
Subuh hari aku dengan disopiri Ujang K kami berangkat sesuai rencana.
" Gimana bro bos, Aman?" tanya Ujang begitu mobil kami sudah melaju membelah jalan.
" Lumayan susah__" sahutku menatapnya jenaka.
" Trus kok bisa?Sampe dilepas dengan mesra sepagi ini." Ucapnya melirikku sekilas melalui kaca.
" Ho...ho...Butuh tenaga ekstra sepanjang malam." Sahutku sarkas.
" Sama dong! Aku juga sukses berselancar semalaman, kebetulan sekali anak- anak lagi ngak ada yang manja, seperti tahu aja Mak sama bapaknya lagi pengen nikmati malam." Ujarnya berbinar.
Aku menatapnya sembari menggeleng. Berbeda dengan aku bro Ujang ngak ngerem bangat membicarakan persoalan internal rumah tangganya, kalau aku tak mau begitu.Aku tak pernah sebenarnya membukakan masalah pribadi, lebih memilih kalimat teka- teki rancu, agar orang menebak sendiri sesuai pemikiran masing- masing.
" Jadi untung dong rencana perjalanan kita buatku Bro." Selaku.
" Untung bangatlah...apalagi karna disogok dengan buka lapak, makin lancar berdayung syahdunya.Bahkan ia yang minta lebih, katanya ngambil jatah selamaditinggal.Secara inikan kali pertama kami pisah malam untuk kerjaan selama 10 tahun lebih menikah." Ujarnya membeberkan perjalanan rumah tangganya.
" Berarti Ujang kelana selama ini kalau kemana- mana untuk nginap selalu bawa nyonya ya? kayak Almarhum presiden kedua sama Ibu negara."Ucapku mengingat pasangan president yang paling dikagumi bundaku dulu.
" Ngak persis gitu dong...Orang kita palingan pergi jauh cuma buat pulang kampung, itupun
belum berapa kali karna money- money." ucapnya menirukan logat India.
" Ya udah...Lain kali kita rencanakan honeymoon berempat." Ujarku sembari mengedap- ngedipkan mata.
" Yang serius dong..." tuntutannya.
" Tunggu anak- anak bro dan anak- anakku besar dulu."
" Busyet! Kapan jadinya kalau gitu? Orang anakmu aja masih dalam proses Bos...Bos!" Soraknya dengan mencibir.
" Jangan ragukan kemampuanku Lho Bro! Siapa bilang masih dalam proses, mana tahu saja bibit premiumku langsung tumbuh begitu ditanam."Ujarku tak mau diremehkan.
" Syukurlah...semoga jagoanmu cepat berkabar dirahim mommynya Bos, selagi masih ada nyawa kutuntut rencana bulan madu pasangan bangkot yang Bro Bos janjikan." Ujarnya menatapku tajam dari spion.
__ADS_1
" Ha...ha...Kerja yang ikhlas, memohon yang sabar.Kalau sudah rejeki, jangankan bulan madu, naik haji bareng- bareng Kita Usahakan." Ucapku kali ini dengan mimik serius.
" Andai itu bukan sekedar rayuan gombal!" Pekiknya kemudian terbahak.
Obrolan kami terus berlanjut dan mengalir kesana kemari, ini sengaja kami lakukan agar sang sopir tidak mengantuk.Sesekali tak lupa ia bertanya padaku apa jalan yang kami tuju sudah benar. Akupun mengangguk seraya mengacungkan jempol.
" Kalau kita lewat udara mungkin lebih cepat." Ucapnya ketika kami akhirnya memutuskan menginap disebuah penginapan biasa untuk melepas lelah.
" Kukira perjalanannya tidak bakalan sejauh ini, bahkan aku izinnya hanya dua hari, padahal kalau begini kita bisa PP 4 hari nonstop." Ujarku yang juga menyayangkan pilihan perjalanan kami.
" Ya sudah Bos, kita nikmati saja perjalanan ini, sesekali bebas!" Ucapnya sembari menatap lautan dari balkon penginapan.
" Kita jalan- jalan dan bermain kejar ombak Yok! Sekedar mengisi kembali saat masa kecil kurang bahagia." Ujarnya mengajakku turun.
" Kalau berani Bro saja! Rajj mau menghubungi orang yang sudah kutugasi mengusut kasus ini." Tolakku karna memang masih banyak yang harus kulakukan, rasanya main- main bukan waktu yang tepat sekarang, kalau mau main- main mendingan ngajak istri saja, sekalian kalau dingin ada yang hangatin.Tapi perjalanan kali ini bukan untuk jalan- jalan."Kalau Bro Ujang ingin menikmati momen ini dengan jalan- jalan tanpa melibatkan ku tidak masalah juga, yang penting pas mau berangkat sudah standbay, dan jangan sampai larut malam, aku tak mau disopiri sambil merem." Candaku seraya mengibaskan tangan.
