
Saat melihat mata bulat milik Bara, Entah kenapa mampu membuat tenang hati Andara, bayi malang itu akan menjadikan Andara sosok yang kuat demi bayi mungil yang sudah resmi menjadi anaknya.
" Sudah sayang, tidak perlu mendengarkan apa yang mama katakan, Aku yakin. suatu saat nanti, mama pasti akan bisa menerima bayi ini sebagai cucunya." ucap Raiden sambil membelai lembut rambut Andara
" Iya kak, aku akan menganggap semua omongan mama seperti angin berlalu" gumamnya sambil terus memandang bayi yang mulai tenang dalam gendongannya,
Hingga tak lama, Bayi itu kembali terlelap dalam dekapan Andara, dekapan hangatnya mampu menenangkan bayi mungil itu.
Setelah membaringkan Bara di atas tempat tidur, Andara tak lagi bisa memejamkan kedua matanya. biarpun dia sudah mengatakan jika tidak akan mendengarkan apapun yang sudah Mayang ucapkan. tapi rasanya begitu susah.
Semua ucapan Mayang masih terngiang jelas pada indra pendengarannya, setelah memastikan Bara sudah benar-benar terlelap, wanita itu pergi ke kamar mandi dan membasuh mukanya.
Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 02:00 dini hari.
ingin melanjutkan tidurnya pun sudah tidak bisa lagi,
" Kenapa rasanya begitu sakit, sampai kapan aku bisa bertahan dengan situasi ini. Mama memang benar, aku wanita yang tidak pantas untuk kak Raiden. kak Raiden berhak bahagia" gumamnya sambil menatap dirinya lewat pantulan cermin
Setelah merasa dirinya sudah mulai tenang, Andara keluar dari dalam kamar mandi itu, kemudian dia mengambil mukenah untuk melakukan sholat tahajud. berdoa dan berharap, semoga Allah akan mendengar apa yang Andara ucapkan dalam doa di sepertiga malamnya.
Tanpa sepengetahuan Andara, ternyata Raiden juga tidak bisa tertidur, pria itu hanya berpura-pura tidur di depan istrinya. Raiden ingin tau apa yang akan Andara ucapkan dalam doanya.
Tak berselang lama, terdengar suara isak tangis Andara yang masih bersujud cukup lama. Melihat itu membuat Raiden ikut merasakan bagaimana rasanya menjadi Andara.
"Ya allah, hamba mohon, hadirkan lah malaikat kecil dalam rahim hamba ya allah, Hamba ingin menjadi seorang menantu dan istri yang berguna buat suami hamba, kabul kan lah permintaan hamba ya allah" Andara berdoa di sela isak tangisnya.
Hanya seperti itulah Andara bisa merasa hatinya tenang, solat dan berdoa seperti ini sudah menjadi rutinitas Andara selama beberapa bulan terakhir, solat di sepertiga malam.
Satu jam kemudian, Raiden membuka kedua matanya karna sudah tidak mendengar suara tangis istrinya, pria itu bangun dari tidurnya dan menghampiri Andra yang sudah terlelap di atas sajadah, dengan mukena yang masih menempel sempurna pada wajah Andara.
"Maafkan aku sayang, sebagai suami seharusnya aku bisa melindungi kamu dari hinaan siapapun, termasuk mama"Lirihnya sambil mencium kening Andara cukup lama
"Aku tidak berguna sebagai suami, sudah seharusnya aku bisa tegas dan melindungi kamu dari hinaan mama, namun. Aku terlalu takut menjadi anak durhaka, karna mau bagaimanapun mama adalah wanita yang sudah melahirkan ku"Ucapnya lagi sambil membawa tubuh Andara dalam gendongannya. serta membaringkan wanita itu di atas tempat tidur.
Pagi datang, Andara menggeliat pelan saat merasa wajahnya ada tangan kecil yang mengusik tidurnya.
__ADS_1
"Sayang, anak mama sudah bangun ya nak?"
"Duh ganteng banget anaknya mama"Ucap Andara lagi.
Saat Andara masih asyik mengajak main Bara, tiba-tiba pintu kamarnya di gedor keras oleh Mayang. entah kenapa akhir-akhir ini Mayang sudah banyak berubah, tidak ada lagi sifat lembut yang dulu selalu dia tunjukkan pada Andara.
