
Usai memenangkan permainan catur beberapa kali dengan Glen satpam mansionnya. Ditiliknya jam tangannya yang sudah menunjukkan hampir tengah malam. Sebelum memutuskan untuk istirahat, tuan Scypin melangkah pelan menaiki tangga, ingin mengecek kondisi pengantin dadakan.
Senyum tuan Scypin melebar sempurna, tatkala dari dalam kamar pengantin terdengar suara- suara ambigu pengantin baru." Wah...Sepertinya impianku menyatukan mereka tidak butuh waktu yang lama.Bahkan sudah jam segini masih bekerja keras buatkan aku cucu." Gumam tuan Scypin berbalik arah dan turun dengan wajah merah.
" Ada apa tuan?" tanya Zain kepala pelayan.
" Ngak..Besok pasang alat peredam suara dikamar pengantin! " titah Tuan Scypin.
Zainal tersenyum dan mengangguk." Pasti tuan! Tadi karna tak ada yang ingatkan jadi lupa." Sahut Zain
Keduanya lalu beranjak menuju tempat istirahat masing- masing.
Ketika akan menaiki tempat tidurnya, senyum tuan Scypin kembali mengembang." Tidak mau tapi main iya- iyanya nyampe larut malam." Gumamnya teringat sikap Yana dan Liam saat akan dinikahkan."
" Barangkali inilah yang disebut mukjizat Sunnah Rasul ya, sayang sekali aku tidak bisa menjebak wanitaku untuk dinikahi, padahal ia sudah melahirkan seorang putri untukku.Cik, tapi takapalah takdir cintaku begini, walau ingin kuputar waktu untuk merobahnya aku takkan bisa, tapi setidaknya takdir Cinta putri kami semoga dengan pernikahan lebih baik." Harap hati Tuan Scypin antara bahagia dan sendu.
Dua titik bening jatuh dari bola mata berwarna biru milik Tuan Scypin, dibiarkannya
saja butiran itu menggulir sampai jatuh dibantalnya." Kali ini kau jangan bilang ini airmata duka Bana...ini untuk pertama kalinya kau merasakan airmata gembiraku." Ucap lirih Tuan Scypin pada bantal kesayangannya, ia bahkan menepuk bantal itu lembut beberapa kali sebelum memejamkan matanya, bantal yang menjadi saksi bisu selama bertahun- tahun ia menangis sendiri setiap malamnya. Seorang pria tampan dengan fisik yang sempurna hanya bisa mengadu pada bantal dan guling, ketika lelah dengan **** dan minuman sebagai pelampiasan.
Fisik tidak kurang satu apapun, setiap kaum hawa penyuka Bule bakalan klepek- klepek melihat senyum tuan Scypin, tiada yang akan mengira kalau senyum itu hanyalah penutup luka dalam didasar hatinya, ketika mencintai dan memiliki, tapi tidak mampumengesahkan kepemilikannya.Ya, ia hanya sekedar menopang diladang orang menggarap semau hati tapi tak boleh membuat akta, sekarang bahkan ladang itu sendiri menolak ditanami lagi, katanya akan dikembalikan pada pemilik syah,entah kapan pula ladang itu resmi dikuasai oleh orang lain, hanya Tuhan yang tahu, karna yang tuan Scypin dengar pemilik segel tak suka pula dengan ladang bekas garapan dirinya.
__ADS_1
__________________________
" Seumur hidup takkan Sudi aku menikahi dia, bahkan dalam mimpipun aku tak mau.Usiaku sudah 60, andai aku masih diberi jodoh, aku mau perempuan Sholeha, teman pergi jamaah disubuh hari, kawan mengaji dimalam
hari, bukan perempuan yang masih suka memakai baju kurang bahan diusia senja.Tapi aku tak habis fikir mengapa putriku mau membuat kesepakatan dengan dia, perempuan yang bahkan berani tidak mengakui darah daging sendiri demi reputasi dan ambisi, bagaimana ia akan menerima anak dan cucu dari darah daging orang lain.
Tidak Mia! Tolong bantu suamimu ini gimana menghindar dari perempuan itu, aku masih ingat kau memintaku dulu mencari teman untuk menggantikan mu mengurusku dihari tua, dan jadi ibu bagi putri kita, tapi aku tahu bukan tipe perempuan itu yang kau maksud, makanya selama ini aku berjuang keras menghindarinya, tapi justru sekarang putri kita yang menjebakku, entah dimana fikiran Cinta ketika menerima permintaan wanita itu, padahal selama ini aku tahu, Cintaku tak pernah menyukai bibinya itu.
