
Tiga hari berikutnya, tibalah hari yang dijanjikan untuk pertunangan Papa Jhon dengan Nyonya Diandra.Seluruh keluarga sudah berkumpul dirumah bibi Diandra menjelang pukul 20 Malam, kecuali papa mertua, katanya minta ditunggu membereskan sesuatu.
Cukup indah desain interior pesta yang sudah disiapkan sikembar Jonathan dan Jeni.
Saat ini Nyonya Dian juga sudah tampil mempesona berkat polesan seorang MUA selebritis yang sengaja dibooking perempuan dewasa itu untuk acara istimewanya.
Cinta memilih warna Magenta untuk stelan pesta kami.Warna yang senada dengan ungu dan pink ini katanya cocok jadi pilihan untukku yang memiliki kulit hitam manis.Memang benar ternyata makin cerah saja kulitku malam ini.Tentunya lebih cerah hatiku karna bergandengan dengan istri yang kalau memakai apapun semua cocok dengan kulitnya yang putih bercahaya, halus bak sutra. Matanya lebar bening dan indah, bibirnya yang mungil tapi padat berwarna cery.Rambutnya yang hitam panjang.Walau sering tampil dengan gaya tomboy selama ini, ternyata istriku cukup pandai dan berkelas saat tampil feminim dengan berdandan sendiri.
" Kamu sangat cantik sayang...Jadi ngak ridho membawamu ketengah pesta denganbanyaknya pria tampan disini."Ucapku melirik para dokter tampan dan pengusaha muda yang dari tadi curi pandang padanya.
" Aku juga ngak ikhlas kau dipandangi oleh mereka, jadi nyesal buatmu tampil segagah ini tadi." Balasnya mengerucut melihat tidak sedikit wanita muda yang melirikku.
" Kalau begitu cepat- cepat kita punya anak, biar papa membuang surat kontrak itu, setelahnya kita mengukuhkan ikatan kita dengan memperdalam ilmu agama, menutup tubuh kita dengan pakaian muslim sejati, biar ngak ada yang bebas lagi mandangin kita kecuali kita berdua dalam kamar. Gimana? Siap ngak?" Ujarku sembari menyentuh pipi mulusnya yang nampak makin memikat dengan blush on berwarna lembut.
" Siap dong..Yang penting sama- sama kemana saja! Ogah ditinggal lagi kayak kemaren.Eh pulang- pulang disusulin pula sama perempuan tampan." Ujarnya melirik Jinni dan Bro Roni yang sekarang datang kepesta sebagai pasangan baru dijodohin gitu lho😘.
" Kan tampan...Mestinya Rajj yang cemburu, istri berani memuji orang lain tampan, apalagi itu wanita pula." Aku balas mengerucut.
" He...he... Aku suka dengan bodyguard ini Rajj...Apalagi kalau Ia nampak sangat serasi sama Bang Roni yang sedikit gemulai. Semoga mereka berjodoh."bisiknya menatap sekilas Jinni dan Bro Roni.
" Jangan sering- sering diliatin, ntar mereka canggung lho, maklum baru mulai." Sahutku juga dengan berbisik.
Ditengah kami bisik- bisik mesra, papaJhon tiba diapit oleh dua pengusaha senior sebaya dengannya yang juga didampingi oleh istri mereka masing- masing.Satu diantaranya bibi Clara maminya Panitia acara ini.
Nyonya Dian dengan anggun menyambut calon tunangannya itu, sembari tersenyum bangga ia menggandeng papa Jhon yang langsung dilepas oleh konco- konconya memihat wanita itu datang.
" Semoga ini menjadi malam penuh keberuntungan bagimu friendly! " Sorak salah seorang Sohip papa Jhon sebelum mengiringi calon pasangan baru itu menuju pusat acara.
Kulihat papa Jhon tidak membalas dengan ucapan, melainkan beliau mengacungkan jempolnya, membuat wanita yang menggandengnya makin bangga.
__ADS_1
" Ternyata makin kesini, bang Jhon makin sadar kalau akulah perempuan terhebat yang pantas berdampingan dengannya." Ucap bangga sang wanita didalam hatinya. Bibir wanita itu dari tadi tiada hentinya mengulas senyum, hal yang tidak kulihat dimalam pertunangan kami.
Suara pembawa acara mulai menggema menyambut para undangan dan calon pengantin.Tatapan semua tamu tertuju pada satu arah pada pria yang masih gagah diusia senja dengan wanita cantik matang yang nampaknya sudah siap mengikat janji dalam sebuah ikatan pertunangan.
Detak sepatu keduanya seakan bersinergi dengan irama alunan musik lembut pengiring pasangan menuju ketengah.
Suara pembawa acara kembali terdengar mengarahkan pasangan untuk memulai acara tukar cincin.Kulihat papa Jhon menoleh padaku dan menatapku penuh harap.Aku balas tersenyum dan mulai menghubungi seseorang untuk memberikan kejutan yang sudah kusiapkan.
Baru saja telfonku tersambung, dan papa sedang didesak oleh pembawa acara dan undangan untuk segera memulai prosesi lamaran.Ditengah papa Jhon sibuk menarik nafas untuk dapat membuka suara, dan aku barusaja ingin menyampaikan perintah ditelfon, datang sepasang anak manusia buru- buru menembus kerumunan agar sampai dipusat acara.