Wanita paruh baya itu benar-benar berubah 180°. Bahkan Andara nyaris tidak percaya jika sang mama mertua yang dulu begitu menyayanginya berubah menjadi benci hanya karna satu alasan.
Mayang memang berubah pada Andara sejak dokter mengatakan bahwa Andara sulit untuk punya anak karna insiden yang dia alami 3 tahun yang lalu. sejak saat itu lah Mayang seperti kehilangan respek terhadap Andara.
Flashback
3 Tahun yang lalu, tepatnya 1 bulan setelah pulang dari honeymoon, Andara sering mengalami mual bahkan muntah di pagi hari. dan hal itu membuat Mayang terlihat begitu bahagia, karna wanita paruh baya itu sudah bisa menebak jika sang menantu kemungkinan besar sedang mengandung penerus keluarga Mahendra.
Saat di meja makan, Andara mencoba tenang dan berharap kejadian sebelumnya tidak terulang kembali. namun saat Andara mencium bau udang sudah membuat perutnya terasa mual.
Uek...uek...uek..
Andara berlari ke arah kamar mandi, melihat itu membuat Mayang mengikuti Andara dan menunggu di depan kamar mandi yang ada di dekat dapur.
"Andara, kamu kenapa sayang?"Tanya Mayang dengan nada khawatir
"Astaga Dara, Rai cepat kesini Rai, ini istri kamu pingsan"Teriak Mayang memanggil nama Raiden yang masih ada di meja makan.
Mendengar teriakan sang mama membuat Raiden berjalan cepat ke arah kamar mandi yang ada di dekat dapur.
"Astagfirullah Dara"Ujar Raiden dan membawa Andara dalam gendongannya.
Raiden membawa Andara kedalam mobil dan langsung melajukan mobilnya kearah rumah sakit paling dekat dari rumah mereka.
Pagi ini jalanan cukup macet, karna jam-jam segini adalah jam dimana orang sedang berangkat bekerja dan sekolah.
Cukup lama di perjalanan, Akhirnya mobil Raiden sudah tiba di rumah sakit DELIMA.
"Dokter tolong" Ucap Raiden yang sedang membawa tubuh Andara
__ADS_1
"Kenapa istrinya pak?"
"Saya juga tidak tau dokter, tiba-tiba tadi pingsan"
"Ya sudah, bawa ke ruangan IGD ya"
Raiden tak lagi menjawab, pria tampan itu hanya mendorong cepat brankar yang di tempati Andara,"Tunggu di luar dulu pak, saya akan memberikan penanganan terbaik"
Tak lama kemudian, Mayang dan Mahendra datang menyusul mereka berdua. karna saat melihat Andara seperti tadi sudah membuat Mayang begitu menghawatirkan keadaan menantunya.
"Bagaimana keadaan Dara Rai? dia pasti hamil kan?"
Perkataan sang mama membuat Raiden mengangkat sebelah alisnya"Kok mama bisa bilang seperti itu?"
"Iyalah sayang, mama kan dulu juga pernah hamil, mama tau lah bagaimana gejala orang hamil muda, dan mama menyuruh kamu bawa Dara kesini hanya untuk memastikan saja"
"Kok tadi mama gak bilang apa-apa, mama malah bikin Rai panik sama keadaan Dara"
"Ya udah sih Rai"
Tak lama kemudian pintu IGD terbuka, dokter yang menangani Andara keluar dan meminta suami serta keluarga Andara yang lain untuk masuk ke dalam.
"Suami ibu Andara bisa masuk ya, semua juga boleh"
Mendengar itu membuat Raiden langsung masuk dan menemui Andara yang masih terlihat lemas.
"Kak, aku kenapa kak?"
"Tunggu dulu ya sayang, katanya dokter mau memberikan kabar bahagia" Ucap Raiden lembut
"Kabar bahagia?"Tanya Andara lagi.
Namun belum sempat Raiden Menjawab, dokter itu sudah tiba di tempat Andara
"Saya kenapa dokter?"
__ADS_1
Dokter itu tak langsung menjawab, dia masih tersenyum dan menatap Andara serta Raiden secara bergantian.
"Selamat ya, ibu Andara positif hamil"