
Subuh berlalu begitu lambat terasa olehku. Baru pukul setengah enam aku sudah berdiri didepan wall in closed untuk mengganti pakaian. Stelan tekwondo hitam yang diberikan kemaren oleh Cintami kukeluarkan dari kotaknya. Persis anak- anak yang taksabar untuk mencoba baju lebarannya dipagi hari raya, aku segera memakai pakaian itu. Senyuman tak pernah lekang menghias bibirku.
" Sesenang ini kiranya rasanya.Pantas ada lagu dari daerah bundaku yang mengatakan kalau menjelang bersanding dua hati pasangan akan berbunga- bunga.
Cukup lama kupandangi wajah dan seluruh tubuhku dipantulan cermin hias sepanjang badan peninggalan bunda. " Ternya kau lumayan mempesona Rajj." Gumamku sembari tersenyum smirk.
Kukira kulitku takkan cocok dengan warna tekwondo ini, tapi ternyata justru terlihat sangat tampan dan macho.Kali ini kuakui kalau aku tak kalah mempesona dengan aktor laga dari negri asal Daddyku.
Setelah merasa tak ada yang kurang, akupun bermaksud keluar. Baru saja aku mau membuka pintu, sudah terdengar suara ketukan dari sana." Rajj...Boleh Pakde masuk?"
Tanpa menjawab kubuka pintu. Sejenak pria paruh baya didepanku memandangiku lekat dari atas sampai kebawah." Mhem..Pakde seperti sedang berjumpa Idola! " Soraknya girang.
" Idola dari mananya, pakde jangan berlebihan Ahh! "
Ia menatapku sekali lagi dengan tatapan takjub." Benar lho Rajj, pakde sampe pangling! Untung pakde ngak punya anak perempuan!"Ujarnya.
" Kalau pakde punya, emang mau apa?" tantangku tak mau hanya sekedar dapat rayuan gombal.
" Kalau ada tentu nak Cinta bakalan dapat saingan lain, karna pakde pasti kukuh lebih memilih menjadikanmu menantu ketimbang putra." Sahutnya terlihat serius dan meyakinkan.
" Pakde yang mau, kalau anaknya tak suka ngak ISO juga kan?"
" Kalau anak gadisnya dijamin lebih duluan jatuh cinta! " Ucapnya penuh keyakinan.
" Kalau begitu boleh minta peluk ngak pakde.."
Kulihat ia menatapku heran, namun detik berikutnya kedua tangannya mengembang." Tentu boleh nak, pakde merasa terhormat dan sangat bahagia kalau Rajj mau menjadikan orang tua biasa seperti kami sebagai sandaran." Ucapnya sembari menepuk- nepuk
punggungku.
Kemudian wajah tua itu mendongak untuk dapat menatapku, itu karna tinggi tubuh pakde hanya sebatas pangkal leherku." Rajj kenapa sedih? barusan terlihat senang?Tanyanya sembari mengusap butir beningku yang keluar tanpa permisi.
" Ngak pakde! Rajj hanya teringat saja pada mereka yang telah tiada." Ucapku pilu.
" Ya nak! Takkan ada yang bisa menggantikan mereka dihatimu sayang.." Ujarnya kemudian.
" Menggantikan takkan ada pakde, tapi pakde dan bibi bisa berdiri disisi lain relung hati Rajj."
" Bibi dan pakde tak berharap banyak nak..Kami sudah cukup tua dan tidak punya pewaris, diakui sebagai orangtua olehmu disisa hidup kami ini sudah merupakan kebahagiaan yang tak ternilai." Timpal bibi yang baru naik.
" Sini kalian berdua.." Ucapku sembari mengembangkan kedua tanganku.
Keduanya dengan sukarela menghambur kedalam dekapanku.
" Dalam pelukan pria besar ini, kita tak ubahnya pasangan sicebol dalam genggaman raksasa." Ujar sarkas pakde yang akhirnya buatku tergelak.
" Pakde ini paling suka merubah haru dari seru! " Tanganku setelah mengurai pelukan.
__ADS_1
" Soalnya memang ini hari bahagiamu! Pakde dan bibi tak mau ada airmata lagi setelah ini." Ujar bibi sembari berjinjit merapikan stelanku.
" Masak raksasa tampan pake menangis dihari pernikahannya." Ujar pakde kembali buka suara.
" Entahlah pakde..Doakan saja ini menjadi awal kebahagian kita." Sahutku tersenyum pahit. Entah mengapa hatiku merasa masih merasa takut menyandang statusku kedepan sebagai suami putri milyarder.Tiba- tiba ucapan Yana kembali terngiang di telingaku.
" Tidak! Rajj akan buktikan pada dunia kalau bukan harta dan kecantikannya yang membuat Rajj menerima pernikahan ini." Ujarku yang membuat kedua orang tuaku terkejut.
" Ada apa to nak???"
" Ngak apa- apa bi...Apa bibi sama pakde akan
membiarkan anak kalian berangkat sebelum sarapan?" Tanyaku mengalihkan perhatian mereka.
" Tentu tidak! Itulah maka bibi menyusul kesini, tadi maksudnya mau manggil sarapan.Eh jadinya sayang- sayangan.He...he...
Ha..ha...Aku dan pakde turut terbahak melihat ekspresi wajah saat tertawa. Kamipun turun kebawah untuk sarapan bersama.
