
Hanya suara hembusan nafas kasarku berulang kali yang mengisi perjalanan kami menuju rumah sakit,tandanya aku tidak bisa tenang sesuai sarannya.Ia Bro BK makin membawa mobilku melaju kencang,agar kami bisa sampai dengan cepat,untuk hari ini aku tidak protes apapun,karna aku sedang tidak punya minat hidup seribu tahun lagi andai terjadi sesuatu dengan istriku.
Selama 35 menit perjalanan,barulah kami sampai dirumah sakit.Begitu mobil berhenti aku langsung membuka pintu,melangkah cepat keluar tanpa menoleh lagi pada Bro kelana.Dengan terburu aku melangkah menuju ruang IGD.Sejak tadi mataku sudah begitu menahan tangis.Begitu Bro Roni menyambutku dengan wajah pucatnya hatiku makin tercubit keras."Apa istriku masih bisa diselamatkan Bro,aku belum siap untuk kehilangannya,kau tahukan hanya mereka yang kupunya didunia ini."Curhatku mulai tak sanggup lagi menahan sakit.
"Jini sudah mencegahnya untuk masak kue lagi hari ini,tapi ia ngotot. Mr San Husin menemaninya didapur,tapi bertepatan ketika Koki itu disuruh Cinta mencari kelapa muda kebelakang,entah apa yang terjadi,hingga pas Koki itu kembali,Cinta sudah tergolek tak sadarkan diri dilantai.
" Maaf sekali lagi Rajj, kami lalai menjaganya,kami sibuk bermain dengan
Zaki dan Juna ditaman." Ujar Jini menyusun jarinya didada dengan raut penuh sesal.
Aku menggeleng,teringat pada putraku." Arjuna dan Zaki mana?" tanyaku lirih.
Kuminta biSumi menjaga mereka,takutArjuna histeris kalau sampe tahu mommy dan calon adiknya terjatuh."Ujar Roni.
Aku mengangguk lemah."Baguslah kalau anak- anak tak tahu kejadian ini." Sahutku masih dengan nada yang sama.
Hampir 1jam kami menunggu didepan pintu,sembari terus memperhatikan lampu amergency yang ada didalam sana. Begitu lampu mati degup jantungku kembali memacu lebih kencang.
Cek let.
Terdengar suara pintu terbuka.Seorang dokter
memanggil namaku.
"Tuan Rajj Copri..." Panggilnya dengan nada bergetar membuat kami semua kembali memucat,tentu lebih parah diriku,walau kulitku gelap tetap kentara juga kalau hatiku sedang sangat cemas sekali kala ini.
" Ba..Bagaimana keadaan istri saya dokter." Sahutku menghampiri.
"Nyonya selamat tuan,namun maaf sekali kami tidak dapat menyelamatkan bayi perempuan tuan,hanya beberapa detik saja ia bernafas setelah keluar.Maaf sekali lagi tuan,kami sudah berusaha__" Ucapan dokter itu tertahan tatkala melihat aku terduduk lemas dilantai ubin yang dingin itu.
Rasa perih dan sedih kembali merayap kedalam Lubuh hatiku,kali ini lebih dalam dan menusuk,membuat dadaku sesak,hidungku masam,tak kuasa lagi kubendung airmata.Tangis tanpa suara.
__ADS_1
"Malang tak dapat ditolak,mujur tak dapat diraih Rajj...Bersyukurlah istrimu masih diselamatkan Tuhan.Sekarang kau sudah menjadi ayah dua anak,walau satunya untuk disyurga." Batinku menghibur diri.
Maka kucoba berdiri dengan kaki yang masih lemas.Bro Roni langsung membantuku bangkit tanpa mampu berucap apapun kecuali yang kudengar Isak tertahan darinya, juga tangis memelas Jini.
"Aku takut ia tak kuat begitu sadar dan tahu putrinya sudah tiada,ia sangat mengharapkan anak itu." Ratap Jini.
" Kita akan membantu membujuknya agar ikhlas dengan semua ini,semoga cepat dapat gantinya."Balas Roni bermaksud menenangkan kami.
"Maaf satukali lagi tuan Rajj,untuk kedepannya nyonya Cinta sudah tak boleh hamil lagi, karna kehamilannya berbahaya bagi dirinya dan janin sebab ada tumor dirahimnya. Saat ini masih jinak,tapi jika dibiarkan besar kemungkinan akan menjadi ganas.Untuk itu kami perlu membicarakannya dengan tuan tentang tindakan selanjutnya."Ungkap dokter itu,membuat langitku berasa runtuh sekarang.
