
" Mhem...Apa kau lupa kalau aku bekerja dirumah sakit ini bang, sampai terkejut begitu?"
Jhon menghela nafas, lalu menggeleng, " Jangan bermimpi terus Diandra , nanti kau lupa bangun dunia terlanjur kiamat.Akukan sudah bilang dari dulu jangan pernah menungguku karna bukan Cintami putriku yang menyebabkan aku tidak mau menikah lagi.
" Lima belas tahun sudah dia pergi bang, sampai hari ini kau masih juga menutup diri pada wanita, sebegitu hebatnya kah perempuan miskin itu dihatimu?" Kesal Diandra, kali ini ia mengungkapkan langsung marah yang lama ia simpan untuk Mia.
" Sudah tahu tak perlu bertanya lagi dokter Diandra." Dia hasrat pertama dan terakhirku! Setelah itu aku tak punya itu lagi, jangan berharap pada lelaki sepertiku!"Balas Jhon mencekam karna wanita ini sudah berani menghina juga mempermasalahkan kehidupan cintanya. Walau ia tahu wanita ini menyukainya sejak lama, bukan berarti wanita ini berhak menghina istrinya.
" Gila! Kau benar- benar gila bang! Tak ada pria sepertimu kulihat didunia ini." Balas Diandra menyembunyikan ketakutannya pada tatapan membunuh Jhon.
Jhon mendegup Salivanya, lalu tersenyum smirk pada Diandra." Menurutku kau jauh lebih gila Dian, kau sampai menyewa pria penghangat ranjang, hanya untuk bertahan menunggu pria gila sepertiku." Bisik Jhon bermaksud mematahkan sayap Diandra.
Deg
Nampaknya Jhon berhasil, sekarang wajah Diandra memucat.Wanita itu terdiam seribu basa. Jhon mengambil kesempatan itu untuk berlalu dari wanita itu.
" Lain kali cari tempat yang benar untuk tempat mengungkap rahasiamu, ini rumah sakit tempatmu bekerja, camera itu bisa saja merusak karirmu, apalagi aku." Kecam Jhon sembari melangkah pergi.
" Busyet! sekali lagi aku kalah dengan emosiku." Kesal Diandra begitu sadar apayang dikatakan Jhon benar adanya. Matanya menatap nyalang dan penuh dendam pada mini camera yang menancap didinding.
" Dia mengetahui hubunganku dengan Skypin? Tidak! ini akan menjadi penghambat rencanaku. Aku harus melakukan sesuatu."
" Tidak,ia pasti asal omong, kalau ia tahu aku sekotor itu, mana mau dia tetap mempertahankan ku menjadi dokter pribadi sekaligus wakil kepala rumah sakit peninggalan ayahnya ini?.Jangan terpancing Dian! pria itu hanya cari alasan saja untuk menghindar."
Diandra menghela nafas, mencoba bertarung dengan hatinya yang kacau karna penuturan Jhon.
" Kau fikir aku akan suruk dengan cintaku bang...gertakanmu takkan ngaruh untukku."
Diandra segera menuju sebuah ruangan yang akan menghapus jejak percakapannya dengan lelaki impiannya, lebih tepatnya pria obsesinya barusan. Ia tidak tahu kalau percakapannya bukan hanya terekam oleh mini camera itusaja, melainkan sudah disadap oleh seseorang.
" Kenapa kau senyum- senyum sendiri? " tanya curiga cinta melihat Rajj cengengesan ketika menyuapinya.
" Mhem...tidak, aku hanya sedang membayangkan menyuapimu dan anak kita."
" Eis..Aku tak percaya kau berani berkhayal sejauh itu." Cibir Cintami tanpa menatap Rajj.
" Mulai hari ini kau harus belajar mempercayai pujaan hatimu ini sayang..." Rayu Rajj dengan sarkasnya, seraya membersihkan sisa makanan dipinggir bibir Cintami dengan bibirnya sebelum Gadis itu sempat mencegah tindakan tiba- tiba pria itu. Cintami terpaku ditempatnya, walau tindakan itu terkesan kilat namun berhasil membuat pipi sang gadis memerah, tidak terkecuali juga kupingnya, sudah seperti udang rebus saja.
" Ka..kau..."
" Kenapa? Itusaja sudah gugup nona? Bagaimana kalau nantinya kau sudah menjadi
milikku? Akan kugarap sampai gembur dan subur!" Rajj kembali mengeluarkan kalimat sarkasnya, membuat Cintami makin salah tingkah.
__ADS_1
"Ka... Kau sangat mesum pria jelek." balas Cinta masih gagap.
" Uffffhh...Sampai segitunya cemasmu sayang..Kemaren- kemaren berani sangat." Bisik Jhon sebelum mengantar piring yang sudah kosong keatas nakas.
Cinta yang malu digodain terus oleh Rajj, segera menyandar dikepala ranjang sembari menutup mukanya dengan tangan. Sungguh setelah mengungkapkan perasaannyapada Rajj, ia menjadi sangat malu menatap mata pria ini, apalagi sekarang lelaki ini sudah berani pula menggodanya.
______________________________________
Aku tersenyum puas setelah menggoda gadisku. Ia tak dapat sedikitpun menutupi perasaannya dari ekspresinya. Sekarang kulihat ia jadi malu- malu padaku. rona merah di pipi dan telinga cantiknya menjadi sorotanku, membuat ia semakin tertunduk.