" Aghaaaaaaah!!! " Pekik tuan Jhon marah diruang kebugaran keluarganya sembari terus memukul- mukul bantal tinju.
Pria matang itu sangat marah saat ini, tapi ia tidak punya pelampiasan kekesalannya, sehingga Samsat inilah yang jadi sasaran.
" Ujian kehidupan takkan pernah berhenti selagi kita masih bernyawa pa...Sepertinya Cinta membaik, justru ini pulalah ujian baru untuk kita." Ucapku yang juga susah tidur malam ini. Setelah memijit dan mengeroki istriku yang akhirnya ketiduran karna keenakan, aku bermaksud ingin membakar kalori dengan berlari ditreadmill, karna sepertinya malam ini kegiatan berbagi keringat dengan istri bakalan free. Mendengar
" Kau tidak membuatkan cucu untuk papa malam ini? apa kau lupa perjanjian kita? Satu tahun Rajj, waktumu satu tahun! Jika kau gagal papa kamu tahu akibatnya?" Bukannya mendengarkan ku papa Jhon malah mengingatkanku.
Aku tersenyum pahit, entah karna tingkat stres yang terlalu tinggi atau memang beginilah sifat kebanyakan orang kaya,aku tak cukup faham, tapi aku ambil yang pertama saja, karna aku memang tak suka memilih yang terjelek dari fikiranku sendiri tentang seseorang, bahkan itu musuh sendiri, apalagi ini mertuaku. Aku kembali tersenyum, kali
ini kucoba sebaik yang kubisa, setelah menghirup udara beberapa kali akupun mulai melangkah menuju treadmill, sebelum mulai lari kupandangi papa mertua yang tubuhnya sudah bermandikan keringat akibat aktifitas fisik yang ia lakukan pertengahan malam ini.
" Aku akan berusaha semaksimal mungkin pa, untuk hasil tetap bergantung pada sang pencipta." Ujarku bukannya sok- sok Alim, tapi
__ADS_1
menang begitulah yang ada dihati dan fikiranku.
" Baguslah! Kuharap kau juga bisa membantu papa mengatasi perempuan itu, karna kau tahu kalau aku sebenarnya tidak ingin menggantikan Samia.
Deg.
Tiba- tiba laju degup jantungku makin kencang, walau belum seberapa aku berlari." Banyak sekali tugasku disini, apa ini masih tugas yang wajar?Dihadapkan pada wanita lagi rasanya sulit, kalau berhubungan dengan pria sepertiku dengan otot, aku takkan menolak, tapi mengurusi wanita rasanya tidak bisa disebut mudah.Tapi demi kebaikan istriku, aku sudah mulai dengan penyelidikan rahasia, tapi sekali lagi aku takkan semudah itu membeberkan pada ayah mertua. Biarlah hanya aku yang tahu, setelah jelas hasilnya, barulah aku memberitahu.
" Ya pa...Papa tunangan saja dulu sesuai keinginannya, dan berusaha terus menghindar diajak nikah sebelum papa yakin tentang bibi itu." Ucapku hati- hati.
" Aku selamanya takkan pernah yakin padanya, aku mau melakukan ini karna ia mengancam akan membeberkan perihal karakter Cintami jika aku tidak mau menjalin hubungan serius dengannya." Ujar papa Jhon terlihat sangat tak berdaya.
" Kalau begitu kita berusaha sama- sama pa, sambil jangan lupa berdoa agar nyonya itu diberi kesadaran untuk kembali pada keluarganya yang sebenarnya."Ucapku
seraya turun dari treadmill untuk mendekati papa Jhon.
" Jadi kamu sudah tahu tentang itu Rajj?"
" Sedikit ada pa, karna aku menyelidiki kericuhan dihari pernikahan kami, kukira nyonya itu penyebabnya, tapi ternyata aku menemukan fakta lain."Jelasku masih tidak terlalu gamblang.
" Apapun yang sudah kau ketahui, semoga tidak berhenti sampai disitu Rajj, karna aku nengandalkanmu sekarang sebagai menantu, anak dan juga rekan."Balas Papa Jhon
__ADS_1
seraya menatapku penuh harapan.
Melihat seorang yang selama ini berkuasa begitu terlihat lemah karna berhubungan dengan kaum perempuan, aku hanya bisa membalas dengan mengangguk, sulit sekali memberi berkomentar, karna akupun tidak punya ilmu atau berpengalaman baik apalagi menghadapi kaum hawa.