
Mengingat akan hal itu membuat Raiden menundukkan wajahnya. Ada rasa kerinduan yang mendalam dari lubuk hatinya. Dia benar-benar merindukan masa-masa di mana kebahagiaan masih dia rasakan bersama Andara. Istri yang sudah di siapkan oleh mendiang adiknya sendiri.
"Kenapa semuanya jadi seperti ini Dara. Maafkan aku yang sudah membuat kamu jadi seperti ini. Seandainya waktu itu aku tidak langsung percaya dengan spa yang mama katakan, Mungkin rumah tangga kita masih baik-baik saja" Raiden bermonolog dalam batinnya
Diana yang baru saja mengingat jika mantan istri Raiden bernama Andara langsung menatap putranya begitu dalam.
"Apa dia adalah mantan istrinya Raiden. Apa dia juga wanita yang dulu sering Wildan ceritakan padaku" Batinnya sambil memperhatikan Wildan dan Raiden secara bergantian
"Kamu tidak kenapa-napa kan Dara?" Tanya Wildan sambil membawa Andara untuk duduk di sofa
Andara masih terdiam. Mulai banyak bayangan yang melintas jelas pada pikirannya. Ada juga beberapa suara yang terngiang jelas pad indra pendengarannya
'Menikahlah dengan kakak ku Andara, Maafkan aku yang tidak bisa membahagiakan mu seperti apa yang sudah pernah kita rencanakan'
Kata-kata itu terngiang jelas pada indra pendengaran Andara. Entah suara siapa yang berhasil membuatnya terus berusaha mengingat akan kejadian itu
Andara memegang kepalanya yang terasa begitu pusing. Bukan hanya kata itu yang terngiang. Gambaran sosok seorang pria berhasil muncul dalam bayangannya
"Dimas" Ucap Andara pelan
Ya. Suara serta bayangan Dimas sudah mampu Andara ingat walau pun tidak semuanya. Wanita itu hanya mengingat kejadian dimana Dimas memintanya untuk menikah dengan kakaknya.
"Kamu sudah bisa mengingat tentang Dimas?" Tanya Wildan pad Andara
"Iya kak, Aku sudah bisa mengingat seseorang yang bernama Dimas. Tapi aku tidak tau siapa dia, Yang pasti, Kata-katanya sudah bisa terngiang jelas" Ucap Andara pelan
"Kata-kata, Maksudnya?"
"Iya kata-kata, Perkataan dia yang meminta aku untuk menikah dengan kakaknya, Tapi aku tidak tau siapa kakaknya. Tidak ada lagi yang bisa aku ingat, Hanya itu" Ujarnya sendu
"Apa kamu tidak bisa mengingat apa-apa lagi?" Tanya Wildan yang masih duduk di samping Andara
"Tidak kak. Tapi ada suara yang berhasil terngiang dan membuat aku begitu terluka"
"Apa itu Dara"
"Suara itu mengatakan jika aku wanita yang tidak berguna. Mendengar kata-kata itu, Entah kenapa aku merasa begitu terluka. Sebenarnya seperti apa kisah masa laluku kak?"Lirih Andara dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca
__ADS_1
Melihat Andara seperti itu membuat Wildan reflek dan langsung membawa Andara dalam dekapannya. Rasanya pria itu juga bisa merasakan apa yang saat ini Andara rasakan.
Sedangkan Raiden yang melihat itu langsung memilih untuk keluar dari ruang rawat inap mamanya. Sudah begitu sakit saat melihat wanita yang di cintanya ada dalam dekapan adiknya sendiri
"Apa aku benar-benar akan kehilangan kamu Dara. Apa aku harus merelakan kamu bersama dengan Wildan. Adik aku sendiri. Kenapa kisah cintaku harus serumit ini" Ucap Raiden dan berjalan cepat keluar dari sana.
Tanpa Raiden sadari, Ternyata ada seseorang yang juga berjalan tergesa dari arah yang berlawanan.
Brak.. Mereka berdua bertabrakan. Semua barang yang di bawa orang itu terjatuh berhamburan ke atas lantai.
"Maaf maaf. Saya tidak sengaja" Ucap Raiden sambil membantu memungut beberapa berkas milik wanita itu
"Tidak apa-apa mas, Saya juga minta maaf. Tadi saya jalannya kurang hati-hati. Saya terlalu terburu-buru. sekali lagi maafkan saya" Ucap Wanita itu sambil memungut berkas miliknya
Siapakah wanita itu?