Kuantar piring yang sudah kosong kenakas, hatiku sungguh bahagia ia menjadi gadis yang patuh selama dirumah sakit.Tak pernah menolak makan dan obat yang kuberikan. Dan makin gemas juga aku dengan wajahnya yang setiap saat selalu merona, pantang tatapan kami bertemu, ia akan tertunduk malu. Aku makin penasaran, kemana gadis pencuri penantang dan pencercasebelumnya. Apakah gadis ini berainkarnasi hanya dalam waktu 72 Jam.
Perlahan kusentuh kedua Punggung tangan halus yang ia gunakan untuk menutupi wajah indahnya. Kutarik lembut kedua tangan halus itu kedalam genggaman tanganku yang kuat dan kasar. Melihat ia masih tersipu, akupun
membawa kedua tangan itu kebibir padatku nan sensual.
" Aku suka semua ekspresinmu nona, kau selalu cantik dalam mode apapun." Ucapku tulus.
" Rajj...a..aku malu sudah duluan mengatakan cinta padamu." Ungkapnya sembari menunduk menghindari sapuan mataku diseluruh inci wajahnya.
Senyum dibibirku makin melebar, dengan perlahan kusentuh dagu bak lebah bergayut miliknya." Zaman sudah berubah sayang...Tidak harus selalu pria yang mesti duluan mengatakan cinta." Balasku menatap lapar cery manis yang sudah menjadi canduku.
Bibir manis itu bergetar, aku makin tergila untuk memagutnya, sampai encesku nyaris menitik menahan keinginan itu.
" Sadar Rajj ini rumah sakit! Lagian perhitunganmu dengan ayahnya belum jelas."
" CK."
Aku kembali tersenyum mendengar decak kesalnya. Kulihat sengaja ia melengos dari pandanganku. Mungkin rasa malunya saat ini sudah berubah jadi kemarahan, pipinya bertambah merah, juga telinga imutnya.
" Pria ini sangat beruntung sayang...Tidak mudah membaca perubahan ronaku." Ucapku yang membuat ia turun dari tempat tidur.Baru saja ia ingin mencabut infusnya bermaksud ingin mengejarku membalaskan kemarahannya,aku sudah mendekapnya kuatnya dari belakang.
" Sabarlah sampai cairan itu masuk semua ketubuhmu sayang...Tak perlu mengejar yang sudah didepan mata. Begitu sudah halal, kau kejar kutangkap." Bisikku lembut.
" Rajj...Kau semakin enteng dengan perasaanmu, Sedang aku sudah setengah mati menggilaimu." Balasnya seraya menggigit lembut pergelanganku seperti gigitan nenek tua yang sudah ompong.
" Siapa bilang ini enteng nona," Jerit hatiku.
" Ronaku memang tidak akan terlihat jelas sayang...tapi coba dengar ini." Ucapku menekankan bibirku ditengkuknya.
" Rajjj....Aughhhhh" Racaunya meremas pangkal pahaku.
" Siapa bilang ini enteng bagiku cinta...Balasku dengan memutar tubuhnya menghadapku. Kulihat ia mendongakku.
__ADS_1
Segera kuangkat dagu itu.Sedetik tatapan kami beradu, didetik berikutnya aku sudah takkuat untuk tidak melahap cery matang menantang kesukaanku ini.
Bukannya menolak, ia malah membalasnya lebih dalam. Dada besarnya dibusungkam menempeli dada bidangku.Bibir dan lidah kami saling meraup dan membelit.Nafas kami bersatu dan memburu dalam gejolak tubuh yang semakin memanas.
Dreet..
Bunyi pintu yang membuka menyadarkan kami dari pagutan yang menggilakan itu.
" Tu...Tuan..."
" Papa..."
Kami berdua terhempas dan saling lepas. Tatapan kami jatuh pada ubin ruangan VIV ini.
" Jangan buatkan dulu cucu untuk Papa Rajj.. papa ngak mau cucu Made in Hospital!
Deg.
Aku malu setengah pingsan, entah mau ditarok dimana mukaku ini. Rasanya ubinpun turut menertawaiku.
" Papa ingin cucu yang baik, halal sehat dan tampan." Ucapnya seraya menepuk pundakku.
" Ma..maaf tuan." sahutku gagap setelah susah payah membuka mulut.
" Tidak masalah, lusa sesuai janjimu pada cinta pernikahan kalian akan digelar. Nanti sore cinta cek out dari rumah sakit ini." Putusnya tegas.
Deg.
" Pa...Hanya pernikahan? Pestanya?" Cinta memberanikan diri protes.
" Kurasa kau tak butuh pesta anakku, yang kau mau hanya Rajj, Itu takkan bisa dilakukan dipesta! " Ujar tuan itu dengan ekspresi tak terbaca.
" Papa..
Tak ada lagi jawaban, lelaki paruh baya itu mengangkat tangannya lalu keluar sembari mendorong pintu.
" Rajj..bagaimana ini?"
" Tenanglah...Aku akan mengurusnya sebagai lelaki." Bujukku sembari menuntunnya berbaring di ranjang, lalu menyelimutinya.
" Kutinggal sebentar ya.." Pamitku,Iapun mengangguk.
Sebelum pergi kukecup sekilas keningnya untuk menenangkannya. Aku tak mau wanitaku tinggal dalam kecemasan, meski aku sendiri tidaklah sesantai yang terlihat.
__ADS_1
Lanjut!
Hai Teman baca NT / MT, jangan lupa bantu dukung karya ini dengan cara Fote, like, komen dan faforitkanya bagi yang mampir, karna dukungan teman motivasi bagi kami.