
Setelah menyaksikan dari monitor perangkatku kalau manager distro ini telah membereskan masalah istriku, menghukum pelayan yang memaki, security yang sudah ceroboh dan memberi sangsi pada bibi Diandra yang sudah sengaja menjebak Cinta dengan memaksa nyonya Diandra minta ampun pada istriku dengan bersimpuh.Aku tidak memintanya sampai begitu, tapi entah bagaimana pria itu bertindak sejauh itu pada wanita yang berniat mempermalukan istriku itu.
Semua sudah mendapat hukumannya, tapi hatiku masih kesal pada bibi Dian yang tidak terlihat merasa bersalah sedikitpun, bahkan wanita itu masih sempatnya mengintimidasi Cinta dengan berbisik setelah dipaksa meminta maaf pada Cintami oleh manager sebagai syarat untuk tidak diblacklist sebagai pengunjung Mol ini.
Kesal sangat memang rasaku, bukannya jera malah wanita itu berani mengancam lagi. Aku berusaha keras menahan diri untuk tidak bertindak saat emosi begini. Aku melangkah menuju toilet untuk membasahi kepalaku agar dingin. Setelah merasa baik, aku baru keluar melangkah untuk menjemput Cinta.
" Semua sudah kuatasi pak.Semoga yang kulakukan sudah benar." Ucap ragu manager itu ketika kami berpapasan dilobi.
"Bagus! Semua sudah kusaksikan lewat monitor, sekarang sudah waktunya istirahat makan siang,sepertinya aku ingin makan dibawah sekaligus menjemput istri." Sahutku menatapnya setenang mungkin, agar ia kedepannya lebih nyaman denganku.
" Ya pak Rajj, silahkan. Kalau saya masih ada yang mau diperiksa sedikit sebelum rehat." Balasnya tersenyum berbinar.Kulihat suasana hatinya sudah tak seperti diawal tadi.
" Oke...Permisi." Ucapku yang dibalasnya dengan menunduk hormat.
Bergegas aku menemui istriku, aku tahu tidak akan disambut dengan baik, mengingat aku tak datang sesuai dengan janji, tapi sesekali dimarahi tak apa, yang penting harus cari cara agar tidak jadi dipuasaain selama sebulan penuh, karna itu jelas akan menyakiti kepalaku atas bawah kalau sampai terjadi.
" Sayang...Maaf macet dijalanan." Ucapku begitu sampai dihadapannya yang tentu langsung disambut muka kesal Cintaku.
" Macet katamu?Alasan saja, seperti tidak pandai saja naik motor." Balasnya berbisik, tapi dibawah sana ia mencubit halus pahaku sampai tubuhku bergetar menahan sakit.
" Tetap mesra didepan calon mama tiri." Balasku setelah berhasil menahan sakit, itu spontan merubah ekspresinya.
" Tak apa sayang...Hanya masalah kecil kok tadi, aku saja yang manja pengen kau jemput.
Cuma terapi sederhana dari calon mama mertuamu.Ya kan Bi?" Ujarnya melirik bibi Dian yang dari tadi menatap kami penuh selidik sembari tersenyum palsu.
" I...Iya Rajj...Maaf sudah mengganggu kerjamu juga karna kegiatan belanja kami yang ricuh." Balas nyonya Dian dengan wajah tanpa dosanya.
" Oke Bi, gimana kalau Cinta baliknya sama mobil Rajj saja, biar bi Dian kembali dengan mang Udin bersama mobil yang tadi? Kan mobil calon suami? Ucapku seramah mungkin, walau dihati mengutuki karna siapa juga yang Sudi mengizinkan istrinya sejalan dengan wanita yang sudah berani mempermainkan harga diri istrinya dan emosinya sendiri.
" Baiklah Rajj terserahmu! Yang penting hari ini aku cukup happy ditemani belanja oleh anakku tersayang ini." Ujarnya melangkah menyentuh dagu istriku. Aku sampai memejamkan mata dengan kedua tangan mengepal menahan emosi.
" Benar- benar licik dan tak tahu diri. Awas saja kalau aku sudah mendapatkan semua bukti tentang siapa kau bagi Cinta nyonya! " Geramku dalam hati.
Cinta yang merasakan perubahanku, cepat menarikku pergi." Kami duluan bi.." Ucapnya seraya menarikku pergi.
__ADS_1
" Diparkiran Ujang Kelana menunggu kami dengan gelisah.
