Pilihan Cinta

Pilihan Cinta
Chapter 13.


__ADS_3

" Maaf tuan, aku cuma bercanda berkata seperti tadi." Ucap driver taksi itu tak enak hati setelah mengintip ekspresiku dari kaca spion.


" Tak apa, aku sudah biasa." jawabku pendek sembari menyandar. Sopir yang sepertinya seusia denganku itu kembali mengintip spion. Kulihat kedua alisnya mengernyit. "Kalau begitu jawaban tuan, sepertinya aku merasa makin bersalah."


" Artinya aku menambah luka diatas luka tanpa sengaja." Ucap sopir itu lagi.


" Ha..ha...Santai aja bro! Kok jadi sastra gitu kalimatnya." Aku tertawa dan tiba-tiba merasa hatiku jadi ringan.


" Tadi akunya yang kurang fokus.Saat ini, bibi sakit dirumah.Jadi aku agak anfokus." Jelasku tak mau ia merasa bersalah.


Kemudian ia tersenyum dan membulatkan mulutnya. "O... "


" Kalau begitu baiklah, aku akan menambah kecepatan." Ujarnya lagi.


" Ngak usah nyampe kelewat balap pula, lebih baik lambat daripada cepat tapi tibanya dirumah sakit. Kalau bro dan aku berakhir dirumah sakit, siapa yang akan mengurus bibi ku, ia hanya punya MR. Black ini saja kerabat didunia ini." Ujarku sembari tersenyum tipis.


" Ha...ha...Bisa becanda juga kiranya you Bro! " Ujarnya dengan wajah berbinar.


" Aku tak bercanda Bro, emang selama ini dipanggil MR Black." Curhatku tanpa sengaja.


" Tega nian orang yang kasih gelar begitu, padahal kenyataannya tuan Bro sangat tampan, justru kulit yang sedikit gelap membuat Bro terlihat maskulin."


Aku menggeleng sebagai tanda tak setuju dengan pendapat nya.


" Serius lho bro! Orang yang memberi gelar itu pasti musuhnya Bro, atau jangan- jangan ia orang yang sangat suka padamu Bro, sebab cara wanita mengungkapkan cintanya macam -macam."


" Dia bukan musuh, dan bukan pula yang kedua.. Bro salah tebak." Sanggahku.


" Bro tidak peka mungkin? atau kalau ia bukan musuh, kemungkinan besar pertanda suka.Bisasaja ia tak berani mengungkapkan rasa sukanya, untuk itu ia sampaikan lewat cercaan.


" Mana mungkin, non cinta hanya kebiasaan ngejek saja." Tolakku ketika hatiku membenarkan ucapannya.


"Bro ternyata supir paling ngalu se-Jabotabek! Mana cerewet pula " Sanggahku kemudian.


" Terserah tuan Bro mau percaya atau tidak, Maaf kalau sudah buat tuan tak nyaman. Aku merasa akrab saja dengan tuan Bro, berjumpa dengan Bro rasanya kayak ketemu aktor film laga Bollywood."


" Upps..Cukup gombalannya, jangan sampai


aku salah mengira tentang mu bro." Ujarku dengan senyum smirk.


" Ya janganlah dosa nanti !Aku pejantan tulen, pecinta Bugis ketan.Bukan terong makan terong! Kalau bro tak percaya silahkan lihat akun sosmedku Bujang kelana, disana Bro bisa melihat Tiga jagoan dan satu Incesku yang lahirnya susun pakis, sebagai bukti saking doyannya aku nyantap Bugis tiap malam." Ujarnya cegengesan.


Kuabaikan kiasan bermarna mesum itu sembari memandang jalanan.


" Bujang kelana? Sudah berkelana kemana saja bro?" tanyaku yang makin merasa akrab karna dari nama akunnya ia seperti orang dari sebrang.


" Berkelana terus...mulai dari bukit, sungai gunung dan lembah. Paling doyannya mengintari Padang rumput sembari melahap buah syurga."


" Ya ampun...Kukira tadi serius, Rupanya masih mesum! "Seruku sembari menggeleng.


" Kamu mungkin lahirnya pagihari ya Bro, makanya mulutnya kayak murai, berisik! " Ujarku lagi pura - pura marah padanya lalu tertawa.


Ya, kamu tak salah tuan bro! Malah lahirnya didepan pintu toilet pula. Ha ..ha...


Ha...ha...


Kami tertawa berdua, sampai ia menepikan mobil untuk keamanan.


" Kukira kau tersinggung bro, nyatanya turut tertawa walau tahu ditertawakan." Balasku sembari memegang perutku yang sampai sakit karna tertawa. Pria ini menurutku komplit, bawel, sok perhatian dan sok akrab juga.Tapi aku suka, tanpa sadar kesedihan malam ini sedikit teralihkan.

