
Sepanjang perjalanan pulang dari pesta pertunangan tak jadi itu, tiada hentinya kupandangi istriku yang terlihat seperti orang yang sedang menyembunyikan senyumnya.
Kutahu selama ini ia cukup tertekan dengan ancaman nyonya Dian yang memaksanya meminta sang papa untuk mau menjalin hubungan serius dengan wanita itu.Mungkin berasa bebas merdeka dari intimidasi, makanya istriku terlihat sangat bahagia.
" Kalau senang, senyum yang lebar atau tertawa yang keras saja sayang..Disini hanya kita berempat."Bisikku menggodanya,hingga akhirnya ia tak bisa menahan lagi, sekonyong- konyong senyum kemerdekaannya mengembang dari bibirnya yang manis sampai memperlihatkan barisan gigi putih bersih dan rapat miliknya. Sekarang aku yang mesti menahan nafas untuk menahan diri agar tidak tergoda untuk mengecap cery manis itu serta melabuhkan Indra perasaku untuk mengabsen gigi putih bersih yang selalu dibersihkan dan dirawat oleh empunya setiap 3 kali sehari.
" Ya Tuhan...Semoga cepat sampai dirumah." Gumamku lirih namun masih bisa didengar olehnya.
" Kenapa?Ngantuk ya?" tanyanya pura- pura tak faham keinginanku.Lalu dengan manjanya ia bergelayut dipundakku.
" Aku saja yang numpang bobok ya Rajj..." Godanya dengan meniup daun telingaku.
" Ini istri kok centilnya bukan kepalang kalau merasa punya peluang Ya. Kayak ngak tahu aja suami lagi berusaha keras untuk jaga diri agar tidak melakukan tindakan ekstreem yang nanti bakalan mencemari pandangan calon pasangan yang baru mau jadian."Gurutuku dalam hati. Agar tak gagal fokus menjaga benteng pertahanan ku segera kupencet hidung mancungnya dengan gemas.
" Jangan membuat suamimu melanggar kode etik berkendara bersama ya sayang." Ujarku menatapnya sekilas.
Ha...ha...Dua manusia yang tadinya diam sekarang tertawa saling lirik malu- malu tanpa sengaja melepaskan tawa mereka.
"Tawa mereka membuktikan kalau mereka sudah siap nonton Vidio live sebagai pembekalan kok sayang."
" Apa??? Tidak!! Tidak!!! " Pekik Jinni menggeleng kasar.
" Mana boleh, orang kami masih dibawah umur." Imbuh bro Roni sekarang ganti kami yang terbahak.
" Bawah umur 40! " Ujar Cinta mulai mencium pipiku dan menjilatinya.
" Jangan nona..." Jinni yang biasa tegas sekarang merengek memelas.
" He...he...Sory! Cuma cuplikan saja kok." Ucapku bergeser duduk agar istri tidak terlalu mepet padaku.
" Tenang sayang...Aku dan suamiku memiliki kadar kesopanan diatas rata- rata kok.
Tidak akan tega kami menyakiti mata kalian, kecuali bila__" Ujarnya sengaja menjeda kalimat, agar kedua insan itu penasaran.
__ADS_1
" Kecuali Apa??? " tanya keduanya nyaris bersamaan.
" Kecuali jika kalian secepatnya menikah." Imbuh Cinta melirik centil keduanya ganti berganti.
" Kan baru kenal tiga hari." Keduanya tak sadar kembali mengucapkan kalimat yang sama.
" Walau tiga hari tingkat chemistry yang kulihat seperti sudah tiga tahun bersama." tambah Cintami membuat keduanya terdiam.
Satu jam saja kutelah bisa.
Cintai kamu dihatiku.
Namun bagiku melupakanmu
Butuh waktuku seumur hidup
OOO...
Untuk mendukung istri aku langsung menyanyikan Ref lagu ST 12 yang diikuti oleh istriku dengan cukup antusias.
Kulihat sekarang wajah Bro Roni berubah tak secerah tadinya.
" Ya ngak boleh lah!" Sekarang istriku pasang wajah masam, walau bagiku itu tidak berhasil, karna dimataku hanya keindahannya yang terlihat.
" Kenapa emangnya? tuan besar pasti tak seusil kalian." Ujar Jinni menatap nyalang mobil didepan.
" Aku dan bang Roni ngak setuju!" Sorak Cinta.
" Nona muda aja ya,jangan bawa nama saya." Sela Bro Roni yang hatinya terlihat jelas mengecil sejak Jinni mengatakan lebih baik nebeng dimobil papa.Pria ini tidak pandai sekali menyembunyikan kecemburuannya.