" Kok lama Bos?" Ujarnya membukakan pintu mobil bagi kami.
" Lama? timpal Cinta mengernyit curiga.
" Aku menyikut bujang Kelana.
" Ini sahabat baru sekalian asistenku yang masih butuh belajar melihat jam." Ujarku mengedip Bro Ujang.
" I...Iya nona, aku tak pintar tulis baca, tapi Bro Bos mempekerjakanku sekalian sambil mengajariku karna kasihan anakku yang banyak dirumah butuh biaya hidup." Balasnya gugup.
" He...he...Lucu sekali, panggilanmu juga lucu! " Seru senang istriku diluar dugaan.
Melihatnya begitu, hatiku yang gundah sontak
menghilang.
" Kenalkan dulu istriku Bro, tapi awas sampai lirik- lirik Ya!" Ujarku mengenalkan Cinta.
" Ngak gitu juga kali! " Ujarku menonjoknya.
" Ha...ha..." Kau lucu Om, pantas Rajj langsung suka begitu mengenalmu." Gelak Cinta.
" Om??? Kami berdua membelalak, lalu memasang wajah cemberut.
Sampai mobil melajupun kami sama- sama mendiami Cinta.
" Maaf...Kalau tuan- tuan tersungging! Kalau udah tua ya terima aja dipanggil apa, yang pentingkan tetap disayang." Celetuk Cinta memecah keheningan.
" Cik, aku lupa kalau istriku adalah Mantan Bro." Balasku melirik Bro Ujang.
" Caci tanda cinta!" Pekik bro Ujang, sembari memperbaiki rambutnya dengan tangan kiri.
" Kalau aku akan cinta sebagai Abang Om Abang saja kalau boleh." Ucapnya lirih mendapat pelototan dariku.
__ADS_1
" Bolehlah kan Sayang..." Sahut cinta menyandar dipundakku.
" Kalau om Abang boleh deh." Ucapku menirukan suara dan ekspresi Nila di sinetron CSC SCTV.
Istriku kembali terkekeh, akupun berteriak girang dalam hati, berkat Ujang kelana, sepertinya nanti ngak bakalan susah merayu bidadariku saat malam tiba. Yang penting sekarang memikirkan mengatasi nyonya itu. Soal yang ini sepertinya sudah aman, itu terbukti dengan pasrahnya Cinta saat kukecupi beberapa kali, bahkan dengan manjanya istriku itu merebahkan tubuhnya di pangkuanku.
" Cepek fisik dan mental belanja bareng dengan wanita itu." Curhatnya sebelum memejamkan mata.
Kubelai Surai hitamnya sembari merapikannya." Tenanglah sayang...Kita akan kembalikan dia pada yang membutuhkan dia, jika masih dianggap layak oleh mereka setelah mengetahui semua." Ucapku dalam hati karna tak mau mengusik kenyamanan istriku yang sedang dalam mode manja.
Sekali lagi kukecup pipinya yang dapat pelototan dari Ujang Kelana. Aku balas melotot mengingatkannya.
" Ngak sengaja rezeki kali! " Serunya kemudian terbahak.
Untung Cinta sudah terlelap, rupanya ia serius dengan kata capek yang diucapkan barusan.
Kubelai terus rambutnya sampai mobil kami tiba dipelataran parkir keluarga Smit.
Setelah membaringkannya ditempat tidur, kutiluskan pesan untuknya sebelum kembali bekerja, tak lupa melabuhkan kecupan lembut
dicery manis canduku. Selelah dan segundah apapun aku kalau sudah dapat asupan cery manis ini rasanya jos dan tenang kembali.
" Kemana kita Bos?"
" Kekantor papa mertua! Ada beberapa hal yang meski kami bicarakan empat mata dan bersifat rahasia. "
" C3 ?
" Yes! Tahu alamatnya bukan?"
" Ya tahulah...Masak mantan sopir taksi online ngak tahu alamat pusat perusahaan raksasa itu." Ujarnya bangga.
" Oke....Lanjut!..."
" Lanjut..." Sambutnya berbinar seraya mulai memutar kemudi, membawa mobil hati- hati meninggalkan pelataran menuju jalan besar, lalu melaju membelah jalan sesuai jalur yang yang dituju.Tak ada lagi pembicaraan, yang terdengar hanya nyanyian siulan kecil darinya.
__ADS_1