
Nyonya Diandra senang bukan kepalang, mengingat kalau sebentar lagi ia akan menjadi nyonya besar dikeluarga Smitt. Pertunangannya tinggal menghitung hari, walau baru tahap bertunangan, tapi itu sudah cukup bagi nyonya Diandra menjadi bukti kalau penantiannya selama berpuluh tahun tidak sia- sia.
Sejak Jhon Smitt pria matang pujaan hati Dian menyatakan kesediaannya memulai mengenal Dian secara serius, wanita paruh baya ini tidak pernah lagi menyembunyikan senyumnya. Tak ubahnya remaja yang baru mengenal Cinta, nyonya yang sudah pantas dipanggil grandma ini makin rajin kesalon untuk perawatan, bahkan kadang pekerjaan utamanya sering ia minta gantikan pada rekan yang lebih muda untuk menjalani hobby barunya mempercantik diri.Alhasil, wanita matang ini memang makin cantik dan awet muda, karna kemajuan tekhnologi kecantikan bisa menjawab semua keinginannya dengan uang yang wanita kaya ini punya. Hari ini nyonya Dian sudah berjanji mau membeli Cincin bersama calon tunangannya.
Pagi- pagi sekali nyonya Dian sudah siap dengan penampilan terbaiknya untuk belanja berdua.Menunggu didepan pen house seperti Laila kemana- mana senyum dibawa.
Diandra tak peduli dengan tatapan aneh para tetangga yang berlalu lalang mengejar aktifitas pagi saat berpapasan dengannya.
" Cik, biarkan saja mereka heran, yangpenting seluruh jagat mesti tahu kalau Diandrasenang sekali karna tak lama lagi aku akan menjadi istri Jhon Smitt." Gumam Diandra masih dengan senyum- senyum dikulum.
Setelah hampir setengah jam mondar-mandir didepan,akhirnya mobil Lexus warna Black berhenti,dan Dian tidak akan pernah lupa pemilik mobil mewah itu.
Diandra sampai memejam saking girangnya, dalam hatinya bermekaran kembang tujuh rupa." Benarkah itu dirimu?Oh..Honey.. sampe ngak yakin lho." Ucap Jhon sembari mengembangkan kedua tangannya.
" OMG... i'm surprise BG Jhonn.." Balas parau Dian seraya menghambur kedalam dekapan pria matang pujaan hatinya itu.
" Luar biasa cantik! Lima belas tahun lebih muda, apa Bibi habis Oplas." Suara Jhon berganti dengan suara seorang wanita muda.
" Ci...Cinta? Mana papamu kok malah kamu???" Tanya Dian terkejut begitu sadar kalau yang ia peluk adalah putri dari calonnya.
" Mhum...Jadi bibi ngeliat aku tadinya seperti papa ya? wajar main pelak- peluk dan ngomongnya Ngaur gitu, He...he..." Kekeh Cintami melepaskan diri dari pelukan calon mama tiri.
" Busyet, aku ngalu segitunya, bahkan inianak klep sampe terlihat seperti papanya.Kesalo sich, tapi sabar Dian ..Kamu mesti pandai ngambil hati sianak klep juga biar ngak menusuk." Diandra berusaha keras membujuk diri sendiri dalam hati.
" Tenang bi...Calon pengantin itu ngak boleh sebal- sebal, ntar cantiknya berkurang lho, lagian apa bedanya aku yang menemani atau papa sih?Lagipula aku pake farfum pasutri dari dokter Ahli nganu itu lho, makanya bibi langsung ngalu dekat Cinta." Goda Cintami.
" Farfum apa? tiba- tiba nyonya Diandra tertarik dengan promo tak sengaja Cintami.
__ADS_1
" He...he...Ini farfum khusus untuk pasutri lho bi, buatan ahli seksologi kenamaan itu lho, tapi bibi jangan pakek dulu, ntar kalau sudah resmi baru." Ucap Cinta seraya menepuk pelan pundak Nyonya Diandra.
Senyum Diandra mengembang kembali, ditatapnya Cinta selembut mungkin."Anak klep sepertinya serius mendukungku." Fikirnya.
" Kok ngelamun BI..Jadi ngak beli cincinnya?"
" Ja...Jadi Dong, masa ngak." Sahut Diandra sedikit gagap.
" Gak papa kan Bareng aku, soalnya papa ada urusan keSingapura pagi ini."
