Pilihan Cinta

Pilihan Cinta
Chapter 14


__ADS_3

Salam terakhir mewakili Almarhumah disampaikan oleh Muazin dari masjid, seorang anak muda yang kebijakannya berbicara melebihi tiga kali lipat usianya.


Ia menyampaikan salam maaf, pesan dan kesan tentang almarhumah dengan menggunakan kalimat- kalimat yang sesuai,bahasa yang jelas dan intonasi yang menyentuh hati. Semua yang mengantar bibi ketempat peristirahatan terakhir, dipagibuta begini masih saja tak kuasa membendung airmata. Semua juga begitu kompak dan antusias menjawab penerimaan ungkapan maaf terwakil itu, serta menyatakan bibi sebagai orang yang baik ketika ditanya oleh Muazin tampan itu.


lagi aku menyeka airmataku yang terjun bebas dengan lenganku beberapa kali, sampai terulur sebuah sapu tangan biru kepadaku dari seseorang.Dengan matayang berat karna sudah bengkak, kualihkan pandanganku dari gundukan tanah merah bibi,beralih arah pada tangan terulur sapu tangan itu."Nona?" Ucapku pendek danberat saat tatapan kami beradu. Lalu aku menggeleng, pertanda tak mau menggunakan saputangan itu. Kulihat wajahnya spontan berubah, tapi mungkin karna sadar lokasi dan kondisiku, ia memilih diam.


Berikutnya aku melihat tuanku datang menghampiriku bersama sopir danbodyguard


" Sabar ya Rajj! Kita semua akan menemuiapa yang dialami Bibimu sekarang.Syukurlah Bibimu termasuk orang pilihan Allah SWT dalam hidayahnya." Ucap tuan Jhon sembari menepuk pelan pundakku.


"Ya tuan.Terima kasih sudah datang."Ucapku pelan, tidak menyangka mereka akan datang sebab aku tak memberitahu.


" Pencuri itu telah mengambil kotak GPS buatanmu dan menempelkan satuditubuhmu, hingga ia bisa melacak apa yang terjadi semalam." Bisik tuan yang membuat bulu kudukku mendadak merinding.


" Ya A'lim...Bila tuan memberi tahu orang lain kejadiannya, mulai sekarang karirku sebagai detektif benar- benar hancur.Bagaimana bisa seorang detektif dimata- matai oleh sasarannya dengan alat yang dibuatnya. Rasanya takpantas lagi aku menyebut diriku seorang detektif, karna aku kecolongan besar dua kali tanpa aku sadari sedikitpun. Karna aku masih dalam duka, rasa malu ini tak begitu mengusikku, kalah dengan rasa sakit dan sedih yang kurasa sekarang.


Lantunan doa bersama masih dipimpin oleh Muazin yang merangkap khatib masjid komplek perumahan kami ini. Setelah ia penutup doa,semua mulai bergiliran menyalamiku sebelum meninggalkan pemakaman umum.


Setelah semua pergi, perlahan mentari pagi mulai terik. Cahayanya menjilat embun pagi yang ada di dedaunan dan rumput. Aku berjonggok disisi onggokan tanah merah bibi. Kuusap nisannya pelan dan hati- hati seperti saat mengusap wajahnya semalam." Selamat jalan bi, ponakanmu ini akan mencoba untuk ikhlas hidup sebatang kara. Ustazd Bani dan Bos Rajj benar, bibi orang yang beruntung. Semoga tidur panjangmu nyaman hingga hari kebangkitan Kelak. Kubacakan Ummul Quran ini untukmu." Ucapku membuka doa.


Setelah berdoa, aku sedikit merasa lega. Mentaripun makin terik, keringat didahiku mulai bercucuran, perutpun mulai keroncongan. Perlahan aku berbalik, dengan tertunduk dan gontai kayunkan kaki panjangku. " Kita sarapan dulu baru kembali kerumah! " Ujar sebuah suara yang membuatku tertegun, apalagi tangan halus itu sudah mencekal lenganku.


" Nona tidak kembali dengan tuan besar?" tanyaku setelah memastikan apa yang kulihat dan kurasa nyata.


" Kalau aku sudah pergi, berarti tidak disini." Ketusnya menghempaskan tanganku yang tadi ia pegang.


Aku mendegup Saliva, lagi ia kembali kemode semula,sadis dan tajam.


" Jangan khawatir nona, saya akan tetap profesional walau masih dalam suasana duka." Ucapku membuat tatapannya makin menajam. Aku balas dengan mengernyit.


"Kau fikir aku kesini hanya untuk menyeretmu kembali bekerja mengurus acaraku.


Tidak Rajj, aku sudah menelfon untuk membatalkan semuanya!"Ujarnya lagi tanpa melepaskan tatapan membunuhnya.


" Kalau begitu baiklah, dengan begitu hari ini pekerjaanku selesai, karna pekerjaanku tidak membuahkan hasil, akan kukembalikan uang 3 Milyar itu."

__ADS_1


" Kalau kau sedang tidak berduka,sudah kutampar mulutmu itu Rajj!"Teriaknya Seraya berlari meninggalkanku.


" Nona...Tunggu! Nona tunggu!" Tanpa fikir panjang aku mengejarnya.Dan entah karna ia belum sarapan, kali ini aku dapat mencapainya kecepatan biasanya memiliki kecepatan lari bak jitah ini walau dengan nafas sedikit ngos- ngos.


" Dimana lagi letak salahku ?" Tanyaku sekarang berbalik mencekal tangannya.


" Aduuhh... Kau menyakitiku Rajj..." Ringisnya membuatku tersadar, lalu melepas cekalanku.


