Pria Pengganti Untuk Andara

Pria Pengganti Untuk Andara
Albara


__ADS_3

Ternyata setelah berpisah dari Mahendra Mamanya Raiden di nikahi oleh pengusaha kaya raya. Dan pernikahan itu menghadirkan seorang anak laki-laki yang sangat tampan. Mereka memberi nama Wildan Dirgantara. Pewaris utaman Dirgantara Corp.


Namun di saat umur Wildan sudah memasuki 18 tahun. Papanya meninggal karna sebuah kecelakaan tunggal.


Tidak ada satu orang pun yang mengetahui jika Wildan dan Raiden adalah saudara beda ayah.


Flashback off


"Rai. Kalau kamu sudah sampai di surabaya. Jangan lupa cobain makanan yang ada di Restoran La tahzan. Makanannya enak-enak Rei. rekomen dari teman-teman papa. Kata merek enk banget pokoknya"


"Restoran La tahzan. Dimana itu pa?" Tanya Raiden yang memang belum mengetahui jika ada sebuah Restoran baru di sebrang perusahaannya.


"Itu Restoran baru Rai. Di sebrang perusahaan kita. Baru sebulan lebih kayaknya sih. Soalnya teman-teman papa banyak yang ngomongin soal restoran itu"


"Kalau papa sendiri apa sudah pernah nyoba?"


"Ya belum sih Rai. Kan papa belum pernah ke surabaya"


"Pa. Apa papa sudah mendapat kabar tentang Andara?" Tanya Raiden dengan nada sendu


"Sejauh ini sih belum ada Rai. Tapi papa masih meminta mereka untuk terus mencari keberadaan Andara"


"Pa. Apa Raiden boleh tanya sesuatu?"


Mendengar itu membuat Mahendra lebih mendekat lagi ke arah anaknya."Tanya apa Rai?"


"Apa mama Mayang bukan mama kandungku?"


Pertanyaan Raiden membuat Mahendra mengerutkan keningnya. "Apa maksud kamu Rai? Kenapa kamu bisa bertanya seperti itu?"


"Papa tinggal jawab saja pa. Apa benar mama Mayang bukan bukan mama kandungku"


Mahendra mengambil nafas berat. apa ini sudah saatnya Raiden mengetahui hal yang sebenarnya. Jika memang Mayang bukan lah orang tua kandungnya


"Iya Rai. Mungkin ini memeng sudah saatnya kamu tau hal yang sebenarnya"


"Tanpa papa menjawab pun Raiden sebenarnya sudah tau tentang hal ini"


"Bagaimana kamu tau Rai?"

__ADS_1


"Dulu waktu aku masih anak-anak. Aku pernah menemukan sebuah buku Diary yang kemungkinan besar milik mama kandungku"


"Buku diary apa Rai?" Tanya Mahendra penasaran


"Buku dairy yang membuat aku tau bagaimana papa dulu memperlakukan Mama Diana" Ucap Raiden dingin


"Tapi papa bisa menjelaskan semuanya Rai. Itu bisa jadi kamu salah paham"


"Aku salah paham? Tapi kayaknya tidak sih pa. Papa dulu selingkuh dengan mama Mayang dan meninggalkan mama Dian bukan!"


"Tidak seperti itu Rai. Sebenarnya pernikahan papa dengan mama kandung kamu adalah sebuah perjodohan"


Raiden bangkit dari duduknya"Sudahlah pa. Semua sudah berlalu. Raiden berangkat sekarang saja" Pekik Raiden dan langsung berdiri dari duduknya


Mayang yang mendengar jika Mahendra akan pergi ke luar kota lagi langsung mengukir senyum bahagia. Akhirnya dia bisa pergi ke Surabaya untuk menemui tisha juga kedua orang tuanya.


"Akhirnya ada kesempatan buat menemui tisha juga bapak dan ibu" Ucap Mayang dan langsung pergi dari balik gorden.


Mahendra yang melihat gorden bergerak juga langsung paham jika itu sudah pasti Mayang yabg sejak tadi diam-diam mendengarkan pembicaraan Raiden dan Mahendra


"Kita lihat saja ma. Sampai di mana kamu bisa menyembunyikan semua rahasia mu itu" Ucap Mahendra sambil melirik ke arah gorden


Di saat Raiden mengambil beberapa pakaian dari dalam lemari. Tiba-tiba dia kembali teringat kepada Andara saat melihat baju wanita itu yang masih tersusun rapi di sana.