Di Tempat Lain
"Kamu kenapa mas? Sejak kemarin aku perhatiin kamu seperti banyak melamun" Tanya Dania pada Adrian
Sejak pertemuannya dengan Andara 1 hari yang lalu. Membuat Adrian selalu termenung dan banyak diam. Pria itu menyimpan banyak pertanyaan. Sebenarnya apa yang sudah terjadi pada adiknya. Apa benar wanita yang dia temui saat itu memang benar-benar bukan Andara?
Mendengar panggilan Dania membuat Adrian tersadar dari lamunannya. Suara lembut milik Dania sudah berhasil menyadarkannya
"Iya sayang kenapa?" Tanya Adrian yang memang sejak tadi tidak fokus dengan apa yang Dania katakan
"Kamu kenapa mas? Sejak kemarin aku perhatiin kamu banyak melamun. Apa ini ada hubungannya dengan Andara mas? Apa kamu sudah mendapatkan kabar tentangnya?" Tanya Dania pelan
"Entahlah sayang. aku masih terlalu bingung"
"Maksud kamu bingung bagaimana mas? Aku benar-benar tidak paham"
"Kemarin saat aku baru saja selesai meeting. Aku bertemu dengan seseorang yang wajahnya begitu mirip dengan Andara. Tapi anehnya, Dia tidak mengenalku sayang"
"Maksudnya bagaimana mas. Aku belum terlalu paham. Mas Adrian bertemu seseorang yang mirip Dara, Tapi dia tidak kenal dengan mas?"
"Iya sayang. Wanita itu mengatakan jika aku salah orang. Tapi aku tidak mungkin salah sayang, Aku kenal betul seperti apa wajah Andara dan ciri khas yang dia miliki"
__ADS_1
"Lalu jika memang dia benar-benar dara kenapa dia bisa tidak kenal sama kamu mas?"
"Entahlah sayang. Aku juga masih sedikit bingung akan hal itu. Ini pasti ada sesuatu hal yang terjadi"
"Apa mungkin Andara lupa ingatan mas?"
Di Jakarta
Dika yang memang sejak kemarin sudah tidak sabar ingin menemui Andara langsung bersiap saat matahari sudah mulai terbit.
Hari ini Dika akan datang ke kediaman Mahendra. Kediaman yang sudah sejak lama tidak pernah dia kunjungi. Ada banyak hal yang Dika rindukan di rumah itu.
Tok...tok...tok ..
Suara ketukan pintu berhasil membuat Dika menoleh ke arah pintu yang sudah terbuka lebar. Di sana langsung ada sosok seorang wanita paruh baya cantik yang masuk ke dalam kamarnya. Siapa lagi kalau bukan sang mami
"Dika. Kamu sudah siap nak?" Tanya seorang wanita paruh baya yang juga sudah siap dengan menggunakan pakaian branded yang membuatnya terlihat lebih muda dari pada usianya
"Sudah mami. Mami juga sudah siap kan?" Tanya Dika pada maminya
"Sudah sayang. Ayo kit berangkat sekarang saja. Mami juga sudah sangat merindukan tante Mayang"
"Ayo mami" Ucap Dika sambil menggandeng tangan sang mami penuh sayang.
Biarpun hanya orang tua angkat, Namun Dika sangat menyayangi Melati. Bagi Dika Melati adalah segalanya
"Mami cantik banget hari ini" Puji Dika di sela langkahnya
Mendengar ucapan Dika membuat Melati menghentikan langkah kakinya sambil mengerutkan keningnya.
"Memang selama ini mami tidak cantik, Begitu?"
"Ya nggaklah mami. Buat Dika mami adalah wanita tercantik sedunia"
"Tapi setelah Andara" Ucap Dika dalam batinnya sambil tersenyum pada sang mami
Setelah tiba di ruang tengah. Langkah Dika terhenti saat suara sang kakek tiba-tiba terdengar jelas pada indra pendengarannya
__ADS_1
"Bagaimana tentang tawaran kakek tadi malam Dika? Apa kamu sudah memikirkannya?" Tanya kakek Subagio
"Di.....dika.."