
Hari Minggu yang cerah, secerah hati bibi Diandra saat ini.Ia berkali- kali memeriksa penampilannya didepan cermin.Sudahhampir satu lemari pakaian berpindah tempat dari lemari ketempat tidur karna sejak tadi ia gonta- ganti memakai baju dan melemparnya sembarangan keperaduan itu.
" Duh! ini baju ngak ada yang menarik satupun."Omelnya berbicara sendiri sembari mendengus kasar.
" Bik Imah!!! Cepat kesini teriaknya memanggil ART satu-satunya yang betah bekerja dengan Diandra diUnit wanita ini.
Bi Imah yang sedang BAB dicloset sebelah dapur mewah,terpaksa menyudahi proses pembuangan vesesnya dengan bergegas walau masih ada sisa beberapa potong dalam perjalanan.
" Cepat kesini!!!" terdengar lagi pekik memaksa dari sang nyonya.
" Ya nyonya...Tunggu!!! " Sahut Imah tak kalah kuat keluar dari toilet.
" Pasti urusan penampilan.Udah tubeng masih sok gaya."tebak Imah mengomeli nyonyanya dalam hati, sembari berlari terbirit-birit menuju kamar Diandra dengan tangan kiri masih memegang perut.
" Lelet amat sih kamu dipanggil orang." Ketus Diandra menatap tajam Imah saat baru saja wanita itunongol didepan hidungnya.
" Imah lagi pup nyoya...Ngak mungkin juga ngak peke cebok bukan? Ini saja masih nyangkut sepotong diperjalanan."Jawab jujur Imah cengengesan.
" Huek...Menjijikkan sekali kau ini, sana beresin lagi! " Ujar Diandra sampai mual dan tutup hidung membayangkan bagian belakangan pembantunya ini belepotan.
" Ngak gitu juga kali nyonya...Ini udah aku sekat pintunya kok." Balas Imah asal.
" Pake apa?"
" Biasa pake batu dan mantra kurlatas." Ucap Imah mengedap- ngedipkan matanya centil.
Kedua Alis Diandra menaut." Manta apa pula itu?" tanyanya penasaran.
" Mantra menghadapi bos pendesak." Bi Imah keceplosan.
" Jadi kamu mengumpat saya!" Hardik Diandra lagi padahal tadinya wanita itu sudah mulai rileks.
" Bukannya mengumpat...Hanya baca mantra biar bisa cepat menghadap sibos.Mantra blokade perjalanan pengeluaran tu BAB yang biasa aku baca kalau nona mendesak gini.Bunyinya: Ekor keatas kepala Kebawah. Apa nyonya puas jika itu terjadi pada saya."
" Kamu ini, Udah jorok pula! Buat mood saya tambah memburuk! Mana ada mantra kutukan begitu."Hujat Diandra.
" Perasaan jarang sekali kau ngak Bad mood nyonya, Kau tak ubahnya seekor buaya air asin. Orang bilang mantra penyelamatan, kau malah ngatai kutukan.Ngak nyambung sekali.Cantik- cantik idiot kalau lagi marah!."
" Masih ngumpat saya dalam hati ya! " Sergah Diandra memelototi Imah sedang menerawang.
" T...ti..Tarik nafas dalam- dalam...Jangan tengadah,dagu tekan kebawah." Bar...sabar
sabar......Wes...Wes...biar cantiknya ngak ngabur. Imah sipembantu paling baik sebelantara takkan mungkin mengumpat bos cantikku ini." Rayu amburadul Imah seraya mengusap-usap dada sendiri.
" Yang ini tepatnya saran bimbingan untuk ibu-ibu yang akan lahiran normal!" Sahut Diandra sembari tersenyum
" He...he...Sory nyonya Diandra yang cantiknya
melebihi Lady Daiyana.Gara- gara nyonya panggil buru- buru Imah jadi gagal lahirin Siti, kalau sampe usus Bunter gara- gara ini nyonya yang tanggung jawab lho!"Omel sarkas Imah berani, melihat senyum lebar majikan galaknya.
