Pria Pengganti Untuk Andara

Pria Pengganti Untuk Andara
Orang tua baru


__ADS_3

Bulan dan tahun berlalu, pernikahan andara dan raiden sudah masuk di tahun yang ke 3, Namun andara belun juga hamil, hal itu membuat mayang sedikit berubah akan andara. mayang yang dulu selalu bersikap hangat berubah sedikit jutek kepada menantunya.


Seperti biasa setiap hari minggu raiden dan andara akan menghabiskan waktu dirumah saja, walaupun akhir-akhir ini wanita itu sering merasakan sakit hati karna perkataan sang mama mertua.


" Aakkkkhhhgg" teriak mayang yang baru pulang arisan. wanita paruh baya itu selalu marah setiap pulang dari acara arisannya.


" Kenapa marah-marah gitu ma" tanya mahendra pelan


" Kenapa papa tanya, mama ini setres pa, setiap arisan pasti teman-teman mama akan menanyakan kapan mama punya cucu, kan mama malu karna hanya mama yang belum ad cucu di antara mereka semua" ucap mayang kesal


" Sabar ma, mungkin belum saatnya kita di berikan cucu" sahutnya lembut


" Sabar, sabar, sabar aja terus. mau sampai kapan pa, nanti mama keburu tua dan mati"


" Astaghfirullah ma, jaga omongan kamu"


" Bener kan pa, sudah 3 tahun rai itu menikah sama dara. tapi sampai saat ini tidak ada tanda-tanda andara hamil. apa kita carikan rai istri lagi"


" Cukup ma,!" bentak mahendra


Mendengar hal itu mayang langsung berlalu meninggalkan wijaya dan melewati andara juga raiden yang kebetulan sedang berdiri di dekat mereka karna mendengar suara gaduh di ruang tengah.


Mata mayang melirik tajam ke arah andara, hal itu tentu saja membuat andara menundukkan wajahnya, lagi-lagi hatinya terasa sakit dengan ucapan mertuanya, siapa sangka mayang yang dulu lemah lembut sekarang berubah seperti itu,


" Sabar sayang, jangan di ambil hati. kamu kan tau sendiri mama memang seperti itu" ucap raiden lembut sambil menggenggam tangan istrinya.


" Yang mama katakan memang benar kak, sebaiknya kak raiden cari istri lagi, aku gak berguna, aku gak bisa memberikan keturunan buat keluarga ini, hiks ...hiks..."

__ADS_1


" Hei sayang lihat aku, sampai kapan pun aku tidak akan pernah menikah lagi, hanya kamu satu-satunya wanita yang akan menua bersamaku, kamu jangan sedih lagi ya, jangan di pikirkan apapun yang kamu dengar dari mulut mama" pungkasnya lagi sambil membawa andara dalam dekapannya.


" Iya nak, kamu tidak usah dengerin apa kata mama ya" timpal wijaya


Andara hanya mengangguk dalam dekapan raiden, entah kenapa setiap ucapan yang terlontar dari mulut sang mertua selalu terngiang di telinganya.


" Maafkan aku kak, maafkan aku yang belum bisa memberikan keturunan buat kakak, sebagai seorang istri aku merasa sangat tidak berguna," lirih mala dalam batin


Sebenarnya raiden sendiri tidak pernah mempermasalahkan tentang anak, ada atau tidak yang terpenting andara selalu ada di sampingnya. bisa melihat istrinya tersenyum setiap hari saja sudah membuat raiden bahagia,


di dalam kamar mayang sedang mondar mandir di depan cermin di kamarnya, wanita paruh baya itu memikirkan bagaimana caranya agar raiden berpisah dari andara, hingga satu ide terbesit di benak mayang,


" aku harus mencobanya, mungkin dengan cara itu raiden akan merasa jijik dan menceraikan andara" ucapnya sambil tersenyum licik penuh arti.


" Kenapa mama senyum-senyum seperti itu, mencurigakan saja" pekik mahendra sambil mendekati istrinya


" Ya enggak sih, cuma cara senyum mama itu kayak ada arti di baliknya"


" Itu artinya mama lagi bahagia pa, sudahlah jangan kebanyakan nanya kayak wartawan."


