Pilihan Cinta

Pilihan Cinta
Chapter 62


__ADS_3

Hari- hari berlalu dengan senyum cerah dan bahagia keluarga kecilku,sampailah tiba menjelang lebaran Haji.Tahun ini kami akan melepas papa mertua bersama mama untuk menunaikan rukun Islam yang keenam dengan paket haji plus.


Setelah kelahiran Arjuna, papa Jhon menganggap tinggal yang satu itu Cita- citanya yang belum ia raih.Maka papa berusaha untuk meraihnya dengan menjaga kesehatan agar keberangkatan kali ini tak ada hambatan.


Aku dan Cinta melihat wajah papa selalu bersinar sejak itu,seakan seluruh hati dan hidupnya sudah ia siapkan untuk menghadap yang maha tinggi." Izinkan dan ikhlaskan papa berangkat nak,sudah ada Rajj dan Arjun kecil yang akan menjagamu disini andai terjadi apa- apa dengan papa."Pamitnya dimalam pengajian keberangkatan mereka.


Aku tanpa sadar menitikkan airmata karna ucapannya yang seolah berupa kalimat perpisahan yang tersirat."Rajj mengapa menangis sesedih itu?"Tanya istriku heran karna sejak semalaman sampai pagi aku hanya diam dengan mata berlinangan.


Kuhapus bekas bening yang masih sulit dibendung."Tidak! Aku hanya terharu saja, akhirnya papa berangkat juga membawa bibi Zumi menuju tanah Suci, semoga mereka menjadi mereka menjadi Haji mabrur." Tampikku menutupi perasaanku yang sesungguhnya,takut istriku lebih sedih lagi kalau tahu firasat yang kurasakan.


" Daddy jangan cengeng gitu dong...Opa sama Oma hanya memenuhi panggilan Illahi yang Maha Suci." Ucap Cinta mewakili jagoan kecil kami, bahkan ia memegangi tangan kanan Arjuna agar mengusap air mataku.


Aku menarik putra kami lembut kepangkuanku setelah itu." Daddy memang cengeng Jun...Karna Daddy merasakan Opa itu sudah seperti ayah sendiri.Merasajadi anak kecil lagi sejak diterima opa sebagai menantu sekalian putra."Balasku mencoba tersenyum semanis mungkin pada kedua orang tersayang ku.


Arjuna tertawa terbahak membuat senyumku makin mengembang.Entah mengerti atau tidak bayiku dengan apa yang kukatakan,tapi aku dan Cinta terhibur dengan tawa riangnya, hingga kesedihan yang tadi menguap begitu saja seiring mentari yang semakin meninggi diatas sana.


Kami beraktifitas seperti biasa, menjalankan perusahaan raksasa milik papa dan terus mengembangkan bisnis pakaian India peninggalan kekuargaku tanpa mengesampingkan peranku sebagai suami siap siaga dan ayah idola tentunya.

__ADS_1


Tanpa terasa lebaran Haji esok tiba, sekarang kami menjalani puasa Arafah.Selama beberapa hari terlewatkan cukup baik kabar dari tanah suci, aku sangat bersyukur papa dan mama mertuaku telah melewati beberapa rukun haji dengan lancar, tidak pernah pula mereka mengeluh sakit atau ada rintangan dalam kegiatan ibadah yang mereka sudah jalani.


"Hari ini para jamaah berkumpul dipadang Arafah, tempat pertemuan Adam dan Hawa." Ucap Sinta sembari memeluk pundakku sore hari menjelang waktu berbuka.


"Ya...Arafah juga tempat di mana Nabi Muhammad memberikan salah satu khotbah terakhirnya yang terkenal tentang kesempurnaan ajaran Islam saat haji Wada'( Haji penghabisan )." Gumamku tanpa sadar.


Azan magrib berkumandang dari pengingat ponsel istriku memangkas perasaan anehku yang datang lagi tanpa kuundang itu.


Istriku melangkah menuju meja untuk mengambil dua gelar susu dan beberapa biji


kurma.


Aku mengangguk dan mengambil satu biji kurma lalu segelas susu bagianku.


Kami tersenyum dan saling pandang sejenak saat menikmati perbukaan kami,lalu aku mengambil inisiatif meraih baki dan mengembalikan gelas kosong kami kemeja.


"Sekarang shalat magrib dulu baru makan malam." Ucapku setelah itu,lalu menarik pinggang mungil istriku untuk membawanya kekamar mandi untuk bersuci.

__ADS_1


Istriku bergelayut manja hingga kebilik mandi. Setelah berwudhu barulah kami jaga jarak. Arjuna kami lagi sama bibi Jinni dan Roninya,Jini sengaja membawanya


jagoan kami itu dengan alasan agar kami leluasa berbuka,sedang Jini belum dapat kesempatan puasa Arafah tahun ini kebetulan


mengalami tangal merah.


Setelah magrib,kamipun turun untuk makan malam. Makan malam yang sangat lengkap, karna bibi Sumi mengatur para koki hari ini untuk menyediakan hidangan terbaik, bahkan disediakan juga olahan daging onta.Namun entah mengapa hatiku masih saja terasa sendu, setiap suapanku selalu terbayang papa Jhon.


Sampai hari - hari tasyrik berlalu dan dalam keramaian mengurus qurban aku tetap merasakan sepi yang sama.Hingga dihari menjelang kepulangan papa mertua Jini berlari kekamar kami sembari menangis.


" Ada apa Jin? Papa sama Bibi baik- baik saja kan?"Ujarku menatap nanar wajah saudari sekaligus istri Sohipku Roni.


" Papa sama Uma mendadak sama- sama sakit dada setelah tahlul Rajj, dan__ Hiks..hiks...Kalimat Jini terhenti karena isaknya.


Cinta berlari menghampiri saudarinya."A.. Apa mereka pulang kepada Allah Jini? Katakan...Hiks...hiks..."Tangis istrikupun pecah seiring anggukan Jini.


Aku terduduk memeluk lurutku dilantai,tanpa bisa menenangkan kedua perempuan yang tengah melolong bersamaan.

__ADS_1


" Cita- cita papa telah tercapai...Ternyata Allah memanggilnya ditanah suci." Ucapku lirih.


__ADS_2