
Andara dan raiden pergi ke kantor polisi terlebih dahulu untuk mengurus surat-surat kepada kantor polisi. " Kak, apa sebaiknya kita tinggal di apartemen kak raiden saja" tanya andara lembut.
Mendengar itu membuat raiden menghentikan langkahnya," Memangnya kenapa sayang, kenapa tiba-tiba kamu mau kita pindah ke apartemen?'
Andara tak langsung menjawab, wanita cantik itu masih melihat bayi malang yang sudah membuatnya jatuh cinta" Aku takut kak" Raiden mengangkat sebelah alisnya saat mendengar kata takut yang terlontar dari bibir istrinya.
" Kamu takut kenapa sayang, hmmm?'
" Aku takut mama tidak mau menerima kehadiran anak ini kak, aku takut jika mama tidak mengizinkan kita untuk mengadopsi bayi ini" pungkas andara sendu
Raiden kembali mendekat ke arah andara," Sayang, kita coba dulu ya" balas raiden lembut
Andara tak lagi menjawab, wanita itu hanya mengangguk patuh terhadap ucapan suaminya. Melihat itu membuat raiden mengukir senyum bahagia. " Terimakasih sudah selalu nurut dengan apapun yang aku ucapkan sayang" ucap raiden sambil membawa andara dalam dekapannya.
" Kak, tidak usah berterimakasih, memang tugas aku sebagai seorang istri untuk selalu nurut dengan apapun yang suamiku katakan"
Setelah mengurus semua surat-surat di kantor polisi, kini Raiden dan andara berencana membawa bayi malang itu kerumah mayang, disaat mobil yang Raiden bawa sudah terparkir sempurna, Pria itu membukakan pintu untuk istri tersayangnya,
Andara keluar dan berjalan di belakang raiden dengan perasaan yang sangat amat gelisah, Rasa takutnya menjadi semakin besar saat melihat Mayang yang berdiri di ambang pintu rumahnya,
" Assalamualaikum Ma" Ucap raiden serta mencium punggung tangan sang mama.
" Anak siap yang kalian bawa?" Tanya Mayang sambil menatap tajam Andara serta bayi yang ada di gendongannya.
__ADS_1
Mendapatkan tatapan seperti itu membuat Andara menundukkan wajahnya, Kekhawatiran yang sempat dia pikirkan akhirnya terjadi. Mayang sama sekali tidak menunjukkan rasa bahagia karna kehadiran seorang bayi mungil di hadapannya.
" Ini anak Rai sama dara ma, kami menemukan bayi malang ini di taman kota, oleh karena itu kita sudah sepakat untuk merawat bayi ini"
" Aaaapa!!! kamu mau merawat bayi yang tidak jelas asal-usulnya, jangan gila kamu rai, Mama tidak setuju" Geramnya dengan suara lantang
" Dia memang tidak jelas asal-usulnya ma, tapi mulai hari ini, Rai dan Dara yang akan menjadi orangtuanya"
" Tapi mama tidak setuju Rai, Mama tidak mau punya cucu anak orang, mama maunya cucu yang berasal dari darah daging kamu sendiri"
" Mama mau setuju atau tidak Raiden akan tetap merawat bayi ini" Pungkas Raiden dan langsung berlalu dari hadapan Mayang yang masih terlihat kesal.
" Awas kamu Andara, gara-gara kamu Raiden berani melawan saya. Dasar wanita tidak berguna" Teriak mayang tepat di saat Andara melewatinya.
Andara hanyalah wanita tak berguna yang tidak bisa memberikan keturunan pada keluarga Mahendra. Andara menyadari semua itu, Namun siapa yang mau ada di posisi ini. Bukan hanya Mayang yang menginginkan kehadiran seorang cucu, Andara sendiri juga sangat menginginkan kehadiran seorang anak di rumah tangga yang sudah tiga tahun dia bina.
