Pria Pengganti Untuk Andara

Pria Pengganti Untuk Andara
Masih sama-sama mencintai


__ADS_3

Begitupun dengan Nadia. Wanita itu juga merasakan apa yang saat ini sedang Wildan rasakan. Nadia menundukkan kepalanya saat sedang melewat Wildan.


"Selamat siang bu Diana. Saya ikut bahagia ya bu, Akhirnya hari ini bu Diana sudah boleh pulang. Jangan lupa obatnya di minum tepat waktu dan kalau pagi jangan lupa berjemur ya bu, Karna cuaca pagi itu bagus buat pemulihan" Ujar Nadia sambil mengangkat kedua sudut bibir nya


"Terimakasih ya dokter Nadia. Dokter selama ini sudah merawan saya dengan sangat baik. Saya akan rutin minum obat sesuai anjuran yang dokter berikan. Sekali lagi terimakasih ya dokter" Ucap bu Diana sambil memeluk Nadia


Mendapat pelukan seperti itu membuat Nadia merasa sangat terkejut. Pasalnya ini adalah pertama kalinya Nadia merasakan pelukan dari seorang wanita. Karna mama Nadia sudah meninggal saat Nadia masih umur 10 tahun. Dan hal itu juga yang menjadi alasan Nadia kenapa ingin sekali menjadi seorang dokter.


Tiba-tiba saja Nadia teringat akan mendiang mamanya. Wanita itu menundukkan wajahnya saat teringat akan kejadian 12 tahun yang lalu. Saat di mana Nadia harus kehilangan sosok mama karna penyakit yang di derita oleh mamanya. Karna tidak memiliki banyak biaya, Akhirnya mamanya Nadia tidak bisa tertolong.


Bu Diana yang menyadari raut wajah sedih Nadia langsung merasa begitu penasaran, Apa yang sudah membuat Nadia menunduk sedih seperti itu.


"Kamu kenapa nak? Apa yang sudah membuat mu sedih seperti ini?" Tanya Diana sambil menggenggam tangan Nadia lembut.


Mendengar pertanyaan bu Diana, Nadia mengambil nafas panjang sebelum menjawab. Wanita itu menatap wajah bu Diana saat terbayang wajah mendiang mamanya.


"Tidak apa-apa bu Diana. Hanya saja Nadia teringat akan mendiang nya mama. Nadia merindukan mama bu" Ucap Nadia yang terdengar begitu lirih


"Innalillah. Jadi mama kamu sudah meninggal nak. Ibu turut berduka ya nak, Kamu yang sabar, Jangan lupa doakan mama nya ya" Ucap bu Diana sambil menatap Nadia


"Iya bu, saya pasti akan selalu berdoa untuk mama saya."


"Oh iya nak, Apa kamu sudah menikah?"


Huk...huk..huk...Perkataan bu Diana membuat Nadia berbatuk. Entah kenapa pertanyaan itu langsung membuat wajah Nadia langsung menjadi tegang, Saat kata menikah terdengar.


"Belum bu. saya belum menikah"

__ADS_1


"Apa sudah ada calon?"


"Belum bu" Jawabnya


Mendengar kata calon, Entah kenapa membuat Nadia sedikit melirik Wildan yang ternyata juga sedang menatapnya.


Deg!Lagi-lagi Nadia merasa jantungnya berdegup sangat kencang saat menatap kedua mata milik Wildan. Tatapan itu, langsung mampu membuat Nadia salah tingkah.


"Aduh. Maaf bu, Saya tidak sengaja" Ucap Nadia saat tidak sengaja menarik tangan bu Nadia karna gagal fokus akibat tatapan Wildan.


Wildan yang melihat tingkah Nadia mengulum bibir, Nadia benar-benar menggemaskan. Sedetik kemudian, Pria itu langsung teringat perkataan Nadia saat mengatakan jika belum memiliki calon.


"Itu artinya aku masih ada kesempatan. Tapi siapa laki-laki yang waktu itu bersama dengan Nadia di cafe" Ucapnya dalam batin. Karna penasaran, Akhirnya Wilda. memberanikan diri bertanya tentang hal yang sudah mengganggu pikirannya.