Mendengar itu mahendra hanya menggeleng pelan dengan tingkah laku sang istri. " Semoga saja mama tidak melakukan yang aneh-aneh" batinnya.


Setelah kejadian di ruang tengah, raiden membawa andara untuk jalan-jalan di hari minggu ini. biasanya andara selalu menolak saat di ajak ke taman pusat kota, entah kenapa kali ini wanita itu hanya patuh dengan ajakan suaminya.


di tengah keramaian taman yang cukup luas, andara masih terus diam tanpa suara. ucapan mayang masih terus terdengar jelas di telinga andara, seketika air matanya meluruh membasahi pipi putihnya. " Maafkan aku kak, maafkan aku yang belum bisa memberikamu keturunan" lirihnya pilu di sertai tangisnya yang tanpa suara


Mendengar suara sendu istrinya membuat raiden kembali membawa andara dalam dekapannya. pria itu mengusap air mata yang sudah membasahi pipi sang istri

__ADS_1


" Jangan pernah minta maaf atas hal yang juga tidak kamu inginkan, sayang aku sudah mengatakan jika aku gak papa tanpa ad seorang anak, buat aku yang terpenting hanyalah kamu, kamu yang ceria, kamu dengan senyum manis yang selalu mampu membuat aku bahagia. Aku percaya suatu saat nanti allah akan menitipkan amanah saat kita sudah benar-benar siap, kamu jangan menangis lagi ya, semua hanya tentang waktu, allah sedang menguji kesabaran kita sayang." ucapnya sambil membelai lembut rambut andara


" Terimakasih kak, terimakasih atas kesabaran yang selalu kakak berikan untukku, terimakasih atas kasih sayang kak raiden yang begitu tulus, terimakasih atas bahu yang selalu menjadi tempat bersandar di saat aku rapuh, terimakasih atas semuanya kak," Lirih andara sendu


Di saat andara sudah mulai tenang, ada suara kegaduhan yang membuat sepasang suami istri ini menghampiri pertengahan taman, ternyata di sana telah terbuang seorang bayi laki-laki yang kisaran umurnya masih beberapa hari,


" Kamu bawa saja bayi ini. kasihan" ucap salah satu dari mereka


" Maaf aku gak bisa, aku sudah ada anak yang harus aku biayai hidupnya"


" Aku juga tidak bisa. aku saja belum menikah"


" Aku juga tidak bisa, suamiku hanyalah seorang pengangguran"


Suara bisik itu mengalihkan perhatian andara pada bayi malang yang saat ini masih ada di atas rumput taman dengan bedong berwarna kuning,


" Biarkan aku yang merawat bayi ini" suara serak andara menghentikan bisingnya orang-orang yang ada di sana.


" Kamu yakin nak mau merawat bayi ini " tanya salah satu wanita paruh baya itu


" Iya bu saya sangat yakin, selama ini saya dan suami saya sangat menginginkan seorang anak. tapi sampai 3tahun pernikahan kami belum juga di anugrahi keturunah, saya sangat merindukan suara tangis bayi yang akan menjadi penyemangat hidup kita berdua" lirih andara sambil mengambil bayi malang yang masih ad di atas rumput taman kota.


" Alhamdulillah kalian mau merawat bayi malang ini, saya doakan semoga suatu saat nanti kamu bisa melahirkan anak dari rahimmu sendiri" ucap salah satu dari mereka


" Amin, terimakasih doanya bu" balas raiden dengan suara beratnya.


Entah kenapa andara sudah merasa jatuh cinta saat melihat bayi malang yang ada dalam gendongannya. " malang sekali nasibmu nak, di saat aku dan kak raiden menginginkan keturunan ternyata ada orang lain yang tidak menginginkan keberadaan mu, aku janji mulai hari ini akan merawat mu dengan baik, aku dan kak raiden akan menjadi mama dan papa barumu" titah andara sambil mencium bayi mungil itu

__ADS_1


__ADS_2