
Pagi telah tiba, rutinitas keluarga bahagia Farhan dipagi hari terlihat hangat sebagaimana mestinya. Juga Farhan memakai seragam yang rapi tapi bukan hitam putih lagi melainkan kemeja warna biru juga celana bahan abu yang menambah aura karismatiknya.
Setelah sarapan Farhan pamit dan mulai mengendarai motornya menuju kantor. Farhan sengaja berangkat agak pagi supaya tidak telat sampai dikantor. Farhan selalu menjunjung tinggi disiplin.
Sesampai di kantor Farhan mulai duduk dikursi ruangannya itu, ia mulai memeriksa laporan satu persatu.
"Lumayan banyak laporan untuk diperiksa hari ini. Aku akan selesaikan sebelum jam makan siang." Ujar Farhan. "Eehh bukanya semalam aku sepakat sama Papa untuk sholat shubuh bareng, pasti dia ketiduran juga. Atau jangan Papa lupa juga." Ujar Farhan setelah mengingat kesepakatanya sama Papanya.
Tok...tok... Bunyi pintu ruangan diketuk dari luar.
"Ya masuk." Ujar Farhan.
"Pak ini laporan mingguan ya pak, mohon diperiksa ya pak." Ujar salah satu staf keuangan menyodorkan beberapa map yang berisi kertas untuk ditanda tangani.
"Baiklah, terima kasih." Ujar Farhan sambil mengambil mapnya dan Farhan melajutkan memeriksa laporan.
"Hmmm,, pak,." Ujar staf tersebut sedikit gugup di depan Tarhan.
"Ya, ada apa?." Ujar Farhan santai.
"Mhhh begini pak, salah satu staf senior ada yang berulang tahun pak. Jikalau bapak ada waktu kita akan merayakan pada jam makan siang. Apakah bapak bersedia ikut?." Ujar staf itu.
"Boleh, dimana?." Ujar Farhan menyetujui.
"Nanti diberitahu kepala staf pak, kita akan berkumpul di ruangan para staf ya pak." Ujar staf itu.
"Baiklah, nanti aku akan kesana." Ujar Farhan.
__ADS_1
Ternyata dalam beberapa hari kerja beberapa staf telah menaruh perhatian pada Farhan. Tapi Farhan hanya menanggapi biasa karena dikampusnya juga terjadi hal yang sama.
"Akhirnya selesai juga sebelum jam makan siang. Saya punya waktu setengah jam untuk bersantai." Ujar Farhan yang mengambil secangkir kopinya dan memandang pemandangan kota dari jendela ruanganya.
"Ternyata indah juga pemandangan perkotaan kalau dilihat dari sini. Eeeh tunggu dulu, itu bukanya restoran itu." Ujar Farhan yang mengingat restoran milik orang tua Anisa. Ternyata dekat dari sini rupanya." Ujar Xu feng dan mengangguk mengamati.
Setengah jam berlalu Xu feng ikut berkumpul dengan staf keuangan untuk mengikuti serangkaian salah satu staf yang ulang tahun. Doni kepala staf mengarahkan restoran tempat ia makan bersama. "Baiklah nanti kita akan berkumpul di Restoran 3A ya. Saya sudah pesan tempat di suatu ruangan dan bilang saja dari staf keuangan dari Mitsubishi otomotif." Ujar Doni mengintruksi para staf.
Para staf mulai bubar menuju restoran, sementara Doni mengajak Farhan berangkat bareng bersama dengan mobilnya. Perbincangan ringan juga dilontarkan Doni saat Farhan duduk dimobil Doni.
"Pak Farhan memang low profile ya, bapak mau mengikuti acara para staf seperti kami. Aku kira bapak tak mau ikut." Ujar Doni sambil menyetir.
"Biasa saja bang Doni, lagiankan biar para staf juga akrab denganku begitu juga sebaliknya biar pekerjaan tidak kaku. Bukanya silahturahmi juga dibutuhkan saat dilingkungan kerja." Jawab Farhan ringan dan menghormati Doni lebih tua untuk memanggilnya abang.
"Iya benar pak, itulah yang saya bilang bapak low profile juga humble. Semoga kedepanya staf keuangan semakin akrab dan semangat kerja ya pak." Ujar Doni menambahkan.
