
Melihat Andara di peluk oleh adiknya sendiri entah kenapa membuat jantung Raiden seakan berhenti berdetak. Begitu sakit melihat pemandangan di depan matanya.
Raiden melangkahkan kakinya keluar dari restoran milik Andara. Pria itu berusaha untuk tidak menjatuhkan air matanya yang sudah memenuhi kedua kelopak matanya.
Wildan yang masih memeluk dan mencoba menenangkan Andara tiba-tiba menoleh ke arah Raiden yang saat ini sudah mau masuk ke dalam mobilnya
"Kak Raiden" Ucap Wildan tanpa sadar
Mendengat Wildan mengucapkan nama Raiden membuat Andara ikut menoleh ke arah jalan di depan restorannya. Entah kenapa Andara merasa hatinya seperti merasakan hal yang lain saat melihat adanya Raiden di sekitarnya.
"Pria itu. Bukan kah dia yang waktu itu datang dan mengatakan aku adalah mantan istrinya" Andara bermonolog dalam batinnya
Sedangkan Raiden melirik sekilas ke arah Andara yang melihat ke arahnya. "Aku sangat merindukanmu sayang. Sangat" Ucap Raiden begitu sendu
Setelah itu Raiden melajukan mobilnya menjauh dari restoran Andara. Pria itu akan menemui sang ayah yang mungkin sedang menunggunya di kantor. tak butuh waktu lama Raiden tiba di perusahaannya. Karna jarak restoran Andara dengan kantor milik keluarga Mahendra hanya berjarak beberapa meter saja.
"Selamat sore tuan muda" Ucap salah satu karyawan di sana
"Sore. Apa papa sudah sampai?"
"Sudah tuan muda. Bos besar sudah sampai sejak 10 menit yang lalau"
"Baiklah. Terimakasih"
Setelah itu Raiden berjalan ke arah ruangan direktur. Dan ternyata memang benar, Sang papa sudah menunggu Raiden di sana
"Baru sampai Rai?" Tanya Mahendra saat Raiden baru masuk ke dalam ruangannya
"Iya pa" Ucapnya pelan
Melihat anaknya seperti itu membuat Mahendra mengerutkan keningnya.
"Apa yang terjadi Rai. Kenapa wajahmu seperti sedih begitu?" Tanya Mahendra yang memang sudah benar-benar penasaran
Raiden tak langsung menjawab. Pria itu masih mengambil nafas berat sebelum menceritakan semua isi hatinya pada sang papa.
"Rai. Kamu baik-baik saja kan?"
"Tidak pa. Raiden sedang tidak baik-baik saja" Ucapnya yang terdengar begitu lirih
__ADS_1
"Apa yang terjadi Rai? Kamu kenapa sampai terlihat begitu sedih" Ucap Mahendra sambil mendekat ke arah Raiden yang saat ini sedang duduk di sofa
"Andara pa. Rai bertemu dengan Andara. Dan Andara tidak mengenal Raiden" Ucap Raiden begitu pilu
"Apa! Kamu bertemu dengan Andara. Apa Andara ada di sini?"
"Iya pa. Ternyata Andara adalah pemilik restoran La tahzan yang waktu itu papa rekomendasikan pada Raiden"
"Yang bener kami Rai. Lalu apa anak angkat kalian juga ada di sana?"
"Tidak pa. Bara sudah meninggal beberapa hari yang lalu. Dan setelah kepergian Bara, Ternyata Andara mengalami tabrak lari hingga lupa ingatan" Jelas Raiden
Mendengar kabar tentang itu membuat Mahendra begitu terkejut. kenapa sekarang semua jadi seperti ini!
"Papa tau ini berat buat kamu Rai. Tapi percayalah jika dia memang di takdir kan untuk menjadi bagian dari hidupmu, Suatu saat nanti kalian pasti akan bisa bersama lagi"
"Raiden menyesal pa. Sangat menyesal. Seandainya saja pagi itu Raiden tidak memperdulikan gambar yang mama Mayang tunjukkan, mungkin saat ini Raiden masih bisa bahagia bersama dengan Andara juga Bara"
"Begitulah Rai. Penyesalan memang akan selalu datang di saat kita sudah kehilangan. Papa juga sangat menyesal karna sudah meninggalkan mama kandung kamu. Dan semua itu juga karna mama Mayang"
"Oh iya Rai. Katanya kamu mau cerita sama papa. Mau cerita apa?"
