
Di saat Wildan keluar dari ruangan dokter Nadia. Tiba-tiba ada seseorang yang di dorong dengan brankar dengan wajah yang di penuhi darah. Mata Wildan memicing saat melihat wajah wanita itu.
"Andara" Ucapnya sambil mengikuti brankar yang di dorong dengan semakin cepat
Wildan penasaran dengan apa yang terjadi pada Andara. Kenapa keadaannya bisa seperti itu. Darah segar mengalir deras dari sudut kepalanya.
"Astaga Andara. apa yang terjadi sama kamu" Ucapnya.
Tubuh Andara sudah di bawa ke ruangan IDG. Dan pintu IGD langsung di tutup pada saat itu juga.
"Mas, kalau boleh tau dia kenapa sampai seperti itu?" Tanya Wildan pada supir ambulans yang membawa Andara
"Menurut informasi dari warga. Katanya dia korban tabrak lari mas"
"Astagfirullah"
Tak lama kemudian seorang dokter keluar dari ruangan IGD. Dokter itu mengabarkan jika Andara harus segera di operasi.
"Maaf pak. Pasien harus segera di operasi. Ada pembuluh darah yang pecah di kepalanya"
"Lakukan apapun yang terbaik dokter. Kalau soal biaya biar saya yang tanggung. Tolong selamat kan Dia dokter"
"Tolong cepat urus administrasinya ya pak. Saya akan menyiapkan ruangan operasi dulu. saya akan mencoba memberikan penanganan yang terbaik"
"Terimakasih dokter"
Wildan berjalan ke arah resepsionis untuk membayar semua tagihan untuk pengobatan Andara. Kali ini Wildan benar-benar terlihat begitu mencemaskan keadaan Andara yang terlihat begitu menghawatirkan.
"Mbk, saya mau bayar tagihan atas nama Andara. Korba tabrak lari yang baru saja di bawa kesini"
"Tunggu sebentar ya pak. Akan saya cek terlebih dahulu"
"Untuk pasien kecelakaan tagihannya 150 juta sama uang operasi ya pak"
Wildan langsung memberikan black card untuk membayar biaya tagihan Andara.
Setelah itu Wildan kembali ke ruangan IGD untuk melihat keadaan Andara sebelum di operasi. Wanita itu terlihat begitu pucat. Dan berbaring lemah di atas brankar
"Kamu harus sembuh Dara. Aku janji akan memberikan kebahagiaan buat kamu. Aku tidak akan membiarkan kamu menjatuhkan air matamu lagi" Ucap Wildan sambil menggenggam tangan Andara.
Tak lama kemudian dokter kembali datang untuk membawa tubuh Andara ke ruangan operasi.
"Maaf pak. Ibu Andara akan kami bawa ke ruangan operasi. dia harus secepatnya mendapat tindakan"
__ADS_1
"Baik dokter. tolong lakukan yang terbaik ya dokter"
Di tempat lain
Seorang wanita terlihat begitu ketakutan. Kejadian 1 tahun yang lalu akhirnya terjadi lagi. Dia menabrak orang lalu di tinggalkan begitu saja tanpa mau bertanggung jawab.
"Kamu kenapa Tisha?" Tanya sang kakek pada Tisha
"Tisha gak papa kok kek, Tisha ke kamar dulu ya"
Tisha langsung menuju ke arah kamarnya yang ada di lantai atas.
"Kenapa pak?" Tanya seseorang pada kakek Tisha
"Entahlah buk. Tisha seperti orang ketakutan"
Setelah tiba di dalam kamarnya. Tisha mengunci pintu kamarnya. Wanita itu mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang yang dia panggil mama
📞: Ada apa tisha?
📞: Ma, tisha takut ma. Kejadian 1 tahun yang lalu terulang kembali
📞: Apa maksud kamu tisha?"
📞: Jangan takut. Ada mama yang akan selalu melindungi kamu. Kamu baik-baik di rumah kakek
📞:Iya ma
Tisha adalah anak yang di sembunyikan oleh Mayang di tempat orang tua kandung Mayang. Karna selama ini Mayang sudah membohongi Mahendra jika kedua orang tuanya sudah meninggal dan dirinya adalah seorang anak angkat di kediaman Subagio. Orang tua angkat Mayang yang sudah mengasuhnya sejak masih berumur 10 tahun.
