Pilihan Cinta

Pilihan Cinta
Chapter 47


__ADS_3

Usai mengantar istriku, seperti tujuan semula, aku mendatangi kantor papa mertua.Setelah berbincang empat mata selama hampir satu setengah jam akupun kembali ke kantorku dan fokus membereskan beberapa urusan pengembangan pemasaran pabrik konveksi ku.


Begitu banyak tugas yang mesti kurampungkan bulan ini.Walau untuk memajukan pemasaran usaha peninggalan Daddy bakalan akan lebih mudah dengan dipercayanya diriku sebagai pengelola 9 Distro keluarga Smitt, tapi aku masih juga ingin menambahkan cara mandiri dalam memudahkan produksi kami ketangan konsumen.


" Bagaimana kalau kita memasok barang kepasar Online yang sudah terkenal dan amanah?"Ujar Ujang saat melihatku sibuk didepan komputer, ia datang karna kupanggil melalui intercom.


Aku menghentikan kegiatanku berselancar di keyboard sembari tersenyum kepadanya." Sudah, barusaja beberapa pasar online menyetujui penanganan penjualan produk kita." Ujarku beralih kemimik serius.


" Oh, baguslah nanti kuminta juga ibu dari anak- anak buka lapak pula disosial medianya, temannya didunia Maya lumayan juga, semoga banyak yang berminat dengan pakaian dan aksesories kita setelah dipost olehnya." Ujar Ujang kali ini juga nampak serius.


" Sip dech kalau begitu, dengan begitu otomatis nyonya Ujang bakalan jadi mitra Copry Colection, jika ia berhasil dalam penjualan, ia akan mendapatkan profit pribadi.Kalau tidak mau kalah saing dari nyonye, mesti banyak belajar biar bisa naik jabatan." Ujarku tersenyum menggodanya.


" He...he...Aku bukan dia yang akan merasa bersaing sama istri sendiri.Yang penting kita dapat Rezki untuk masa depan keluarga, darinanapun pintunya yang wajib adalah disyukuri, bukan dicemburui." Sahutnya dengan tergelak.


" Oke lah kalau begitu lapang hati tuan...Tapi ingat kudu berjuang lebih keras ya, karna sebenarnya yang punya kewajiban menafkahi itu adalah kita kaum pria, wanita bekerja hanyalah untuk kesenangan mereka saja, kalau mereka membaginya dengan anak, itu adalah sedekah, bukan kewajiban." Ucapku mengingatkan.


" Ye...ye...Udah kayak Buya Aja Bos ini, rupanya orang beruntung itu dalam satu hari bisa dapat kedudukan berlipat- lipat ya." Sindirnya membuatku tersenyum kecil.


Kumatikan komputerku kemudian, lalu menelfon seseorang." Jo...Aku butuh bantuanmu bisa?" Ucapku pada seseorang disebrang.


" Akhirnya kakak ipar mau juga menelfon mantan rival." Goda suara berat dari sebrang telfon.


" Ini serius Jo, bibi Dian dan papa mertua akan bertunangan akhir Minggu ini, aku diminta mengurus acara, sementara aku ada urusan kedesa dan masih banyak urusan kantor yang mendesak.Kau dan Jeni kan paling jago urusan merayu dan mendesain pesta. Maukah kau menggantikanku sengurus pesta bibi Dian?"


" Cik, malas sekali berurusan dengan mantan Rival mamiku itu demi mantan rival sendiri." Ia masih menanggapi dengan bercanda.


" Jo....


" Ya dech...Aku coba sama Jeni ngebujuk maklam itu besok agar mau kami yang gantiin


kakak ipar ngurus pestanya sama Uncle Jhon,


sebenarnya males juga sih, soalnya orangnya ribet pake buanget. Ngapain sih Uncle pake setuju jadinya diajak serius samatu orang? Ngeselin aja, momku aja mau ngalah dan memilih melupakan uncle, tapi wanita itu ngak ada kapoknya ngarep sampe rambut berwarna atap." Omel panjang Jonatan dengan nada persis Mak- Mak kompleks. Untung sebatas itu yang ia tahu tentang nyonya, kalau tahu kisah yang lainnya bakal lebih panjang dari rel kereta cerepetannya harus kudengar untuk sebuah permintaanku ini saja.


"Bang...Lagi ngomong sama siapa ditelfon sampe esmos lebih tinggi naiknya dari harga BBM?" Sela tanya sebuah suara disebrang telfon.


" Abang Rajj Jen, tolong bantu Anang bekapin tu mulut Abangnya, bang Rajj minta tolong satu aja diomeli sepanjang jalan tol." Selaku mengadu pada gadis disebrang telfon.


