 25


__ADS_3

Setelah memeriksa kembali ekpresi nyonya Dian dari leptopku, barulahkuaktifkan kembali ponselku untuk mengirim pesan pada wanita itu.


Aku tak mau karna masalah ini tak selesai, ia melakukan sesuatu yang dapat mengganggu acara sakralku esok.Aku harus bisa menekannya dengan kalimat yang pas, agar ia tidak merongrongku kami, setidaknya untuk hari baik itu.


Setelah berfikir keras merangkaikan kata demi kata diAflikasi hijau, dan membacanya berulang kali.Begitu merasa pas, barulah kukirim pesan Chatt pada Nyonya itu.


Ya sejak saat ini,kupastikan memanggil dia nyonya tanpa ada keraguan lagi, karna faktanya aku sudah tahu kalau ia hanya Miss dalam status saja, kenyataannya dia sudah memiliki putri yang selama ini iasembunyikan dari publish. Lalu apakah tuan Jhon tahu faktanya sampai segini? Entahlah.


Andaipun aku tidak memata- matai perempuan itu dengan menggunakan Mini GPS buatanku,toh dia sendiri sudah mengaku memiliki putri dari penuturannya ditelfon, entah sadar atau tidak dia membuka rahasianya itu, aku hanya tersenyum smirk mengingat itu.Memang kadang manusia kalau sudah terobsesi dan ditambahi emosi yang berlebihan, mereka bisa hilang kendali, lupa segalanya, bahkan frivasi yang ia jaga selama ini tak sadar diumbar sendiri.


Tentang siapa putri yang dia maksud tak perlu ditanya lagi,dia adalah yang selama ini merawat bibi Canaku.


Dunia memang sangat sempit ternyata, disaat aku dihadapkan dengan tahap awal Ujian pernikahanku, ternyata semua sumbernya tidak begitu jauh didepan mataku."Hanya Lima Centimeter!" seperti judul film layar lebar yang diperankan oleh Ferdi Nuril dan kawan- kawan.


Belum selesai aku memikirkan mamanya, muncul pula panggilan telfon dilayarku.


Yanna Skypin Calling.


" Cik, Dengan mendecak malas kusambungkan jua telfon.


" Ada apa miss Yana?Bukankah semua biaya pengobatan Almarhumah bibi beserta pesangonmu sudah kutransfer semua?Jadi mau apa lagi?Apa masih kurang nominal konvensasi nya? " Tanya ku beruntun, dengan nada seformal mungkin.Aku sengaja seperti tak terjadi apa- apa, walau tahu ia sempat mengacaukan seisi rumahku beberapa waktu lalu saat mendengar rencana pernikahan dadakanku dengan cinta.


" Rajj...Aku tidak mau membahas itu." Ujarnya.


" Kalau tak ada hubungannya dengan itu, berarti urusan kita sudah selesai" Tegasku sembari memutus telefon.


Tolong angkat lagi telfonnya Rajj...Pliss...Sekali ini saja.


Pesan serupa dari wanita muda itu,bertubi masuk, membuatku cukup kerepotan menghapusinya.

__ADS_1


" Cik.Sedang hitam sepertiku saja susah untuk dilepaskan.Apalagi kalau kulitku kuning Langsat seperti bundaku, dengan gesture tubuh segagah ini, pasti akan lebih banyak lagi perempuan yang merepotkan.Kadang kesempurnaan performance tidak selalu menguntungkan." Keluhku berbicara pada angin yang sudah mulai menggelitik tulang.


Belum habis keluh kesah ku pada sang angin malam,telfonku kembali berdering.


" Sepertinya sipenelfon ini salah mengartikan diamku sebagai pertanda iya.Padahal sebenarnya secara pribadi jika seorang Rajj diam, artinya tidak sama sekali." Aduku masih pada angin yang berhembus dari Ventilasi pintu dan jendela balkon.


" Sepertinya aku harus jawab baik- baik, agar ia tak berniat mengacaukan acaraku esok." Putusku sembari berfikir bagaimana caranya agar wanita ini tidak berharap lagi.


Aku tak mau menjadi pria PHP, apalagibsetelah memutuskan untuk menikahi.Sedang selama ini saja, aku selalu bersikap tegas pada lawan jenis yang tidak berkenaan dihati,termasuk pada gadis ini.Perasan tak pernah sekalipun akumemberi harapan padanya.Tapi tah mengapa ia menaruh harapan juga.Entah bibiku dulu pernah bicara mengenai aku dengannya semasa dalam perawatan dokter itu, aku tak tahu juga.


Akhirnya kuputuskan menyambungkan telfon sekali lagi tanpa mengambil benda itu dari nakas, hanya menyambungkan dan menghidupkan spekernya saja.


" Tolong jangan ganggu waktu istirahatku jika tidak ada yang berarti! Esok adalah hari pentingku,aku tak mau sampai terlambat menyambut pagi. Ini sudah lewat tengah malam." Ucapku langsung keluar dari lubuk hati.


