
" Rajj...Kau..." Ucap gagap istriku, kulihat Wajahnya tertunduk, sedang bibirnya tampak bergetar, dengan kedua mata yang mulai mengembun.
" Astaga... pria macam apa sih kamu Rajj!." Umpatku dalam hati. Sejenak akupun dilanda ketakutan terfikir ia mengira aku pria yang buruk dan kasar.
Nada dering perangkat dalam genggamanku, membuyarkan lamunanku." Aku harus menjelaskan dengan pelan,mengapa aku emosi seperti tadi." Tekadku dalam kalbu.
Segera kulempar perangkat itu keatas kasur, lalu melangkah mendekati istriku untuk merayunya.
Ia mundur menghindar beberapa langkah Sampai tubuhnya mentok didinding.
Kedua tanganku kupakukan Kedinding untuk mengunci tubuh istriku.Lalu kutatap lekat wajah yang nampak ketakutan itu, tak ubahnya ia sudah seperti kucing kecil yang baru dijentik kupingnya oleh sang tuan.
Diam tak berkutik ! Kalau boleh jujur, aku tak suka sikapnya yang ini, lebih suka dilawan seperti selama ini.
Menatap wajah cantik yang biasa menantang ini tertunduk layu, dan bola mata indahnya berkaca- kaca sadar aku aku sudah melukai hati sang pemilik.
" Maafkan Rajj ta...Ucapku lembut seraya mengusap pipinya.
Ia masih diam dengan manik menatap ubin,aku makin sadar salahku cukup besar, tidak seharusnya aku membentak istri dimalam kedua kami menjadi pasangan, malam yang seharusnya dilewati dengan C3 ( Canda, Cumbu, Candu ) saja.
Kuraih dagu indahnya dengan tangan kananku, sementara tangan yang lain membelai Surainya yang berwarna coklat bergelombang panjang sepinggang, lalu mencium puncuk kepalanya." Sayang..Maaf..." Ucapku sekali lagi tulus sembari menatap manik coklatnya sendu.
" Apa salahnya kuterima permintaan bibi itu dan memberi kesempatan pada papa untuk bahagia setelah bertahun- tahun tenggelam dalam kesendirian karna dulu aku tak mau menerima ibu pengganti dalam hidup, karna belum paham artinya kesepian." Ucapnya lirih, nyaris ditelan udara malam, nada yang menunjukkan kesedihannya atas bentakan tak sengajaku barusan masih belum kelar.
" Mungkin istriku sangat pandai dalam memilah dan menilai benda.Tapi memilih orang tidaklah segampang itu sayang...Seperti Cinta yang tidak akan menyangka suamimu Mr Black ini bisa sekasar tadi, kau juga takkan
mengira siapa Bibimu itu sayang." Ucapku dengan lembut,aku ingin memberi pengertian tanpa membuatnya terluka lagi.
" Bagaimana kau bisa menilainya Rajj, sedang kalian baru kenal beberapa hari.
" Apa kau lupa suamimu seorang detektif sayang...Kalaupun ilmuku sudah hanyut bersama beningnya telaga indah matamu, setidaknya untuk menilai calon mama mertua , suamimu ini masih bisa kau percayai cantik..."
" Dasar Mr gombal lebai alai!" Pekiknya seraya
menarik hidungku, wajahnya sekarang tak perlu ditahan lagi, karna sekarang ia mendongak memelototiku.
" Aku cinta ekspresimu yang ini bidadari!" Seruku sembari mempertemukan bibir kami.
__ADS_1
" Sejak kapan Mr blackku jadi raja gombal ya?" Ucapnya menolak tubuhku mundur.
" Sejak sukses belah duren! Sepertinya kepercayaan diriku naik beberapa tingkat." jawabku sarkas.
Kedua alisnya menyatu?" Duren beli dari mana?Kenapa tidak membaginya?" Tanya beruntunnya konyol, membuatku menariknya kedalam pelukannya." Dapat disini, dan kurasa aku sudah membaginya sayang..
." Bisikku sembari dibawah sana tanganku membelai dan menggelitik kelembutan istriku.
" O...Jadi ini yang disebut duren?Artinya aku masih perawan ya Rajj?Syukurlah!" Soraknya girang kemudian mengendus- endus leherku, lalu membenamkan kepalanya disana.
Kuacak gemas rambutnya." Kalau sekarang mana perawan lagi, udah dipatok sama elang hitam." Ucapku sembari menekankan kepala sang predator yang sudah kembali mengangguk dibawah sana kepertengahan perut rata istriku.
