
Kutatap raut wajah kekasih halalku yang nampak sangat ceria sekeluarnya dari ruangan sang Psikiater.Getaran rasa itu langsung beresonansi pada hatiku,senyumku mengembang bersamanya.
"Gimana, apa dah ringan terasa disini kan?"tanyaku padanya sembari menyelipkan anak rambutnya kemudian mengecup puncuk kepalanya.
" Aku senang berbincang dengan Om B itu Rajj, orangnya eazy going bangat.Ngak sulit bagiku menyampaikan keluh - kesah, kayak bersamamu, jiwaku bebas merdeka rasanya." Ungkap cinta dengan wajah berbinar.
Senyumku makin melebar mendengar tutur istriku,berarti selanjutnya ia tidak akan merasa terpaksa lagi untuk terapi.Akan aku atur jadwal terbaik terapi selanjutnya dengan tuan B, sampai istriku benar- benar sembuh total dari Cleptomanianya.
Ditengah kami sedang asyik bercengkrama, tuan B datang untuk menemuiku."Sepertinya istrimu tidak butuh Konsul yang lama lagi Rajj, keberadaan orang tercinta cukup menjadi konsultan terbaik bagi nak Cintami." Ucap tuan B keluar dari ruang prakteknya.
Wajah cinta langsung tertunduk malu mendengar ucapan tuan B.
" He...he...Bisa malu- malu juga ternyata ponakan om yang super cantik dan berani ini ya." Goda om B menatapku dan Sinta lalu duduk dikursi panjang samping kiriku.
Sinta makin tersipu.Aku dan tuan B tertawa melihat ekspresi malu- malunya.
Raut muka yang baru kulihat setelah kami resmi menjadi suami istri, yang sebelumnya wanita ini terkesan tak punya urat malu.
" Om sama Rajj kira selama ini aku bukan wanita ya." Akhirnya istriku buka mulut juga memprotes aku dan tuan B setelah tawa kami berakhir.
" Tentu saja perempuan dong nak...Mana ada lelaki secantik nak Cintami, ya kan Rajj?"Balas tuan B melirikku.
" Tentu tuan B, kecantikan yang nyaris sempurna, aku saja ngak percaya kalau cinta mau menikahi pria sepertiku."Jawabku menegaskan.
Cintami kembali tersenyum malu."Om sama Rajj sepertinya perayu ulung." Sahutnya masih
tersipu.
" Pria kalau tidak bisa merayu berarti kurang sempurna dong nak.Kalau pria tak pandai menundukkan hati wanitanya sendiri, bisa diragukan kwalitasnya sebagai keturunan Adam." Sarkas Tuan B.
" Iya Tuan, untuk wanita yang kita sayangi rasanya satu buku takkan cukup untuk ditulis mengungkapkan perasaan."Tambahku.
" Bahkan Seribu bintang dilangit malam cerah takkan mampu menggantikan menerangi hati kita bila satu malam saja perempuan pujaan mengabaikan kita. Kau boleh rasakan ini nanti Rajj." Imbuh sarkas tuan B.
" Ya Tuhan...Kalau lama- lama disamping kalian berdua bisa- bisa kupingnya cinta tak bisa dibawa pulang lagi nanti saking kembangnya." Balas Cinta sembari menggosok kupingnya yang tiba- tiba gatal.
" Ha...ha...ha... Kan Rajj punya mobil Lohan yang bisa bawa Cinta Segede apapun." Canda tuan Boy.
Kedua belahan bibir istriku mengerucut."Om sungguh terlalu! Mana cantik lagi kalau kayak gajah."Ucapnya membayangkan hewan berkaki besar dengan telinga seperti kipas itu.
__ADS_1
" Kalau sudah cinta pasti manis semua.Gajah Bona kecilkan manis dan imut."Tambahku menyebutkan tokoh cerita bergambar majalah Bobo, yang tentu saja ngak diketahui Cinta, karna ia lahir setelah tumajalah ngak pernah terbit lagi.
Tak urung bibir mungilnya kian cemberut.
"Ntar kalau cinta nangis om yang tanggung jawab, Rajj yang tanggung badan lho!."tambah tuan B menggoda Cinta.
" Mhem... Istri cantik Soleha rajin ibadah ngaji pagi sore mana mau mendendam suami apalagi pada paman sendiri.Bukan begitu manisku?"Ucapku sembari mengusap pelan pipi Cinta.
