
Ditempat yang berbeda Aris baru saja mendapat kabar dari salah seorang pelayan dirumah Sahabat istrinya kalau sedangterjadi musibah disana.Aris bergegas pulang dari toko furniture yang ia punya untuk memberitahu kabar ini pada istrinya.
Begitu sampai dirumah ia langsung menuju bilik." Bi Nindi,apa mereka ada didalam?" tanya Aris pada ART yang turun buru- buru dari lantai dua.
" I...Iya tuan,nona cantik rewel sekali,sampai- sampai hari ini nyonya Adelia ngak sempat makan,maunya sikecil gendong terus,ditaruh dikit langsung nangis,dikasih Susu ngak mau,diberi kesaya makin histeris."Adu wanita paruh baya itu pada tuannya langsung karna tak tega melihat nyonya nya sangat kacau hari ini.
" Nyonya ngak marah- marah kan Bi karna itu?"Aris malah menanggapi dengan bertanya.
" Marah sih ngak tuan,cuma kasihan aja kusut
bangat, sa...saya misi cepat ya tuan,barangkali nona kecil ngak cocok susu yang itu,mau jemput susu yang lebih mahal kemini market,kali aja nona baby suka susu kelasnya konglomerat." Ucap Nindi keceplosan taveling fikiran sendiri.
" Oh,tak apa pergilah cepat! Cari yang mereknya chil Kid platinum, beli kemasan kecil dulu,kalau ia mau kita beli satu truk." Sarkas Aris.
" Oke tuan."Girang Nindi yang tidak dimarahi karna sudah menerawang sembarang kemauan bayi dua hari tuan dan nyonya nya.
Aris mengangguk,lalu dengan setengah berlari ia mulai menaiki tangga menuju lantai dua.
Baru saja ia mengintip sedikit dari celah pintu,sudah terdengar tangis dari bayi mereka.Ia lihat istrinya terlihat kusut bersusah payah bergoyang menimang bayi itu." Sayang,tenanglah biar mama nyanyikan lagu.Bujuk Adelia masih terdengar sangat sabar.
Aris segera masuk kebilik itu." Sayang...Ngak sempat bikin Mama istirahat ya?Kacian Lo nak dis cantik...mamanya sampe ngak sempat makan." Ucap Aris dengan mengembangkan tangannya untuk meminta sang baby dari tangan ibunya.
"Ngak kok,mama tetap senang,karna mama sendiri yang sudah sangat ingin mendengar tangis bayi dirumah ini." Sangkal Adelia cepat,takmau dikira suaminya lemah,ia berupaya terdengar tegar,walau terlihat jelas dari penampilannya ia sangat kerepotan.
" Hua...Hua....Hua....Tangis kencang bayi perempuan nan cantik itu malah makin menggema.Aris segera mengambil alih Gendong sibaby.
" Sayang papa mungkin capek dirumah ya,gimana kalau kita keluar."Bujuk Aris mencoba menyampaikan pendapatnya pada bayi mungil itu,ia sebenarnya sangat takut memegang bayi yang masih merah itu,tapi keinginan punya anak membuatnya menguatkan diri.Dengan hati- hati digendongnya bayi imut itu.
Entah karna kehangatan sang ayah,atau mendengar usul Aris barusan,tiba- tiba saja tangis bayinya berhenti." Cayang...Anak papa pengen jalan- jalan ya?" Tanya Aris lagi pada bayinya,tak peduli bayi itu baru berusia dua hari,entah tau atau tidak yang ia ucapkan,yang
__ADS_1
penting baginya hatinya kini girang babynya tenang.
"Alhamdulillah...dedeknya Diam pa!" Sorak senang Adelia seraya menatap mesra suaminya dan bayi mereka dalam gendongan Aris.
" Ya,ia lebih senang sama papa dari mamanya
mungkin,barangkali mamanya terlalu serius." Ucap Aris sembarang karna tatapannya sudah full mengagumi wajah mungil nan cantik milik bayinya,yang makin terlihat indah dengan bekas airmata sikecil.
Adelia mendekat,lalu turut menatap putri mereka sembari tersenyum." Kok bisa lebih patuh sama papa sih nak,padahal mama hampir jungkir balik dari tadi diamin kamu lho cantik." Ucap Adel seraya mengusap sisa bulir bening dibawah mata bayi cantik itu.
" Ya, papa lihat mama sudah sangat kacau,sepertinya kami kebawah dulu,sementara mama beberes diri dulu ya,sebentar lagi kita bicara."Ujar Aris teringat pada kabar dari ibukota.
