Pilihan Cinta

Pilihan Cinta
Namanya Anisa


__ADS_3

Sapaan lembut suara terngiang terus ditelinga Farhan. Rasa penasaran pun muncul di fikiran Farhan.


"Kak, kenapa kakak memperhatikanya terus?". Ejek Andin setelah kepergian wanita bercadar itu.


"Eeehhh tidak,, cuma terlihat lucu saja wanita berpakaian serba terlalu tertutup." Jawab Farhan.


"Kakak penasaran ya? Aku lihat jari tanganya terlihat lentik dan menarik kak. Hehe". Ujar Andin ternyata memperhatikanya juga.


"Bicara apa kalian, serius amat. Makanan ini banyak ini, sayang kalo di anggurin." Ujar Mama Farhan yang sibuk mencoba menu satu persatu.


"Ga bicara apa-apa kok ma. Ini juga bingung mau coba yang mana dulu". Jelas Farhan sambil mencolek adiknya agar pembicaraannya tidak diketahui.


"Masakan disini tidak berubah ya ma, masih tetap sama seperti yang dulu. Ooo iya kalau tidak salah pemilik resto ini pak haji Dahlan ya ma. Apakah masih beliau yang masak". Ujar papa Farhan.


"Mama ga ingat Pa. Kan Papa dulu yang pernah ngobrol sama pemiliknya. Tapi yang memasak setau saya istrinya Pa." Jelas Mama Farhan.


"Yaudah kita nikmati saja masakan nostalgia kita dihari bahagia anak kita Pa. Mama merasa spesial makan disini Pa. Besok-besok dihari penting di keluarga kita dirayain disini saja ya Pa." Sambung Mama Farhan.


"Iya... Ini buat Mama ada udang saus padang kesukaan Mama". Papa Farhan sedikit romantice pada Mamanya.


"Cieeee so sweet banget Mama dan Papa ya kak. Kita yang jomblo cuma numpang". Ujar Andin mengejek.


"Iya Ndin. Itulah Papa dan Mama yang hidup saling mencintai bahkan udah berumur masih romantice, ya ga Pa". Tambah Farhan.


"Iya donk, kalian juga tidak boleh iri. Makanya nanti kalau sudah punya pasangan nanti sudah menikah kalian berusaha mencintai pasangan. Kalian sudah besar sudah sewajarnya mengetahui berapa penting mencintai dan menyayangi." Penjelasan Papa Farhan serius.


"Iya, buktinya Mama dan Papa merasa masih muda saja dibuat Papa yang selalu berbunga-bunga. Terkadang hanya gombalan buaya, tapi karna Papa kalian hanya untuk Mama." Tambah Mamanya Farhan dan Andin itu.


Farhan dan Andin terkekeh serta mengangguk mendengar nasihat Mama dan Papanya.


"Iya Pa,Ma. Kami akan mendengarkan nasehat Mama dan Papa." Balas Farhan mewakili menjawab sambil melanjutkan makan.

__ADS_1


Berkecamuk bahagia mereka makan di salah satu meja makan restoran favorit keluarganya itu. Tak terasa menu yang dipesan ludes bahkan Andin sempat nambah beberapa menu.


"Andin,, apa ga kebanyakan makan kamu?." Farhan heran dengan isi perut adiknya itu.


"Ga tau, maunya nambah terus karna enak. Sesekali kok kak". Jawab Andin santai sambil lahap.


"Yaudah kamu lanjut saja, aku ke toilet dulu ya Ma,Pa." Pamit Farhan ingin buang air kecil dan berlalu mencari dimana toilet.


Farhan merasa begitu lega setelah keluar dari toilet restoran. Tak sengaja saat melewati ruangan dapur Farhan mendengar suara tawa dua orang wanita yang asik mengobrol. Awalnya Farhan cuma tak sengaja mendengar, karena yang ia lihat adalah wanita bercadar itu ia sengaja berhenti dan mendengar percakapan mereka.


Farhan mendengarkan lembut suara wanita bercadar itu juga melihat picingan mata saat tertawa begitu indah seolah mengajak Farhan untuk tersenyum.


"Anisa kamu pada saat itu hebat tau. Nanti kita kesana lagi ya". Terdengar potongan kata teman wanita bercadar itu mengobrol sambil bercengkrama bahagia mengikuti wanita bercadar itu.


"Oooo ternyata wanita bercadar itu bernama Anisa. Nama yang indah sesuai keindahan mata dan bercahaya kulitnya. Memandangnya berpakaian tertutup membuatku hanyut dalam kekaguman." Ujar Farhan.


