
Diruang keluarga semua sudah berkumpul menungguku. Ada Tuan besar, asistennya Max beserta nyonya dan anak gadisnya sebaya cinta. Semua yang belum kukenal langsung mengulurkan tangan mereka dan menyebutkan nama masing- masing.
Yang menjadi pusat perhatianku adalah seorang pria muda tampan yang duduk diapit oleh tuan Jhon dan seorang pria bule sebaya tuan Jhon.
Siapa pria tampan dan Daddy-nya ini, nampaknya mereka begitu intim dengan tuan besar?"
" Hai..Kakak ipar,kenalkan nama saya Jonatan,kembarannya Jeni.Hubungan kami cukup spesial dengan Uncle Jhon karna dulu Uncle l Jhon yang udah buat mommy sama Daddyku berjodoh." Pria muda itu memperkenalkan diri dengan panjang lebar seolah tahu perasaanku.
Aku tersenyum malu,seraya menerima jabat tangannya.
" Jangan sampai kau cemburu padaku ya,
walau aku pernah suka pada cinta.Tapi tenang aja, dia tak pernah menolehku sedikitpun, karna ia tak suka pria yang muda darinya, apalagi berkulit pucat seperiku, katanya aku orangnya lembek." Bisik lelaki itu membuat perasaankumakin campur aduk.
Satu sisi aku lega karna benar dugaan bujang kelana, Cinta mengejek warna kulitku untuk menunjukkan rasa sukanya pada hitam manggisku.Namun disisi lain aku malu merasa dikuliti oleh pria berkulit seindah bulan purnama ini.
" Santai kakak ipar..." Bisiknya sekali lagi.
Aku hanya membalas dengan tersenyum seraya menatap kearah tangga.
" Sabar..." Ucapnya masih berbisik.
" Sudah menggoda calon Abang iparmu itu Jona! " Seru Tuan Jhon melihat Jona dari tadi membisikiku.
" Tidak masalah pa, bukan bisikan setan, tapi peringatan dari malaikat tanpa sayap." Sarkasku yang tak urung membuat mereka semua tergelak kecuali satu orang.
Tak sengaja pandangku beralih pada sosok dokter keluarga Smit.Kulihat Bibi Diandra, membalas tatapanku dengan tatapan dingin.
" Apa wanita ini diundang oleh tuan Jhon atau tiba seperti jelangkung Ya?"
" Entahlah...Kemaren nampaknya tanggapan tuan kurang baik padanya dan ia juga punya rencana untuk menggapai tuan. Entah apa rencana wanita misterius ini, Semoga rencananya tidak melibatkan hubunganku dengan Cinta " Harapku dalam hati.
Aku masih dalam tahap observasi terhadapnya. Selagi gelagatnya tidak mengancam keselamatan baik raga maupun jiwa cintaku, aku akan tenang saja.Tapi bilamana ia berani mengganggu ketentraman cintaku,dia pasti akan berhadapan langsung denganku. Aku sadar pernikahanku ini tidak akan disukai oleh semua orang, apalagi aku yang menikahi Cinta bukanlah kawanan konglomerat seperti calon papa mertuaku.
Untuk menepis fikiranku yang mulai traveling tak kemana- mana, akupun mengenalkan perwakilan orang tuaku." Pa...inilah ayah dan ibuku sekarang." Ucapku mengenalkan pakde Joko dan Bibi Zahra pada tuan Jhon dan semua.
Pakde dan bibi langsung kubimbing untuk mengenalkan diri.
" Tenang Rajj, papa pasti akan menganggap pengganti ayah bundamu ini sama seperti mereka sahabatku kecilku itu." Ujarnya mengenang bundaku.
Aku membalasnya dengan mengangguk "Kuharap juga begitu pa, karna bagiku pakde dan bibi sangat penting, tinggal mereka yang kupunya sekarang." Ujarku tulus. Kulihat Pakde dan bibi Zahra sampai menitikkan airmata mendengar penuturanku.
" Selamat datang dikeluarga Smitt mas Joko dan Uni Zahra.Semoga airmata bahagia kalian jadi berkah yang besar buat rumah tangga yang akan putriku dan Rajj kalian jalani." Ucap santun tuan Jhon seraya menggenggam erat tangan pakde.
