Pria Pengganti Untuk Andara

Pria Pengganti Untuk Andara
Pencarian Raiden


__ADS_3

" Kak Wildan, Andara" Ucap mereka secara bersamaan.


Ya, Pria itu adalah Wildan. Wildan memang perwakilan dari perusahaan Dirgantara Company. CEO sekaligus pewaris utama di keluarga Dirgantara.


Wildan masih tidak percaya jika pemilik Restoran La tahzah adalah Andara. Wanita yang selama ini dia cintai.


"Andara" Ucap Wildan yang masih terkejut


"Kak Wildan. Jadi CEO Dirgantara Company adalah kak Wildan" Ucap Andara


"Iya Dara. Jadi pemilik Restoran La tanzan adalah kamu?"


"Iya kak, itu adalah Restoran yang masih aku rintis"


Wildan duduk dan masih menatap Andara tanpa mau berkedip, rasanya sudah lama Wildan tidak bertemu dengan Andara. Terakhir hanya waktu di Restoran beberapa bulan yang lalu.


"Apa meeting nya bisa kita mulai kak"Ucap Andara pada Wildan yang masih terus menatap Andara


"Kak" panggilnya lagi.


"Eh maaf Dara. Apa kata kamu?"


"Apa meeting nya sudah bisa kita mulai kak?"


"Iya silahkan Dara"


Andara memulai persentasinya. Sedang kan Wildan masih terus memandang Andara tanpa berkedip sedetikpun"Aku masih tidak menyangka kita di pertemukan lagi Andaraku" Bukannya mendengarkan persentasi Andara, Wildan malah sibuk bermonolog dalam batinnya sendiri


"Ternyata rasa cintaku masih sedalam ini pada kamu Dar. Aku akan berusaha mendapatkan cinta kamu" Ucapnya lagi


"Bagaimana kak?"


"Deal" Ucapnya, padahal Wildan tidak satu pun mendengarkan persentasi yang Andara sampaikan


"Terimakasih ya kak sudah mau investasi di Restoran Andara"


"Sama-sama Dar. Aku masih tidak nyangka kita di pertemukan lagi"


Di saat Andara dan Wildan masih mengobrol sambil sarapan. Tiba-tiba ada panggilan masuk dari Mirna


📞: Halo mbk. Ada apa?


📞: Bara Demam bu, sudah saya berikan obat. Tapi panasnya gak turun-turun


📞: Apa!


Setelah itu Andara memutuskan sambungan telponnya. Wanita itu begitu terlihat panik setelah mendengar kabar tentang Bara


"Ada apa Dara. kenapa kamu terlihat panik seperti itu. Siapa yang telpon?"


"Aku harus pulang sekarang kak. Anak aku demam"


"Apa! Ya sudah ayo aku antar sekarang"

__ADS_1


"Tidak perlu kak. Aku gak mau merepotkan kak Wildan"


"Sudah ayo. Aku tidak pernah merasa di repotkan, apa lagi kamu"


Andara berjalan sedikit tergesa keluar dari Restoran miliknya. Namun sebelum pergi, Andara masih meminta Erika untuk menggantikannya dalam meeting berikutnya.


"Erika, Kamu tolong gantikan saya meeting nanti ya. Saya harus pulang, Anak saya tiba-tiba demam tinggi"


"Baik bu, hati-hati ya bu. Semoga Bara lekas sembuh"


Andara pergi dengan keadaan panik. Ini pertama kalinya Bara demam. Perasaan khawatir dan rasa takut mulai merasuki diri Andara.


1 Jam kemudian. Mobil Wildan sudah tiba di depan rumah kontrakan milik Andara. Rumahnya tidak terlalu bagus dan tidak besar. Tapi masih cukup nyaman untuk di jadikan tempat singgah.


"Mbk, Bagaimana Bara?"


"Demamnya masih belum turun bu. Padahal saya sudah memberikan obat penurun panas"


"Sejak jam berapa Bara demam?"


"Sejak ibu pergi. Tiba-tiba pas saya mau mandikan Badan Bara sudah panas seperti ini bu"


Andara mengambil alih Bara dari pengasuhnya. Wanita itu meminta bantuan Wildan untuk mengantar mereka ke rumah sakit terdekat.


"Kak, aku boleh minta tolong antar kan ke rumah sakit tidak?"


"Ayo, kita harus secepatnya membawa Bara"


Wildan mengemudikan mobilnya dengan sangat cepat. Pria itu juga ikut khawatir dan panik setelah melihat keadaan Bara.


"Iya Dar"


Wildan kembali menambah kecepatan laju mobilnya. Namun saat sudah setengah jalan, Ternyata ada sebuah mobil mogok dan menyebabkan kemacetan yang cukup panjang dan lama.