"Masa iya belum ada calon. Lalu siapa laki-laki yang waktu itu bersama dengan dokter Nadia di Cafe?" Tanya Wildan yang sudah tidak bisa lagi memendam pertanyaan itu


Namun tiba-tiba saja Nadia teringat jika dia pernah datang ke cafe bersama dengan saudara sepupunya dan bertemu dengan Wildan."Maksud pak Wildan Taufik? Dia itu bukan calon saya, Tapi kakak sepupu saya pak"


Mendengar hal itu, Entah kenapa Wildan merasa begitu bahagia. Pria itu mengangkat kedua sudut bibirnya saat mengetahui jika Nadia ternyata belum memiliki calon.


"Apa itu artinya aku masih ada kesempatan untuk mendapatkan Nadia. Lebih baik aku gerak cepat" Ucap Wildan dalam batinnya.


Setelah itu, Nadia melangkahkan kakinya keluar, Karna masih ada jam untuk Visit pasien. Namun, Betapa terkejutnya Nadia saat Wildan berbisik tepat di telinganya.


"Saya tunggu nanti di resto pelangi" Bisik Wildan pelan. dan tanpa di sadari oleh mamanya.


Nadia yang mendengar hal itu langsung membulatkan kedua matanya. Wanita itu tidak menyangka jika Wildan akan berbisik seperti itu. Jantungnya kembali berdetak cepat. Nadia mempercepat langkahnya agar Wildan tidak menyadari suara detak jantung nya.

__ADS_1


"Astaga. Ini benar-benar tidak baik untuk kesehatan jantung ku. Kalau seperti ini terus, Bisa-bisa aku kena penyakit jantung. Astaga" Batinnya.


*****


Setelah Adrian melepaskan pelukannya. Andara menoleh ke arah Raiden yang saat ini sedang menatapnya begitu dalam. Wanita itu juga ikut membalas tatapan dalam Raiden. Sehingga kedua manik mata mereka bertemu dan terkunci untuk beberapa saat.


"Aku masih sangat mencintaimu Dara" Ucap Raiden sambil mendekat ke arah Andara dan mengambil tangannya.


Andara tak menjawab. Wanita itu hanya menatap Raiden tanpa mau berkedip sedetik pun. "Jujur, Aku sangat menyesal sudah percaya apa katanya mama Mayang. Tapi itu semua karna aku begitu mencintai mu Dara. Aku tidak rela saat melihat kamu ada dalam pelukan laki-laki lain. Aku cemburu Dar, Rasa cintaku sudah sedalam itu Dar, Kamu sudah menjadi separuh dari jiwaku" Ucap Raiden pelan


Andara masih diam. Wanita itu tidak tau harus menjawab apa atas perkataan Raiden. Karna mau bagaimana pun, Saat ini Andara juga masih begitu mencintainya.


Perasaan Andara juga masih sebesar itu. Andara juga sudah sangat mencintai Raiden begitu dalam. Bahkan rasa yang Andar miliki untuk Raiden lebih besar dari pada cintanya untuk Dimas.


"Kenapa kamu diam saja Dar. Apakah kamu sudah benar-benar melupakan aku. Aku tau, Kalau kamu sudah tidak lupa ingatan. Tapi kenapa kamu diam saja Dar. Jawab Dar, Apakah kamu juga masih mencintaiku?"


Lagi-lagi Andara hanya diam. Rasanya begitu sulit untuk sekedar mengatakan iya. Melihat Andara seperti itu, Membuat Raiden semakin mendekat dan memeluknya begitu erat.


"Aku tanya sekali lagi Dara. apakah kamu juga masih mencintaiku? Apakah perasaan itu masih ada? Apakah aku masih jadi laki-laki penghuni hatimu Dara?" Tanya Raiden lagi


Andara masih tak menjawab. Dan hal itu membuat Raiden mengambil nafas panjang. Setelah itu, Raiden mengatakan hal yang langsung mampu membuat Andara menjawab.


"Baiklah. Jika memang kamu tidak mau menjawab. Aku cukup paham jika kamu mungkin sudah tidak memiliki rasa lagi terhadapku. Kalau begitu aku pamit. Selamat ulang tahun, Andara" Ucap Raiden lagi dan langsung melangkah kan kakinya untuk keluar dari ruangan VIP itu.


Namun langkahnya terhenti saat suara Andara tiba-tiba terdengar dan membuat Raiden mengangkat kedua sudut bibirnya.


"Aku juga masih sangat mencintai mu kak" Ucap Andara sambil membalikkan tubuhnya dan memeluk Raiden

__ADS_1


__ADS_2