" Sepertinya kami balik aja ya om... makin ngaco nih."Pamit Cinta sembari berdiri untuk menyalami tuan B,tapi kami senang karna bibirnya mengulas senyum termanis.
" Oke my sweet girl..." Kalau ada waktu berkunjunglah kerumah Om Nex time, sekalian ajak papamu."Ujar tuan B pada Cinta.
" Semoga bisa om...Soalnya papa sedang sibuk sekarang,sebelum aku atau Rajj siap menggantikannya Diperusahaan."Jelas Cinta seraya menggeser tubuh dan memberi kode agar aku menggantikannya menyalami tuan B.
" Ya...kalau begitu kesini sekali lagi,nanti biar om atur jadwal sama Rajj, Om bakal kangen berat pasangan klop kayak kalian lho.Berasa nostalgia."Tambahnya membesarkan hati pasiennya.
" Emang Tante sama manjanya kayak cinta ya Om?"
" Serupa tapi ngak sama tepatnya..." Jujur tuan B.
Kami bertiga tersenyum senang, langkah kaki dan beban kepala semakin berkurang.
"Om juga langsung meluncur, kangen rumah." Ucap tuan itu dengan tatapan misterius.
Kami melangkah bertiga menuju pelataran parkir.Sebelum memasuki mobilnya tuan B berkata."Nanti Nex Konsul kerumah juga boleh." Usulnya.
" Oke Om...Sekalian lomba masak sama Tante."Balas antusias Cinta.
" Kayaknya lebih seru, nanti om akan melakukan hal yang bermanfaat juga dengan anak muda ini setelah terapi mu.Gimana Bro?" Tuan B melirikku sembari mengedipkan sebelah mata.
" Siapa takut tuan Bro..." Sambutku seperti biasa bicara dengan Bro Roni.
" Oke...I you Again Om! " Pekik girang Cinta.
********
Selama dua puluh lima menit perjalanan pulang, kami hanya saling diam dalam mobil, sesekali kulihat juga istriku kesamping sembari tersenyum kecil. Sampai kami tiba dipelataran rumah kebetulan bertepatan dari belakang masuk mobil Papa mertua, dan satu mobil silver lagi dibelakang itu.
" Sayang...Sepertinya bibi Diandra menguntiti papa seharian."Bisik istriku mengetahui
__ADS_1
siapa pemilik mobil silver itu.
" Sepertinya iya, tapi kita lihat saja dulu apa yang terjadi.
Kami sudah berdiri dengan bergandeng mesra sekeluarnya dari mobilku,saat papa mertua keluar dari mobilnya dengan wajah masam.
Cinta menatapku dengan mengangkat bahu.
" Kita sambut saja papa." Bisikku yang dianggukinya.
" Sore pa..Gimana dikantor aman?" tanyaku langsung keInti begitu kami dekat.
" Sebenarnya papa ngantor Weekand gini cuma buat menghindari tatapan jahat.Tapi justru papa malah sial diikuti terus."Jelas papa mertua dengan wajah kesal.
Cinta terdiam hanya bisa menunduk,sedang aku melangkah maju mendekati papa Jhon sebelum wanita itu turun dari mobilnya." Dengar saja dulu apa maunya, setelah itu baru cari cara menghindar." Bisikku takut wanita itu telah dekat.
" Oke...Kalian sambut dia ya, papa mau istirahat."Ujar papa Jhon melirik Cinta.
" Ba...Baik pa." Gugup istriku.
" Tenanglah manis, kita ajak sekalian nanti makan malam bersama Calon Mama muda." Godaku sembari melirik bibi Diandra yang sudah dekat.
" Makasih Rajj...Dengan senang hati mama terima tawarannya." Sambut wanita itu dengan senyum palsu.
Cinta mencubit pinggangku karna tidak setuju
dengan sikap manisku, sementara aku tersenyum seperti tak terjadi apapun.Dibawah
sana tanganku meremas lembut jemari istri untuk menenangkannya.
Kami segera kedalam untuk bersiap- siap menyambut magrib yang hampir dekat. Begitu kami selesai mandi dan siap untuk sholat barulah terdengar ocehan istriku."Masih berani bertandang kerumah orang senja- senja! Padahal sudah seharian mengganggu papa dikantor."Omelnya
dengan bibir cemberut.
" Magrib waktunya singkat sayang...apa mau jadi korban tamu tak diundang itu?."tanyaku setengah bergumam.
Ia menggeleng, kubalas dengan senyuman.
Detik berikutnya kamipun menunaikan kewajiban utama kami sebagai hamba.
__ADS_1