
"Bara, hari ini Bara di rumah ya sama mbk Mirna. karna hari ini mama sibuk. Mama gak bisa bawa Bara" Ucap Andara pada bayi yang baru mau berumur 2bulan itu.
Setelah melihat jam sudah menunjukkan pukul 05:30. Andara memberikan Bara pada pengasuh yang memang sengaja Andara sewa selama beberapa hari ini. karna restoran juga toko kue Andara semakin hari semakin bertambah pembelinya.
"Mbk, saya titip Bara hari ini ya. Saya gak bisa bawa Bara, Soalnya saya sibuk mbk" Ucap Andara pada Mirna
"Baik bu. Bara biar sama saya saja dirumah" Ucap Mirna sopan
Setelah menyerahkan Bara pada pengasuhnya. Andara kembali kedalam kamarnya. Wanita itu mandi dan segera bersiap, Karna jam 07:00 Andara sudah harus di restoran. Hari ini memang Andara sedang ada meeting dengan beberapa Klien yang akan investasi di Restoran miliknya.
"Bismillah, semoga hari ini semuanya lancar"Ucap Andara sambil melihat dirinya dari pantulan cermin.
Kali ini Andara menggunakan setelan berwarna silver dengan hijab yang senada. Andara benar-benar terlihat cantik dengan pakaiannya saat ini.
"Mbk saya berangkat ya, jangan lupa nanti jam 07:00 Bara di mandiin ya" Ucap Andara pada Mirna saat mau berangkat ke restoran
"Iya bu, hati-hati ya"
"Mama berangkat ya sayang, Bara baik-baik di rumah ya. doakan mama ya nak, Cup" Andara menyempatkan diri mencium Bara sebelum berangkat ke Restoran
Andara keluar dari dalam rumahnya. Wanita itu memesan ojek online agar bisa dengan cepat tiba di Restoran miliknya. karna biasanya kalau pagi jalanan cukup rame.
"Mbk Andara?"
"Iya mas"
Di Jakarta
Selama satu bulan. Raiden tidak pernah bisa tenang. Pria itu masih terus teringat semua yang pernah Wildan ucapkan tempo hari. Semua ucapan itu masih terngiang jelas pada indra pendengarannya.
"Aku harus mencari tau tentang foto yang waktu itu mama perlihatkan" Ucapnya dan langsung berdiri dari duduknya.
Di saat Raiden sudah keluar dari dalam kamarnya. Tiba-tiba ada satu hal yang membuat Raiden membulatkan kedua matanya. "Nayla! Untuk apa dia di sini" Gumamnya dan mencoba pura-pura tidak tau dengan keberadaan wanita itu.
"Rai, kamu mau kemana? Sini dulu Rai, kita sarapan bersama. Ini Nayla sudah masak buat kita" Ucap Mayang pada Raiden
"Maaf ma, Rai ada urusan penting" Ucap Raiden dingin dan langsung melangkahkan kakinya kembali.
"Rai, mama sarapan dulu" Teriak Mayang lagi. Namun Raiden tidak menggubris sedikitpun teriakan Mayang.
Hari ini Raiden memang akan mencari tahu kebenaran tentang foto yang sudah membuatnya menceraikan wanita yang bisa dibilang titipan dari mendiang adiknya.
Setelah tiba di dalam mobil, Ternyata Raiden melupakan ponselnya. Pria itu turun kembali dari mobilnya dan masuk kedalam rumahnya. Namun, Langkah Raiden terhenti saat tak sengaja mendengar obrolan Mayang dengan Nayla di meja makan.
"Tante, kok Raiden di biarin pergi sih tan" Ucap Nayla pada Mayang
__ADS_1
"Sudahlah Nayla. Sekarang kamu makan dulu. urusan Raiden sekarang gak mau sarapan bersama kamu, itu tidak penting. yang penting rencana kita sudah berhasil" Ucap Mayang sambil tertawa
"Iya juga ya tante. Raiden mau percaya begitu saja, Padahal kan itu cuma rencana kita" Ujar Nayla yang juga ikut tertawa
Di saat seperti itu membuat Nayla mengingat kejadian 2 bulan yang lalu. Lebih tepatnya di saat Nayla dan Mayang menjalankan rencana mereka untuk menjebak Andara
Flashback 2 bulan yang lalu
Di saat Mayang sedang terbakar Emosi saat kedatangan Bara kerumahnya. Wanita itu pergi ke sebuah cafe dan tak sengaja menabrak tubuh seseorang.