" Ya Sory...panggilanku udah ganggu kamu. Mudah- mudahan ngak sampe usus buntu juga gara- gara ini." Lebay tahu."Ucap Diandra
tanpa memandang Imah.
" Gitu dong...Kalau senyum baru mirip manusia." Batin Imah.
Sebelum terciduk lagi sedang ngomel dalam hati, cepat -cepat Imah bertanya
__ADS_1
"Tadi sebenarnya nyonya panggil saya untuk apa?"
" Ya ampun mah...Saya jadi lupa! Habis kamunya ngalor ngidul sih." Ucap Diandra seraya menepuk pelan pelipis sendiri.
" Ngak banyak tugas kok..Cukup kembalikan saja semua pakaianku itu kedalam lemari dengan rapi." Tunjuk Diana kearah tempat tidur king Sizenya.
Kedua mata ART itu membeliak, tapi detik merikutnya ia menunduk.
Melihat Imah diam saja, Dian menjelaskan lagi."Karna semua tak ada yang cocok, aku langsung kebutik saja dulu sebelum kerumah Jhonku."Jelas Diandra sembari meraih tas kesayangannya dari lemari.
" Ketempat tuan Jhon?Ngak kepesta nikahan putri nona?" tanya Imah Lagi- lagi keceplosan.
" Tutup mulutmu!Jika kau masih berani mengatakan tentang itu lagi,akan kukirimkau kehutan Amazon." Geram Diandra seraya menghentakkan kaki.
"Jangan dong nyo...Imah belum pernah kiwin lho! Kacian dikit... Balas kocak namun raut memelas sang ratu drama sapu terbang.
😄
" Ingat! Sabuni dulu tanganmu sebelum menyentuh baju- baju mahalku." Tambah Diandra meninggalkan ART satu-satunya itu.
" Ya nyonya..." Sahut lirih Imah.
Baru beberapa langkah Diandra berjalan." Tunggu nyonya! " Pekik Imah.
" Apalagi Imah...Aku buru-buru nih." protes bibi Diandra.
" Nyonya tidak akan kebutik dengan dalaman saja kan?"
" Hahhhhh..." Kedua biji mata Diandra nyaris copot dari bolanya setelah meraba tubuhnya.
Sedang Imah tidak bicara lagi, seolah tidak melihat lelucon apapun.Ia mulai menyusun baju- baju itu satu persatu walau dihatinya ia perkirakan tidak akan butuh waktu yang singkat untuk melakukan ini.
Wanita itu terlanjur malu untuk memarahi Imah yang tidak cuci tangan pakai sabun dulu sebelum bekerja sesuai perintahnya tadi.
" Mengapa ada kekonyolan dihari kemenanganku ya.." Batin Diandra.
*
*
*
Cameraku masih terhubung dengan nyonya yang ngotot mau jadi ibu mertua itu."Gimana ada seorang ibu yang lebih memilih menemui gebetannya ketimbang menghadiripernikahan putri kandungnya."
" Kamu lihat apa sih Rajj..." tanya Cinta yang baru keluar dari kamar mandi.
" Ngak...Lagi lihat- lihat rekomendasi psikiater terbaik yang akan kita temui nanti sore." Jawabku setelah bergegas mengalihkan aplikasi.
" Jadi kau masih akan membawaku terapi. Akukan Ti__
Ucapannya tertahan begitu bibirku menaut dicery manisnya.
" Bukan soal itu sayang...Aku hanya ingin memanfaatkan waktu cuti bulan madu kita untuk menemani istriku curhat- curhatan.
Jangan salah sangka ya...Tuan suami hanya ingin yang terbaik untuk istrinya.Apa itu salah?"tanyaku sembari memainkan telunjuk diatas bibirnya.
Iapun akhirnya menggeleng, segera kuhadiahi
__ADS_1
kecupan dikening.
Sedang bibi Diandra menemui papa mertua dikantor pusat perusahaannya, entah apa yang direncanakan wanita itu,biar papa sendiri yang menghadapi, karna kuyakin ia tangguh, buktinya telah berpuluh tahun ia mampu menepis setiap godaan.
