
"Apa kita akan berangkat sekarang pak?" Tanya Andra pada Chandra yang baru saja menginjakkan kakinya di rumah Andara
"Lebih cepat, Lebih baik bukan" Ucap Chandra dan langsung berjalan kembali ke arah mobilnya.
Setelah itu, Andara melirik ke arah Raiden sambil melangkahkan kakinya menuju mobil Chandra.
"Maaf, Aku harus pergi. Permisi" Ucap Andara dan langsung naik ke dalam mobil Chandra. Wanita itu masih menatap Raiden yang saat ini masih berdiri di depan rumahnya.
Sedangkan Raiden menatap kepergian mobil Chandra dengan menyimpan seribu pertanyaan. Pria itu begitu penasaran kemanakah Andara akan pergi bersama seorang pria yang tak pernah Raiden kenal sebelumya.
"Siapa pria itu" Ucap Raiden sambil terus menatap mobil Chandra yang semakin menjauh.
Setelah itu, Raiden kembali masuk ke dalam mobilnya dengan membawa perasaan yang tidak menentu. Antara cemburu serta rasa ingin tau itu bercampur menjadi satu.
Ini memang pertama kalinya Raiden melihat Andara bersama dengan pria yang tak pernah Raiden kenal sebelumnya.
Di saat Raiden sudah memarkirkan mobilnya di depan perusahaan milik keluarganya. Tiba-tiba ada sebuah panggilan masuk dari sang papa. Mahendra meminta Raiden untuk kembali ke jakarta hari ini juga, Karna ada sebuah masalah urgen di perusahaan yang sedang Raiden pimpin.
📞:Iya halo pa. Ada apa?
📞:Apa kamu bisa kembali ke jakarta sekarang Rai? Ada masalah urgen di perusahaan yang sedang kamu pimpin
📞:Masalah urgen! Masalah tentang apa pa?
📞:Ada yang berani mencuri data perusahaan Rai. Kamu harus kembali sekarang
📞:Baiklah pa
Setelah itu, Raiden memutuskan sambungan telponnya. Hal yang tak pernah Raiden duga terjadi begitu saja. Tanpa Raiden sadari. Ternyata di kursi penumpang saat ini sedang ada Hana yang memang sengaja ikut naik saat melihat Raiden akan pergi dan sudah rapi.
"Siapa yang sudah berani ingin bermain-main denganku" Ucap Raiden yang terlihat begitu menahan amarah.
"Aku tidak akan pernah memberikan kata maaf pada siapapun yang sudah berani mengusik ketenangan perusahaan yang aku kelola"
"Akan aku pastikan, Siapapun itu akan menyesali perbuatannya" Ucap Raiden lagi sambil mengatupkan giginya
Tak lama kemudian, Raiden mendengar seperti ada suara seseorang yang berasal dari kursi penumpang. Mendengar itu membuat Raiden menepikan mobilnya dan menoleh ke arah belakang.
"Suara siapa itu ya" Ucap Raiden sambil menghentikan laju mobilnya
Tak lama kemudian. Pria itu menoleh ke arah kursi penumpang dan menemukan Hana yang saat ini sedang sibuk nyemil.
"Aaaaaaaa" Teriak mereka secara bersamaan
Raiden begitu kaget saat melihat Hana dengan penampilan yang masih acak-acakan. Wanita itu terlihat begitu menyedihkan.
Sedangkan Hana yang begitu terkejut saat melihat Raiden menatap ke arahnya tanpa bersuara terlebih dahulu.
"Ngapain kamu di sini Hana?" Teriak Raiden sambil melihat ke sekitar Hana yang sudah penuh dengan bekas makanan ringan
"A...aku mau ikut kamu lah Rai. Kamu kan sudah janji bakal bantu aku aku untuk bertemu dengan suamiku" Ucap Hana sambil melihat ke arah Raiden
Mendengar perkataan Hana membuat Raiden mengambil nafas berat sambil menepuk jidatnya pelan. Aku sudah berurusan dengan orang yang salah. Pikirnya
Raiden memperhatikan Hana yang masih terus menikmati makanan di tangannya. Pria itu melihat penampilan Hana yang terlihat begitu menyedihkan.