Setelah mereka saling melepas jabatan, selanjutnya yang lain pada mengulurkan tangan untuk Pakde dan bibi bergiliran, terkecuali dokter Diandra.Ia bahkan melengos saja ketika bibi mendatanginya untuk bersalaman.
Melihat raut kecewa bibi Zahra, dan ekspresi tercengang pakde, aku langsung menarik keduanya lembut agar duduk kembali diposisi semua.
" Kita hanya akan menjalin silaturrahmi dengan orang yang mau menerima kesederhanaan kita saja. Pakde dan bibi jangan sedih." Bisikku melihat keduanya muram.
__ADS_1
" Itu calon mantunya mas Joko!" Tunjuk tuan Jhon kearah tangga." Sepertinya tuan Jhon ingin menjadikan kedatangan putrinya sebagai obat hati pada kedua Waliku ini. Syukurnya tuan itu berhasil,itu terlihat dari keduanya langsung tersenyum takjub.
" Wah...Pengantin wanitanya sangat cantik." Seru bibi membuat Semua mata tertuju kesana dan mereka juga terpana pada bidadari turundari tangga yang sangat anggun dalam gandengan dua wanita berambut pirang cantik beda generasi.
" Massa Allah..." Gumamku fokus pada Calon pengantinku yang memang sangat cantik dengan balutan gaun putih perak panjang sematakaki tanpa lengan. Sedang rambut panjangnya disanggul model kekinian yang memamerkan tengkuk putihnya. Hiasan Sanggul Tiara berlian.Riasan wajah tipis namun penuh magis, membuat kedua
netraku takmampu berpaling.
Namun seketika senyumku lenyap begiturasa cemburu mengusik jiwa saat tahu bukan wajah cantik calon istri saja yang jadi pusat perhatian.Ternyata dada besar dengan belahan rendah lebih menjadi sorotan.Juga Bibir indahnya yang sentiasa merekah sampai mereka tiba dilantai ruang keluarga ini.
" Jadi yang ini calon kakak ipar? Kayaknya gagah dan hot kak."tanya sipirang termuda yang ada disebelah kanan Cinta.
" Jangan lihat- lihat punya kakakmu Jen,kau bukan tandingan Cinta." timpal wanita paruh baya disebelah kiri Cinta.
Kulihat Cinta menyeringai." Kalau berani melirik yang ini sekali lagi, akan kucabein mata nakalmu." Balas Cinta menimpali.
" Cabein saja Ta biar anak perempuan ini tahu batasannya."
" Mami ini, selalu lebih milih belain anak mantan gebetan ketimbang putri sendiri." Bala bisik Jenni yang masih dapat terdengar oleh telinga lintahku.
" Bisa- bisanya ketiga wanita ini menggibahku didepan mata sendiri." Gumamku.
Menit berikutnya, kulihat calon pengantinku membungkuk, lalu menyalami bibi Zahra kemudian pakde.
" Ini bibi Claranita Jansen dan putrinya Jenni kembaran Jonna pakde dan Bukde." Ucap Cinta mengenalkan pendampingnya pada pakde dan bibi Zahra.
Kedua orang tua angkatku manggut- manggut- lalu menerima uluran tangan dari kedua wanita berambut pirang itu dengan senyum ramah.
" Duduk dekat calon suamimu Cinta! biar Jeni ngak punya kesempatan sama sekali bawa Rajj kabur. Lihat matanya tuh masih jelalan, pantang Liat yang gagah." Ujar Jona menatap jenaka adik kembarnya.
Ger....Semua orang tertawa memandang Jeni.
" Kau ini! Sama saja dengan mami." Sungut gadis yang dikatai sembari mencubit lengan kembarannya.
" Auww...Ampun nona mener, makanya punya mata jangan Menor! "
Ger...Semua kembali tertawa bahagia kecuali dokter Diandra.
Apa yang membuat bibir Tante Dian berat hanya sekedar untuk tersenyum palsu?"
Sudahlah, kuabaikan dulu wanita itu, sekarang aku kembali fokus pada calon pengantinku. Kutarap ia intens dari samping.
" Ngapain sih pake baju kurang bahan gitu. "
Kesalku, apalagi melihat para pelayan ada yang hampir jatuh gara- gara menatap calon nyonyaku ini.
Perlahan kubuka jaketku untuk menutupi tubuh bagian atasnya.
" Thank you darling." Bisiknya.