" Maafkan andara Ma" Hanya kata maaf yang mampu Andara ucapkan kepada Mayang,
" Simpan kata maaf mu itu Dara, Saya tidak butuh" Ucap mayang dingin serta memberikan lirikan tajam pada andara.
Andara hanya bisa menahan air matanya, Kata-kata yang keluar dari mulut Mayang memang selalu melukai hatinya, Padahal dulu Mayang begitu menyayangi Andara seperti anaknya sendiri, Namun hal itu sirna semenjak andara tak kunjung hamil setelah dua tahun pernikahannya dengan Raiden.
" Sudah sayang, tidak perlu dengarkan apapun yang mama ucapkan, kita akan terus merawat anak ini," pekik raiden pelan sambil merangkul andara dan membawanya ke dalam kamar mereka.
__ADS_1
Siang berlalu, Malam ini Raiden dan Andara masuk ke kamar lebih dulu, dan kali ini ada Bara ditengah-tengah mereka,
Ya, Bayi malang itu berjenis kelamin laki-laki, Andara dan Raiden sudah sepakat untuk memberikannya nama Bara andika putra, Memang tidak memakai embel-embel mahendra di belakang namanya. Karna mereka tau jika mayang pasti akan sangat marah jika mereka memberikan embel-embel mahendra di belakang nama Bara. Padahal kalau mahendra sendiri tidak pernah keberatan jika Bara menggunakan Namanya,
" Kak, liat deh bara, dia kasian sekali ya, bayi se-mungil ini kenapa harus di terlantarkan ya" ucap andara sambil mengelus lembut jari-jari kecil Bara
" Entahlah sayang, mungkin ini amanah untuk kita, amanah yang harus kita jaga sebaik mungkin" ucap raiden lembut.
Tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul 11:30. Andara menguap saat rasa kantuk mulai merajai kedua matanya, begitu juga dengan Raiden. Namun saat mereka mau memejamkan mata, Tangis bara yang tiba-tiba membuat mereka berdua kembali terjaga,
Andara mengambil Bara dan dia timang-timang sambil diberikan susu formula, Namun Bara masih saja terus menangis tanpa henti. dan suaranya juga menggema hingga terdengar begitu nyaring keluar kamar mereka.
" Kak, kenapa Bara ya, kok nangisnya tambah kenceng, padahal udah aku ganti popoknya. udah di kasih susu juga, tapi kok gak diem-diem juga ya kak. bagaimana ini" Ucap andara panik.
" Sebentar ya sayang, aku browsing dulu. mau cari bagaiman caranya nenangin anak nangis"
Tak lama kemudian pintu kamar mereka di ketok dengan sangat keras, siapa lagi kalau bukan Mayang pelakunya. " Heh Andara. kamu itu memang tidak berguna ya, nenangin bayi saja tidak mampu. pantas kamu tidak hamil juga. karna kamu memang tidak pantas untuk menjadi seorang ibu, Suruh diam bayi sialan itu, Kalau tidak diam juga bawa dia keluar dari rumah ini. Ganggu orang tidur aja"
Lagi-lagi omongan yang keluar dari mulut Mayang mematahkan hati Andara, Matanya memanas, Hingga tak lama butiran bening itu berhasil menetes begitu saja, Dadanya sudah tidak mampu untuk menahannya lagi. Terlalu sakit mendengar semua hinaan itu.
Saat Andara meneteskan air mata dari kedua matanya. Entah kenapa hal itu membuat bayi yang ada dalam gendongannya diam saat itu juga. Menjadi tenang seketika itu, Mata bulatnya membuat Andara dengan cepat mengusap kedua matanya yang mulai basah.
" Maafkan mama sayang, Tidak seharusnya mama menangis di depan kamu, Mama janji gak bakal cengeng lagi, Kamu sudah menjadi penguat Mama mulai saat ini" lirih Andara sambil mencium kening bayi itu
__ADS_1