"Kenapa kamu terlihat seperti gembel sih Hana" Ucap Raiden pada Hana
__ADS_1
Hana yang mendengar itu langsung memperhatikan dirinya sambil memanyunkan bibirnya.
"Apa kamu bilang? Aku seperti gembel! Jahal banget sih kamu Rai" Ucap Hana sendu
Raiden tak lagi menjawab. Pria itu hanya menghidup kan kembali mobilnya sambil sambil menggelengkan kepalanya. Masih tidak percaya jika dirinya terjebak dalam masalah wanita aneh.
"Muka saja yang sama, Kelakuan 180° sangat berbeda" Ucap Raiden sambil melajukan mobilnya
Hana yang mendengar itu langsung memukul kepala Raiden tanpa permisi.
"Eh Hana, Apa-apaan kamu. Hana hentikan! Ini kita lagi di tengah jalan, Bahaya Hana. Hentikan" Sentak Raiden saat Hana memukuli kepalanya
"Biarin saja, Apa kamu tidak pernah berfikir sebelum berkata, Kamu sudah mengatakan aku seperti orang gembel!"
"Hentikan Hana, Jika seperti ini terus yang ada kita bisa celaka Hana"
"Dasar pria tidak tau diri. Menyebalkan" Ucap Hana sambil terus memukul Raiden
Raiden memelankan mobilnya saat melihat sebuah butik yang jaraknya tidak jauh dari mereka. Raiden menghentikan mobilnya saat sudan tiba di depan butik yang tadi sudah Raiden lihat.
"Turun" Ucap Raiden dingin tanpa menoleh ke arah Hana
Hana yang mendengar perkataan Raiden langsung menatapnya sambil menunjukkan wajah melasnya.
"Kamu tega meminta aku untuk turun Rai. Semalam kamu sudah janji jika akan membantu aku untuk bertemu dengan suamiku" Ucapnya yang terdengar begitu pilu
"Eh gembel. Aku hanya meminta kamu turun untuk membeli baju agar tidak terlihat begitu menyedihkan, Karna tidak mungkin aku membawa wanita gembel sepertimu" Ucap Raiden sambil memberikan beberapa uang lembar berwarna merah.
"Kamu serius mau membelikan aku baju Rai?"
"Hmmmm, Cepat, Sebelum aku berubah pikiran dan meninggalkan mu disini sendiri"
"Tunggu sebentar ya Rai. Aku tidak akan lama"
"Hmmm"
Setelah kepergian Hana, Raiden mengambil ponselnya. Pria itu menghubungi Diana dan mengatakan pada wanita paruh baya itu jika hari ini Raiden tidak bisa datang ke rumah sakit untuk menjaganya. Karna setelah mendapat kabar dari Mahendra membuat Raiden ingin cepat-cepat sampai di jakarta.
Tak butuh waktu lama, Telponnya langsung terhubung saat itu juga. Raiden mengatakan jika Mulai hari ini Raiden tidak bisa menemuinya untuk beberapa hari ke depan.
📞:Iya halo Rai, Ada apa?
📞:Mama. Maaf ya, mulai hari ini hingga beberapa hari ke depan Raiden tidak bisa menemui mama kerumah sakit. Karna tadi papa ngabarin jika sedang ad masalah di perusahaan yang Raiden kelola
📞:Iya nak tidak apa-apa. Kamu hati-hati di jalan ya
📞:Iya ma. Maaf ya ma. Tapi setelah urusan Raiden semuanya selesai, Raiden janji akan menemui mama secepatnya
📞:Iya Rai. Selesaikan dulu semua masalah di sana ya Rai
📞:Iya ma, Terimakasih ya ma
Setelah itu telponnya terputus. Raiden mengirimkan sebuah pesan singkat pada Wildan.
[ Wildan. Maaf ya, Untuk beberapa hari ke depan aku tidak bisa menemani mama di rumah sakit. Aku sedang ada urusan yang sangat mendesak ] Send
Sesudah mengirim pesan pada Wildan. Raiden meletakkan ponselnya kembali pada saku jasnya. Dan bersamaan dengan itu, Hana sudah kembali dengan menggunakan sebuah pakaian yang membuat Raiden tidak bisa membedakan antara Hana dengan Andar.
__ADS_1
"Hai Rai. Bagaimana penampilan baru aku, Cantik kan?" Ucap Hana sambil duduk di kursi samping Raiden.
