Pria Pengganti Untuk Andara

Pria Pengganti Untuk Andara
Andara


__ADS_3

Setelah mendengar kabar tentang Bara. Jantung Andara seakan berhenti berdetak. Harta satu-satu yang Andara miliki akhirnya pergi meninggalkan Andara sendiri.


Biarpun hanya anak angkat. Namun, Andara begitu menyayangi Bara melebihi dirinya sendiri. Bagi Andara Bara adalah segalanya. bayi mungil itu adalah hidup Andara.


"Mama mohon bangun Bara. Jangan tinggalkan mama" Ucap Andara di sela isak tangisnya.


"Bu, tolong segera urus pemakaman Bara bu. Kasian dia jika lebih lama lagi" Ucap salah satu suster yang menghampiri Andara


"Itu benar Dar, kasian Bara jika harus menunggu lebih lama lagi. Kamu harus bisa ikhlas. Aku tau ini sangat berat buat kamu" Ucap Wildan pada Andara


"Tapi kak. Bara belum meninggal. Bara pasti masih hidup, Hiks..hiks.."


"Kamu sayang kan pada Bara?"


"Sangat kak. Aku sangat menyayangi Bara"


"Kalau begitu, Kamu harus bisa mengikhlaskan kepergian Bara. Biarkan dia tenang di alam sana"


Mendengar hal itu membuat Andara akhirnya mengangguk. Mungkin memang ada benarnya apa yang di katakan oleh Wildan. Andara harus bisa mengikhlaskan kepergian Bara. Mungkin Bara memang sudah saatnya kembali pulang.


"Baiklah kak"


"Kamu tenang saja. Aku akan selalu menemani kamu. Jangan merasa sendiri. Karna ada aku yang bisa menjadi tempat bersandar kamu"


"Terimakasih kak"


2 Jam kemudian. Acara pemakaman Bara sudah selesai di lakukan. Andara masih terus menangis di atas batu nisan Bara. Tangisan yang kesekian kali keluar dari kedua mata Andara.


"Kenapa kamu begitu tega meninggalkan mama sendiri sayang. Hiks.. hiks .."


"Kenapa Bara pergi, Maafkan mama yang belum bisa menjadi seorang mama yang baik buat kamu sayang. Hikss..hiks.."


"Sudah. Ikhlaskan Bara, dia sudah tenang di alam sana. Kamu sudah menjadi seorang ibu terbaik yang pernah Bara miliki. Kamu sudah memberikan kasih sayang yang begitu besar untuknya"


"Tapi kak. Aku belum memberikan kehidupan yang layak buat Bara kak. Selama ini aku hanya bisa membawa Bara tinggal di tempat yang tidak pantas untuk seorang anak kecil"


"Percayalah, Bara pasti sangat bahagia bisa memiliki seorang ibu sepertimu"


"Kita pulang sekarang ya. Sepertinya akan segera turun hujan" Ucap Wildan pada Andara


"Tidak kak. Biarkan aku disini, mau pulang pun aku sudah tidak memiliki siapa-siapa di rumah itu" Ucap Andara yang terdengar begitu sendu


Di saat Wildan masih berusaha membujuk Andara untuk segera pulang. Tiba-tiba ada sebuah panggilan masuk pada ponsel milik Wildan.

__ADS_1


📞: Halo. Ada apa?


📞: Halo tuan. nyonya tiba-tiba drob lagi. Kondisinya sangat menghawatirkan tuan


📞: Apa!!!


Setelah mendengar hal itu. Wildan langsung buru-buru pergi ke rumah sakit tempat di mana sang mama di rawat selama 1 tahun ini.


Mama Wildan mengalami kecelakaan satu tahun yang lalu saat ingin mengunjungi Wildan yang sedang mengurus perusahaan mereka yang ada di Surabaya. Wanita paruh baya itu tertabrak oleh seseorang yang langsung pergi begitu saja.


"Andara. Maafkan aku, aku harus pergi. Mamaku sedang anfal di rumah sakit" Ucap Wildan pada Andara


"Iya kak, Silahkan. Hati-hati di jalan ya kak"


Wildan pergi meninggalkan Andara yang masih terisak di atas nisan yang tertulis nama Albara . Rasanya masih sulit untuk Andara percaya jika Bara sudah benar-benar pergi meninggalkannya sendiri.


Setelah kepergian Wildan. Tak lama kemudian hujan turun dan langsung begitu deras. Karna hujan begitu deras. Akhirnya Andara memutuskan untuk pergi dari pemakaman. Wanita itu berjalan di bawah derasnya hujan.