Diruang tengah ternyata mang Udin sudah stanbay untuk berangkat keacara." Kita sarapan bersama dulu dirumah ini mang." Ajakku seraya menepuk lembut pundak mamang.
" Siap Bos!" Balasnya berbinar.
***********
Rombongan kami tiba diMasjid raya tepat pukul 08 pagi.Sejenak kuarahkan pandangan pada mobil yang berjejer memenuhi pelataran
Mamang turun dari pintu kemudi, kemudian membukakan pintu untukku, seperti tahu kedua kakiku tidak Sekokoh biasanya, sopir pribadiku itu membimbingku keluar.
Pakde dan bibipun keluar dari pintu depan.
Mereka bergegas menggantikan mamang untuk mendampingiku.
" Rajj...Ayo langsung masuk saja, penghulunya sudah menunggu!" Panggil Tuan Jhon sengaja keluar untuk menyambutku.
Aku hanya sanggup membalas dengan anggukan saja.
" Ayo nak..." Ujar bibi membuyarkan lamunanku.Masih dengan perasaan campur aduk aku melangkah dengan dipegangi kedua orangtua angkatku ini. Sekali lagi aku bersyukur ada mereka.Langkahku yang terasa
awalnya goyah sekarang perlahan makin kokoh. Apalagi ketika sudah tiba didalam bangunan ibadah ini. Adem rasanya.
Disambut tatapan mata indah bidadari yang duduk disana membuat debaran jantungku makin berirama,namun tak lagi membuat kedua kakiku lemas.
Seakan ada magnet yang menarik tubuh Hinga langkahku semakin terayun cepat, agar segera bisa duduk disisinya. Tatapan orang- orang dan seru pujian dari mereka tak ada yang lebih menarik dari sepasang bibir indah yang sudah berhias sempurna itu." Awas kau berani menatapku tanpa senyuman begitu cinta! Nanti akan kuhabisi sepasang cery mayunmu itu! " Ancamku dalam hati setelah duduk disisinya sembari menatapnya lekat.
Lama kami saling tatap dalam diam, mungkin hati kami saja yang saling bicara.Aku mencoba tersenyum padanya semanis mungkin, tapi bibir itu enggan membalasnya.
" Apa wajahku memang seperti wajah raksasa yang mengerikan hingga ni calon istri
__ADS_1
alergi?" Batinku melihat pipi pengantinku yang memerah dan akhirnya ia memilih menunduk.
" Tuan Rajj...Apa sudah puas memandangi calon istri?" Tanya pak penghulu membuat hadirin tergelak. Aku tersintak dan tertunduk malu.
" Stop! " Ujar pak penghulu membungkam mulut hadirin, padahal ia juga yang memulai kericuhan kecil ini.
" Akad akan segera dimulai.Apa tuan Rajj
Rajj sudah siap?" Tanyanya setelah suasana kembali hening.
" Mhem...Insya Allah siap pak." Jawabku setelah berhasil menetralisir buncahan didadaku.
Semua saksi mendekat.Pak penghulu mengulurkan tangannya padaku." Tuan Jhon mewakilkan perwalian nikah putrinya padaku." Jelasnya melihat aku menilik calon mertuaku.
Aku mengangguk dan menjabat tangan penghulu yang menjabat sebagai kepala KUA setempat ini.
Akad berlangsung dengan lancar.Hanya dalam satu tarikan nafas aku berhasil menerima Cintami Putri Jhon Smitt menjadi pendamping hidupku.
" Syah!!!Seruan para saksi membuat semua yang hadir mengucap syukur. Lantunan doa dipandu oleh imam masjid menutup acara ijab qobul.
Semua menegadah dan mengangkat kedua tangan, serta mengaminkan doa itu.
" Alhamdulillah...Sekarang wanita disisimu sudah halal kau pandangi Tuan Rajj! " Seru pak penghulu begitu acara doa berakhir.
Aku tersenyum dalam paduan aneka rasa yang membuncah dada sembari menatap lekat bidadariku dari samping.
" Cium dong...Biar ngak mayun lagi." Ujar seorang pria muda membuat wajah cantik itu tersintak kaget.
" Ya...Salam suami baru yang lain nak Cinta! " Sekarang pak penghulu terdengar seperti memerintah.
Cinta masih menunduk saat menggeser duduknya menghadapku dan mengulurkan tangannya.
Kusambut tangan itu sembari meremasnya. Kulihat bibir indah itu bergetar sebelum ia menganggap tanganku untuk menciumnya.
Aku balas mencium keningnya." Kufikir hanya aku saja yang gugup, rupanya sang pencuri hati ini bisa juga ya." Bisikku yang membuat ia
melayangkan cubitan kecil dipinggangku.
" Lumayan sakit..Tapi nanti saja kubalas ya sayang..." Godaku masih dengan berbisik.
Ia akhirnya tersenyum dengan pipi yang semakin merona. Tanpa sadar kusentuh lembut bibir itu dengan tekunjukku.
" So Weet..." Sorak Jonatan yang disambut tepuk tangan semua.
Kami berdua tersenyum sungkan, lalu aku mendampinginya untuk sungkeman.
Sekali lagi aku bersyukur tak ada gangguan sampai akhir acara. Entah karna sudah sadar atau ada rencana baru dari mereka, aku tak sempat memikirkan itu untuk saat ini.
__ADS_1