"Kayaknya macet deh Dar"


"Aduh bagaimana ini kak, Aku turun saja ya. aku akan sambil berjalan kaki"


Belum sempat Wildan menjawab. Wanita itu sudah keluar dari dalam mobilnya lebih dulu. Rasa panik dan takut menjadi satu.


"Tapi Andara" Teriak Wildan pada Andara. namun wanita itu tidak menggubris sedikitpun. yang ada dalam pikiran Andara saat ini hanya satu. Bara harus segera mendapatkan penanganan.


"Ya allah, sembuhkan anak hamba. Hanya dia harta yang paling berharga untuk ku ya allah"


Cukup jauh Andara berjalan kaki. hingga akhirnya wanita itu tiba di rumah sakit terdekat.


Melihat ada rumah sakit membuat Andara semakin mempercepat langkahnya. Wanita itu berjalan setengah berlari agar segera tiba di rumah sakit itu.


"Dokter tolong" Teriak Andara


"Anak anda kenapa bu?"


"Anak saya demam dok. tolong selamatkan anak saya"

__ADS_1


"Baik bu, saya akan mencoba melakukan yang terbaik. ibu tolong tunggu di depan dulu y"


Melihat Bara seperti itu membuat hati Andara terasa begitu sakit. Walaupun tidak lahir dari rahimnya. Namun, Bagi Andara Bara adalah segalanya. Bara adalah dunia Andara


"Bertahan buat mama Bara. Kamu segalanya bagi mama" Ucapnya di sela isak tangisnya.


Tak lama kemudian, Wildan datang dan menghampiri Andara. Pria itu melihat Andara begitu iba.


Melihat Andara seperti itu membuat Wildan membawa Andara dalam dekapannya. "Kamu berdoa, Bara pasti baik-baik saja" Ucapnya sambil membelai Andara


Di Jakarta


Tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul 17:00. Raiden baru saja tiba di rumahnya setelah seharian mencari keberadaan Andara. Kebetulan Mahendra tidak ada dirumah. Pria paruh baya itu sedang ada pekerjaan di luar negeri sejak 3bulan yang lalu.


"Akkggghhh. Aku harus mencari kamu kemana sayang" Ucap Raiden sambil mengusap kasar wajahnya.


"Kenapa aku begitu bodoh sampai tidak mau mendengarkan apa yang kamu katakan, aku terlalu mencintaimu Andara"


"Kamu kemana sayang, kenapa di rumah orang tuamu dan di apartemen kamu tidak ada. lalu kamu pergi kemana Andara"


Flashback


Setelah keluar dari dalam rumahnya. Raiden mendatangi Apartemen yang dia belikan untuk Andara 2 tahun yang lalu. Tepatnya di saat Andara sedang ulang tahun yang ke 25 tahun.


"Semoga saja Andara ada di Apartemen" Gumamnya sambil melajukan mobilnya


Tak butuh waktu lama. Mobil Raiden sudah tiba di basemen Apartemen yang dia belikan untuk Andara. Raiden turun dari dalam mobilnya dan langsung memasuki lift agar segera tiba di lantai 15. Karna unit Apartemen milik Andara ada di lantai itu.


Pintu lift terbuka. Dengan langkah lebar Raiden berjalan ke Unit Apartemen milik Andara. beruntung Raiden juga mempunyai Akses Card. sehingga dengan mudah pria itu masuk.


"Dara sayang. Kamu di mana sayang?"


Raiden mencari Andara ke setiap sudut Apartemen. Namun pria itu tidak menemukan siapapun di sana.


"Dara tidak ada disini. Apa di rumah mama"


Kali ini Raiden akan mendatangi kediaman keluarga Mahesa. Siapa tai Andara ada di sana. karna hanya mama dan papanya yang Andara miliki.


1 jam kemudian. Mobil Raiden sudah tiba di depan rumah Andara. Namun, Rumah itu terlihat begitu sepi, seperti tidak ada orang di dalam.


"Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Jawab bi Asih dah keluar dari rumah itu


"Loh ini kan suaminya non Dara"


"Iya bi, saya suaminya Andara. Apa Andara ada disini?"


"Tidak ada den. Sudah beberapa bulan ini non Dara tidak datang ke rumah. Apalagi setelah pertengkarannya dengan nyonya dan tuan beberapa bulan yang lalu"


Mendengar ucapan bi Asih membuat Raiden mengerutkan keningnya"Pertengkaran? Maksud bibi?"


" Iya den. Beberapa bulan yang lalu. nyonya dan tuan sempat bertengkar dengan non Dara. Hanya karna non Dara belum juga memberikan mereka cucu"

__ADS_1


"Apa!"


Selama ini Andara memang tidak pernah bercerita tentang apa yang dia rasakan pada Raiden. terutama tekanan dari kedua orang tuanya juga orang tua Raiden.


__ADS_2