Pilihan Cinta

Pilihan Cinta
Chapter 21


__ADS_3

Karna isi perjanjian itu isinya tidak monohok lagi, akupun menandatanganinya dengan sukarela." Bagaimanapun Lelaki adalah pemimpin bagi kaum wanita, bila niat calon suami menikahi calon istrinya baik,semoga Akadnya halal.Tentang syarat yang diajukan oleh seorang ayah untuk melepas putrinya bagi calon mempelai pria jadikan saja sebagai bukti kesungguhan hati." Hatiku mencoba berdamai dengan keadaan seraya berharap Tuhan punya rencana yang lebih baik untuk takdir pernikahanku.


Sebenarnya didalam masih timbul penolakan mengapa kesungguhan hatiku masih diragukan.Tapi mungkin beginilah kehendak Zaman, dimana semuanya harus ada bukti dan dokumen tertulis yang diakurasi dengan tekhnologi yang serba digitalisasi.


____________


Malam pun datang menutup senja, Cahya bulan sabit melengkung manis dilangit. Aku duduk termenung dibalkon kamar tamu sembari mendongak menatap satelit bumi itu. Sekilas sabit itu terlihat bagai ayunan. Kupejamkan mata membayangkan diriku diayunkan bunda diatas sang rembulan. Perlahan airmata jatuh tanpa permisi,seiring hidung yang mulai mampet, tersadar aku seorang pria, cepat kuusap bening yang mengembang.


" Apa kau menyesal dengan keputusanmu menikahiku Rajj? " Tanya suara lembut membuyarkan kesenduanku.


" Jangan berkata begitu nona! Perkataan kita didengar oleh para malaikat,apa memang nona inginnya Rajj menyesal? " Ujarku seraya berbalik menghadap gadis yang sudah berdiri tepat setengah meter didepanku sekarang.


Ia mencebik namun tatapannya menantang." Kenapa bermenung dan terlihat sendu?" tanyanya mengikis jarak dan seperti biasa tanpa permisi ia meraba wajahku.Lalu dengan telunjuknya ditepisnya sisa bulir yang masih tertinggal lalu ditiupnya." Bahkan kau sampai menangis darling.."Cicitnya lagi.


" Tidak! Aku hanya terkenang masa kecil." Ucapku memberi alasan lebih halus,jika kukatakan kebenarannya, nanti aku dikira lelaki manja, walaupun pada dasarnya andai masih ada orangtuaku sekarang, aku sangat ingin bermanja pada mereka dulu dimalam sebelum aku memutuskan hari esok akan mengubah status.


" Andai kau rasa rencana pernikahan kita terlalu terburu, aku bersedia menunggu sampai kau siap Rajj, lagipula aku tahu kau masih dalam suasana berduka, ucapnya seraya mendongakku hingga tatapan kami kembali beradu, dibawah sana kedua tangannya sudah mengalung erat dipinggangku.


" Tidak benar menunda- nunda hajat baik." Balasku perlahan melepas tangannya.


Ceri manis itu kembali mengerucut.? " Kenapa tak boleh?"


" Bersiaplah,sebentar lagi pakde Joko dan bibi Zahra akan kesini menggantikan orangtuaku melamarmu secara resmi." Ucapku mengalihkan perhatiannya.


" Rajj...Rengeknya begitu aku melangkah pergi.


" 10 menit lagi mereka akan sampai, apa ingin


begini saja menyambut calon mertua? " ujarku kemudian melangkah besar meninggalkan yang masih berdiri dengan bibir mengerucut.


" Ih...Dasar calon suami ngak peka." Kudengar ia masih mendumal dibelakang.


" Nanti setelah menjadi milikku baru kuberitahu seberapa pekanya aku nona."


Sebenarnya pakde bilang akan sampai sekitar setengah jam lagi, aku berjalan cepat menuruni tangga tanpa menghiraukan lagi panggilannya.Bukannya aku sengaja terlihat sombong padanya, hanya ingin mencari aman saja dari godaan setan dalam diriku sendiri.


Selang beberapa menit kemudian,telfonku berbunyi. Melihat itu dari pakde Joko langsung saja kusambungkan panggilan.


" Assalamualaikum..Gimana pakde, sudah OTW? " tanyaku langsung keInti.


" Ngg...Anu nak..Anu..." Ucap gagap dari sebrang telfon.

__ADS_1


" Ada apa pakde? Apa pakde ada halangan?" Tahtaku cemas mendengar suara gugup dari sebrang.


" Ngak nak...itu perempuan ngamuk dikamar, begitu tahu nak Rajj mau nikah dadakan." Jelasnya pakde dengan suara terdengar panik.


" Ngak usah diladeni pakde! Pakde sama bibi Zahra langsung kesini saja. Atau akan kuutus mang Udin jemput kalian." Tawarku.


" Anu..Cincin kawin milik Almarhum yang dititip sama bibi Canamu juga hilang." Suaranya masih ketakutan.


" O.. Kalau Cincin bunda yang dari Daddy sudah kuambil malam itu Pakde." jelasku.


" Wah...wah...Syukurlah nak..Bibi Zahramu sampe nangis gara- gara tu Cincin lho, tak kira diambil sama orang lain, soalnya lemarinya kami lihat berantakan." suara pakde berubah riang.