__ADS_1
" Pakaian nikahnya besok tidak begini kan? Akutak mau penghulunya sampai berniat melarikanmu dari sisiku nantinya."
" Tenang darling" Pakaian nikahnya aman kok. Seharusnya aku yang kesal, mata Jeni dan AXelia dari tadi tak pernah luput memandangmu" Balasnya seraya meremas tanganku.
" Dari pada bisik- bisik mesra Mulu dihadapan kita semua, mending lamar Cintami Cepat Rajj! " Timpal paman Max yang dari tadi hanya diam.
" Iya Nak Raj, jangan sampai besok gagal fokus pas Akad karna kelamaan begadang malam ini." timpal Tante Clara.
" Biar orang tua saja dulu! Untuk penutup baru acara tukar cincinnya." Usul Tuan Jhon.
" Itu jauh lebih oke! " Dukung paman CLan Daddy-nya Jona.
Kulihat Pakde Joko mendegup Salivanya beberapa kali, mungkin sedang gugup.
" Kami datang kesini dengan maksud melamar nak Cintami putri Smitt untuk Rajj Copri putra kami." Timpal bibi Zahra melihat suaminya masih belum siap.Wanita paruh baya itu kemudian menyerahkan parsel yang berisi uang seserahan pada Bibi Clara.
" Saya sebagai bibi Cinta mewakili keluarga ini menerima menantu." Sambut wanita berambut keemasan itu.
Prosesi lamaran berlangsung dengan baik. Tatap tajam dokter Dian tidak sanggup meruntuhkan kekuatan wanita paruh baya yang bernama Claranita Jansen untuk mewakili ibu bagi Cintami.
Ketika tiba pada giliranku untuk menyematkan cincin dijari manisnya,aku dilanda rasa gugup sampai berkeringat dingin.
Kuhela nafas dalam- dalam, lalu melempar senyuman pada semua orang, untuk mengurangi kecanggungan." Toh disini rame, ngak mungkin calon istrimu ini berani gigit didepan umum Rajj." Batinku menggoda diri sendiri agar rileks.
Aku berdiri, kemudian berlutut didepan cinta, seraya membuka kotak Cincin. Kuambil satunya." Terimalah cincin ini sebagai tanda keseriusanku Cinta.Walau ini terlihat biasa,
Namun ketahuilah ini cincin istimewa bagiku.Andai ini kurang bagus menurutmu nona, doakan saja agar nanti setelah menikah aku dapat rezeki lebih biar bisa memberikanmu apapun yang kau mau." Ucapku mengundang tawa semua orang
" Kak Rajj...Apa tak ada kata- kata yang lebih update dari itu." Goda Jona.
" Uusss..Sang mami menyumpal mulut pria muda itu dengan tangan.
" Seperti apapun itu, Kata - katanya murni
dari hatinya Rajj, bukan diambil dari Gougle seperti yang kau lakukan selama ini untuk merayu wanita- wanitamu." Cerocos Clara.
" Mami..." Sekarang Jonatan yang kena batunya.
" Apa kau lupa kak, Mommy tidak akan pernah berpihak pada kita! Jadi mulai sekarang jangan coba membully putri dan calon menantunya." Sarkas Jenni.
" Sekarang tergantung pada Cinta. Gimana Cinta, kamu mau menerima Rajj Apa adanya? " Bibi Clara kembali menengahi setelah kegaduhan itu.
Kulihat cinta mengangguk seraya menyulitkan tangan kirinya. Akupun menyematkan cincin itu dijari manisnya, dan Syukurlah ukurannya sangat pas.
Setelah itu tanpa diminta ia mengambil pasangan cincin yang satunya dari kotak cincin yang kuletakkan dipahaku dan menyematkan dijariku.
Tepuk tangan meriah mengakhiri prosesi lamaranku dan Cinta.
Aku tersenyum lega tatkala sadar Hai cintaku sudah terikat sekarang, tinggal menunggu Syah esok hari.Tapi sekali lagi tatapanku beralih pada seorang wanita paruh baya yang tengah asyik bermain Ponsel." Ia antara ada dan tiada." Gumamku.
__ADS_1
" Siapa sih darling? Ada penampakan arwah ?"
Hai Teman baca NT / MT, jangan lupa bantu dukung karya ini dengan cara Fote, like, komen dan faforitkanya bagi yang mampir, karna dukungan teman motivasi bagi kami