Pria Pengganti Untuk Andara

Pria Pengganti Untuk Andara
Sangat merindukan


__ADS_3

"Kenapa aku jadi ingat sama Hana" Ucap Chandra dalam batinnya.


Di saat Chandra dan Hana menoleh ke arah masing-masing. Ada beberapa karyawan yang menghalangi pandangan mereka. Sehingga baik Hana atau pun Chandra tidak bisa melihat satu sama lain.


"Hujannya deras sekali ya pak" Ucap Andara yang langsung membuat Chandra tersadar yang hampir mengingat kejadian satu tahun yang lalu. Masa di mana Chandra masih bisa bersama Hana juga Aisyah.


"Iya Dara, Hujannya sangat deras"Ucap Chandra sambil menatap derasnya air hujan.


Di tempat lain. Lebih tepatnya di rumah sakit tempat mamanya Raiden di Rawat. Saat ini Wildan berjalan menyusuri koridor rumah sakit untuk menemani sang mama. Karna Raiden tidak bisa datang untuk beberapa hari ke depan.


Setelah tiba di dalam ruang rawat sang mama. Ternyata di sana sedang ada dokter Nadia yang sedang melakukan pemeriksaan terhadap bu Diana.


Melihat kedatangan Wildan membuat Nadia menjadi salah tingkah. Berada di dekat Wildan benar-benar tidak baik buat kesehatan jantungnya Nadia.


"Bagaimana kondisi mama saya dokter?" Tanya Wildan tiba-tiba


Nadia menatap Wildan"Alhamdulilah kondisi bu Diana sudah sangat membaik pak. Besok sudah boleh pulang" Terang Nadia sambil tersenyum


"Benarkah? Dokter serius kan?" Tanya Wildan lagi memastikan


"Iya pak saya serius. Hari ini adalah hari terakhir bu Diana di rawat di sini. Saya permisi dulu ya pak" Ucap Nadia dan langsung berlalu dari hadapan Wildan. Namun langkahnya terhenti saat suara Wildan memanggil namanya.


"Iya pak Wildan ada apa?" Tanya Nadia sambil membalikkan tubuhnya.


"Apa saya boleh berbicara sesuatu?" Ucap Wildan sambil mendekat ke arah Nadia


"Berbicara sesuatu. Apa itu pak?" Tanya Nadia yang terlihat begitu penasaran.


"Saya mau bicara soal. Tidak di sini, Kita cari tempat lain. nanti jam makan siang saya tunggu kamu di kantin rumah sakit"


Nadia yang mendengar itu terdiam untuk beberapa saat. Wanita itu penasaran dengan apa yang akan Wildan bicarakan dengannya.


"B...baiklah pak. Saya akan datang pada jam makan siang" Ucap Nadia dan langsung benar-benar berlalu dari hadapan Wildan.


Sedangkan Wildan masih menatap kepergian Nadia. Pria itu sudah berniat untuk mendekati Nadia untuk menggantikan posisi Andara di hatinya.


Karna mau bagaimanapun, Andara adalah wanita yang sangat di cintai kakaknya sendiri. Terlebih lagi posisi Raiden lebih kuat dalam hati Andara.


Yang Wildan lihat, Biarpun saat ini Andara sedang lupa ingatan. Pria itu bisa melihat adanya cinta dari kedua sorot mata Andara saat sedang melihat Raiden.


Sejak saat itu lah. Wildan tidak mau bersaing dengan laki-laki yang sudah jelas Andara cintai.


"Ini bukan mimpi kan, Wildan mengajakku untuk makan siang bersama" Ucap Nadia sambil menepuk kedua pipinya.


"Aaaaa, sakit! Ternyata ini bukan mimpi. Ini adalah kenyataan" Ucap Nadia lagi


Di Jakarta


"Mami. Kita harus cari mama Mayang kemana?" Tanya Dika setelah turun dari dari lantai atas.


Saat ini Dika sudah ikut berkumpul bersama kakek juga kedua orang tuanya.


"Loh, Memangnya Mayang tidak ada di rumah suaminya?" Tanya kakak Subagio pada Dika dan Melati


"Tidak ada pa. Kak Mahendra sudah mengusir kak Mayang karna kesalahannya sendiri. Ada satu hal yang membuat kak Mahendra marah besar pada kak Mayang" Jelas Melati pada papanya.