Dan tisha hadir karna hubungan gelapnya bersama seorang pria yang bernama Brata. Seorang pria yang menjadi selingkuhan Mayang 19 tahun yang lalu. Tepatnya saat Mahendra sedang ada pekerjaan di luar negeri dan tidak pulang selama 1 tahun lebih.
Oleh karena itu, Mayang dengan bebas bisa pergi bertemu dengan Brata hingga menghadirkan tisha di tengah-tengah mereka.
Di saat Mayang sudah melahirkan tisha. Mahendra memberikan sebuah kabar jika dirinya akan pulang dalam waktu dekat. oleh karena itu Mayang menitipkan tisha pada kedua orang tua kandungnya yang selama ini sering Mayang datangi secara diam-diam.
Di jakarta
Setelah sambungan telponnya di tutup. Mayang keluar dari dalam kamar mandi. Memang selama ini Mayang selalu pergi ke kamar mandi setiap sedang menghubungi tisha.
"Mama kenapa. Kok seperti orang panik begitu?" Tanya Mahendra pada Mayang
"Tidak apa-apa kok pa. Mama hanya sakit perut saja. sepertinya tadi pagi kebanyakan makan sambel" Ucap Mayang berbohong
__ADS_1
"Ma" Panggil Mahendra
"Iya pa. Kenapa?"
"Papa mau tanya. Kenapa mama begitu tega memisahkan Raiden dengan Andara. Padahal Raiden sangat mencintainya"
"Mama melakukan semua itu demi kebaikan Rai sendiri pa. Papa tau sendiri kan jika sampai saat ini Andara belum memberikan keturunan buat keluarga kita. Mama juga menginginkan seorang cucu pa" Bohong Mayang.
Padahal bukan itu alasan sebenarnya kenapa Mayang bersikeras untuk memisahkan Raiden dengan Andara. Ada satu hal yang membuat Mayang terpaksa melakukan hal itu. Mayang tidak mau Andara mengatakan apa yang sudah dia tau tentang masa lalunya di bocorkan pada Raiden apalagi Mahendra.
Karna kalau sampai hal itu terjadi. Maka kemungkinan besar Mayang akan diusir dari rumah ini. Semua yang sudah dia rencanakan selama bertahun-tahun akan hancur dalam hitungan detik. Dan Mayang tidak mau hal itu terjadi.
"Tapi ma. Kalau hanya soal keturunan. mungkin memang belum saatnya Andara hamil lagi"
"Sudahlah pa. Lebih baik sekarang kita carikan istri baru buat Raiden. Dia pantas mendapatkan yang lebih dari pada Andara pa"
"Tapi Raiden masih sangat mencintai Andara ma. Papa juga sudah berjanji akan membantu Rai buat menemukan Andara juga Bara"
"Kok papa tai soal Bara?"
"Raiden sudah cerita semuanya ma. Dia sudah cerita jika Rai sama Andara mengadopsi bayi laki-laki yang mereka temukan di taman pusat kota"
"Terserah papa saja" Ucap Mayang dan langsung keluar dari dalam kamarnya
"Setidaknya rahasiaku masih aman untuk saat ini" Ucapnya dalam batin.
Di dalam kamar.
Setelah bercerita pada sang papa. Raiden kembali ke dalam kamarnya. Pria itu melihat baju-baju Andara yang masih tersimpan rapi di dalam lemari di kamarnya. Mata Raiden mengerjab saat melihat gamis berwarna hitam dengan Hijab berwarna merah maron.
Pria itu mengingat saat pertama datang ke rumah ini 3 tahun yang lalu. Tepatnya sehari setelah mereka pulang dari bulan madu.
"Kamu kemana sayang, kemana aku harus mencari kalian" Ucap Raiden sambil mengusap kasar wajahnya.
Betapa bodohnya sudah mau mempercayai apa yang keluar dari mulut mamanya.
Di Surabaya
Tanpa terasa hari sudah mulai gelap. Andara baru saja di pindah dari ruangan operasi ke ruangan rawat inap. Seperti yang sudah dokter katakan. Jika kemungkinan besar Andara amnesia dan hanya bisa mengingat apa-apa. termasuk identitasnya sendiri
"Kamu sudah sadar Andara" Ucap Wildan yang masih setia menemani Andara
Mendengar suara membuat Andara menoleh ke arah sumber suara.
__ADS_1
"Aku siapa?" Ucapnya sambil memegang kepalanya yang masih di perban