
Sholat itu Wajib, namun tanggung jawab pekerjaan juga tak bisa kuabaikan.Aku berniat untuk telfon Vidio sekilas, sekedar untuk melihat nona aman bersama Tuanmuda AL dan mengingatkan padanya untuk sholat saja.
Syukurnya ia cepat menyambungkan panggilan.
Barusaja tersambung dan melihat mereka duduk dengan berdampingan. Cepat kuputus panggilan Vidio itu, walau kutahu nona masih ingin bicara, itu terlihat dari bibirnya yang membuka. Aku tahu ia pasti marah karna ini, untuk itu cepat kuketikkan pesan sembari mengingatkan tigarakaat lalu mengirim pesan itu. Setelah pesanku nampak diceklis dua, akupun menyimpan perangkatku.
Kemudian aku dan mang Udin langsung berangkat menuju tempat ibadah. Kami sudah ketinggalan berjamaah, Salahku juga yang ketiduran dimobil, lupa pasang GPS Sebesar biji bayam buatanku pada nona hingga aku bisa dengan mudahmemantaunya tanpa repot menghubungi nomornya. Resikonya inilah, telat menunaikan kewajiban.Setiap kesalahan baik sengaja atau tidak sengaja pasti ada konsekwensinya. Aku berharap dapat ampunan dariNya yang maha pengampun.
Kesalahan pada Yang kuasa mendapat dosa, sedang kesalahan pada manusia mendapat tiga ganjaran ( Siksa Dosa, Siksa rasa dan Siksa Balasan). Untuk itu tingkat kehati- hatian dalam bertindak yang menyangkut orang lain mesti kita tingkatkan. Dosa pada Allah masih ada harapan diampuni oleh Yang Maha pengampun, sedang salah pada manusia belum tentu termaafkan oleh orang yang bersangkutan.
Cukup lama aku bermunajat, berharap kedepannya takmudah lagi melakukan salah dan kelalaian, entah itu pada diri yang berhubungan dengan Penciptaku, juga pada mahluk Ciptaan Tuhan.
Usai berbenah, kedua mataku mencari keberadaan mang Udin dan ternyata sudah tak ada.Barangkali ia ketoilet, cuaca dingin
membuat kaum Adam lebih sulit menahan Buang air kecil.
Dan ternyata dugaanku benar, baru saja aku keluar dari pintu, kulihat mang Udin buru- buru menghampiriku dari arah kamar mandi.
" Maaf tuan, ngak tahan, udara dingin dibawah AC pula, hampir nyembur sebelum nyampe toilet." Ujarnya sembari tersenyum malu.
" Tak apa mang,aku juga pernah begitu." Balasku bermaksud agar ia tidak sungkan.
" Oh, ya mang, sebaiknya mulai sekarang panggil Rajj saja, aku ngak pantas dipanggil tuan." Pintaku kemudian.
" Tidak bisa tuan, ini perintah non Cinta."
" Apa??? tanyaku dengan Kedua mata memicing.
" Iya tuan, sejak pertama kembali dari luar negri, nona berpesan pada kami untuk memanggilmu Tuan Rajj." Jelasnya dengan senyum berbinar.
Dreet...dreet...Telfonku bergetar, aku sengaja mengganti nada panggil menjadi getar jelang shalat tadi.
Kuraih benda itu dari sakuku, melihat ia yang memanggil langsung kusambungkan telfon
dengan di loudspeaker.
" Rajj Cepat jemput aku, kencannya sudah selesai!." Ujarnya dengan suara yang terdengar tergesa.
" Nona Kenapa???"Tanyaku dan mang Udin serentak mencemaskannya.
" Ngak ada, ingin cepat pulang saja! "
__ADS_1
" Ya Ela...Kiraain kenapa? Kayak orang habis kena kejar saja."
" Eh, bukankah ini baru selesai magrib?Nona ngak shalat ya?terus kekasihnya mana?"
" Sudah cepat saja kembali kesini jemput aku. Enak aja ngatain aku ngak sholat, ya sholatlah! tapi ngak kayak kamu yang doanya sepanjang tol Jagorawi." Cerocosnya.
Tak sempat aku mempertanyakan ulang tentang Aliando, telfon telahdiputus,membuat aku dan mang Udin saling pandang dan angkat bahu.
" Kita berangkat mang, tar kita diamukin lagi kalau kelamaan, nona kalau sudah panas, susah diademin." Ujarku yang langsung diangguki oleh mamang itu.
*
*
*
Begitu kami tiba, langsung disambut oleh nona dengan muka merah dan kedua tangan bertolak dipinggang." Kalian mencari tempat ibadah sampai kekutup Utara ya, lama sekali kembalinya!" Semburnya.
" Jangan marah begitu dong cantik...kan kami cuma kasih waktu buat nona dan mantan Lebih lama berduaan, kami fikir pulangnya nona sama dia, lama tak ketemu, kok bertemunya sesingkat itu." Ujarku dengan berbisik.
Ia memberenggut dan menepis tanganku. " Cepat pulang mang, kita tinggal saja awan gelap dan menyebalkan ini disini! " Ujarnya yang membuat kedua mata mang Udin membola.
" Ba..Baik nona.." Dengan tergesa mang Udin. membuka pintu mobil untuk non Cinta.
Lalu dengan bergetar pria paruh baya itu melangkah mengintari mobil untuk membuka pintu kemudi.
