Pilihan Cinta

Pilihan Cinta
Chapter 20


__ADS_3

Kususul tuan Jhon untuk membayar hutang penjelasan dengan apa yang sudah tuan itu lihat antara aku dan Cintami.


Seperti tahu aku akan menyusulnya, tuan Jhon mengirim chatt padaku.


" Aku di restoran depan Cintami Centro Company " Bunyi pesan darinya.


" Aku datang dalam 10 menit tuan..." Tulis balasku.


Siapa yang tidak gugup akan menghadap calon mertua yang sekaligus mantan Bos, apalagi setelah kepergok mencicipi putri semata wayangnya. Meski itu baru tahap bertukar Saliva.


Kantor pusat C3 berada sekitar 500 meter dari Rumah sakit. Aku kesana dengan mengendarai motor Metic yang kupinjam dari Jono putranya pakde Joko yang bekerja sebagai kepala OB dirumah sakit ini.


Akhirnya aku tiba didepan pintu ruang VIV sesuai menit yang kujanjikan.Kulihat tuan Jhon duduk manis dikursi seraya mengetuk- ngetuk lembut meja didepannya. Begitu netranya menangkap sosokku sudah hadir didepannya, iapun tersenyum.


" Inilah mungkin yang membuat Cintaku memilihmu Rajj, kau pria yang tenang tapi tepat waktu!" Ucap tuan Jhon sembari menatap jam tangan Dual Time miliknya.


Aku mendegup untuk menetralisir detak jantungku.Kubalas senyumnya seraya menatapnya seteduh mungkin.


" Sekali lagi maaf tuan...Tadi aku hanya bermaksud menenangkannya yang memaksa ingin cabut infusnya." Ucapku membuka percakapan.


" Mhem..." Duduk dan makan dulu, baru kita bicara." Balasnya seraya berdiri dan menarik kursi untuk kutempati.


Aku duduk setelah mengatur letak kursi senyaman mungkin menghadapnya. Meja bundar gede uniq dan klasik menjadi sekat antara badanku dengan tubuh duda matang yang ternyata masih banyak diincar oleh para cewek matre ini.


Selang beberapa menit kami diam dan saling psndang dalam duga dan fikiran masing- masing.


" Makanannya sudah datang! " Seru tuan Jhon


membuatku spontan menoleh kearah pintu.

__ADS_1


Seorang waitress manis mendorong troli makanan menuju meja kami. Hanya dalam beberapa detik tangan cekatan pelayan itu sudah selesai menata makanan dimeja.


" Silahkan dicicipi tuan- tuan..." Ucap pelayan itu mengerling nakal aku dan tuan Jhon bergantian, sangat tidak konsisten dengan ucapannya yang santun.


" Thank you nona, silahkan." Balas tuan Jhon menunjuk kearah pintu keluar.


Kulihat gadis itu tersenyum kecut, barangkali saja ia menyesal sudah menggunakan mata beningnya dengan salah.


" Kena kau nona! Salah orang untuk digoda." Gumamku lirih, setelah pelayan itu enyah dari hadapan kami dan dan tuan Jhon menyekatnya ruangan dengan menekanremot hingga pintu terkunci.


" Tak usah dipikirin yang begitu Rajj, sekarang saatnya makan, bukankah dari tadi kau hanya memberi makan orang." Ujar tuan Jhon berhasil membuatku tersenyum kembali.


" Aku tidak memberi makan orang lain tuan, tapi memberi makan nonaku yang sedang sakit."


" Sampai kapan kau akan memanggil putriku nona dan papanya tuan? Bukankah sudahku pinta padamu memanggilku Om saja kalau tidak mau papa., kalau urusan dengan calon istrimu itu, biarlah jadi urusan kalian berdua." Ucapnya sembari mengisi piring.


" Maaf..tuan, agak susah rasanya mengubah panggilan pertama, terasa sudah kop dan nyaman." Ucapku berusaha memberikan alibi yang tepat.


" Mungkin kurasa panggilan biasa tak masalah, biar nantinya tidak begitu sulit." tambahku sembari menatap dalam- dalam kemanik matanya.


Ia menggeleng dan mengernyit tak mengerti.


" Maksudku bila saatnya berpisah manti!Bukankah tuan mengatakan semua ini untuk setahun saja. Biartak canggung setelahnya gitu lho maksudku." jelasku mengingatkan kembali permintaannya sebelum nona Cinta pingsan.


Tuan Jhon memutar kedua bola matanya malas.


" Cik, Sudahlah...Berbincangnya setelah perut kenyang saja Ya. "


" Baiklah tuan...Rupanya tuan mendengar sikremi dan si pipi yang lagi brantem didalam sini " Balasku dengan tersenyum seraya menunjuk perut sendiri.

__ADS_1


" Iya, karna disini juga begitu, mereka sudah saling membelit seperti kalian tadi."


Deg.


Aku tertunduk mendapat sentilan itu.


" He...he...Dibecandain jangan mayun dong bung." Gelak tuan Jhon.


Aku makin tertunduk malu dibuatnya, sekali lagi aku bersyukur dengan kegelapan kulitku,tuan Jhon pasti tak dapat melihat rona dipipi atau telingaku.


" Semua makanan ini terlihat menggugah, sepertinya ngak tahan lagi, tuan sangat tahu makanan kesukaan Rajj." Ucapkumengalihkan perhatiannya dari rautku.


" Oke, ayo mulai, akupun sudah tak tahan lagi. Ajaknya sekali lagi. Kemudian mulai menyantap makanannya.


Melihat tuan makan begitu lahap, dan ini ruangan privasi,aku yang sudah dari tadi menahan laparpun segera makan tanpa malu- malu meong.


Hanya dalam sepuluh menit, kami sudah menghabiskan semua hidangan dimeja.


" Sedang dalam masa pertumbuhan!" Ucap kami hampir bersamaan.


Ha...ha...Ternyata kompak juga menantu dengan mertua,biasanya agak susah."


" Mhem..Apakah tuan benar menyetujui akadnya besok?" tanyaku langsung keInti.


" Ya, aku mendengar kau membujuknya seperti itu, setelah memikirkan dan didukung fakta yang tadi kulihat,sepertinya menikahkan kalian secepat itu sudah tepat!" Ucapnya dengan menatapku seperti ingin menguliti.


" Baik tuan, aku terima semua syaratmu." Jawabku mantap.


" Baik, sebentar Max akan membawakan perjanjian terbaru untuk kau tanda tangani." Ujarnya lalu mengirim pesan.

__ADS_1


Selang tiga menit terdengar ketukan dipintu. Tuan Jhon menekan remot, muncullah tuan Max dihadapan kami dengan sebuah Mab.


Setelah kubaca sekilas isi kontrak yang katanya terbaru itu, akupun manggut- manggut- dan mulai mengambil pulpen dari saku kemejaku.


__ADS_2