
Setelah mengantar nyonya dan mamang, aku bawa mobil sendiri kerumahku.Masih banyak yang perlu diurus dirumah, syukurlah aku diberi waktu tigahari cuti.
Selama tigahari aku cukup sibuk dirumah peninggalan orangtuaku ini. Ternyata bibi punya beberapa komuditas sosial mulai dari
kelompok TPA, Yasinan, jamaah tabligh sampai group karyawan Copry collection.
Kelompok pengajian bibi datang bergantian setelah konfirmasi kerumah via telfon. Sedang group karyawan datang selipan. Sengaja ku pilih menggunakan jasa catering untuk menyambut kedatangan mereka bertakziah, walau ada tiga orang asisten rumah tangga dirumah, tak mau kubuat susah dengan urusan masak sendiri. Bi Zara, Zainab dan Miatun hanya bertugas menghidang saja makanan atau kue yang sudah dipesan. Dan kulihat mereka bekerja dengan baik menyambut tamu- tamu terakhir bibi.
Selama 72 jam juga aktifitas kontak dengan keluarga Smitt terhenti. Setiap ada panggilan masuk, sedikitnya hatiku berharap itu panggilan dari nona mudaku, tapi ternyata tak ada.
" Ia benar- benar mantap dengan Aliando pilihannya, setelah pesta aku akan benar- benar bebas dari keluarga itu.Walau sendiri dan tidak punya tujuan lagi kecuali menghabiskan sisa umur sembari meneruskan Usaha keluarga yang bergerak di bidang produksi dan distribusi pakaian India ala muslim ini." Batinku.
Malam ini aku berangkat peraduan tepat di pertengahan malam setelah melipat sajadah. Itu karna masih saja banyak orang datang bertakziah walau sudah malam ketiga. Sebenarnya sedari tadi pakde Joko menyarankan padaku untuk masuk kamar karna melihat mataku yang berat.Tapi aku kukuh untuk tetap bertahan sampai pelayat terakhir turun. Ini aku lakukan untuk menghargai mereka yang sudah menerima bibiku sebagai teman mereka. Entah apa yang
sudah dilakukan bibiselama ini pada teman ataupun kenalannya hingga tidak sedikit diantara para pelayat itu yang membuang airmatanya untuk menangisi bibi. Bibi memang tidak punya anak ataupun anak asuh
yang resmi, tapi tidak sedikit pula yang mengaku sudah menganggap ibu padanya diantara kaula yang datang. Sekali lagi aku mengucap syukur dihatiku, bibiku benar- benar diakui sebagai orang yang baikdinegara ini, itu artinya tidak sia- sia aku membawanya berhijrah ketanah air bundaku ini.
Katanya nilai hidup sama juga dengan nilai ujian, seberapapun bagusnya proses, tetap saja yang dihitung nilai Ujian akhir. Nilai akhir hidup Almarhumah bi Cana Rahima Copri ternyata baik dimata lingkungannya. Semoga
bibi,kedua orangtuaku, kaum muslimin muslimat yang baik ditempatkan ditempat yang layak disisi Allah SWT bilamana sudah kembali PadaNya.Dan bagi yang masih memiliki jatah mengharungi hidup diperantauan ini semoga selalu mendapat hidayah, berkah dan Inayah dalam tiap langkah hingga lolos juga ujian akhir nanti. Amiiin" Doa sederhanaku dipenghujung malam sebelum memutuskan untuk menyerahkan nyawaku pada pemiliknya
alias tidur.
*
*
*
Malam berganti subuh, ketika aku terjaga kuucap syukur, walau entah apa yang akan terjadi selanjutnya aku tetap semangat.
Setelah menunaikan dua rakaatku, aku mulai membuat beberapa rancangan model pesta yang akan kuusulkan berikut daftar IO terkemuka diibukota ini.
Pukul Delapan pagi aku sampai dirumah besar keluarga Smit dengan taksi Ujang kelana yang segaja kupesan sejak semalam
hanya untuk berbagi rezeki sekalian cari aman karna diriku merasa masih dalam pengaruh efek begadang.
Begitu aku masuk aura dingin menyergap perasaanku. Kulihat para pelayan menunduk saja padaku tanpa berani menyapa seperti biasa. Baru tiba diruang keluarga aku langsung disambut oleh kepala pelayan. Tak ada lagi senyum jenaka dan kata Bro dari ucapannya. Pria hampir sebaya denganku itu hanya menunduk dan memintaku untuk menghadap tuan besar Jhon dengan nada yang terdengar sangat formal dan kaku.
__ADS_1
Tak percaya dengan perubahan ini aku sampai mencolek pria itu, tapi ia hanya menunduk hormat lalu pergi dari hadapanku dengan terburu- buru.
" Perasaan tadi aku sudah bercermin, bujang kelana juga mengatakan kalau aku makin tampan dan sedikit kurusan. Kenapa mereka melihatku seperti ketakutan, ngak mungkin juga arwah bibi Cana menempelikukan?
Penasaran dengan apa yang terjadi aku mencari nona cinta dulu sebelum menemui ayahnya. Untungnya biSumi tidak sama dengan pelayan yang lain, ketika aku bertanya dimana nona Cinta, ia dengan senyum mengembang mengatakan kalau nonanya sedang makan dikamar.
Sempat terfikir juga apa yang sudah terjadi mengapa sampai nona makan dikamar, hingga membuat langkahku makin kuat untuk menemuinya dikamar itu. Baru saja aku ingin mengetuk, aku sudah terkejut oleh panggilannya. " Masuk Rajj pintunya tidak dikunci! " Serunya dengan mulut terdengar penuh.