__ADS_1


Mobil kembali melaju santai setelah kami menuntaskan tawa.


" Bagiku hidup dibawa enjoy aja tuan Bro, apalagi sedang diluar. "


" Kok diluar doang, seharusnya dirumah lebih dong, kan rumah kita adalah syurga kita." Timpalku.


" Rumahku surgaku hanya berlaku bagi orang yang kehidupannya tidak sekeras dan setajam aku tuan Bro. Pengennya sih gitu. Tapi yang ada kalau sudah dirumah dahi ini keriting terus mikirin tuntutan belanja dapur, keperluan anak sekolah dan kebutuhan istri,tempat tinggal masih ngontrak sedang anak udah empat. " kali ini kulihat ekspresinya serius.


" Kalau masalah ngontrak sih biasa, yang penting lancar rezekinya, dikampung saja bangun istana. Yang penting istri ngak suka nahan jatah bila setoran ngak cukup." Godaku sembari mengedip jenaka.


" Aku mimpinya ngak ketinggian gitu juga bro, bisa bangun rumah, sekolahin anak sama beli sebidang kebun saja dikampung sudah cukup. " ucapnya sembari terus fokus pada kemudi.


Sedang aku manggut- manggut- saja sembari mengamini dalam hati.


" Kalau soal istri ngak nyampe separah itu tuan Bro! Hanya pidatonya aja yang kepanjangan sebelum tidur. Kalau udah tengah malam tetap aja kalau ngak kita ia yang minta. Ha...ha..


" Kalau begitu ngak perlu dikasih setrikaan jidadnya, bawa enjoy aja, kemanapun." Ujarku.


" Iya.Sepertinya begitu lebih baik.Selama ini sudah coba terus untuk keep smile. Namun kadang susah, apalagi mendengar keluhan bundanya anak- anak soal belanja. Tapi ya mau gimana lagi bro, emang untung kayak begini."


" Emang sudah coba kerja apasaja bro? " tanyaku yang tak ingin menyinggungnya kalau


menanyakan latar pendidikan.


" Semuanya udah Coba bro! Mulai dari penyapu jalan, penyapu gedung bertingkat, pedagang osongan, ngojek, dan terakhir driver taksi online ini." Jelasnya sembari tersenyum kecut.


" Orang dari sebrang biasanya hobi dan hokinya berdagang dong..."


Ia mengangguk. " Kalau istri sih ada jualan sarapan pagi didepan kontrakan.Akunya yang bekerja suka ngak betah, makanya keburuberenti terus sebelum modalnya terkumpul.Padahal pengen juga punya usaha sendiri yang lebih maju." Ucapnya dengan wajah penuh harap.


" Sabar bro! Hidup akan indah pada waktunya, yang penting usaha jalan terus, urusan rezeki sudah diatur." nasehatku sembari menepuk pelan pundaknya.


" Oh, ya! Untung, belum kelewat, maaf karna aku sudah sok akrap pada tuan Bro." Ucapnya tersenyum malu.


Setelah mengerem, iapun menatap kerumah.


" Apa ini rumah tuan Bro? Wow...Ternyata tuan Bro Sultan juga ya! " Mulut nya kembali menyerocos dengan mata membulat dan wajah berbinar.


Aku tak punya waktu lagi meladeni ocehannya, kukeluarkan selembar kartu nama berikut 10 lembar uang merah dari dompet, lalu kuberikan padanya.


" I...Ini kebanyakan, disini biayanya hanya Rp 200.000, 00" Tolaknya mengambil 200 dan meletakkan sisanya dibangku.


" Sisanya bawa aja!." Balasku.


Awas! Berani nolak bakal dilapor pada CEOnya, kalau Bujang kelana sudah nyetir ugal- ugalan hingga penumpangnyaterbentur." Ancamku.


" Ahhh...Tapi ini tidak, A_


" Sudahlah...Bawa saja uangnya dan setor pada nyonyamu, seratus persen halal! Beri yang lebih sesekali,biar bugismu cepat dihidangkan." Bisikku, lalu cepat - cepat turun dan menutup pintu.


" Tapi Bro_


" Jangan Brisik! Pulang sana! Wus...Wus!"Usirku manis.


Kulihat ia kembali tersenyum.


" Kalau perlu apa- apa telfon saja, Bila tak lagi sibuk, pasti diiangkat!" Teriakku sembari melangkah cepat menuju gerbang.


Cukup lama juga baru terdengar taksi itu melaju. Hingga aku sudah berdiri tepat didepan gerbang.

__ADS_1


" Tuanmuda Rajj...Benarkah itu Anda?"


" Ya pakde...I Am Raj Copri." Balasku.