"Ternyata Raiden memiliki adik laki-laki dari mama pah"
"Bagus dong Rai. Lalu kenapa wajah kamu harus sedih seperti itu? Seharusnya kamu senang bisa memiliki saudara lagi"
"Bagaimana aku tidak sedih pa. Adik Raiden adalah pria yang sempat Raiden tuduh sebagai selingkuhan Andara. dan dia juga mencintai Andara sama seperti Raiden pa"
"Apa!! Lalu bagaimana tanggapan dia saat tau bahwa kamu adalah kakaknya?"
"Dia malah mengatakan aku laki-laki terbodoh yang pernah dia temui. Raiden harus bagaimana pa. Apa Raiden harus bersaing dengan adik Raiden sendiri?"
"Kalau sudah seperti itu papa juga gak paham Rai. Kamu yang sabar ya. Semoga suatu saat ada titik terang tentang apa yang saat ini kami hadapi"
"Apa Raiden harus mundur dan membiarkan Andara bersama dengan Wildan?"
"Ikuti kata hati kamu Rai"
Tanpa terasa hari sudah semakin sore. Raiden pulang ke Apartemen miliknya. Sedangkan Mahendra sudah kembali ke jakarta untuk memberikan pelajaran pada Mayang.
__ADS_1
Entah apa yang sudah Mahendra rencanakan. Tapi yang pasti Mayang akan membayar semua kebohongan yang selama ini dia sembunyikan dari Mahendra.
Raiden melihat jam yang melingkar di tangannya. Ternyata saat ini sudah pukul 22:00. Raiden merebahkan tubuhnya yang terasa begitu lelah. Bukan lelah karna pekerjaannya. Namun lelah karna memikirkan Andara juga perasaan yang Wildan miliki untuk Andara.
Raiden mencoba memejamkan kedua matanya di saat bayangan Andara mulai terbayang jelas. Entah bagaimana Raiden harus melewati semua ini. Harus bersaing dengan adiknya sendiri.
Di Jakarta
"Maafkan mama pa. Mama menyesal karna sudah membohongi papa" Ucap Mayang yang bersimpuh pada kaki Mahendra
"Pergi. Bawa semua barang-barang mu. Aku sudah tidak mau lagi hidup bersama wanita ular yang berbisa sepertimu. Pergi!" Ucap Mahendra dingin tanpa espresi
"Mama mohon maafkan mama pa. Mama benar-benar menyesal"
"Sudahlah ma. Selama ini kamu hanya memengingkan hartaku saja kan. aku sudah muak dengan sikap kamu yang pura-pura baik!"
"Tapi pa. Mama benar-benar menyesal" Ucap Mayang di sela isak tangisnya
"Kemasin semua barang-barangnya. Dan suruh dia keluar dari rumah ini" Ucap Mahendra dingin dan langsung masuk meninggalkan Mayang yang masih terisak
Di Tempat Lain
Dika dan kedua orang tuanya sudah tiba di jakarta. Mereka bertiga langsung menuju ke kediaman Subagio.
"Mami Dika besok mau kerumahnya kak Raiden ya" Ucap Dika pada maminya
"Mama ikut besok Dik. Mama sudah kangen sama kak Mayang. Rasanya sudah sangat lama kami tidak bertemu. Papi ikut gak?"
"Kayaknya gak bisa deh mi. Papi besok sudah ada janji bertemu klien"
Dika masuk ke dalam kamarnya. Namun langkahnya terhenti saat suara sang kakek menerpa indra pendengarannya.
"Iya kek, Ada apa?" Tanya Dika pelan
"Kakek kau mengenalkan kamu dengan seseorang. Apa kamu sudah siap untuk menikah. Usia kamu kan sudah pas untuk menjalin rumah tangga"
Mendengar ucapan sang kakek membuat Dika hanya mengangkat kedua sudut bibirnya.
__ADS_1
"Aku mau menikah Asal menikah dengan Andara kakek" Ucapnya dalam batin