" Oke! Aku juga masih ingin hidup lama kok bro bos, tenang aja belum sempat ni mantan sopir taksi naik haji, jadi ngak mau mati sebum hajatnya kesampaian." Ucapnya seperti biasa alay.
" Ya dech...Sono,biar aku konsen, awas jangan lama- lama ntar tak dibukain pintu!" Ujarku mengingatkannya seraya mengibaskan tangan.
Kami menginap dikamar yang sama, bukannya karna aku mau ngirit atau pelit,
Baru saja ia ingin membuka pintu untuk keluar, ia memutar dan berbalik lagi sembari mengulurkan tangan."Uang saku ya?" Ujarku seraya menghampirinya dan mengeluarkan 5 lembar berwarna merah dan anti basah untuknya.
" Syukurlah Tuhanku...Aku punya Bos yang murah hati, padat saku." Ujarnya lebay sembari menciumi uang itu beberapa kali.
" Udah sana... untung uang yang itu bebas pandemi, kalau tidak setelah ini kau meski diisolasi! " Ujarku sembari mendorongnya keluar.
Kudengar ia tertawa terbahak, segera kukunci pintu.
" Tenang Bos! Ntar kubawakan makanan hangat untukmu!" Teriaknya dari luar.
Aku tak lagi menggubrisnya, mulai fokus pada perangkatku untuk memeriksa beberapa
email yang masuk, tidak lupa pula mengintai bibi Dian. Setelah itu mengirim pesan pada informanku yang ada didesa.
__ADS_1
Lima menit setelah pesanku terkirim, iapun menghubungiku. Dari penjelasannya, harapan besar keberhasilan penyelidikan kami sudah mendekati sukses. Aku tersenyum lebar menatap layar." Semoga Allah menetapkan yang terbaik untuk orang yang baik seperti Papa mertua." Doaku lirih.
Syukurlah perjalanan kami yang hampir memakan waktu empat hari membuahkan hasil. Aku sudah terlalu rindu dengan istriku, walau sekali dua jam kami selalu berhubungan lewat perangkat, tapi tidak cukup untuk pasangan baru seperti kami.
Menjelang tengah malam, aku dan Bro Ujang sampai.Tidak disangka kami disambut oleh dua perempuan beda usia.
" Sayang...Siapa ini?" tanyaku melihat ia datang dengan seorang perempuan sebaya denganku.
" Tanya sama sohipmu siapa wanita ini." Sahut Cinta melirik Ujang Kelana.
" My Engel...Kok bisa ada dirumah ini? Anak- anak mana?" Tanya Ujang Kelana sembari menarik wanita itu kedalam pelukannya.
" Mereka dirumah sama ibu mertua. Ibu mertua datang sehari setelah kalian pergi."
" Benarkah?Kalau begitu malam ini kita bisa Nompang bulan madu diIstana ini dong! Boleh kan Bro Bos?"
" Pasti bolehlah! Emang itu tujuan kami kok!" Balas berbinar istriku.
" Jadi sayang membondong nyonya Kelana kesini?" Tanyaku tak mau kalah dengan pasangan usang itu. Segera kukecup bibir manis istriku yang sudah sangat kurindukan beberapa hari.
" Mana bisa jawab bidadarimu kalau bibirnya dibekap Bos!"Teriak protes suami istri itu hampir bersamaan.
" Jangan iri Bro! Ayok kita masuk dan mulai tanding dibilik masing- masing." Ajakku tersenyum smirk.
Bro Roni kepala pelayan yang datang menyambut kami hanya tersenyum malu melihat kemesraan kami.
" Tenang Bro Roni...besok akan datang Jin cantik dari desa untukmu." Ujarku menepuk punggungnya sekilas.
" Apaan sih bos...Nasipku jomblo udah pasrah terima takdir." Ucapnya lirih masih menunduk.
" Serius Friendly! Bos kita mengutus bodyguard cantik buat nona muda, esok gadis
tangguh itu tiba, semoga cocok untukmu." Timpal Ujang Kelana.
" Kamar untuk pengantin lama sudah disiapkan dengan rapi." Ucap Roni mengalihkan pembicaraan.Mungkin pria dewasa ini menganggap kami sedang membual.
__ADS_1
Tidak akan ada yang percaya kami sudah menyiapkan beberapa kejutan untuk keluarga ini.
Berlanjut...