" Rajj...Jangan jadi pria sekejam itu,tidakkah boleh aku meminta bertemu empat mata sekali saja denganmu, sebelum kau menikahi gadis tengil itu."


" Jaga ucapanmu! Kau tak tahu apa- apa dengan dia! Jangan sekali lagi kau menghina calon istri yang sangat kucintai! " Ujarku marah, sampai aku tak sadar menggebrak meja kerja dikamar ku.


" Tutup mulutmu nona! Kau hanya seorang dokter biasa, kau tak berhak menilai hatiku! Kau juga bukan siapa- siapa dihidupku, apa hakmu mengeja perasanku!"Bentakku kasar karna emosiku sudah berada diatas ubun- ubun. Rasanya kepalaku ingin meledak saking panasnya. Hatiku lebih parah lagi.


Hening dari sebrang telfon. Entah ia sakithati dengan Ucapanku, atau berfikir mendendamku, aku tak peduli.


Beberapa menit berikutnya, kembali terdengar


suara ditelfon " Oke Rajj..kalau benar ucapanmu, beri aku waktu bicara empat mata sebelum akad nikahmu." Pintanya kali ini dengan suara lembut.Tapi sekali lagi aku tak tersentuh sedikitpun dengan itu. Aku semakin paham sekarang, kalau masalahku kedepannya akan berat karna wanita ini, apalagi sifatnya tak jauh dari sifat mamanya.


" Akankah ini menjadi duri yang akan menghalang jalanku kedepan." Aku mengucap wajahku dengan kasar. Bayangan tentang Diandra yang bermuka dua kembali mengacaukan fikiranku.Bagaimana bisa wanita itu tetap dipercaya bekerja dikeluarga Smitt sedangkan wanita ini sudah lama menginginkan keretakan antara Cinta dengan papanya.


" Aku merasa tak ada yang perlu kita bicarakan lagi, kalau anda punya undangan pernikahanku datanglah baik- baik bertamu." Putusku kemudian.

__ADS_1


" Tapi Rajj...Aku ingin berbicara sekali saja..."


" Tidak ada pembicaraan lagi, mulai sekarang jangan hubungi nomor ini lagi, karna kurasa aku tak ada hutang sedikitpun padamu.


Andai bibi pernah melakukan kesalahan padamu, tolong maafkan dia. Selamat Malam!"Ucapku sebelum menutup telfon.


" Astaga...Sama calon istri aja sampai lupa." Sesalku Cinta.Biasanya sebagai asisten saja takpernah lupa kukirim pesan singkat sebelum tidur untuknya, ini sudah akan menjadi rekan hidup malah terabaikan.


Mungkin sudah ketiduran ya?Maaf tadi ada gangguan ditelfon, makanya belum sempat ucapin selamat bobok.Semoga bangun dengan pagi yang indah Ya sayang...Bunyi pesan kukirimkan.


Aku tersenyum malu tadinya,mengetikkan kata terakhir Pesan itu, rasanya geli karena baru nyoba.


Hanya ceklis satu.Mungkin dugaanku benar, ia sudah tidur. Sekali lagi timbul sesal dan kesal dihati pada diri sendiri yang sudah hampir melupakan dia hanya karna para pengganggu itu.


" Hahhhh...." Semoga dia tidak merajuk." Ucapku sembari bengusap wajahku kasar.


Detik berikutnya aku melangkah menuju kamar mandi untuk mencuci muka, berharap setelah ini kepalaku dingin dan bisa tidur walau hanya tersisa waktu 4 jam saja sebelum waktu subuh tiba.


**********


Alalrm kalbu mengusik tidur lelapku.Tepat ketika azan subuh sayup- sayup terdengar berkumandang dari Masjid Raya diujung Komplek, kedua kelopak mataku yang berat akhirnya membuka juga.


Setelah nyawaku terkumpul sempurna, akupun duduk. Setelah sejenak merenggangkan otot- otot tubuh bagian atas, aku beringsut menuju pinggiran tempat tidur.


Aku berdiri tegap bermaksud hendak menuju kamar mandi.


" Up...Tunggu! Hatiku teringat kembali pada Cinta. Kucari benda pipih itu terlebih dahulu untuk mengecek pesanku apa sudah dibaca oleh wanitaku.


" Alhamdulillah" Hatiku lega karna ternyata pesanku sudah dibaca, walau tidak ada balasan bagiku tak mengapa.Yang penting aku sudah menunjukkan perhatianku.

__ADS_1


Tentang bagaimana dia menanggapi itu tergantung padanya.


Cepat kutarok benda itu kembali kenakas, tak ingin sampai terlambat menunaikan kewajibanku.Walau sebenarnya aku sudah tanpa sengaja mendahului panggilan hati ketimbang panggilan Illahi, untuk ini aku akan memohon Ampunan padaNya.Semoga yang kulakukan ini belum keterlaluan, dan Tuhanku Maha tahu bahwa hatiku tak bermaksud menduakanNya.


__ADS_2