" Berarti ia sehat, tandanya makannya enak"
Lama aku berdiri didepan pintu menyaksikan ia makan dengan terburu dan sedikit belepotan.
" Nona...Lihatlah, sebentar lagi bakal jadi nyonya, makannya masih ngebut gini." Ucapku seraya menghampirinya dan tanpa sadar tanganku terulur untuk mengusap sisa saus yang menempel disudut bibir bawahnya.
" Sorry..aku lupa etika pagi ini." Ucapku sembari tertunduk malu tatkala tersadar kalau aku sudah lancang memasuki kamar majikanku, menyentuh bibirnya sedang jelas- jelas sebentar lagi ia akan menjadi nyonya besar Aliando Hasan.
" Rajj...Aku rindu padamu.." Ucapnya begitu seksi hingga bulu kudukku merinding. Apalagi kini ia sudah berjinjit menyentuh daguku, lalu tangan kirinya membuka kancing kemeja putihku, dan tangankanannya masuk ke dadaku dan sebentar kemudian meraba- raba seperti mencari sesuatu. " Kau ternyata sudah melepasnya Rajj, itulah mengapa semalaman aku takbisa tidur karena takbisa melihat ini." Bisiknya lalu dengan lancang menghisap belahan dada sixpack ku.
Walau otakku menolak kelancangan itu, tapi tubuhku bereaksi. Perlahan kuusap pinggang ramping itu, dengan posisi dagu ketekankan kekepalanya. Aroma sampo dari rambutnya makin menaikkan gairah kejantananku.Aku merasakan sensasi yang sangat aneh,Tubuhku panas meletup- letup. Semakin erat kubenamkan tubuh mungilnya dengan tubuhku hingga kurasa iapun menggigil.
Hanya dengan memansang bibirnya saja siToniku sudah menegang, apalagi kini bibir itu menghisap tempat dimana jantungku berdetak. Aku merasa nyawaku akan segera melayang.
Piut
Sebuah cubitan kecil nan perih mendarat dipinggangku.
" Awww...Sakit nona!" Jeritku kemudian.
" Rasakan! Itu hukuman karna kau selalu saja merusak momen indah kita! " Ujarnya seraya mendorong tubuhku.
Tapi itu tidak lama, detik berikutnya ia kembali
maju dan mencuri bibir tebalku yang mengerucut.
" Tubuhmu hangat Rajj...Aku tak bisa hidup tanpamu..." Racaunya seraya membenamkan kepalanya di pangkal leherku.
" Le...lepas nona." Balasku sembari mendongak untuk menghindari tatapanku jatuh pada buah ceri matang itu.
" Temuilah ayahku cepat darling...Dan mohon jangan katakan tidak walaupun sekali! " Ujarnya kemudian mendorong tubuhku pelan menuju pintu, lalu menutup pintu itu begitu aku sudah diluar.
__ADS_1
Aku masih belum bisa mencerna apa yang terjadi hingga nona terlihat gila begini. Lama aku bersandar dipintu kamarnya sembari menetralkan debaran dadaku. Sampai terdengar lagi seruannya." Rajj Cepatlah temui
dia, jangan sampai ia berfikir keras tentang kita! " Ujarnya masih membuatku bingung.
Aku berjalan menuruni tangga, kepala dan dadaku dipenuhi oleh sejuta tanda tanya. Sampai tiba dikepala pintu aku masih tak sadar, hingga kening dan hidung mancung ku berbenturan dengan pintu.
" Aduuuh...."
" Rajj kau kenapa? Masuklah..." Ucap tuan Jhon seraya membukakan pintu, menatap bingung padaku yang sibuk mengusap kening dan hidung. Lalu kulihat Tuan Jhon tersenyum begitu ramah padaku.
" Masuklah...biar kuobati." Ucapnya lembut, sampai aku mengusap mata lalu telinga tidak percaya dengan apa yang kulihat dan kudengar.
"Ah, tidak mungkin! Apa syaraf mataku dan telingaku langsung rusak karna benturan barusan?"
Tuan Jhon lalu menyeret tubuhku dengan pelan kedalam. Menarik satu kursi untukku.
Dan tanpa perlu perintah lagi akupun duduk.
Kulihat ia ingin mengeluarkan kotak P3K dari laci meja.
" Jangan tuan...Sakitnya tak seberapa, lagian itulah untungnya berkulit gelap benjol dikit ngak nanda, lagian ngak mudah juga benjol karna tingkat elastisitasnya tinggi." Ucapku asal sembari menahan tangan tuan Jhon.
Akhirnya ia mengangguk, lalu kembali mendorong laci itu.
" Baiklah...Jika calon menantu sendiri tak Sudi diobati oleh ayah mertua."
Deg
" A..Apa maksud anda tu..tuan? " tanyaku gagap.
" Duduklah lagi Rajjj, tenangkan dirimu! " Titahnya melihat ekspresiku.
Bingung level dewa, begitu yang kurasakan saat ini.Aku duduk lemas sembari menunduk menatap meja yang menjadi sekat antara aku dan Tuan. Bukannya aku tidak suka pada nona cinta, tapi apa yang terjadi selama 72 jam ini hingga aku akan menjadi calon menantu tuan Jhon.Bagaimana dengan Aliando Hasan? Anak pengusaha perkapalan itu?
" Tanda tangani surat kontrak ini Rajj! Aku dan putriku tak benerima penolakan! " Ujarnya kembali kemode tegas.
Deg.
" Kontrak apa ?"
__ADS_1
Berlanjut....