Kakek Subagio yang mendengar itu mengerutkan keningnya penasaran dengan apa yang terjadi pada anak angkatnya.

__ADS_1


"Apa maksud kamu Melati, Coba ceritakan yang sejelas-jelasnya" Ucap Subagio lagi


"Jadi begini pa"


Flashback kediaman Mahendra


Saat sudah tiba di kediaman Mahendra. Dika mengetuk pintu dengan senyum merekah yang terukir jelas dari kedua sudut bibirnya.


Ini adalah pertama kalinya Dika menginjakkan kakinya kembali di kediaman orang tua kandungnya setelah bertahun-tahun lamanya dia tinggal di luar negri bersama dengan papi dan mamanya.


Tok...tok...tok..


"Iya sebentar" Ucap seseorang di balik pintu.


Tak lama kemudian pintu terbuka lebar dan langsung menampakkan sosok Mahendra di sana.


"Papa, Dika sangat merindukan papa" Ucap Dika sambil berjalan dan memeluk Dika


Melihat kedatangan Dika membuat Mahendra juga ikut memeluk putranya erat. Setelah sekian lama, Akhirnya Mahendra di pertemukan kembali dengan anaknya.


"Dika, Papa juga sangat merindukan kamu Dik. Kenapa kamu kesini tidak bilang-bilang" Ucap Mahendra yang masih memeluk Dika erat. Melepaskan sebuah kerinduan yang begitu dalam.


"Mama dimana pa?" Tanya Dika tiba-tiba


Mendengar pertanyaan itu membuat Mahendra melepaskan pelukannya. Entah kenapa setiap kali mendengar nama Mayang selalu mampu membuatnya menahan Amarah.


"Mama mu sudah papa usir Dika" Ucap Mahendra sambil menatap Dika


"Apa kak. Kak Mayang sudah tidak di sini? Ada masalah apa kak?" Tanya Melati pada Mahendra sambil mendekat ke arah kakak iparnya.


"Ada satu alasan yang membuat aku harus mengusirnya Mel. Kakakmu sudah benar-benar keterlaluan"


"Mayang sudah banyak melakukan kesalahan yang tidak bisa lagi kakak maafkan Mel" Ucap Mahendra yang terdengar begitu lirih


"Kesalahan apa kak?"


"Kakak kamu ternyata selama ini tidak pernah mencintai ku Mel. Selama ini dia hanya terpaksa pura-pura mencintaiku demi mendapatkan harta yang aku miliki"


"Maksud kakak bagaimana? Aku tidak paham"


"Mayang selama ini sudah mengkhianati kakak Mel. Dan bukan hanya itu, Mayang ternyata memiliki anak dari pria yang menjadi selingkuhannya" Ucap Mahendra dan langsung berhasil membuat Dika serta Melati begitu terkejut dengan sebuah fakta yang baru saja mereka dengar, Terutama Dika.


"Apa!!" Ucap Dika yang terlihat begitu kecewa saat mendengar penuturan dari sang papa.


Dika tidak pernah menyangka jika wanita yang selama ini Dika idolakan ternyata sudah mengkhianati papanya sendiri. Selama ini Dika memang selalu mengidolakan Mayang juga Melati.


"Kenapa papa bisa mengatakan hal itu?" Tanya Dika lagi pada Mahendra


"Papa mengatakan hal itu karna papa liat sendiri saat Mayang sedang datang mengunjungi putrinya yang sedang ada dalam masalah besar. Tapi papa tidak tau pasti masalah apa yang sedang di hadapi oleh anak perempuan Mayang yang bernama Tisha" Terang Hendra yang membuat Dika semakin tidak paham


"Bisa papa jelaskan lebih Detail? Jujur Dika tidak terlalu paham pa"


Mendengar perkataan Dika membuat Mahendra mengambil nafas panjang. Bukan apa-apa. Tapi rasanya begitu sakit saat mengingat apa yang selama ini sudah Mayang lakukan.


"Jadi intinya. Mama kamu ternyata sudah mengkhianati papa sejak beberapa tahun yang lalu. Dan dari perselingkuhan itu, Mama kamu memiliki seorang anak perempuan bernama Tisha. Umurnya sekitar 19 tahun, Dan bukan hanya itu"


"Sebenarnya selama ini Mayang bukan hanya membohongi papa. Tapi juga mami kamu juga keluarga Subagio" Ucap Mahendra lagi.