" Ihh...Kok hidup lagi elang hitamnya."
" Dia akan selalu hidup begitu bergesekan sedikit saja dengan pawangnya, apalagi dibelai, ia akan menukik keras." Ujarku sembari menatapnya dengan senyum smirk.
" Kau sudah mengingat apa yang kulakukan malam itu pada Elang hitam ini ya." ucapnya dengan wajah tersipu.
" Bukan! Aku hanya memikirkan bagaimana bisa istri cantikku ini menenangkan sipredator tanpa daging segar." Jelasku ambigu.
Sebuah cubitan panas mendarat sempurna dipinggangku.
" Ya sudah...Angkat saja."
Ia menggeleng, kedua bola indah matanya seperti meminta penjelasan." Katakan kalau Cinta tidak akan ikut campur.Cintai papaku dengan cara terbenar, bila papa menerimamu, kami juga takkan bisa menolak."
Kedua matanya berbinar, senyum manisnya kembali mengembang, setelah mengacungkan jempol kanannya, iapun meraih perangkat itu dan menyambungkan telfon dengan dispeker.
" Hallo...bibi sayang...Sory ya..Ita lama ngangkat telfon bibi.Bibi harap maklum dech, pengantin baru baru selesai belah duren" Ujarnya langsung.
Kepalaku menggeleng dengan kedua mata membola." Ini istri dikasih air sedikit dijadikan laut."
Hening dari sebrang, mungkin seseorang disebrang malu, atau apalah dengan ucapan tak berfilter istriku.
" Tak usah ngancam lagi ya bibi sayang...Cintai saja papa dengan cara benar sampai papa menerimamu.Andai papa menyukai bibi, bagaimana bisa kami menolak kebahagiaan ayah sendiri yang sudah lama hilang."
" Kamu serius ta...Bibi tak menyangka pernikahan membuatmu secepat ini menjadi dewasa." Ucap riang dari sebrang.
__ADS_1
" Ya.Makanya menikahlah dengan orang yang membutuhkanmu.Sedang papa mertua biarkan hatinya dibuka oleh orang yang tepat, jika memang masih ada jodohnya didunia." Sahutku tentu hanya dalam hati.
" Begitu dulu ya bi, elang suamiku kayaknya nukik lagi minta makan." Ujar cinta kemudian mematikan telfon.
" Benar- benar sebiji nasi ia gunungkan! " Sorakku begitu telfonnya sudah dilempar kekasur.
" Apa artinya?" Tanyanya menuntut.
" Artinya istriku mudah menguasai segala kondisi." Ucapku sembari menariknya untuk rebahan lagi.Walau elang hitam terus menukik, saat tubuh kami sudah saling menempel dalam satu selimut,aku tak mau memberinya makan lagi, tak mau istri sampai pingsan pula karenanya, selagi masih ada nyawa aku akan berjuang untuk bersama pawang elangku yang satu ini.Hingga elang bisa nyicil makan tiap malam. Walau sebenarnya enaknya elang terus didalam sarang hingga pagi menjelang.
" Rajj...Rengeknya...
" Ada apa sayang.." Sahutku seraya membelainya.
" Nancap yuk..."
" Nancap apanya?"
" Masukin trus bobok didalam." Pintanya membuat tawaku terbahak.
" Bibirnya mengerucut kuketawai begitu.
" Apa ngak perih lagi, nanti makin sudah jalan lho." Ujarku mengingatkan walau sebenarnya elang hitam sudah gences membayangkan permintaan istri yang menguntungkan itu.
" Tak apa..Biar seluruh dunia tahu Cinta punya suami yang besar dan kuat." Ujarnya sembari membelai tengkuk sang elang.
Deg.
Kucing mana menolak ikan?
Detik berikutnya, aku sudah merangkak diatas
tubuhnya, kami mengulang kembali momen memabukkan itu, sampai tubuh kami mengejang, jerit nikmat kembali menggema hingga tubuh kami berdua terkulai dan saling belai. Sesuai permintaan dan kesepakatan berdua colokan ngak perlu dicabut biar ngecasnya full 100 persen Sampe dinihari.
" Kalau tiga kali itu masih wajarkan?" Ucapnya sebelum memejamkan mata.
" Empat sepertinya masih bisa sayang...Pagi-pagi sebelum subuh! " Godaku yang ternyata dapat anggukan persetujuan.
__ADS_1
" Yahui...Sekali lagi surprise untukku.