Pilihan Cinta

Pilihan Cinta
Chapter 34


__ADS_3

Malam ini Liam akan menemani Yanna keClab malam sesuai permintaan wanita itu setelah meminta izin terlebih dahulu dengan mengirim pesan pada tuan Scypin.Ia sengaja tidak melaporkan peristiwa yang dialami oleh Yanna hari ini pada bosnya itu, khawatir kondisi kesehatan tuan Scy drop pula memikirkan Putri terkasih yang tuannya besarkan dengan tangan sendiri itu.


Setelah bersiap diruangannya, Yana memanggil Liam.


Liam...Cepatlah kita berangkat, aku sangat ingin minum malam ini untuk menghilangkan kesedihanku. Pesan Chatt dari Yana.


Sebenarnya Li sangat ingin mengingatkan sang gadis agar tidak mencari hiburan ketempat yang salah seperti yang kerap dilakukan oleh papi wanita ini.Setelah berfikir keras dan menarik nafas, dengan bergetar ia mencoba juga menuliskan pesan, agar nonanya tidak buru- buru mengambil jalan ini.


Nona...Apa sebaiknya difikirkan lagi tempathiburan yang aman." tulisnya hati- hati.


Kau jangan jadi penceramah, namamu saja tidak cocok!


Bruk...Hati Liam langsung tersungkur membaca balasan dari Yanna. Begitu hatinya mengecil, ia cepat- cepat menyadari siapa dia hingga harus didengarkan oleh wanita muda itu.


" Baiklah...sebagai sesama aku hanya berhak memberi nasehat, diterima atau ditolak bukan hakku lagi untuk memutuskan." Li mencoba memperingatkan diri sendiri untuk mengobati


rasa kecewa.


Okelah nona, kita berangkat sekarang...Iam ready. Balas Liam pasrah sembari mengatur langkah menjemput Yana diruangan wanita itu.


Walau masukannya ditolak mentah, setidaknya ia telah mendapat balasan perizinan dari tuannya menemani Yanna ketempat hiburan malam itu, bahkan dipesannya tuan Scypin menambahkan kalimat selamat berhasil pada Liam.Liam hanya geleng- geleng kepala membaca pesan balasan itu. Rasanya dunia sekarang memang benar- benar sudah edan tingkat dewa, ketika dengan ringannya orang tua membebaskan anaknya berlibur dan mencari hiburan kemana suka. Pengaruh modernisasi memang hebat, dimana sekat antara budaya tak lagi jelas.


Kalau tuan Scypin tak perlu dipertanyakan lagi, ia memang berasal dari latar belakang budaya barat,tidak salah ia meneruskan kebiasaannya.Kebebasan sudah menjadi prinsip hidup tuan Scy, namun tentu saja untuk putrinya ia tidak membebaskan tanpa pengawasan.


Tuan Scy mempercayakan pengawasan Yanna sejak dulu pada anak angkat yang merangkap asisten pribadinya ini.Sejak Yana Sekolah Dasar, ia mengambil Liam anak rekannya yang meninggal karna mengalami kecelakaan.Merawat Li, memberikan pendidikan yang pantas, mengasihinya hingga tumbuh besar bersama putrinya sampai sekarang, hanya bedanya Yanna mengambil kedokteran, sedang Liam managemen bisnis.Mereka sama- sama berhasil menyelesaikan strata satu dan dua dibidang masing- masing dengan waktu yang cukup cepat, karna kedua anaknya ini terbilang Genius secara akademis.


Sebenarnya dalam perawatan Scypin tidak terlalu membedakan kedua anak ini.Bahkan Scypin selalu meminta Li memanggilnya ayah, hanya Liam yang sadar diri tetap kukuh memanggilnya tuan.Bahkan berkali pula tuan ini mengatakan pada Li, andai Yanna bisa jatuh cinta pada pria muda ini, bukan masalah bagi Scy menambah status Liam jadi menantu.Namun sepertinya putrinya selama ini bersikap cuek pada Liam. Untuk ini tuan Scypin juga tidak terlalu memaksa, karna yang ia inginkan nantinya anaknya menjalin hubungan Syah dengan orang yang putrinya sukai, bukan seperti dirinya yang menjalin kasih tanpa komitmen.