" Ba..Bagaimana dengan tuan Rajj nona? " Masih kudengar suara gagap mamang menyebutkan namaku.
" Ia lelaki, pasti tahu jalan pulang!" Pangkasnya masih dengan nada emosi yang membuat mang Udin segera melajukan mobil.
" Ya aku lelaki, pasti tahu jalan pulang"
Kalimat nona yang terakhir menghujam hatiku, tiba- tiba rasa rindu pada Bunda dan Daddy membuat airmataku jatuh tak tertahan, cepat- cepat kuusap, takut ada yang tak sengaja melihat, karna ini tempat umum, orang rame berlalu lalang, walau cuaca cukup dingin, bagi orang yang berekenomi klas atas, mencari makan diluar dalam cuaca dingin begini malah makin banyak. Toh mereka mau kemanapun didukung dengan fasilitas yang serba ada.
" BiCana katanya kurang sehat, sebaiknya malam ini aku pulang ke rumahku, entah bibiku dalam masalah, hingga aku sendu begini. "
Tiba- tiba perasaanku makin tak enak.
Ingatan tentang kata- kata nona Cinta yang barusan mendesak dadaku. " Ya, Aku akan pulang! Tempat pulangku hanya satu saat ini yaitu rumahku yang sekarang kutitip pada bibiku satu- satunya, dan hanya Bi Canalah pengganti orangtuaku selama ini. Sejak Daddy menghadap pencipta, aku memanggil bibi kesini, lagian disana dia hidup sebatang kara, karna dulu masa mudanya ia tidak menikah karna sibuk mengurus bestinya, entah itu hubungan apa namanya, hingga perempuan rela menjadi pelindung sohip sendiri bahkan sampai tidak menikah dan punya keturunan, seolah terlihat seperti suami, tapi mereka sesama jenis.Dinegara kita ini kulihat sekarang banyak juga hal seperti ini terjadi, tapi untuk berprasangka buruk pada hubungan mereka aku tak mau, bukankah Allah SWT Al-Alim (الْعَلِيمُ) sang maha mengetahui yaitu Allah Subhanallahtaala, tak ada sesuatu apapun baginya terlewat di antara langit maupun bumi ini. Semoga jika ada niat atau perbuatan terselubung dari hubungan orang- orang begini, Biar Allah yang memberi petunjuk bagi mereka untuk bertaubat dan memperbaiki diri. Karna kalau ada hubungan terlarang, ini tak ubahnya Zaman nabi Lut.Umat seperti itu Pasti akan dibinasakan.
Dan untuk bibi, untunglah ia bisa dipisah dengan bestinya itu dengan akumembawanya keTanah air bundaku ini, dan Syukurnya satulagi, bibi Canapun tanpa kuminta pula, ia sudah menganut ajaran yang kuanut.
__ADS_1
" Hanya kau yang bibi punya Rajj, tolong bantu
bibi untuk bisa sama denganmu baik didunia atau setelah meninggal nanti." Pintanya lima tahun yang lalu yang waktu itu cukup surprise
bagiku, karna aku tak pernah membahas masalah keyakinan dengannya sejak membawanya kesini.
Setelah mempertanyakannyakemantapannya berkali- kali, tiga bulan berikutnya akupun membawa bibi kemasjid terdekat untuk bersyahadat. Dan sampai hari ini bibiku menjadi muslim yang taat, setiap menelfonku ia takkan lupa mengingatkanku akan kewajiban. Itupun ia sangat bersungguh- sungguh dalam pertaubatannya, sampai baca Alquran saja ia lebih bagus dari aku, karna ia tak pernah malu
belajar dari dasar, bahkan dari ngaji sama bocil diTPA sampai pada ngaji bareng dengan
ustadzah.
Setahun yang lalu kuminta bibi yang mengurus usaha Copri Collection karna diminta tuan Jhon mengikuti putrinya.
Beberapa bulan terakhir bibi sering mengeluh kurang sehat dan memintaku kembali segera.
Telfonku kembali berdering, ketika aku sedang bermenung didalam taksi.
" Uhuk...uhuk...Rajj...Jika sampai kau belum pulang juga, mungkin kau hanya akan bertemu dengan nisan bibirmu ini." Ujar
suara lemah dari sebrang.
" Jangan bercanda bi...Aku pulang sekarang!
Tolong jangan bicara yang aneh- aneh, tak ada orang meninggal hanya karna Flu biasa!." Sanggahku langsung, walau dihati cukup cemas dan terkejut.
Bibi memang lebay padaku, tapi bicara soal kematian ini kali pertama.
" Benarkah kau akan pulang nak?" tanyanya kemudian masih dengan nada lemah.
" Ya bi, Rajj pulang malam ini juga."
Terdengar lagi suara batuk keras bibi, lalu telfon terputus.
" Cik, kemana Bi Mina asisten rumah, kok terdengar sepi?" hatiku kian khawatir.
" Cepat kekawasan Xxx pak! " titahku pada sang sopir.
" Gitu dong tuan, dari tadi mutar Mulu, ditanya ngak nyaut.." Cerocos sang supir, tapi aku hanya membalas dengan senyuman pahit.
Hai Teman baca NT / MT, jangan lupa bantu dukung karya ini dengan cara Fote, like, komen dan faforitkanya bagi yang mampir, karna dukungan teman motivasi bagi kami.
__ADS_1