" Syukurlah nak..kau akhirnya kembali. Bibi Canamu sejak kemaren resah menunggumu pulang." Ujar satpam tua dengan wajah berbinar.


" Apa sudah dipanggil dokter untuk mengobati bibi?" Tayaku penuh selidik.


" Sudah Rajj, bahkan nak Dokter Yana sudah merujuk Bibimu untuk diobname kerumah sakit, tapi dianya bersikeras ingin berobat dirumah, katanya ia menunggumu saja." Jelas pakde Joko


Deg.


Detak jantungku kembali memompa dua kali lipat. Aku segera berlari masuk kerumah, tanpa peduli panggilan pakde yang menanyakan dimana tas pakaianku.


Saat ini hatiku ingin cepat melihat bibi, rasa takut kehilangan tiba- tiba datang lagi menghampiriku.


Baru saja aku didepan pintu kamarnya, Kulihat bibi terbaring lemah dikasur dengan diimpus ditemani oleh asistennya, dan seorang gadis berpakaian serba putih.


" Kemarilah Rajj..." Ucap lemah bibi mengangkat kedua tangannya menyambutku, kulihat kedua matanya cekung.


Aku mendekat dengan tubuh yang mulai gemetar." Bibi...Kenapa tidak mau dibawa kerumah sakit? "tanyaku seraya mengusap wajah bibi dengan tangan kananku,sementara tangan kiri menggenggam tangan yang terulur.


Aku beralih menatap Dr Yana tajam." Kamu juga Yana! sebagai dokter pribadikeluarga ini, kenapa tidak membawanya kerumah sakit,malah memberikan pengobatan alakadarnya begini." Ucapku menatap tajam wanita cantik didepanku.


" Ja..jangan marah Rajj, ia tak salah, bibi yang tak mau." Bela bibi bicara dengan susah.


" Tapi bi__" Ucapanku terpotong tatkala telfon disakuku kembali bergetar.


Segera kuraih benda itu dan mematikannya.


" Kok tak diangkat nak... entah itu penting. Huk...huk..huk."


" Bagiku saat ini bibi lebih penting! Kita kerumah sakit ya bi..." Bujukku yang sudah bersiap untuk mengangkatnya.


" Tidak Rajj, bibi tak mau meninggal dijalan, Sepertinya waktu bibi sudah. Huk..huk...huk..


Dia terus batuk tanpa putusnya, hingga aku urung membawanya, kupangku bibiku tanpa khawatir ketular batuknya.


" Bibi bandel ngak mau berobat dari dini." Sungutku.


" Ini penyebab saja nak..SE..sepertinya bibi akan pulang.To..Tolong jangan sedih, bi..bibi pergi dalam baha..gia walau belum sempat melihat cucu." Ucap bibi terputus- putus.


" Makasih sudah pulang untuk bibi." Ucapnya lagi sebelum melihat keatas. " La Ila ha illahlah..Muhammadar Rosulullah..." bisikku dikupingnya.


" La..Ilahaillallah..Muhammad da rasul." Baru sampai disana , tenggorokan bibi terdengar tercekat, berikutnya kedua tangannya dilipat didepan dada,matanya meredup, degupnya perlahan habis, namun meninggalkan seulas senyum, tapi ada setitik air mata juga mengalir dari kedua matanya."


" Bibi pergi bi...Rajjmu sekarang sebatangkara." Ucapku dengan Bulir- bulir bening yang mengembang tak terbendung, kubiarkan saja ia mengalir.


" Biarkan aku memeriksa bibi sebentar, agar semua jelas." Ucap pelan dokter Yana sembari menyentuh pundakku.


Aku mengangguk dan membaringkan bibi kembali. Membiarkan wanita itu memeriksa.


" Bibi benar telah pergi.Yang sabar ya Rajj." Ujarnya sembari menatapku.


Tidak berapa menit rumah sudah ramai,mungkin bibi Zahra atau pakde yang menyebar berita duka ini. Sedang aku hanya tercenung dengan airmata yang tak hentinya mengalir.


Jenazah bi Cana sudah dipindahkan keruang depan oleh para tetangga. Tikar- tikar dibentang, dan orang- orang terus berdatangan.


Hingga menjelang subuh bergantian orang menjaga jenazah sambil melantunkan doa dan membacakan ayat suci.

__ADS_1


Jenazah dikebumikan subuh hari, setelah diselenggarakan bersama pengurus masjid setempat. Dalam berduka masih terbersit rasa kagum dihatiku pada sosok bibi, waktu lima tahun ternyata bisa ia gunakan untuk bersosialisasi baik dengan warga, terbukti orang Sudi mengorbankan waktu tidurmereka untuk melayat dan menyelenggarakan Almarhumah.


__ADS_2