" Stop!!! " Ucap keras yang wanita.
" Stop!!!" Saking terkejutnya aku juga mengucapkan kata yang sama, yang membuat perhatian undangan jadi kacau.
Dan sontak emsi turut terdiam pula.
" Apa yang kau lakukan disini! Aku tidak mengundangmu! " Hardik nyonya Diandra menatap nyalang dan berang pada wanita muda didepannya yang sudah berani mencoba mengganggu acarapertunangannya yang baru hendak dimulai.
" Anda tidak bisa bertunangan dengan istri orang tuan!"Wanita ini sudah menikah dengan papiku yang sekarang terbaring sakit diMansen kami. Ini surat nikah mereka!" Ujar Wanita itu menunjukkan sepasang surat nikah.
Nyonya Dian berusaha merebut surat itu ingin merobeknya.Tapi tangannya kalah cepat dengan papa Jhon. Papa Jhon langsung memakai kaca matanya dengan elegan membaca nama yang tertulis disurat nikah istri itu.
" Kamu benar nak...Aku tidak akan mungkin dan tidak akan pernah mau memetik bunga dijambangan orang, apalagi khakekat setangkai bunga hanya boleh memiliki satu jambangan!" Tegas papa Jhon menyerahkan surat itu kembali kepada perempuan muda cantik berambut coklat itu. Lalu beralih menatap tajam bibi Diandra.
" Ini tidak benar Bang...Aku tak pernah menikah dengan tua Bangka itu. Ini pasti surat palsu." Rengek nyonya Dian mengikuti langkah papa yang hendak pergi.
" Liam...Jaga istrimu agar tidak disakiti olehmama mertuamu yang lebih kejam dari ibu tiri ini! " Ucap papa Jhon menepuk pundak Liam Cung, sebelum melangkah mendekati istriku.
" Kita pulang sayang...Sepertinya malam ini kau gagal mendapatkan ibu tiri, kalau ngotot pengen punya ibu juga, cari yang jujur dan single." Sindirnya pada sang putri sekalian pada mantan calon tunangannya.
__ADS_1
Tante Dian mengeram kesal, saat wanita itu melangkah ingin menyakiti putrinya, seorang perawat tiba memberikan satu suntikan penenang padanya.
Hadirin kembali heboh dan kacau balau. Cepat aku meminta orangku mengurungkan memutar kejutan kami."Sepertinya kejutan ini lebih menarik dan mudah untuk membatalkan acara ini."Ucapku pada seseorang disebrang telfon yang dapat mendengar kekacauan ini, karna speker panggilan hidup.
" Oke Bos! Berarti ini semua akan kita bawa kemeja hijau saja. Untuk acara tuan besar sepertinya telah ada yang membereskan." Sahut orangku itu.
" Ya, kita fikirkan belakangan! aku sudah membuat banyak salinannya." Ucapku sembari memutus sambungan.
" Tugasku berikutnya membereskan para peliput berita, aku meminta penjaga gerbang menutup gerbang agar para wartawan tak bisa lolos sebelum bicara denganku.
Setelah berbincang dan memberikan kompensasi pada para pengincar berita selama 15 menit, barulah gerbang dibuka. Aku, istriku, papa mertua, peliput berita dan para tamu melangkah meninggalkan pesta gagal itu jelang setengah sebelas malam, tentunya dengan berbagai perasaan yang tak dapat diceritakan satu persatu.
Kuhampiri Yana dan Liam seraya mengulurkan tangan." Selamat pengantin baru Sobat! Semoga langgeng sampai maut memisahkan.Maaf ngak sempat hadir di pernikahan kalian." Ucapku melirik Yana dan Liam bergantian.
" Tidak masalah tuan Rajj..Thank you atas doanya." Sambut Liam berbinar.
Sedang Yana tertunduk, barangkali ia teringat bagaimana ia hampir mengacaukan pernikahanku.
" Thank you Yana...Kita lupakan yang lalu ya, semoga mamimu sembuh dan mulaimenerima hubungan Syahnya dengan papimu dan lambat laut menyadari bahwa kaulah yang berhak memanggilnya mami."Imbuh Cinta meraih dagu Yana.
" Ma...maaf ta..." Ucap gagap Yana ketika tatapan mereka beradu.
" Aku sudah memaafkanmu sejak mendapatkan suamiku, ya kan sayang..." Ucapnya mengerlingku.
" Tentu! Balasku memeluk Cinta kemudian.
Liam juga tak mau kalah, ia membawa wanitanya itu dalam dekapannya.
" Sebaiknya para pengantin baru jangan lama- lama pamer kemesraan dialam terbuka, Kasihan kami yang Jomblo ini!" Sela papa Jhon melirik kami yang sedang senyum- senyum saling remas tangan pasangan resmi masing- masing.
__ADS_1
" Jodoh takkan tertukar, tuan besar tunggu saja yang terbaik, sebentar lagi kejutan baru akan datang pula!" timpal Bro Roni dengan senyum mengembang, yang langsung dapat pelototan dari Jinni.
" Jangan galak- galak Jin! Itu Sohipku Lo!" Ujar Cinta mengingatkan bodyguard barunya.