Meski kecewa Jhon lebih memilih keluar negri ketimbang memenuhi janji, Dian tetap mengangguk, karna kedatangan Cintami menggantikan papanya menemani belanja artinya Jhon memberi peluang pada Dian untuk mengambil hati sang putri.Dian tersenyum licik, tak menyia- nyiakan kesempatan ini.
" Ngak ada suamimu sayang?" tanya Nyonya Diandra basa- basi sembari celingukan.
" Ngak bi.. Kita bareng mang Udin aja yang bakalan pergi, suamiku lagi ngurus persiapan lain."
" Mhum ..Oke manis.. Ayo kita berangkat!" Sambut girang nyonya Diandra.
_____________________________
" Ondeh Mandeh...( Ya Ibu..) Apa bro Yakin mau terima calon mama mertua model begitu?" tanya Ujang Kelana saat mengantar segelas kopi untukku diruanganku, ketika aku sedang menonton rekaman CCTV istri dan nyonya Diandra yang tengah berbelanja disalah satu plaza milik papa Jhon.
" Kadang tidak semua yang terlihat dan didengar itu benar adanya lho Bro! Makanya ada istilah Paresoma Jolo dalam Bahasa Batak Mandailing." Ujarku mengingat kisah yang dulu pernah didongengkan Almarhumah nenek padaku.
" Ya...aku setuju padamu bro! semoga dalam proses pengenalan, Bro, istri dan papa mertua Bro dapat menemukan kebenaran dan bisa cari solusi juga untuk semua ini." Sahut Ujang kelana seperti paham saja masalah yang sedang kuhadapi.
" Amiiin Bro...Semoga kita semua bisa terhindar dari segala muslihat baik yang terlihat maupun tidak nampak.Nex time maunya papa mertua mendapatkan hari tua yang bahagia, karna itu akan membuat kami turut tenang pula." Balasku melihat ketulusan dari tatapan dan ucapan pria satu asal dengan bundaku ini.
__ADS_1
" Amiin...Aku juga pasti bantu Bro buat memeriksa semua, memastikan tidak ada hal buruk yang direncanakan oleh siapapun pada Bro sekeluarga, karna Bro sudah bantu mengangkat derajat ku, maka aku akan bantu Bro juga sebisaku." Balas antusias Ujang Kelana.
" Rajj mempekerjakan Bro tulus bantu tanpa nuntut balas yang lain Bro, tuntutannya hanya satu bekerja yang baik memajukan Copri Collection kita ini.Kalau urusan lain- lain biarlah jadi tanggungan Rajj.Tapi kalau ada info penting boleh berkabar cepat juga sih." Ujarku tersenyum smirk.
" Ha...ha... paham Awak...ada juga darah orang sebrang mengalir didiri bro."
" Tidak darah, tapi air, aku orangnya tak ubahnya seperti Zainuddin diTenggelamnya kapal Vanderwich karya Buya, pria yang tidak bersuku, tapi syukurnya Rajj hidup dizaman milenial, dimana tidak lagi ada yang memandang suku saat ini, yang ada hanyalah isi saku."
" Ha...ha...." Gelak Ujang kelana memecah keheningan pagi diruangan kerja baruku, ruangan yang selama lima tahun ini ditempati
oleh Almarhum bibi Chanaku selalu pengganti sementara Daddy sebagai CEO perusahaan konveksi warisan Keluargaku.
.Aku juga tersenyum gembira melihat tawanya lepasnya.Tak kulihat lagi wajah galau
seperti malam itu, malam pertama aku mengenal mantan sopir taksi online ini.
" Aku serius Bro Rajj...Dari pandangan mata polos tanpa kaca mata indigoku, kulihat wanita yang sedang bersama istri Bro itu bukan calon ibu yang baik." Ucapnya serius tapi masih bernada canda.
" Ya bro...Tapi untuk lepas dari orang seperti ini tidak mudah, aku harus bisa menarik rambut halus dalam tepung, tanpa memutuskan rambut itu atau menumpahkan tepungnya." Kataku lagi mengulang istilah Almarhum bunda dan nenek yang pernah mereka ajarkan saat aku masih kecil.
Kulihat ia manggut- manggut, lalu sebentar kemudian memegang perut.
" Seperti menghadapi orang seperti Bro juga." Sindirku seraya melangkah keluar ruangan.
" Mau kemana?"
" Kan disitu lapar! Ayo sarapan" Ajakku.
__ADS_1
" Bilang saja sama." Ucapnya tak mau kalah.
Aku tak membalas lagi, melainkan menekan remot untuk mengunci ruangan kerjaku Begitu ia sudah melangkah disebelahku.