Jedaaar
Suara Ledakan besar berasa menghantam Indra pendengaranku mendengar penjelasan dokter itu.Belum selesai kehilangan putri,malah sekarang terancam kehilangan istri pula." Ya Robb...Apa dada ini kuat ya? Hingga harus dihantam keras dengan bertubi begini,sejenak aku kembali berbicara dalam kalbu pada penciptaKu,entah ini berupa keluhan,Umpatan, atau curahan keputus asaan.Tiga hal yang sebenarnya sangat tidak disukai oleh ROBBIKU.Tapi apalah dayaku yang hanya insan biasa,hatiku terbuat dari segumpal darah,bukan dari besi atau baja yang tahan banting.
"Tidak! Tidak! Jangan Ambil ibu dari anakku, biarkan aku yang duluan pergi nantinya Ya.Aku tak Sudi kehilangan lagi!" Jeritku dalam hati sembari menggeleng- gelengkan kepala.Tubuhku mulai gemetaran,sedang pandanganku mulai tak jelas karna airmata.
Dokter itu melangkah mendekat,menyusun sepuluh jarinya didada." Maaf tuan Rajj, tidak bermaksud membuatmu terpukul dengan semua berita ngak baik ini."
Bro Roni memegangi eratlenganku,sepertinya takut aku rubuh benaran."Rajj." Ucapnya seolah memanggil jiwaku.
Dokter itu mengangguk, lalu kembali kedalam.
Beberapa detik berikutnya Fatimah dibawa keluar oleh para perawat.Wajah-wajah mereka tampak sedih dan tertunduk membawa jenazah bidadari kecilku.Disusul tangis Jini yang makin keras.
"Putri kami....Kenapa pergi sebelum sempat melihat dunia yang megah ini nak..Hiks...hiks Hi.....hi...." Tangisnya memaksa Bro Roni melepasku untuk pergi menenangkan istrinya.
" Suuuut...Jangan sampai Cinta tersadar dan mendengar jeritmu ini Jin,tidak bisa menghiburnya,setidaknya jangan membuatnya makin terluka." Ujarnya.
Sedang aku terdiam menatap bidadari mungil seperti tertidur pulas itu.Tak ada cacat dan cela sedikitpun diwajah kecil itu.
Aku raih mahluk kecil dalam bedongan itu dari Brankar mungil dan kugendong dengan menguatkan segenap jiwa raga.
__ADS_1
"Cantik sekali Fatimah kami...Tapi ternyata Syurga lebih merindukanmu nak...Apa daya Daddy menahanmu."Batinku.
Hati siapa yang takkan sedih tatkala harus menimbun bidadari kecilnya dengan gundukan tanah merah,sementara istri saat ini masih belum sadarkan diri dirumah sakit.
Langkah kakiku keluar dari pusara Fatimah Lumbang- lambing.Sampai para pelayan dan tetangga yang mengiringi memegangiku.
"Tu...tuan...Nyonya sudah sadar."Ujar Sumi menyusul kami ketaman belakang.
Deg.
" Bagaimana kalau ia menanyakan bayinya Ron?Jini akan jawab apa?"Tanyaku memelas.
Dipegangnya pundakku,lalu ditepuknya pelan.
" Tenanglah...Aku sudah bicara pada Jini tadi." ucapnya lembut.
" Pak Jo,Cepat siapkan mobil,kita kerumah sakit sekarang!" Titah Roni pada sopirku kemudian menarikku melangkah cepat menuju kepelataran depan.
Baru saja kami tiba didepan,Arjuna dan Zaki sudah berlarian dari dari arah pintu utama.
" Daddy....Kemana mommy,gimana adik perempuan Juna? Udah lahir ya,boleh Juna ikut lihat adik dan mommy kesana?" Ujarnya menunjuk Johan yang sudah masuk kedalam mobil.
"Belum sayang ...Adik kecil sama mommy masih dalam proses penyembuhan.Bang Juna sama bang Zaki masuk dulu ya.Sabar tunggu mom pulang." Sahut Roni sebelum aku mampu bertutur apapun menjawab putraku.
" Apa benar begitu Daddy?" Tanya Arjuna menelisik.
" Ya tuan muda...Kalau tuan muda sayang sama adik dan mom,sabar dulu ya..." Imbuh BI Sumi menjemput Arjuna dan Zaki.
" Iya nak..Daddy buru- buru lihat mommy,Abang masuk sama adik dulu ya." Akhirnya aku berhasil mengeluarkan kata- kata itu walau dengan tenggorokan yang begitu terasa sempit,dan ludah yang sangat pahit.
Wajah imut putraku mengangguk."Cepat kembalikan mommy sama adik cantikku kesini,jangan lama- lama Daddy simpan mereka ditempat ngak enak itu." Ucapnya penuh intimidasi walau dirinya sudah dalam gendongan BI Sumi.
__ADS_1
Aku hanya bisa menjawab dengan anggukan lemah sebelum memasuki mobil.
Maaf ya buat yang masih mau baca karya ini, untuk beberapa hari kedepan Up-nya jarang termasuk SINTA,karna penulis lagi sibuk ngisi rafor.