Pilihan Cinta

Pilihan Cinta
Chapter 27


__ADS_3

Usai acara sakral diMasjid, kukira takkan ada acara lagi.Tapi ternyata tuan Jhon mengarahkan rombongan menuju lokasi sebuah hotel berbintang.


Aku takjub dengan apa yang kulihat sekarang.Ketika kedua kakiku berpijak di ballroom hotel yang seluas lapangan bola. Disini sudah disiapkan pelaminan, panggung hiburan dan lantai dansa.Ternyata uang memang dapat mengatur segalanya, apalagi hanya sekedar pesta pernikahan. Entah sejak kapan tuan Jhon menyiapkan semua ini.Aku hanya melongo mengagumi semua.


" Selamat tersiksa menerima tamu- tamuku selama seharian cantik papa!" Ujar Tuan Jhon pada putrinya setelah mengantar kami ke pelaminan.


" Papa ngak Asyik, katanya cuma nikahan kok masih ada pesta." Sungut sang putri membayangkan bakal berdiri sampai sore sembari memasang wajah cemberut.


" Santai aja sayang..Kan ada pewangnya disamping." Ujar tuan Jhon sembari mengedipkan mata padaku.


" Ya Cantik... Ini cuma sekali seumur hidup kok. Kita coba aja dulu, sabar menyambut tamu.Nanti kalau bosan kita kabur saja kekamar, main enak- enakan." Ujarku dengan berbisik.


" Rajj...Kau..." Ujarnya mencubit pinggangku.


" Adaw...Sakit dong sayang...Nanti pasti Rajj balas setelah pesta berakhir! " Balasku sembari menenggelamkan pengantinku didada bidangku.


" Rajj...rengeknya.


" Ada apa? Sudah ngak sabar ya? " Godaku setelah mengurai pelukan.


" Pa...Lihatlah dia menyebalkan." Adunya


pada sang papa.


" Urus saja sendiri, Kan pilihanmu! " Sahut sang papa sembari tersenyum sarkas lalu melangkah ke depan untuk menyambut tamu pertamanya.


" Selamat datang Bro!" Kulihat Tuan sudah saling peluk- pelukan dengan pria sebayanya yang datang dengan anak lelakinya.


" Pria muda itu ada dalam daftar waktu itu." Gumamku.


" Dia sahabat kecilku, mantan rekan bisnis papa yang sekarang stay di Jerman." Jelas Cinta.


" Teman kecil kok ngak dipilih." Ucapku dengan nada cemburu.


" Kan maunya black sweet." Balasnya dengan bergelayut.


" Jeky Roesman nama pria tampan itu kan?" Ucapku lagi.


" Uhu...Kau boleh berkenalan langsung setelah ini, kan baru pernah ngomong ditelfon saja." Ujar pengantinku santai.


" Apa tak ada perasaan bersalah gitu? " tanyaku sembari menyentuh pipi mulusnya dengan jemari kananku.


" Ada sih, tapi itu dulu saat aku mutusin nolak dia, untuk kemarin tidak karna ia mengaku sudah move on dan punya gebetan yang orang sini."


" O...Baguslah..Tapi kok wanitanya tidak mendampingi ya.? " Selidikku masih dengan rasa cemburu yang belum kelar, karna pria muda itu selalu curi pandang mesra pada pengantinku.

__ADS_1


" Ta...Sepertinya aku tak bisa lama." Selamat ya..semoga samawa.." Ucap Jeki begitu sudah ada dihadapan kami.


" Emang mau kemana buru- buru?" tanya protes Cinta.


" Kekasihku masuk rumah sakit, aku kesini sebentar saja, karna ia pasti ngak mau kutinggal lama." Jelas lelaki itu entah mengapa kurasa hanya karangan belaka.


Pria itu mengulurkan tangannya padaku."Selamat Om! Jaga cinta dengan baik." Ujarnyadengan wajah tanpa dosa. Kalau tidak sudah tahu ia teman kecil Cinta, sudahku tonjok pria ini.


" Om? Enak aja! Emang kapan aku menikahi Bibimu." Protesku marahku dalam hati.


" He...he...Aku salah ya ta..Panggil suamimu apa bagusnya nya?"


" Suka- suka kamu lah.Aku dulu panggilnya om juga, ntar lagi ayang keren." Balas Cinta sembari merangkul lenganku hingga tanpa sengaja mengusik sikembar.


Deg. Degup jantungku kembali tak karuan, sejenak kemarahan ku menguap seketika karna perlakuan manisnya yang tak terduga ini.


" Kalian tampak seperti pasangan yang kasmaran ta, jadi harapanku untuk pelukan terakhir sepertinya sirna." Celetuk Jeki kemudian membuat Cinta sadar posisi tanganku tepat diantara kedua belahan sikembar. Cepat- cepat ia melepas tanganku sembari tersenyum.


" Tentu tak ada harapan! Andaipun aku menikah karna terpaksa, tetap saja ogah aku pelukan segala dengan bang Jeki. He...he..." Tawa sumbangnya jelas menunjukkan kalau ia sedang menutupi kegugupannya.


