
Suasana dimeja makan mewah interior kekinian keluarga Smitt begitu hening, hanya sesekali terdengar denting sendok yang beradu dengan garpu.Masing- masing nampak fokus dengan makanannya, Seakan makanan menjadi pelampias rasa diantara kami saat ini.
Istriku juga sepertinya jaim sekali,bahkan beberapa kali kusodorkan makanan kemulutnya ia hanya menggeleng pelan, merasa ini suatu bentuk protesnya padatamu tak diundang itu, akupun berhenti menyuapi dan fokus menghabiskan makanan sendiri tanpa menyebabkan kegaduhan apapun, sambil sesekali mengintip ekspresi orang- orang yang makan.
Kurasa inilah makan malam keluarga teraneh dan tercanggung yang pernah kualami sepanjang memoryku sudah mengingat hal dari kecilku.Yang biasanya makan malam bersama yang kutahu dan kurasa mencerminkan kehangatan dan kebahagiaan, tapi saat ini kurasa tak ada aura kenyamanan didalam kegiatan ini sedikitpun.Untung aku mengerti asal muasal masalah, kalau tidak sebagai urang Sumando pasti sedikit tersinggung.Tapi karna aku tahu sumbernya, aku biasa saja.
Akhirnya makan malam mencekam itupun selesai jua.Masing-masing kami mencuci tangan.Kembali terdengar denting peralatan makan yang dipindahkan oleh para pelayan dari meja untuk dibawa ketempat pembersihan piring.Bahkan para pelayan seakan tahu kalau untuk bicara saat ini tidak perlu, mereka melakukan pekerjaan mereka tanpa bicara, hanya gerakan menunduk hormat saja saat tatapan beradu dengan tuannya.
Tanpa bicara juga Cinta mengodeku untuk segera beranjak meninggalkan ruangan makan ini. Aku yang mengerti makna sorot istriku tanpa protes mengikutinya berdiri dan mulai mengatur langkah bersama.
" Tunggu Rajj...Ada yang mau papa omongkanpadamu sebentar." Ucap dingin papa Mertua tanpa melirik putrinya yang ada disamping kiriku.
Sekilas kupandangi bibi Diandra yang tersenyum smirk.Sedang istriku tampak pucat.
" Apa yang papa mertua mau sampaikan berhubungan dengan kesepakatan bibi dengan Cinta?" Batinku.
Setelah menguasai keadaan, akupun mengangguk pada papa mertua,kemudian meremas jemari istriku yang kurasa terlihat resah disisiku."Sayang...Kita dengarkan papa." Usulku dengan berbisik.Melihat ia mengangguk pelan,walau masih terlihat tidak tenang, akupun megatur kursi untuk ia duduki kembali.Setelah istriku duduk benar, akupun mengambil posisi disampingnya dengan posisi lebih rapat dari semula.
Papa Jhon menarik nafas berat, kemudian menatapku misterius.Aku kembali mengangguk agar papa bersiap untuk memulai pemicaraan.
" Rajj...Walaupun kau masih dalam masa cuti bulan madu, tapi papa minta kamu atur acara pertunangan papa akhir Minggu ini dengan Diandra." Ungkapnya dengan nada dingin dan datar.
" Bertunangan?Secepat itu?"Tanpa terkendali mulutku spontan bertanya.
" Mhem...Ya! Karna putriku sudah tak sabaran ingin memiliki ibu tiri, ia sengaja membuat kesepakatan dengan calon ibu tirinya dibelakang ku, dikiranya selama ini mungkin ayahnya ini sangat menderita dan kesepian, hingga menerima Diandra menjadi ibu tiri untuk membahagiakan papanya Ini!" Jelas papa Jhon tajam papa mertua.
Deg.
__ADS_1
Aku dan istriku saling pandang dengan debaran didada yang berkecamuk.Sekilas kutatap istriku yang semakin memucat mendengar penuturan ayahnya yang penuh sindiran itu, perlahan kuremas kembali tahan halus nan bergetar yang berpangku diatas pahaku.
" Dengarkan saja dengan baik ya sayang...kita ikuti dulu permainan papa."Bisikku.
" Karna aku seorang Ayah yang baik dan menyayangi putriku, aku akan belajar mendekati calon mama tiri pilihannya ini dengan bertunangan terlebih dulu." Imbuh papa Jhon kembali.