Melihat Hana menggunakan sebuah gamis berwarna hitam serta hijab berwarna krem membuat Raiden seperti sedang melihat Andara.
"Kenapa dia begitu terlihat seperti Andara"Ucap Raiden dalam batinnya
"Woy Rai, Kenapa malah bengong sih. Ayo jalan, Kita mau kemana?" Tanya Hana saat melihat Raiden masih dia tak bergeming
"Raiden" panggil Hana lagi
Raiden baru tersadar saat mendengar suara cempreng Hana menerpa indra pendengarannya. Pria itu mengusap telinganya yang terasa sakit karna ulah Hana.
"Biarpun penampilan kamu sudah berubah. Tapi kelakuan kamu ternyata tetap saja ngeselin" Ucap Raiden pada Hana.
Mendengar akan hal itu membuat Hana mengangkat sudut bibirnya. "Dasar pria tidak tau diri" Cibirnya
Di tempat lain
Tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul 12:00. Chandra menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah makan yang terlihat cukup rame.
"Kita makan dulu ya Dara. Ini sudah waktunya makan siang" Ucap Chandra pada Andar
Andara yang mendengar itu hanya menganggukkan kepalanya. Entah kenapa di saat sedang bersama dengan Chandra, Andara lebih banyak diam dan tak banyak bicara.
Andara turun dan mengekor di belakang Chandra. Saat masuk ke rumah makan itu pasti selalu bisa membuat Chandra mengingat istrinya Hana juga anaknya Aisyah.
"Mau pesan apa Dara?" Tanya Chandra pada Andara
"Aku mau pesan ayam rica-rica saja pak. mendung seperti ini paling enak makan yang pedas-pedas pak" Ucap Andara sambil melirik ke arah Chandra
Entah hanya kebetulan atau gimana. Tapi yang pasti apa yang Andara katakan sama persis seperti apa yang pernah Chandra dengar dari Hana.
Mengingat akan hal itu membuat Chandra menundukkan wajahnya, Pria itu tiba-tiba saja jadi merindukan Hana.
Andara yang menyadari itu langsung menanyakan apa yang sudah membuat Chandra menunduk sedih.
"Ada apa pak? Kenapa pak Chandra terlihat begitu sedih" Tanya Andara pada Chandra
Mendengar perkataan Andara membuat Chandra mengangkat wajahnya. Pria itu menatap Andara untuk melepaskan sebuah rindu yang begitu mendalam.
Sebuah kerinduan yang sudah 1 tahun ini Chandra pendam sendiri. Rindu akan Hana dan juga rindu akan anaknya, Aisyah.
"Tidak ada apa-apa Dara. Hanya saja saya sedang merindukan mereka. Saya begitu merindukan Hana juga anak saya Aisyah" Ucap Chandra yang terdengar begitu pilu
Andara yang mendengar itu hanya bisa ikut perihatin dengan apa yang sudah terjadi pada Chandra. Karna mau membantu pun Andara tidak tau harus membantu apa.
"Maaf ya pak. Saya tidak bisa banyak membantu. Tapi saya doakan semoga nanti bapak berhasil membawa Aisyah kembali" Ucap Andara begitu tulus
10 menit kemudian. Pesanan Chandra juga Andara sudah datang. Tanpa mereka sadari. Ternyata di tempat yang sama juga ada Raiden serta Hana yang juga mampir ke tempat makan yang sama namun beda posisi.
Jika posisi Andara dan Chandra ada di sebelah kanan. Maka posisi Raiden berama Hana ada di sebelah kiri.
Tak di sangka, Ternyata hujan turun secara tiba-tiba. Hal itu membuat Hana juga Chandra mengingat kejadian 1 tahun yang lalu. Tepatnya sebelum kejadian kebakaran itu terjadi.
Masa itu adalah masa yang paling berharga dalam hidup Chandra juga Hana 'Kenapa aku jadi ingat mas Chandra" Ucap Hana dalam batinnya
"Kenapa aku jadi ingat sam Hana" Ucap Chandra dalam batinnya.
__ADS_1
Di saat Chandra dan Hana menoleh ke arah masing-masing. Ada beberapa karyawan yang menghalangi pandangan mereka. Sehingga baik Chandra ataupun Hana tidak bisa melihat satu sama lain.