" Bicara soal apa pa? Apa ada yang mau ngambil balik sibaby?Atau ada yang ngancam keselamatannya?"Tanya langsung Adel dengan raut mendadak takut.
" Mandi saja dulu sana,siap itu baru."
"Ngak mau ahh,aku ngak mau mandi penasaran."Balas gigih Adelia.
"Aku hanya menyampaikan kabar ini saja,kalau untuk kesana kira tak mungkin karna Sinta masih terlalu merah untuk perjalanan jauh." Ucap Aris.
Hek....hek...hek...Sibaby kembali merengek.
"Ada apa sayang...Dengarin papa sama Mama ngomong dulu ya,siap ini papa ajak jalan- jalan."Aris bicara seperti membujuk anak yang sudah pintar bicara saja.
Syukurnya baby Sinta malah senyum,entah pada Aris atau pada malaikat sibabby itu tersenyum.Pokoknya Aris merasa jadi ayah paling sukses saat ini,karna berhasil negosiasi dengan bayinya.
Adel menurut sang suami lalu duduk disisi pria dengan bayinya itu sembari menatap dengan menelisik.
" Ada apa dengan Sinta kita,ngak ada yang ngancam kan?" Tanyanya khawatir.
__ADS_1
" Sinta baik sayang,tak ada juga yang tahu diserahin kekita.Yang masalah adalah Cinta saat ini___," Ucap Aris tertahan karna ragu mengabarkan kabar buruk ini pada istrinya.
" Bayinya pasti sudah lahir kan sayang?Pasti nanti anak kita bakalan sama besar dan kami boleh saingan Carikan jodoh tuk nak gadis kami,tapi aku yakin nak gadisku ini yang bakalan jadi pemenangnya,karna anak gadis buatan Rajj pasti takkan sanggup mengalahkan pesona Sintaku." Ujar Adelia berbinar membayangkan menangnya dirinya Soal kecantikan anak perempuan dari sisohip.
" Putri kita takkan bisa saingan dengan putri Rajj dan Cinta sayang,karna putri mereka sudah diadopsi oleh para bidadari syurga." Ucap Aris berubah jadi pelan dan terdengar sendu.
" Ma...maksudnya apa?"Tanya Adelia belum mau percaya maksud ungkapan suaminya.
"Bayi perempuan mereka meninggal sebelum lahir sayang,sekarang sohibmu Cinta masih koma siap operasi.Satu kemalangan lagi ternyata rahimnya Cinta wajib diangkat,karna ada Timor yang diprediksi akan mengganas bila tidak segera disingkirkan.
" Apa??? Ini tak bisa didiamkan RIS,kita meski OTW sekarang." Ujar Adel membuat Aris mengernyit.
" OTW kemana?"
" OTW ke ibukota lah.Kalau kabar baik kita tak datang tak apa RIS! Ini konco plangkinku sedang dalam masa terburuknya,anak meninggal, badan sakit serius,mana bisa aku mendengar dan berdoa dari jauh saja." Ujar Adelia membuat kedua mata Aris membola.
"Jadi kita mau bawa bayi kita yang masih merah kesana?" Bingung campur kesal Aris.
"Iya lah,emang mau ditinggal putri semata wayang?Ngak lagi! Sinta akan kita bawa terbang besok keibu kota buat takziah sekalian bezuk temanku,pesankan tiket sana!" Putus Adelia seraya memerintah juga.
" Del! Apa tak takut Cinta nanti sadar dan__"Fikir Aris sekarang yang khawatir.
" Emang aku harap Cinta segera sadar,emang kau mau Sohipku itu tiada." Sekarang balas Adel yang sewot.
" Maksudku ketika ia sadar dan nanti menganggap Sinta kita Babbynya atau kalau ia sengaja minta Sinta kamu gimana?
" Oh...Itu urusan nanti,yang penting kita bersiap dulu untuk kesana,tak mungkin sahabatku sedang diuji oleh Allah sebesar itu aku tidak mau tahu."Tegas Adel menatap bayi Sinta yang sudah terlelap dipangkuan Aris.
"Coba kita baringkan Sicantik bang,kulihat ia sudah pulas."Bisik Adelia.
__ADS_1
Aris menatap bayinya dan mengangguk,kemudian membaringkan Sinta ditempat tidur.
Tanpa disuruh lagi Adel pergi mandi,sementara Aris mulai menelfon temannya yang kerja diBandara untuk memesankan tiket untuk besok pagi.