"Aduh, kalau jalan yang bener dong tante. Saya hampir saja jatuh" Ucap Nayla di saat tubuhnya kena tabrak seseorang
"Maaf maaf, saya tidak sengaja" Ucap Mayang pada Nayla
Nayla mengangkat wajahnya saat mendengar suara yang tidak asing pada indra pendengarannya. "Tante Mayang" Ucap Nayla
"Loh Nayla"
"Tante maafkan Nayla ya, Nayla benar-benar minta maaf atas kejadian beberapa tahun yang lalu" Pekik Nayla sambil mau bersimpuh pada Mayang.
"Tidak perlu seperti itu. Tante sudah melupakan kejadian yang lalu"
"Tante kenapa? Kok sepertinya sedang banyak pikiran" Tanya Nayla pada Mayang yang terlihat begitu banyak pikiran
"Duduk yul tante. tante bisa cerita sama Nayla"
Nayla membawa Mayang duduk untuk mengobrol. Kali ini Nayla akan menggunakan hal ini untuk mendapatkan Raiden kembali.
"Tante kenapa?"
"Tau lah Nay. Tante benar-benar pusing"
"Pusing kenapa tante? tante bisa cerita sama Nayla"
"Ini soal Raiden Nay. masak sampai saat ini istrinya belum juga hamil"
"Masa tante, Istrinya Raiden belum hamil juga. Padahal kan sudah lama menikah"
Nayla akan menggunakan hal ini untuk mengompori Mayang yang sedang dilanda emosi.
"Kenapa tante tidak meminta Rai untuk menceraikan istrinya. Masa iya keluarga Mahendra tidak punya keturunan"
"Jika tante meminta seperti itu, Dia tidak akan mau mendengarkan ucapan tante"
"Nayla punya rencana deh tante"
__ADS_1
"Rencana apa?"
Di saat Nayla sedang memikirkan sebuah rencana. tiba-tiba ada Andara yang hampir terjatuh lalu ada seseorang yang menahan tubuhnya. hingga mereka terlihat sedang berpelukan.
"Ini saat yang tepat" Ucap Nayla sambil mengambil ponselnya dan mengambil gambar Andara bersama pria itu
"Tante, minta nomornya dong, Nayla mau kirim sesuatu"
Mayang memberikan nomor ponselnya pada Nayla. Dan tak lama langsung ada pesan masuk.
Kring...
Mayang langsung membuka pesan di ponselnya. Matanya memicing saat melihat isi dari pesan itu.
"Ini nomor kamu?"
"Ita tante. ini akan menjadi hal yang akan membuat Raiden meninggalkan istrinya"
Flashback off
"Apa! Jadi semua ini adalah rencana kalian" Ucap Raiden tiba-tiba.
Mendengar itu membuat Mayang dan Nayla terkejut dengan wajah yang terlihat mulai pucat.
"Rai. Ka....kamu kok disini? Bukankah tadi sudah berangkat" Ucap Mayang terbata
"Jawab ma, jadi ini ulah mama?"
"Ini tidak seperti yang kamu dengar Rai"
"Sudahlah ma. ini memang rencana mama kan! Bisa-bisanya mama melakukan ini. dan gara-gara mama Rai tidak mau mendengarkan penjelasan Andara terlebih dahulu"
Setelah mengatakan hal itu. Raiden pergi dengan menahan amarah yang semakin memuncak.
Di Surabaya
Andara saat ini sudah siap untuk meeting dengan klien pertama. Wanita ini mempersiapkan berkas yang akan Andara gunakan untuk persentasi.
"Selamat pagi. Maaf saya terlambat" Ucap pria itu pada Andara
"Iya tidak apa-apa pak. Saya juga baru saja sampai" Balas Andara sambil merapikan berkas di mejanya.
Tak lama kemudian, Andara mengangkat wajahnya dan langsung begitu kaget setelah melihat siapa laki-laki yang akan meeting bersamanya.
"Kak Wildan. Andara" Ucap mereka secara bersamaan
__ADS_1