" Kenapa kita tidak langsung nikah saja sih bang? Kan semua sudah setuju!" Sela bibi Diandra penuh percaya diri.
Brak!
Papa Jhon menggebrak meja, Hingga aku terlonjak dan sontak menarik tubuh istriku kepangkuanku dan memeluk tubuh Cinta yang gemetaran" Tenang ya sayang...Ada aku." Bisikku lembut dikuping istrinya.
Ditengah aku sibuk menenangkan istri dan degup jantungku sendiri, terdengar lagi gebrakan kedua.
Bruk...
" Tutup mulutmu Diandra! Kalau bukan karna putriku, aku takkan pernah mau sedetikpun menjalin hubungan serius dengan wanita sepertimu!" Ujar Marah papa Jhon.
" Stop! Sebelum Syah,Jangan coba- coba menyentuh kulitku!." Ujar papa mertua beranjak dari kursinya begitu nyonya Dian hampir mendekat.
" Honey...Panggil bibi Dian tak tahu malu.
" Roni !!! Pekik papa mertua memanggil kepala pelayan.
" Ya tuan besar...." Bro Roni datang dengan tergopoh- gopoh diikuti oleh Johan.
" Antar wanita itu kedepan,barangkali saja ia tidak tahu pintu keluar rumah ini!" Titah Papa Jhon sebelum melangkah besar menuju kamarnya.
__ADS_1
" Bang Jhon...Kau!" Pekik bibi Diandra yang tidak terima diusir begitu saja oleh papa mertuaku. Berusaha mengejar papa.
" Pulanglah Bi...Biarkan papa menenangkan diri, bukankah sudah bibi dengar sendiri tadi kalau ia akan mengenalmu dulu lebih dekat dengan bertunangan, maka patuhi saja jika memang kukuh ingin menjadi nyonya Jhon Smitt." Cegahku sembari menatap dalam dan tajam bibi Dian.
Detik berikutnya kulihat ia menarik nafas berat, lalu kemudian mengangguk." Oke Rajj...Aku akan mulai belajar menjinakannya." Balas sarkas orangtua itu.
"Enak saja kau ngomong nyonya! Emang kau kira papa mertua binatang buas? atau bom?Tidak! Ia seorang pria lembut dan setia yang hatinya sekarang sedang kecewa dan terluka karna keputusan putrikesayangan sendiri yang bertentangan dengan nuraninya."Sanggahku tapi itu sengaja hanya terucap dihati saja, tak mau kawan atau lawan mengetahui , cukup hanya Tuhan yang tahu rahasia hati sesungguhnya.
Ia masih diam ditempatnya berdiri dengan senyum misteri. " Gimana nyonya? Apa perlu kami antar?" Bro Roni mencoba bicara baik-baik.
" Tak perlu kalian, cukup panggilkan Yas saja kesini, aku ingin pulang disopiri oleh Yas! " Titah bibi Diandra membuat langkahku dan Sinta yang hendak pergi terhenti, dan tatapan kami beradu.
" Ternyata Yasmir orangnya dirumah ini." Batinku mencatat nama pelayan itu dalam memoryku. Detik berikutnya aku bersikap biasa lagi, dan berputar mengahadap nyonya Dian.
" Maaf bi, hampir saja lupa, kami pamit ya..." Ucapku berbasa- basi, setelah diangguki olehnya akupun kembali memutar tubuh dan menggandeng Cintaku melangkah meninggalkan Nyonya Dian yang masih menunggu Yasmir. Kugandeng mesra Cinta menuju ruang keluarga untuk bisa mencapai tangga menuju kamar kami dilantai dua.
" Malam ini Rajj akan servis istri Doble." Ujarku tak suka ia yang mendadak jadi pendiam.
" Service Doble Gimana?" Tanyanya curiga.
" Bukankah dulu sempat cemburu saat aku bantu pijitin siBro? Sebentar lagi Rajj bakal pijitin istriku yang baik dan cantik ini." bisikku membuat senyum istriku akhirnya mengembang.
" Really???tanyanya dengan berbinar.
" Tentu!!! Apa sih yang ngak untuk sang bidadari!" Sarkasku.Kali ini ia tidak mencubit pinggangku lagi untuk protes pada tatapan dan rayuan mautku, ia malah bergelayut manja.
" Gendong ngak?" tawarku.
__ADS_1
" Ngak...Gendongnya dikamar saja.
" Ho..ho.....Setuju sekali." Balasku mengakak senang.