Cinta tersenyum smirk.
"Aku masih belum move on dari calon ibu tiri yang tadi, Mana Sudi aku punya calon lagi, apalagi semuda Jinni." Ucapnya menatap Jinni tajam, disini mimiknya dibuat seserius mungkin.
__ADS_1
Jinni geleng- geleng kepala, sedang aku menatap Bro Roni yang berusaha fokus pada kemudi, sedang aku tahu dada pria yang masih singgel diusia kepala tiga itu berkecamuk.
" Istriku pengennya Jinni jadi kakak ipar." bukan begitu sayang..." Ucapku mengamankan suasana.
" Tentu! Aku ingin melihat abangku yang tampan ini ngak Jodi lagi, aku ingin hatinya berbunga kembali."
" Jodi? Sejak kapan?" Akhirnya Jinni terpancing untuk mengorek informasi tentang pria tampan dibelakang kemudi.
" Kau tak perlu bertanya kapan dan bagaimana masa pahit abangku itu dia lewati Jin! Tugasmu adalah membantunya bangkit, karna sekarang kulihat ia sudah jatuh cinta padamu.Jangan tambah luka baru dihatinya." Ucap Cinta istriku melirik Bro Roni sekilaslalu menatap Jinni menelisik.
" Bisa kan?" Desak Cinta tembak 12 pas pada bodyguard barunya itu.
Aku dan Bro Roni dag Dig dung karnanya, gimana bisa wanitaku seagresif ini menjodohkan kepada kepala pelayan yang sudah dianggap saudara itu.
Mengejutkan Jenni malah mengangguk pada Cinta."Aku akan belajar dulu jadi pengawal yang menyenangkan, baru jadi kakak ipar yang baik, kalau yang bersangkutan memberi kesempatan.Dan semua tenanglah,aku tak pernah bermimpi punya anak tiri apalagi sebesar dan secantik Cintami." Kalau bisa jangan sampai, karna aku sudah bersusah payah menjaga kecucian diriku sejak bayi , masak seorang duda Alah Beranak Gadang yang dapatkan.Ngak adil dong..."Urai panjang kali lebar plus lebai seorang Jinni sembari menatap sekilas Bro Ronni yang sekarang malah tersenyum malu bercampur geli karnanya.
Kami semua juga tak kuasa menahan tawa, karna sibuk membicarakan rencana untuk hubungan baru, sampai- sampai kami melupakan kejadian barusan.Hungga kami tiba dirumah, tidak satupun yang mempertanyakan bagaimana bisa Yanna datang dengan membawa surat nikah asli antara mami dan papinya padahal seminggu yang lalu status keduanya masih tidak jelas.
Begitu sampai dikamar kami membersihkan diri dan bersiap untuk sholat sunah menjelang tidur tanpa banyak bicara.
Setelah itu kami menuju peraduan, ia menarik selimut sampai pinggang kami, lalu menatapku dengan mendongak."Bagaimana cara Yana mendapatkan surat nikah mami dan papinya dalam satu Minggu ya Rajj?"
Kubalas tatapannya dengan lembut, lalu membelai dan mengecupi puncuk kepalanya.
" Suaminya yang mengurus semua itu untuk membuktikan kesungguhan hatinya pada Yana. Kalau ingin tahu ceritanya, tidurlah dulu, karna kulihat matamu begitu berat, esok saat kita terjaga dipagi hari, akan kuputar rekaman yang dikirim oleh Liam Cung beberapa setengah jam yang lalu."Ucapku lalu beralih mengecup pelipis halusnya.
" Bagaimana ia mau kirim padamu Rajj? Bukankah itu rahasia keluarganya.
" Jangan lupa kalau suamimu ini mantan tukang kepo sayang.Bagaimana bisa aku diam saja setelah dibantu kejutan seindah tadi.Aku langsung mengucapkan terima kasih
pada mereka dan minta konfirmasi, eh untung
sekali dapat bonus dikirim rekaman barusan. Besok saja kita putar ya.Tadi barusan kulihat sekilas.Rasanya ngak asyik dinikmati sedang ngantuk gini, mending esok aja biar lebih nontonnya lebih fokus." Bujukku sembari membelai surai hitamnya.
__ADS_1
Huuaaaahp....Cinta menguap dengan menutup mulutnya.
" Tu kan ngantuk bangat." Ujarku yang diangguki olehnya sembari mulai memejamkan mata.