*
*
*
Pukul setengah lima sore kami sudah sampai ditempat praktek seorang psikolog yang cukup terkenal diibukota. Melihat Cinta gugup, aku segera menenangkannya sebelum
masuk." Sekarang ada aku dan calon anak kita didalam sini yang ingin mommynya sehat
zohir batin." Ucapku sembari mengusap perut rata istriku.
" Ho...ho Pede amat sih Daddy-nya, baru juga dibuat.Kirain Daddy bikin baby itu semudah ngadonin godok pisang." Protesnya terkekeh
meremas tanganku.
" Ngak jauh- jauh kali kok Amatnya dari pisang, soalnya amat punya pisang sendiri yang mungkin agak gede makanya pede.
Tapi pasti gedean pisang Rajjmu ini barangkali." Godaku seraya mengelus pipinya.
" Eis...Ngaur tau!" Sanggahnya tapi dengan ekspresi gelisah bukan karna takut lagi tapi karna kenakalan tanganku. Aku berani melakukan ini karna dipelataran klinik ini sepi.
" Kita Sudah bisa masukkan? Soalnya dokter itu sudah taktahan pengen bicara dengan pasien tercantik sepanjang hari ini." Ajakku dengan sedikit rayuan gombal tak mau kenakalanku mengambil resiko kenakalan sendiri bakal naik level nantinya kalau tidak diantisipasi.
" Emang tahu darimana aku pasien paling cantik hari ini?" Tanyanya dengan kedua alis nyaris menaut.
" Ya tahulah...Kan yang buat janji pertemuan privat cuma Rajj dan Cinta hari ini dengan pak B." Ujarku yang langsung dapat Capitan kepiting panas dipinggang sampai langkahku terhenti mendadak.
Aku sampai terbungkuk menahan pedih dipinggang.Tidak masalah pinggang dicubit,yang penting ntar malam harus tetap kuat, karna siToni pasti bakalan balas dendam minta dijepit dobel." Gumamku menatapnya nakal.
" Cik, benar- benar Mr Black yang mesum."Cibirnya. Sedang aku cengengesan saja
Tanpa terasa kami sudah sampai didepan ruangan praktek Tuan B.
Deet ..
Bunyi derit pintu didorong dari dalam, disusul keluarlah sosok pria tinggi berumur yang masih sangat tampan. " Selamat datang pengantin baru.Sorry om ngak sempat hadir dipesta kalian karna acaranya kalian dadakan, sedang om lagi dalam perjalanan dari NZ." Ucap pria itu ramah seraya mengulurkan tangannya.
" Om B rekan bisnis proyek papa yang di Banana land!" Sambut berbinar istriku.
" Hebat cantik.. ingatanmu sangat tajam,bahkan setelah rambut om penuh Uban sekarang."
" Tentu...Karna om masih sama tampannya." Balas Cinta.
Untung tuan B sebaya orangtuanya, kalau tidak mana aku suka istriku memuji pria lain dihadapanku? Kalau dulu sebelum nikah bukan masalah.Setelah menikah rasa kuasa pria pada wanitanya bertambah berlipat- lipat.
Selanjutnya konsultasi berjalan lancar,karna ternyata istriku mengenal psikolog yang juga pemilik group besar didunia bisnis ini.
Aku menunggu dengan sabar proses konsultasi didalam sambil duduk ngeteh dibangku tunggu luar. Ruangan itu tidak ditutup rapat,bahkan om B memintakumenemani.Tapi aku menolak agar istriku lebih leluasa menyampaikan beban hatinya,lagian aku sudah kenal betul pribadi tuan B,jadi percaya pada lelaki sebaya papa mertua itu.
Dari luar kudengar berkali- kali istriku tertawa, hatiku semakin lega.
"Semoga istriku bisa disembuhkan total, seiring dengan bakal anak kami yang akan tumbuh dirahimnya. Mudah- mudahan hanya karma baik yang akan menghampirinya dihari depan." Harapan besarku dalam hati.
__ADS_1
Lanjut..
Bagi yang masuk tinggalkan jejak ya...Fote, like dan kasih Ulasan dikolom komentar.