
Cinta ragu- ragu makan siang bareng pasangan itu,bagiku itu cukup wajar, karna kami hampir mengalami kejadian buruk dimalam pertama karena seorang Yana.
Wanita memang mudah memaafkan tapi sulit untuk melupakan.Aku tak memaksa istriku untuk semudah itu melupakan mantan musuhnya itu, walau sekarang sudah berdamai.
Setelah menjenguk melakukan apa yang menjadi tujuan kami kemansion tuan Scy itu, aku meminta istriku untuk mencari alasan untuk dapat segera pergi dari sana.
Nguuuuah..."Yan aku sedikit ngak enak badan, bawaannya pengen tidur Mulu, apalagi dah siang begini, sory sekali ngak bisa nemanin kalian lunch kali ini." Ujar Istriku memulai aktingnya dengan menguap buatan sembari menutup mulut.
"Iya Yan... Liam...Mf ya, sekarang memang Cinta begitu, terlalu mudah lelah dan butuh banyak istirahat." Imbuhku.
" Baiklah,mau gimana lagi..Padahal sudah kami siapkan lho buat acara sederhana ini." Ucapnya memutar bola mata terlihat memelas.
" Selamat atas dedek bayinya Yan, semoga sehat selalu kalian berdua,ayah.Juga Omanya segera pulih.Aku sudah siapkan hadiah kecil juga buat baby kalian."Ucap Cinta seraya mengirim pesan pada Bro Ujang agar segera mengantar kadonya keruang tamu tuan Scypin.
Hanya dalam waktu dua menit, bro Ujang sudah tiba dengan membawa paperbag yang berisi kado yang tidak kutahu apa isinya.Kalau urusan perkara hadiah, emang kaum perempuan yang paling tahu, aku saja sampai tak tahu kalau istriku sudah menyiapkan semuanya.
" Nih...Mom cantik, semoga senang dengan hadiah dari mommy Cinta." Ujar Istriku bicara cadel, menirukan suara anak kecil.
" Makasih mom Cinta...Sebenarnya mom Yana pengen hadiahnya makan bersama, tapi kalau mom Cinta belum sempat tak apa, makasih untuk in..." Balas Yana dengan wajah berbinar, menirukan cara bicara istriku tapi ini Lebih feminim, menandakan yang bicara seorang anak perempuan.
Aku dan Liam hanya saling pandang dan mengulum senyum melihat tingkah kedua wanita itu.Seolah mereka seperti sepasang balita yang tengah bicara.
" Kita pulang sekarang yuk...Ngak tahan nih ngantuk, pengen dipijitin juga sama bi Sum." Ucap Cinta sembari menggandeng tanganku, setelah puas bicara dengan Yana Ala balita mereka.Aku yang tahu istriku punya banyak akal, tidak menaruh curiga apapun padanya tentang ini, apalagi aku sendiri yang sudah memintanya buat darama agar kami cepat minggat dengan manis dari sini.
Pasangan itu mengantar kami keluar.Sesampai didalam mobil, Bro Ujang yang sudah standbay langsung saja memutar mobil, mobil kemudian meluncur diiringi lambaian tangan dari mereka.
"Huuuuh...Rasanya susah sekali menghindar dari jeratan mantan Fans beratmu itu Rajj..." Keluh Cinta sembari menyandarkan kepalanya dibahuku.
Aku tersenyum geli dengan ucapan berlebihan istriku, lalu tanganku telurur untuk menguasai rambutnya." Susah apanya, kulihat tadi sayangku begitu menikmati permainan mengecoh Yana." Ujarku sembari melabuhkan kecupan dibibirnya yang mengerucut.
__ADS_1
" Ingat, ada yang nganggur disini!" Pekik Bro Ujang dari kursi kemudi, saat sekilas melihat kami sudah saling berbagi Saliva.
Uhuk...Uhuk...Cinta terbatuk hingga tautan bibir kami terlepas." Ganggur apaan, tadi saja kakak catting aku Uda Ujang katanya semalam minta tambah beberapa kali!" Pekik Cinta sekarang membuat malah aku yang terbatuk.
" Sayang...Kalian para wanita sampai bicarain yang begituan digroup Mak rempit kalian?" Tanyaku setelah batukku usai.
He...he...Ngak juga sih, mereka aja kale yang pada curhat padaku, aku sih jadi pendengar setia, penasehat sekalian konsultan cinta Gratis mereka, kalau privasi sang konsultan tetap terjaga kok."Jelas istriku yang membuat bibir bang Ujang yang mendadak jeding.