" Kalau ini sepertinya tidak terpaksa, tapi agaknya kau yang memaksa om tampan ini menikahimu." Sekali lagi lelaki itu menyebutku Om walau disertai kata pujian juga.


" Mereka asli sohib, cara memperlakukan orang saja hampir sama." Batinku.


" Ngak ah, Ogah! " Tolaknya cemberut.


" Ya sudah...tak apa, kupelukkau dalam mimpi saja ta, dialam nyata biar om ini saja yang menuntaskan." Ujar pria muda itu bernama Jeky itu lagi.


Entah karna marah atau apa, cinta akhirnya menghambur kedalam pelukan pria itu." Aku kangen kau Jek..Tapi untuk menikah denganmu aku tak bisa, ada alasan yang besar lebih dari alasanku yang dulu." Ucapnya masih dalam pelukan Jeky.


" Udah meluk sohibmu Jek, ntar kau ditelan bulat- bulan sama pengantin prianya." Timpal tuan yang tadi cukup lama bernostalgia dengan Tuan Jhon.


Pria itu mengulurkan tangannya." Selamat udah jadi pilihan Cinta kami Rajj, seperti dulu Daddymu merebut Rianti dari Jhon, seperti itu pula kau mencuri Cinta dari Jeky." Ujar lelaki itu buat jidatku mengeriting.


" Sudah jangan bingung! Nampaknya sejarah berulang dengan cara berbeda. Dulu Jhon menyukai Bundamu saat remaja. Tapi Pria dewasa dari gunung Himalaya itu mengalihkan dunia bundamu." Jelas kilat pria yang merupakan papanya Jeky.


" Om Jenuary Roesman " Ujarnya mengenalkan diri.


" Rajj Copry Om." Balasku.


" Mhem..." Balasnya dengan berdehem sembari menarik putranya dengan tangan kirinya.


" Aku sudah capek mengamankannya." Seringainya pada sang putra.


Aku terdiam, mataku beralih menatap tajam Cinta." Awas sudah berani berpelukan lama dengan pria lain didepan mata."

__ADS_1


Setelah itu kami saling diam, dan fokus pada tamu- tamu. Wajah kami kembali ceria, apalagi ketika Jenni dan Jonnatan datang menjadi pendamping pengantin dengan celotehan konyol mereka yang ada- ada saja.


****


Pesta yang cukup melelahkan itu akhirnya akan berakhir. Aku menarik nafas lega karna sampai detik acaraku aman.


Kutatap nyonya Diandra yang begitu ceria menyambut tamu mendampingi tuan Jhon.


" Sepertinya aman, keinginannya lebih dominan dari putrinya." Batinku.


Semua prosesi sudah dilakukan , terakhir ditutup dengan acara dansa dengan pasangan. Aku sudah siap menuju lantai dansa bersama istriku, saat pundakku dicolek oleh seseorang.


" Bisa bicara sebentar saja Rajj." Ujar Wanita yang mencolek sembari menatapku intens.


" Tidak bisa! Kami ingin berdansa! Kalau kau ada kepentingan dengan suamiku katakan dihadapanku saja! " Ujar Cinta sembari mendorong tangan Yana yang menempel dipundakku.


" Ya.Istriku benar, aku tak bisa bebas membuat janji dengan siapapun sekarang apalagi wanita tanpa didampingi istriku." Tegasku sebelum merasakan kepalaku berdenyut keras.


" Aughhh..." Keluhku sembari memijit kepala.


" Ada apa darling? " Tanya Cinta menatapku bingung.


Dengan hasrat yang entah datang dari mana aku segera menarik tubuh istriku, menahan tengkuknya dengan tangan lalu melabuhkan ciuman panas dibibir manis yang menggodaku sejak dari pagi.


" Rajj...Kau demam, tubuhmu panas." Ujar cinta begitu pagutan gila itu terlepas.


" Pa...Rajj demam! sepertinya papa sama Tante Dian aja yang meneruskan acara, kami kekamar dulu! " Sisa kewarasanku masih dapat mendengar penuturan istriku.


" Ya...bantu Mereka Jona." Pinta tuan John setelah memeriksa suhu tubuhku, saat nyonya Diandra dan Yana ingin mendekat tuan itu berteriak.


" Jangan ada yang mendekat kecuali pendamping pengantin." Ujar Tegas tuan John yang membuat semua mundur menyingkir.


Aku tak peduli dengan kericuhan itu, yang aku tahu sekarang aku sangat menginginkan istriku.Kedua tanganku sudah tak terkendali menggerayangi istriku.


Detik berikutnya Jonatan dan Jenny dengan sigap membantu Cinta membawaku kekamar.


Sepanjang didalam Lif aku menggelayuti tubuh molek istriku. " Sayang...aku sudah tak kuat..." Ucapku menatapnya dengan sayu.


" Ajak Kak Rajj berendam setelah ini Ta, Kunci kamarnya Bagus! Aku akan memerintahkan bodyguard menjaga pintu kamar pengantin kalian." Ujar Jona.


" Masak MP kami dijagai."


" Sepertinya ada yang sudah menaruh obat perangsang diminuman Rajj tadi." Ujar Jonatan.


" Apa? Jadi itu tujuan wanita itu!"

__ADS_1


__ADS_2