" Maaf nona...Tapi aku tak setuju nona membatalkan rencana untuk menikah, ini nanti akan melukai hati Papamu nona, ia


ingin nona memiliki keluarga segera, dan menjadi ibu yang baik."


" Siapa bilang aku membatalkan rencana pernikahan? Aku hanya membatalkan pertemuan dengan para Tuanmuda itu karna aku sudah menentukan pilihanku." Balasnya ketus.


Deg.


" Berarti semalam CLBK mereka sukses."


" Hei Rajj! Apa kau akan berdiri terus, tidakkah kau dengar teriakan cacing- cacing diperutmu dan perutku minta makan? "Ucapnya lalu menyikutku.


Kulihat ia mengangguk dan seulas senyum kembali menghias bibir semanis cery itu. Tangan itu juga kembali bergelayut dilenganku.


Sengaja atau tidak, kubiarkan saja begitu, lalu kubaranikan menatap wajahnya.


" Selamat Ya nona, pria itu sangat beruntung, kalau begitu tunggu bibi tiga hari, baru kuatur


pesta terindah untuk nona Cinta." Ucapku dengan memaksakan senyum karna setelah mendengar keputusannya, bibirku yang tebal makin terasa sulit melengkung.


" Beruntung atau rugi ia harus menanggung resikonya. Yang kutahu aku menyukainya, apakah kau lupa kalau aku tidak bisa menerima penolakan?" Balasnya sengit


Aku mengangguk, sembari meneruskan langkah dengan masih digelayuti.


" Ternyata tuan Jhon membiarkannya tinggal dengan ditunggui mang Udin?" Batinku begitu kami disambut oleh mamang yang baru keluar dari mobilku.


" Maaf..Aku senang dibawa dengan mobil besar ini, sekali lagi aku memakai milikmu tanpa izin." Ucapnya seraya masuk kedalam mobil yang sudah dibukakan oleh mamang.

__ADS_1


" Tak apa, terusir dari mobil sendiri saja sudah kurasa." jawabku teringat peristiwa semalam.


" Sorry." Ucapnya pelan yang kubalas dengan senyum tipis dan anggukan.


Seperti sudah mengerti apa yang harus dilakukan. Mamang membawa kami menuju sebuah rumah makan." Sepertinya sudah terlalu siang untuk sarapan, apa tuan dan nona tidak keberatan kalau kita langsung makan? " tanya pria paruh baya itu sebelum membuka pintu kemudi.


" Tidak! Ini ide yang pas!! " Pekik kami serentak.


Mendengar itu mang Udin segera keluar dengan wajah berbinar ia mengintari mobil dengan cepat, untuk membukakan pintu pada nonanya. Sedang akupun turut keluar dari pintu tengah.


Kamipun akhirnya sarapan pagi dengan nasi Padang saat jam digital didinding rumah makan itu menunjukkan hampir pukul sembilan.


Tak ada perbincangan ketika makan, karna ketiganya sudah sangat lapar, terlebih aku. Aku makan sampai keringatan. Sambal disini bikin nagih dan menggugah selera makan, kalau dilihat betapa lahapnya aku makan, seperti bukan diriku yang baru saja mengalami banyak hal.Entah memang ada orang sepertiku yang selera makannya meningkat saat fikirannya sedang kacau, aku tak tahu pasti.Kalau aku memang begitu dari dulu. Makanan kadang menjadi pelampiasan, bundaku sering menertawaiku waktu kecil. Tiba - tiba bayangan masa indah itu kembali telintas dimemoriku.


" Pusing mikirin ujian yang utama bagimu tetap makan. Bunda senang Rajj, tak sia- sia bunda nyiapin bekal buatmu." Selalu begitu komentar bundaku tiap kali ia memeriksa tiga bontotku yang sudah kosong, tiap pulang ujian."


Orang biasanya habis makan ngantuk, tapi kalau aku makin melek, sebagai tanda syarafku sedang tegang.


" Tentu iya bunda, karna masakan bunda selalu juara. Aku nantinya maunya punya istri yang pintar masak kayak bunda! " Balasku selalu tak pernah berganti kalimat. Dan dengan bahagia bunda akan mencium keningku yang lebar. Barsamaan dengan itu stesku langsung lenyap.


Bundaku memang juara, tapi aku diberi waktu bersamanya hanya sampai tamat Aliyah saja.


Sedang Ayah pergi setelah aku wisuda Strata satu. Mengingat keduanya tanpa sadar aku tersenyum dan kadang menitikkan airmata juga.


" Masakan ini mengingatkanku pada bunda." lirihku.


" Baiklah Rajj...kita pulang ya..Nanti aku akan belajar serius masakan Padang." Ucapnya membuat aku dan mamang saling pandang. Namun ini tidak berlangsung lama, setelah teringat tuan Jhon juga suka masakan Minang, akukemudian mengangguk, dan berdiri untuk meninggalkan rumah makan biasa dengan kwalitas masakan istimewa itu.


" Nona benar niat untuk berubah, bahkan ia juga mau belajar masak untuk Papasekaligus tuan muda Aliando."


Satu sisi hatiku senang, namun rasa takut kehilangan masih sama." Sepertinya setelah ini akubenar- benar akan sendiri saja." Senduku.


Selanjutnya...


Wahai teman baca NT / MT, jangan lupa bantu dukung karya biasa ini dengan cara Fote, like, komen dan faforitkanya bagi yang mampir, karna dukungan teman motivasi bagi kami. Sentuhan jari ajaib teman bisa jadikan yang biasa jadi istimewa lho. Amiin..

__ADS_1


__ADS_2