Memang sejak lama tinggal dinegri ini, pandangan hidup pria bebas ini jauh berbeda, ia yang dulu anti komitmen, jadi sangat menginginkan sebuah pernikahan, namun kenyataan hidup menamparnya keras, ketika wanita pribumi yang ia sukai tidak mencintainya.Lalu apakah bedanya cinta dengan hasrat yang menggebu? sering kali tuan Scypin berfikir keras tentang ini, karna setiap kali bercinta,wanitanya terlihat sangat menikmati, bahkan wanitanya itu melakukannya dalam keadaan sadar tanpa pengaruh obat.Sesekali Scy tidak dapat menyangkal tuduhan putrinya kalau ibu dari anaknya itu terlalu egois.Sepertinya kedua manusia beda latar budaya itu, mengalami pergeseran nilai yang berbanding terbalik.


Suara musik hingar bingar menyambut langkah kaki jenjang gadis cantik berambut coklat dengan gaun merah sepanjang selutut


diClap malam tersohor diibukota.Gadis yang merasa sangat patah hati, begitu sampai langsung memesan Wine satu meja penuh pada bartender.


" Siapkan juga kamar ya Li, aku ingin nginap juga! " titah Yana membuat kedua mata Li membola.


" Ayah sama putri ternyata tak jauh beda, kalau sudah stres suka nginap ditempat sembarangan." Sungut Li lirih.Tapi ia tetap menuruti permintaan sangnona,memesankan ruang VIV untuk Yana, lagian ada bagusnya juga, jika wanita itu nanti mabuk, ia tak perlu repot- repot membawanya pulang, cukup berjaga saja diluar.Tapi kalau memungkinkan ia akan mencegah Yana untuk tidak mabuk benaran. Kalau menurun dari sang papi,Yana tidak akan mudah mabuk hanya dengan minum beberapa gelas.Entah karna ia wanita, darahnya tak sekuat papi, Li belum paham juga, karna ini kala pertama menemani wanita

__ADS_1


ini minum.


" Kenapa dengan dengan calon istrimu itu bos?"tanya bertender yang sudah kenal dekat dengan Liam.Untung suara pelayan itu tidak dapat didengar oleh Yana karna hentakan musik yang memekakkan telinga.Walau tidak, Liam tetap saja mukanya merah karna malu.


Andai Yana dapat mendengar ucapan sembarang sang bartender, pasti Li bakalan kalang kabut, karna ia tidak mau Yanna salah sangka dengannya, walau jauh dilubuh hati terdalam pria muda ini,ada perasaan na..na...na..ketika membayangkan jika gadis ini benar-benar jadi istrinya.


" Kesempatan kayaknya Bro." bisik Jack sang bartender." Dengan tatapan jahat.


" Mhem...Liam hanya membalas dengan berdehem saja, ia tak tahu harus berkomentar


apa pada hasutan tak jelas itu.Didalam hati ia hanya berharap semoga tidak terjadi hal yang buruk. Ia tak mau terpancing, karna tugasnya disini hanyalah menjaga dan memastikan keamanan nona Yanna.


" Sudah nona...sepertinya ini terlalu banyak! " Cegah Li ketika Yanna sudah menghabiskan beberapa gelas dan terus nambah dengan meminta dibukakan beberapa botol lagi.Bukannya mendengarkan, malah Yana memaksa Li bertanding.


" Kau pasti tidak sekuat aku terhadap Alkohol,


apa kau lupa kalau papiku raja minuman.


Ayo lawan putri raja ini! Put......ri...Putri raja Wine..." Racau Yanna yang sudah mulai mabuk seraya menyodorkan segelas Wine kebibir Liam.


" Aku hanya ingin menemani nona menghibur diri, tidak mau minum malam ini." tolak Lin


" Kalau tidak mau minum berarti banci! Liam Banci!...He...he..."


Ser!


Darah muda Liam langsung naik diteriaki banci oleh nonanya ditempat seramai ini, apalagi orang- orang sekitar pada tertawa. Liam dengan marahnya membuka satu botol dan langsung meneguknya sampai tandas.