"Tapi ngomong-ngomong pak Farhan sudah menjadi seorang idola dikantor pak, banyak staf yang membicarakan bahwa pak Farhan berparas tampan dan brondong lagi. Bangga juga punya atasan muda juga tampan, nanti kalau banyak kenalan ciprat ke saya satu pak." Untai Doni dengan nada becanda.
"Hahaha,, bisa saja bang Doni. Kadang orang suka berlebihan menilai aku. Aku hanya orang biasa yang sedang fokus berusaha." Balas Farhan lagi, doni cuma membalas anggukan karena terlihat wajah Farhan sedikit serius.
Sesampai di restoran tujuan Farhan membuka pintu mobil dengan santai dan melihat keluar, ternyata restoran yang dituju itu restoran bapaknya Anisa.
"Ini Restoran 3A bng Doni?." Ujar Farhan sedikit terkejut.
"Iya Pak, ini Restoran 3A. Salah satu Restoran terkenal dikota ini. Memang sih kalau kita lihat logo Restoranya terlihat kurang jelas angka tiganya jugahuruf A. Tapi Restoran ini dari dulu Disebut Restoran 3A pak Farhan." Jelas Doni sambil mendekati Farhan dan memandang keatap restoran itu.
"Ooo jadi begitu, soalnya orang tua saya juga sering makan disini dulu, tapi tidak pernah menyebutkan nama restoranya. Makanya saya kaget mengetahui nama Restoran ini." Ujar Farhan menjelaskan dan dibalas anggukan oleh Doni.
__ADS_1
Farhan dan Doni juga staf lainya mulai berdatangan. Sesuai intruksi mereka menyesuaikan tempat duduk di ruanganyang telah disediakan.
"Mira sudah datang? Coba hitung kita semua 34 Orang." Ujar Doni mengintruksi pada temanya.
Farhan yang mulai duduk mulai ciplingak ciplinguk melihat keberadaan Anisa tapi tidak terlihat olehnya. Sampai Farhan memberanikan Diri pada salah satu pelayan yang berlalu lalang.
"Mba, maaf sebelumnya saya mengganggu anda. Saya mau tanya Anisanya ada?." Tanya Farhan.
"Maaf Bapak siapa?." Balik tanya pelayan itu.
"Oh saya Farhan temanya Anisa". Ujar Farhan mengenalkan diri.
"Ooo baiklah, mbak Anisanya munkin belom pulang dari kampusnya pak. Apakah ada pesan?." Ujar Pelayan itu.
" Ooo begitu ya, tidak ada pesan kok. Terima kasih ya, saya cuma tanya saja". Jawab Farhan gugup dan Farhan berbalik bergabung bersama rekan kantornya lagi.
Acara staf kantor dilaksanakan jam istirahat kantor saja. Jam istirahat kantor kurang lebih satu jam, karena jam satu siang sudah harus berada di kantor.
Setelah hampir setengah jam berlalu semua sudah mulai makan menikmati hidangan restoran. Karena Mira yang berulang tahun dari staf keuangan juga salah satu penggemar dari Farhan. Tiba-tiba Mira menarik tangan Farhan dan meminta menemaninya bernyanyi di pentas kecil resto dengan gaya genitnya. Bukan hanya itu teman-teman dari staf keuangan juga banyak yang mendukung, akhirnya Farhan mengalah.
Sebuah lagu dinyanyikan oleh mira juga bisa memanjakan telinga para pengunjung, juga gaya centilnya diatas panggung membuat semua ricuh menjadi hiburan akan tetapi risih bagi Farhan. Farhan berusaha menyembunyikan kerisihanya.
Saat Farhan berusaha keras menyembunyikan kerisihan ia menangkap sosok yang curi pandang di meja kasir. Awalnya Farhan belum yakin itu Anisa, akan tetapi semakin diperhatikan Farhan kemunkinan itu mulai ada. 'Itu benar Anisa, aku melihat kening dan pandanganya itu adalah Anisa.' Batin Farhan.
Beberapa saat setelah Farhan yakin wanita bercadar yang terlihat di meja kasir adalah Anisa, Farhan langsung melepaskan pagutan Mira di tanganya dan turun dari panggung kecil itu dengan alesan ke kamar kecil.
"Anisa...."
__ADS_1