"Mas, ada yang bisa saya bantu?". Ucap salah satu pelayan lain yang muncul dari belakang Farhan.


Sesampai dimeja makan dengan keluarganya Farhan melihat Andin selesai makan, akan tetapi kedua orang tuanya asyik memperhatikan ponsel Mama melihat foto-foto wisuda tadi.


Farhan duduk santai sambil membayangkan tawa dan menyadari nama Anisa. Farhan senyum-senyum sendiri membayangkan.


"Kak Farhan kok senyum-senyum dari kamar mandi. Ketemu wanita bercadar itu ya?." Ejeknya menebak.


"Tidak,,, sok tau kamu. Kakak lagi senang saja." Ujar Farhan mengelak berbohong.


"Ah yang benar. Sama adik sendiri main rahasiaan". Sambung Andin.


"Kamu masih kecil jangan sok ingin tau urusan percintaan. Belajar dulu yang rajin biar bisa kuliah di universitas yang bagus." Ujar Farhan mencubit pipi adiknya gemes.


"Sudah ke kamar mandinya Han, apa kita sudah bisa balik sekarang?." Ujar Papa Farhan saat sudah menyadari Farhan sudah duduk ditempatnya kembali.

__ADS_1


"Iya ayok Pa kita balik. Sudah lumayan capek dan ngantuk setelah kekenyangan Pa. Mau istirahat Pa". Ujar Farhan.


"Baiklah, Papa akan bayar dulu ya." Jelas Papa Farhan.


Setelah membayar makan mereka menuju mobil yang iya kendarai menuju jalan pulang. Rumah mereka 2 jam lebih dari restoran tadi yang ia singgahi.


Sesampai dirumah farhan langsung menuju kamarnya dan merentangkan diri dikasur.


"Aaaaahhh,,,, enak sekali kasurnya. Badanku terasa selalu ingin menempel disini." Ujar Farhan menikmati rerebahanya. Farhan mengambil ponsel disaku celananya terlihat banyak notivikasi whatsaap di ponselnya. Baik chatan teman-teman maupun grup.


"Males balesnya sekarang, nanti sajalah". Ujar Farhan karena sangat merasa capek sehingga ia terlena dan akhirnya tertidur.


Sudah larut malam menujukkan pukul 08.30 malam. Karena Farhan tidak keluar dari kamarnya Mama Farhan mengetok pintu kamar anaknya itu.


"Farhan,, Farhan,, apakah kamu masih tertidur. Kamu belum makan malam nak". Ujar Mamanya membangunkan.


"Mmmm iya Ma, aku masih kenyang dan masih ngantuk". Ujar Farhan dengan suara khas bangun tidurnya.


Mama Farhan membuka pintunya yang tidak terkunci. "Astaga Farhan,,,, kamu tidur dengan pakaian seperti ini. Lihatlah kamu belum mandi nak." Ujar Mama Farhan mengomeli Farhan.


"Farhan ngantuk Ma. Farhan capek." Ujar Farhan pada Mamanya.


"Iya Mama tau kamu capek, tapi minimal cuci muka dan kaki juga ganti baju dulu. Mama sudah masak bubur kacang ijo tuh dibawah. Walaupun ga makan nasi minimal makan bubur ya nak, Mama tunggu di bawah ya." Ujar Mamanya dan berlalu keluar kamar Farhan.


Walau terasa masih capek dan mengantuk Farhan selalu mendengarkan kata Mamanya. Ia mandi dan mengganti pakaianya dengan pakaian santai baju oblong dan celana pendek.


Sesampai di bawah Farhan melihat Papanya dan Andin nonton TV. Sementara Mama lagi panggilan Vidio call diruang tamu sama orang yang belum diketahui Farhan itu siapa. Farhan berlalu kedapur dan memakan bubur yang telah disediakan Mamanya.


"Hmmm enak juga bubur buatan Mama. Walaupun masih kenyang tapi ini bisa bikin semangat lagi." Ujar Farhan dan sambil membuka ponselnya.


Farhan terkejut melihat layar ponselnya sudah ratusan chat di aplikasi Whatsaapnya juga ribuan notivikasi grup.

__ADS_1


"Astaga,,, kok sampai sebanyak ini. Panggilan tak terjawab juga sangat banyak. Ga munkin juga aku angkat satu persatu". Jelas Farhan yang panik sendiri melihat ponselnya. Akhirnya ia mencoba membalas chat satu persatu juga minta maaf karena baru buka ponsel. Juga tak lupa menyapa di grup dan membalas ucapan selamat juga terlihat sangat ramai digrup sehingga membuat Farhan tidak bisa menyendok buburnya.


__ADS_2