" Oke bang Rajj...Permintaannya bakal diusahaain." Balas Jeni, seterusnya hanya aku dan Jeni yang bicara, sedang suara Jonatan sudah tidak terdengar lagi.Entah dengan apa Jeni menutup mulut Abangnya, aku tidak berusaha membayangkan, karna masih banyak yang perlu difikirkan yang lebih penting.


Syukurnya Jeni menyanggupi semua permintaanku, aku tersenyum lega sembari menutup telefon.


" Jadi kapan kita berangkat?" Tanya Bro Ujang yang dari tadi berdiri menunggu.

__ADS_1


" Besok pukul setengah enam pagi, jemput aku kerumah!Untuk sekarang kita pulang saja, karna hari sudah hampir malam." Ucapku menatap sunset dari jendela kaca ruang kerjaku.


" Oke Bos...aku juga perlu membujuk bendaharawati dirumah agar sabar menunggu kalau- kalau kita perlu menginap beberapa hari dikampung itu."Ujarnya mengingatkanku juga kalau aku belum bicara pada Cinta mengenai akan meninggalkannya sehari dua menyelidiki masalah ini didesa.


" Aku juga meski memikirkan kata- kata yang tepat padanya untuk mendapat izin meninggalkan kamar pengantin kami yang masih sangat hangat bro." Sahutku lebay, hanya sekedar menutupi kegundahan ku saat ini.


" Kita pulang sekarang! Titahku meraih sembari menutup jendela.


Iya tidak menjawab lagi, sebagai gantinya ia mengemasi perangkatku dan membawa tas itu dengan menyandangnya. Tanpa bicara naninuneno lagi seperti biasa, bro mengantarku kerumah.


Sudah hampir pukul delapan malam kami tiba dipelataran parkir rumah istana keluarga istriku, setelah magrib dijalan dan ditraktir makan dipinggir jalan sama Bro Ujang. Ia memaksaku menerima tawaran itu, karna katanya sebagai syukuran naik taksi dari sopir taksi jadi SOPRI. Katanya meski sama- sama tak jauh dari tongkat bulat, katanya tongkat bulat yang ini lebih berkelas. Aku tersenyum saja dengan ocehannya sembari menuruti kemauannya.


Kedatangan kami disambut oleh Bro Roni. Dengan sigap pria itu menerima dan membawakan tasku yang dikeluarkan oleh Bro Ujang dari mobil.


" Bawanya keruang baca saja ya Bro! Aku mau langsung keatas tanpa beban kerja." Ujarku yang disambut senyum jenaka Roni.


" Sip Bro Bos!" Balasnya berbinar sembari mengedipkan sebelah matanya pada Bro Ujang.


" Apa papa mertua sudah kembali?" tanyaku mengalihkan perhatian dua pria usil itu.


" Barusan tuan besar bilang, dia ada perjalanan Negara S dengan pesawat pribadi, katanya besok sore kembali." Jelas bro Roni.


" O...Mulutku membulat baru mengetahui papa mertua berangkat sore ini juga keluar negri, walau dekat tetapsaja aku terancam dicemberuti istri nantinya, mengingat sekarang hanya istriku dan para pelayan yang menghuni istana ini.


Ujang kelana menatapku yang terdiam, menghampiriku lebih dekat."Sepertinya aku sudah boleh pulang ya Bos? Soalnya bos keburu mau nyomblos!" Bisik Bro Ujang kemudian melangkah pelan mengintari mobil untuk mencapai kursi pintu kemudi.


" Beginilah kalau jadi bos baik, bawahan berasa teman, hingga berani meledeki tuan sendiri." Batinku seraya melambaikan tanganku pada asisten baruku itu, lalu melangkah menyusuri pelataran parkir menuju pintu utama rumah tanpa menoleh lagi. Kudengar derap sepatu bro Roni mengikuti langkahku dari belakang, tapi sekali lagi aku tak mau menoleh segan terlibat candaan lagi, karna bagiku cukup melelahkan hari ini.


Begitu aku masuk kamar, hatiku mulai merasakan aura dingin dari dalamnya.


Bahkan ucapan salamku dijawab oleh sang bidadari tanpa membalikkan tubuhnya yang terbaring memunggung diatas ranjang.


Aku tersenyum kecil saat tahu istriku sekarang sedang dalam mode cemberut.Bisa jadi karna aku atau karna papa mertua, kami berdua jadi terduga utama sikap dinginnya.


Dengan cepat aku membuka sepatu dan meletakkan dirak, lalu tanpa mengganti pakaian akupun melangkah menuju tempat tidur.