Di Jakarta


Tok...tok...tok..


"Assalamualaikum" Ucap Mahendra yang baru pulang dari luar negeri


"Waalaikum salam" Ucap Mayang sambil berjalan ke arah pintu


Mayang memeluk tubuh suaminya yang sudah cukup lama melakukan pekerjaan di luar negeri. "Raiden sama Andara mana ma?"


Mendengar nama Andara membuat Mayang terdiam. Entah apa yang akan dia katakan pada Mahendra.


Mahendra memang ada pekerjaan penting di luar Negri sejak beberapa bulan yang lalu. Sehingga dia tau apa-apa tentang hal yang terjadi dengan rumah tangga anaknya.


"Ma, kok malah diam. Raiden sama Andara kemana? Kok rumah sepi begini"


"Raiden ada di kamarnya pa"


"Papa kok lama banget di luar negeri?"


"Iya ma, pekerjaan papa benar-benar membuat papa harus selama itu di sana"


Mendengar ada suara sang papa membuat Raiden keluar dari dalam kamarnya. Hanya sang papa yang akan mengerti dengan apa yang Raiden rasakan saat ini.


"Akhirnya papa pulang" Ucap Raiden sambil menghampiri Mahendra dengan kedua mata yang mulai berkaca-kaca

__ADS_1


"Kamu kenapa Rai. Ada apa?"


"Mama pa, mama sudah membuat Rai menceraikan Andara"


Ucapan Raiden membuat Mahendra melirik ke arah Mayang yang sudah menundukkan wajahnya.


"Apa maksud kamu Rai?"


"Mama sudah menuduh Andara selingkuh. dan hal itu membuat aku tanpa sadar mengatakan kata talak untuknya"


"Apa!! Kenapa kamu melakukan hal itu Rai? Kenapa kamu tidak mencari tau tentang kebenarannya terlebih dahulu"


"Aku terlanjur sakit pa. Karna rasa cinta ku terlalu besar untuk Andara. aku terlalu cemburu pa"


"Lalu bagaimana jika sudah seperti itu Rai?"


"Bantu Raiden mencari Andara pa" Ucap Raiden yang terdengar begitu sendu


Di Surabaya


Wildan mengendarai mobilnya dengan sangat cepat. Saat mendengar kabar jika kondisi sang mama tidak baik-baik saja. Wildan melajukan mobilnya dengan begitu cepat. Pria itu menakutkan satu hal. Takut mamanya pergi meninggalkannya sendiri. Karna sang papa sudah meninggal di saat Wildan masih berumur 18 tahun.


Setelah tiba di rumah sakit. Wildan turun dan berjalan setengah berlari ke arah ruangan ICU. selama 1 tahun ini mamanya memang hidup dengan bantuan ventilator dan alat medis lainnya.


"Bagaimana keadaan mama saya dokter?" Tanya Wildan pada dokter yang sudah menangani sang mama


"Kondisi ibu Diana sempat anfal pak. Tapi untuk saat ini sudah kembali stabil"


"Syukurlah. Apa saya boleh masuk dokter?"


"Tunggu pak. saya ingin bicara sebentar, ikut keruangan saya ya"


Wildan berjalan dan mengekor di belakang dokter Nadia. Dokter yang selama ini sudah menangani mamanya di rumah sakit.


" Ada apa dokter?"


"Apa tidak sebaiknya anda mengikhlaskan mama anda. sebenarnya selama ini beliau bertahan hanya karna semua alat medis itu"


"Tidak dokter. Jangan pernah mengatakan hal itu lagi. Sampai kapan pun, Saya tidak akan pernah melepaskan semua alat itu dari tubuh mama. Jangan kan hanya 1 tahun. 10 tahun pun saya tidak perduli. hanya mama yang saya miliki dokter. saya harap dokter bisa memahami perasaan saya" Ucap Wildan yang terdengar begitu lirih


"Baiklah pak. Semoga suatu hari nanti ada keajaiban mama anda bisa sembuh seperti sedia kala"


"Terimakasih dokter"

__ADS_1


Di saat Wildan keluar dari ruangan dokter Nadia. Tiba-tiba ada seseorang yang di dorong dengan menggunakan brankar. Mata Wildan memicing saat melihat wajah orang yang ada di atas brankar dengan di penuhi banyak darah di bagian kepalanya.


"Andara" Ucap Wildan


__ADS_2