__ADS_1


Mendengar perkataan Mahendra membuat Melati mengangkat sebelah alisnya. Apa yang di maksud oleh Mahendra untuk saat ini.


"Membohongi keluarga Subagio bagaimana maksudnya kak?" Tanya Melati yang terlihat begitu penasaran


"Jadi, Sebenarnya selama ini kedua orang tua kandung Mayang masih hidup. Dia sudah membohongi kita saat mengatakan jika kedua orang tuanya sudah lama meninggal" Ucap Mahendra lagi.


"Apa!!" Ucap Dika dan Melati secara bersamaan


Lagi-lagi mereka merasa terkejut dengan apa yang sudah Mahendra katakan.


Flashback off


Subagio yang mendengar penuturan Dika dan Melati langsung mengepalkan kuat kedua tangannya. Ternyata selama ini dia sudah di tipu mentah-mentah oleh anak angkatnya sendiri.


"Jadi selama ini Mayang juga sudah membohongi papa!' Ucap Subagio dingin.


Di Rumah makan


Tanpa terasa hujan sudah mulai reda. Andara dan Chandra sudah masuk kedalam mobilnya dan melanjutkan kembali perjalanan mereka.


"Kita lanjutkan perjalanan ya Dara, Apa kamu mau membeli sesuatu dulu?" Tanya Chandra pada Andara sebelum melanjutkan perjalanannya.


"Tidak ada pak. Sayang sudah tidak ada yang mau di beli. Pak Chandra bisa melanjutkan perjalanan lagi" Balas Andara pelan.


Mendengar suara Andara yang terdengar begitu lembut membuat Chandra menatapnya lewat kaca spion yang ada di samping Andara.


"Mereka hanya memiliki wajah yang sama, Semua tingkah laku serta cara bicaranya sangat berbeda" Ucap Chandra dalam batinnya.


Setelah itu, Chandra benar-benar melajukan mobilnya dan menjauh dari rumah makan itu. Perjalan mereka masih sangat jauh. Karna Surabaya ke Jakarta memang memerlukan waktu beberapa jam.


Sedangkan Raiden dengan Chandra saat ini masih sibuk menghabiskan semua makanan yang sudah di pesan sebelumnya. Bukan Raiden, Tapi hanya Hana.


Demi apa, Porsi makan wanita itu sangatlah banyak. Bahkan karna melihat Hana makannya seperti orang kesurupan membuat Raiden merasa kenyang sebelum menyentuh makanannya sendiri.


"Kamu kenapa gak makan Rai?" Tanya Hana sambil terus memakan makanannya.


"Melihat caramu makan saja sudah membuat ku kenyang. Kenapa kamu makannya harus seperti itu Hana, Astaga" Ucap Raiden sambil menepuk jidatnya sendiri.


"Aku benar-benar Raiden. Kamu tau sendiri kan, Selama satu tahun ini aku sudah tidak pernah makan-makanan di rumah makan ini. Aku benar-benar merindukan makanan disini" Ucap Hana sambil terus menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.


"Benarkah! Memangnya selama ini apa yang sudak kau makan?"


"Ya aku hanya bisa makan dengan nasi kucing Rai. Menyesuaikan bajet yang aku miliki" Ucap Hana lagi.


Mendengar kata nasi kucing, membuat Raiden membayangkan dengan ngeri. Apa Hana tidak salah makam. Masa iya kana nasi sama kucing. pikirnya


"Apa! Kamu makan nasi sama kucing. Astaga Hana, kamu kok tega sekali makan nasi sama kucing. Kucingnya kamh jadikan lauk?"


Perkataan Raiden langsung berhasil membuat Hana tertawa. Ini Raiden benar-benar tidak tau atau hanya pura-pura tidak tau?


"Kok malah ketawa sih Hana. Jadi benar kamu makan sama kucing, Kucingnya kamu apakan Hana?!"


"Ya kali aku makan kucing Rai. Maksud aku nasi kucing itu, Porsinya sedikit seperti porsi makan nya kucing. Ini serius kamu gak tau Rai?"


"Ooohh. Aku kira kamu makan sama kucing" Ucap Raiden sambil terus menatap Hana yang masih begitu menikmati semua makanan yang ada di depannya.


Melihat Hana seperti itu membuat Raiden kembali teringat akan masa-masa bersama dengan Andara.

__ADS_1


"Aku sangat merindukan mu Andara" Batinnya


__ADS_2