"Ya Wes! Aman pakde! Tapi soal lemari yang berantakan aku tak tahu Pakde, kan pakde yang jagain rumah itu. waktu kuambil apik- apik wae kok."


" Ya wes..Pakde yang salah, Nerima tamu sembarangan." Balasnya.


" Aku bukan sembarang tamu, aku calon Rajj yang pantas!" Sela suara seorang wanita terdengar mengintimidasi.


Tuttt....Telfon terputus.


" Astaga...Aku tak mengira wanita ini berani nekat." Bingungku.


perasaan kuayunkan langkahku hendak menyusul kerumah.


" Mau kemana Rajj? " Ujar Tuan Jhon datang dari ruang depan menghampiriku.


" Aku izin balik kerumah dulu kayaknya pa,


ada yang meski disiapkan." Ucapku memberanikan diri memanggil papa sesuai permintaannya. Kulihat ia tersenyum seraya menepuk pundakku pelan.


" Tak perlu! Papa sudah mengirim Max dan orang- orang papa untuk menjemput ayah dan ibu angkatmu itu. Kau tinggal duduk diam saja seraya menyiapkan kalimat yang bangus untuk melamar putri papa. Untuk masalah wanita itu biar papa yang urus." Ujarnya cukup membuatku tertegun.


" Anak sama bapak sama saja, ternyata mereka suka sekali menguntitku.


Disatu sisi aku lega dia dengan sukarela menjemput keluarga angkatku, tapi disisi lain aku jengah belum apa- apa sudah dikuasai.


" Kalau begitu baiklah pa, Rajj kekamar dulu bersiap." Pamitku bermaksud hendak menenangkan diri.


" Oke' Plis...Jangan Lupa cincin." Ucapnya mengingatkan.


" Ya pa..Kalau yang sederhana sudah ada,

__ADS_1


dan kurasa ukurannya pas." Ucapku seraya meraba saku, memastikan kotak mini itu masih ada.Sebenarnya tadi aku berniat melamarnya berdua saja, tapi begitu Cinta mendatangi balkon kamarku akumemutuskan mengubah rencana, biar lamarannya bersamaan prosesi seserahan saja.


Jika romantis- romantisan dibalkon takutnya nanti aku tak tahan untuk tidak menyeretnya keranjang, apalagi ia sangat suka menggoda.


Sebisa mungkin aku tetap ingin menjaganya, walau ia sendiri merasa tak ada lagi yang perlu dijaga dari dirinya. Aku tak perduli, bagiku dia gadis yang suci, sejak aku mengenalnya belum pernah kulihat ia disentuh lelaki Manapun selain aku, maka masa lalunya tak perlu kufikirkan.


Belum sepuluh menit aku berbenah dikamar, terdengar ketukan dipintu." Tuan... Ayah dan Ibunya tuan sudah sampai."


Aku bergegas melangkah membukakan pintu.


" Makasih Bro...Aku akan segera turun, tolong jangan kaku begini memanggilku." Ucapku begitu melihat Bro Roni tertunduk didepanku.


" Ta_


" Tak ada tapi- tapian! Kita sudah berteman


dari awal, setelah ini takkan ada yang berubah, kau akan tetap kuanggap teman, kalau mau saudara juga lebih baik karna aku tak punya saudara. Maukahkau jadi pengiring pengantinku Bro?"


" M..Mau.." Jawabnya gagap.


" Rajj,Panggil aku Rajj Biar kupanggil kau Roni! Ngak berat kan?" Tanyaku seraya merentangkan kedua tanganku.


Bang Roni menghambur kepelukanku." Iya Rajj...Aku mau." Ucapnya antusias.


" Kalau begitu sejak malam ini Rajj dan Roni bersaudara, kalau ia menyukaiku,ia tidak akan memaksamu memanggilku dengan sebutan tuan lagi,bahkan setelah ini ia akan memanggilku kakak ipar." Ucapku dengan menepuk-nepuk pelan punggungnya yang ada dalam dekapanku.


" Ayo turun Rajj, nanti ia cemburu pula, sedang pijitan saja dicemburui ".


" He...he...Itu tidak cemburu namanya Bro! Itu disebut irihati, irihati adalah sifat kebanyakan wanita, jika ada diantara kita kaum lelaki yang suka irihati juga, perlu diragukan kejantanan kita!" Ujarku.


" Apa orang itu yang Rajj maksud? bisiknya seraya mengikuti langkahku menuruni tangga.


" Uhu...sepertinya ia bekerja dibawah kendali seseorang diluar istana ini ya Bro." Selidikku sambil lalu.


" Ya, ia mata- mata dokter itu untuk mengabarkan setiap peristiwa dirumah ini." Balasnya masih berbisik.


" Baik..Aku akan pura- pura tak tahu saja. Semoga niat dokter Dian tidak lebih dari sekedar menggaet Tuan besar saja." Ujarku masih dengan berbisik.


" Aku akan bantu cari tahu Rajj, tapi demi keamanan didepan yang lain kita tetap seperti tuan dan pelayan ya?..."


Kuacungkan jempolku padanya. " Sip!.

__ADS_1


__ADS_2