Aku turut berbaring dibelakang punggungnya,


masih dengan memakai dasi. sambil menelusupkan sebelah tanganku kedalam blusnya untuk dapat memeluk pinggang ramping istriku langsung skin to scin.Tanganku merayap sampai keperut ratanya dengan mengusap lembut, lalu semakin turun kebawah yang langsung diblokir setengah jalan oleh tangan kecil dengan kulit putih dan mulus miliknya.


" Kenapa tak boleh sayang?Padahal ia hanya ingin membelai sedikit saja." Bisikku seseksi mungkin dibalik tengkuknya.


Tak ada jawaban selain helaan nafas kasar darinya.

__ADS_1


" Kasihan dia lho, besok tangan hitam ini untuk sementara tidak bisa memanjakannya, karna pemiliknya akan pergi kedesa selama sehari semalam. Apa sayang yakin ia tidak akan merindukannya?" ucapku sembari mengecup tengkuk mulus itu.


" Apa??? Kau akan pergi kedesa mana tanpa minta izin dulu dariku?" Akhirnya istriku bicara.


" Maaf...Ini mendesak sayang, aku mesti melakukan perjalanan ini sebelum papa Jhon dan bibi Dian bertunangan." Ucapku sembari menyentuh lembut bibirnya yang sekarang sudah menghadapku dengan tatapan menantang.


" Kau menyebalkan hari ini! Sama menyebalkan dengan papa!" Serunya menepis tanganku dari cery manis canduku.


" Kalau begitu baiklah, jika pria hitam ini begitu menyebalkan sebaiknya ia pergi saja berkemas, karna istrinya tak suka ditatap atau disentuh lagi."Balasku beringsut ingin turun dari tempat tidur.


Sebelah tanganku dicekal olehnya." Enak saja main pergi, jelakan dulu semuanya padaku tentang rencanamu! " Ujarnya dengan nada memaksa.


Aku luruh juga olehnya, tubuhku bergerak merangkakinya."Pasti akan dijelaskan kok sayang..Tapi sambil jalan ya..."Ucapku mulai menempelkan bibir tebalku dicery manisnya.


Hening..Hanya suara decapan kami yang kemudian mengisi ruangan itu.Dengan perlahan tapi pasti ia membuka dasiku, lalu kemeja yang kupakai, turun dan turun teris. Akupun juga tak mau tinggal diam.Hanya sebentar saja tubuh kami berdua sudah sama- sama polos dibawah selimut dengan nafas sama- sama memburu dan keinginan hanya satu."Saling menyatukan jiwa raga lebih dalam lagi.


" Aku takkan kuat jauh darimu Rajj."Ucapnya ketika kami kembali bergumul didalam bak Bathtup.


" Aku pergi hanya untuk menyelidiki kasus itu sayang...Kalau kita pergi bersama nanti ia curiga." Ucapku sembari menenggelamkan wajahku disalah satu puncuk bukit kembar Cintaku.


" Aughhhh...Rajj...Aku bisa demam tanpa ini." Ucapnya tertunduk malu. Aku berpindah kebibir manis itu, mengesapnya sambil terus memompa dibawah sana.Riak- riak air menjadi saksi bisu kalau kami sama- sama menikmati keindahan ini yang seakan tak pernah bosan dan tak mau melepas satu sama lain.


" I Love You Cin...Ucapku tulus setelah kami mengejang dan mengerang bersama.


Ia tidak menjawab, tapi menjepitku makin kuat dibawah sana.Lalu menghisap leherku.


" Tanda ini kuberikan agar tak ada seorang wanitapun menolehmu disana!"Ujarnya setelah puas menghisap leher dan dadaku seperti Vampir cantik yang haus darah.


" Dihati ini sudah ada tanda yang tak akan hilang sayang..."Bisikku kemudian menggendongnya untuk membersihkan tubuh kami dibawah Shower.


Ia tersenyum sepanjang mandi, sembari menatapku dengan kedua pipi merona, karna aku memandikannya seperti mengurus seorang bayi.


" Siapa yang tidak akan kalah dengan suami seperti ini."Gumamnya yang masih bisa kudengar.


" Hitam- hitam mobil Xenia! Suami hitammu ini pasti setia kok sayang..." Balasku mencium keningnya setelah membalutnya dengan handuk.


" Saatnya Wudhu ya..." Ucapku lagi.


" Oke Supermi!" Ujarnya.


" What???


" Suami super Cintami! " Jawabnya membuat kami berdua terkikik.

__ADS_1


Ho...ho...ho...


Bersambung...


__ADS_2