" Awas kalau protes apalagi meningkah kakak
gara- gara ini! Ntar kuajarin jurus Tolak Jitu mau dianggurin tiga bulan?"Ujar ancamCinta melihat gejala tak baik dari suami sobat barunya itu.
" Ti...Tidak Bos! Jangankan tiga bulan, seminggu saja ditikung tanggal merah rasanya kepala cenat- cenut.Pliss...Ajarin
Kakakmu buat nyenangin bang Ujang saja Dedek Bos sayang..." Rayu Bro Ujang.
"Demi perpipisan lancar,Auman singa diabaikan." Balasnya tersenyum Smirk.
" Demi pelancaran persenian,Jangan sampe segitunya kales.Biasa aja!" Ujarku mengingatkan masih dengan nada sewot.
Cinta tersenyum sembari meremas jemariku, jangan marahi Uda dedek Lo sayang...Nanti dedek marah gimana?Bersedia___" Ujarnya sengaja memotong kalimat.
"Ngak! Siapa yang Sudi demi melancarkan orang, Sawah irigasi sendiri diblokir, tak Sudi!" Tegasku.
Ha...ha...." Sepertinya sekarang suamiku cemburu bahkan pada anginpun Uda Ujang, jadi jangan tersinggung ya kalau ia agak sering naik tensi saat kalian lagi kerja." Ucap Cinta.
"Dan mesti tahan saat dikerjain."Imbuhku mulai melepas selbet Cinta dan menarik istriku itu kedalam dekapanku.
" Sayang...Mau apa..." Pekik tertahan Cinta.
__ADS_1
" Mau makan kamu!Tadikan mau makan siang disano ngak jadi." Ujarku membuat ia melotot.
Sebelum bibirnya protes aku sudah membekapnya dengan hanngat.
" Tenanglah.. Hanya makan yang ini saja." Bisikku begitu selesai mengesap cery manisku.
Bro Ujang tak protes lagi apalagi melirik,bahkan kupingnya sengaja ia pasangi Handset cepat, takut mengalami pencemaran suara.
Setelahnya aku tak mau bertindak lebih,aku hanya memeluk isriku penuh cinta sampai kami tiba dipelataran istana papa mertua.
Setelah mengantar Cinta kerumah, aku dan bro Ujang kembali kekantor. Memiliki Dua kantor cukup membuatku repot diawal- awalnya.Namun setelah menguasai taktik dengan baik aku mulai merasa ringan, apalagi dizaman yang serba digital, semua bisa dijangkau dengan mudah yang penting mengerti dan mampu menguasai tehnologi, tenaga tidak terlalu diporsir lagi, tenaga bisa ditabung untuk urusan perkasuran.
Sungguh rasanya hidupku makin hari makin istimewa saja, karna hampir tiap malam kasurku bergoyang, istriku sangat agresif ditempat tidur,sebanding dengan selera makannya yang meningkat, selarabercintanya kian melunjak, aku sendiri juga tidak menolak, seperti remaja yang baru puber kami banyak melakukan percobaan yang enak- enak.Tanpa terasa tubuh kami berdua semakin hari semakin berisi.Apalagi istriku, lingkar lengan, pinggang dan pipinya kian melebar.
Setiap pagi ia selalu bercermin seperti seorang peragawan." Sayang.. Gagahkan aku dengan tubuh sedikit berotot?" Tanyanya membuat kedua alisku mengernyit.
"Tetap cantik kok sayang, pertambahan daging itu semakin membuat wajahmu bangus.Kata orang Padang tambah Kamek mah!" Ujarku menirukan logat daerah asal bundaku itu.
"Cik, Ngak Asyik! Orang segagah ini kok
dibilang cantik." Protesnya mengerucut.
" Gagah ya? Ujarku memeluknya dari belakang sembari menciumi tengkuknya.
Ia tersenyum puas seraya menarik kedua tanganku dan menyatukan kedua tangan kami." Pagi ini jangan ngantor dulu ya, aku masih mau..." Ujarnya mengecup tanganku.
" Sayang...Semalam kan U___" Ucapanku tertahan karna detik itu juga istriku secepat kilat memutar badan lalu mengesap kuat bibir tebalku.
Tak perlu ditanya apa yang terjadi lagi setelah ini, mana kuat singa ditawarin daging segar, semuanya pasti tak mau. " Maksudnya ngak mau nolak!"
__ADS_1