Yana melangkah maju, menarik pinggang Li, mengikis jarak antara keduanya." Ini baru anak papi.." Bisiknya tepat dikuping pria itu.


" Malam ini kau harus mengalahkan ku tuan sipit... andai tidak aku pasti akan terus meneriakimu Banci."Ujar Yana yang sudah tanpa sadar menantang jiwa kelelakian pria muda didepannya, atau lebih lengkapnya melukainya juga.


Li menatap Yana tajam." Aku hanya menahannya saja selama ini nona, berusaha keras menjaga kepercayaan orang yang sudah memungutku.Kalau bukan karna itu,sudah daridulu kubuatkau melahirkan anakku." Batin Li mencekam.


" Ha...ha.... Kenapa diam? Tersinggung ya?Sorry Liam sayang...Matamu itu bukan tipeku!


Aku hanya tergila- gila bercinta dengan pria bermata lebar itu, pasti hot! Kalau kau mungkin tak bisa ya???" Ungkap Yana makin memprovokasi.

__ADS_1


" Kau!!!" Sekarang kemarahan Li semakin memuncak.Ia mulai ******* bibir Yana dengan kasar, yang disambut oleh wanita itu dengan ganas.


Setelah berbagi Saliva wine,selanjutnya mereka meneruskan pertandingan minum sesuai tantangan sang gadis.


Akankah pertandingan ini berpindah jalur?


__________________


Lain lagi dikediaman Jhon Smitt.


Kami baru saja selesai melakukan olahraga malam yang ternyata setelah habis sakit menyisakan kecanduan padanya.Kalau aku sih jangan ditanya.Lelaki memang begini,kata orang kalau sudah belah duren langsung nagih.Kayak makan duren juga ngak ada jeranya! Over dan lemas sekarang, esok akan mau lagi.Lebih parah jika sudah ketemu sarung yang pas, maunya nancap terus bahkan dalam bobok aja maunya disarungi.


Na...na...na...na...😅


Sebuah notifikasi pesan masuk diperangkat Cintami membuat kami yang masih betah menyatu saling pandang.


" Apa Jona dan Jeni lagi?" tanyaku mengingat sebelum ini saudara kembar itu bergantian mengirim pesan mesum yang mempertanyakan aktifitas MP kami.Tentu saja tak ada jawaban kepada pesan konyol keduanya, karna aku dan istriku sama- sama punya prinsip hubungan seinten ini butuh frivasi. Walau kadang keceplosan juga lagi membahas mesum ditempat umum.


" Entahlah...Ganggu kesenangan orang aja." Gerutu istriku setelah aku melepas penyatuan.


" Biar aku yang periksa." Ujarku menahan tubuhnya agar tetap berbaring.


" Biar aku saja, siapa tahu dari Bi Dian."


" Diandra maksudnya?"


" Mhem.." ia menjawab dengan berdehem saja.


" Apa yang perempuan itu mau darimu?" tanyaku langsung keInti, langsung merobah posisi menjadi duduk dan memakaikan gaun tidurnya yang nyangkut dipinggiran tempat tidur. Sedang aku membung tubuhku dengan


selimut.


" Rajj...biar aku."Mohon Cintami begitu aku sudah mengambil benda pipih itu dari nakas.


" Jangan sembarang membuat kesepakatan dengan orang!" Seruku mengulurkan perangkatnya itu pada Cinta.


" Sudah terlambat! Aku sudah janji bantu dia mendapatkan papa." Ujar Cinta membuatku menatapnya tajam.

__ADS_1


" Apa ancamannya hingga kau Sampai mau mempertaruhkan kesetiaan papamu pada almarhum mamamu Cinta?" tanyaku sedikit membentak.Hatiku diliputi kemarahan karna bisa- bisanya ia dengan mudah menerima wanita selicik Diandra, apalagi aku tahu ada seorang putri dan pria lain yang lebih membutuhkan wanita itu.


Maaf Ya Say...Kemarin sibuk didunia nyata, ngak sempat nulis.Jangan lupa apresiasinya bagi yang mampir.Kasih ulasan/ komentar yang membangun ya,Like, vote,Faforit, sesekali kopiin ngak nolak Lo say...


__ADS_2