"Kenapa kamu sayang. Maafkan aku yang waktu itu tidak memberi kamu kesempatan untuk menjelaskan. Aku terlalu cemburu buta. Aku terlalu mencintaimu sayang. Maafkan aku" Ucap Raiden sambil mencium salah satu baju Andara yang sedang di gantung


Di tempat lain


Adrian keluar dari dalam kamarnya. Sudah satu minggu dia berusaha mencari keberadaan sang adik. Namun sampai detik ini belum mendapatkan kabar apa-apa tentang keberadaan Andara.


"Bagaimana mas. Apa sudah ada kabar tentang pencarian Andara?" Tanya Dania saat Adrian sudah duduk di meja makan


Mendengar pertanyaan dari istrinya membuat Adrian mengambil nafas berat. "Belum sayang. Aku sama sekali belum bisa mendapat kabar tentang keberadaan Andara. Aku sangat menghawatirkan dia sayang"Ucapnya yang terdengar begitu sendu


Melihat wajah suaminya membuat Dania mendekat dan menepuk pundak Adrian.


"Sabar ya mas. Semoga saja Andara baik-baik saja di luar sana" Ucap Dania lembut


"Terimakasih sayang. Kamu memang yang terbaik" Ucap Adrian sambil menggenggam tangan Dania

__ADS_1


"Sama-sama mas. Sebagai istri aku harus selalu bisa memberi kamu semangat. Apalagi ini soal adik kamu satu-satunya mas"


Selama ini. Dania memang selalu menjadi orang pertama untuk memberikan semangat buat Adrian. Apalagi saat kepergian Vania dan saat Adrian berjuang membangun sebuah usaha yang dia rintis dengan kerja kerasnya sendiri. Dania senantiasa selalu ada di samping Adrian dan menemani pria itu


"Di Surabaya"


"Dara. Apa kamu benar-benar ingin mengingat masa lalu kamu?" Tanya Wildan pada Andara


"Iya kak. Tolong ceritakan sedikit saja masa lalu yang kakak ketahui tentang aku"


"Baiklah. Tapi sebelum aku bercerita, Aku mau membawa kamu ke suatu tempat yang mungkin tempat itu adalah tempat dimana kamu akan mengingat tentang seseorang"


"Seseorang? Siapa itu kak?"


"Nanti kamu akan tau sendiri"


Wildan mengajak Andra untuk masuk ke dalam mobilnya. Sebelum ke alun-alun surabaya. Wildan akan membawa Andra ke makam Bara terlebih dahulu. Karna yang Wildan ketahui adalah Andara yang sangat menyayangi bayi mungil itu


Selama di perjalanan. Tidak ada pembicaraan baik dari Wildan ataupun Andara. Wildan lebih memilih fokus pada jalanan Sedangkan Andara lebih memilih menatap jalan lewat arah jendela.


Pagi ini entah kenapa suasananya terasa begitu menenangkan. Angin yang masuk dari arah jendela mobil sedikit bisa menenangkan hati Andara.


"Sebenarnya bagaimana masa laluku. kenapa kak Wildan mengatakan jika masa laluku sangatlah menyakitkan. apa hidupku begitu menyedihkan" Ucap Andara dalam batinnya.


1Jam kemudian. Mobil Wildan sudah tiba di area pemakan umum. Pria itu meminta Andara untuk keluar dari dalam mobilnya.


"Kenapa kita kesini kak?" Tanya Andra dengan suara yang terdengar begitu parau


"Ikuti aku ya Dara. Dia adalah orang yang sangat berarti dalam hidup kamu"


Mendengar perkataan Wildan membuat Andara tak lagi banyak bertanya. Wanita itu mengikuti langkah Wildan dan mengekor di belakangnya.


Langkah Wildan terhenti di sebuah nisan yang tertulis nama Albara Putra Mahardika. Sebuah makam yang masih basah dengan taburan bunga yang masih terlihat segar.


"Ini makamnya siapa kak?" Tanya Andara dengan nada lirih


"Ini makannya Bara. Anak angkat kamu"


Mendengar nama Bara entah kenapa membuat Andara memegang kepalanya yang terasa begitu pusing. Semakin mencoba mengingat rasanya kepala Andra semakin sakit.

__ADS_1


__ADS_2