
Mendengar ucapan sang kakek membuat Dika hanya mengangkat kedua sudut bibirnya. Bagaimana mau menikah, Wanita yang selama ini Dika cintai sudah menjadi milik kakaknya sendiri.
"Aku mu menikah asala bersama dengan Andara kek. Tapu apa itu mungkin, Sedangkan Andara saat ini sudah menjadi milik kakakku sendiri." Dik bermonolog dalam batinnya
"Bagaimana Dika. Apa kamu mau kakek kenalkan dengan seorang gadis cantik. Dia sholehah" Ucap kakeknya lagi
"Kayaknya tidak perlu deh kek. Dika sudah menemukan calon pilihan Dika sendiri"
"Kalau kamu sudah menemukan calon sendiri. Ajak dia kesini dong Dika. Kenalkan dia sama kita semua"
"Iya kapan-kapan ya kek. Kalau Dika sudah benar-benar siap" Ucap Dika dan langsung melanjutkan langkahnya kembali
Setelah tiba di dalam kamarnya. Dika berjalan ke arah lemari baju yang ada di samping ranjangnya. Pria itu membuka laci lemarinya dan mengambil sesuatu di dalam sana.
Ternyata Dika mengambil sebuah gelang pasang yang ada ukuran nama Andara di dalamnya. Dika masih bisa mengingat jelas saat dulu Andara memberikan gelang itu untuknya
'Dika kamu simpan gelang ini ya, suatu saat kalau kita sudah dewasa aku ingin menjadi bagian penting dalam hidup kamu. Kamu mau berjanji kan akan kembali untuk aku?"
Kata-kata itu selalu terngiang jelas pada indra pendengaran Dika. Memang dulu saat usia mereka masih 10 tahun. Andara dan Dika adalah sahabat, Walaupun akhirnya Dika harus pergi karna pindah ke luar Negri. Tapi sebelum kepergiannya, Dika sempat mengucapkan seuntai kata janji yang selalu di ingat oleh Andara
'Aku berjanji akan kembali lagi buat kamu Ara. Aku akan menjadikan kamu ratu di hatiku. aku sayang kamu Ara ku' Ucap Dika kala itu.
Dika memang memanggil Andara dengan sebutan Ara. Karna menurutnya memiliki panggilan berbeda tidak akan membuat Andara melupakannya.
"Apa aku datang terlambat Ara. Apa aku masih bisa punya kesempatan untuk memilikimu. Tapi kenapa yang menikahi mu harus kakak ku sendiri." Ucapnya lirih sambil menggenggam gelang pemberian Andara
Setelah itu. Dika meletakkan kembali gelang milik Andara, Tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul 01:00 dini hari.
Dika merebahkan tubuhnya yang memang terasa begitu lelah. Setelah itu Dika benar-benar tertidur lelap dan damai dalam mimpinya.
__ADS_1
Hari berlalu begitu cepat. Andara terbangun saat suara Alarm sudah berhasil mengusik tidur lelapnya.
"Eeeeehhhmm. Jam berapa ya" Ucap Andra dengan suara seraknya khas bangun tidur
"Ternyata sudah jam 06:00 pagi. Lebih baik aku bangun sekarang, Hari ini kan aku mau ke malamnya Bara" Ucap Andara lagi
Hari ini Andara memang sudah berencana mau ke makamnya Bara. Siapa tau dengan begitu Andara bisa sedikit mengingat kejadian sebelum dirinya hilang ingatan. Karna menurut cerita yang dia dengar dari Wildan, Bara adalah hal terbesar yang paling berharga untuknya
"Semoga hari ini aku bisa mengingat tentang Bara. Jika dia benar-benar berharga buat aku, Seharusnya aku bisa dengan mudah mengingatnya. Tapi sebelum itu aku kan masih ada jadwal check up dirumah sakit"
Hari ini Andara memang sudah ada janji temu dengan dokter Nadia. Dokter Nadia bukan hanya dokter umum. Tapi juga dokter spesialis syaraf.
Andara mandi dan bersiap-siap. Namun sebelum bersiap, Andara masih membuat roti sandwich juga susu coklat untuk sarapan pagi ini. Karna hanya sendiri. Andara memang jarang memasak. Kecuali ada Wildan di rumahnya.
Setelah kecelakaan itu terjadi. Wildan memang selalu menemani Andara, Walaupun dia tidak pernah bermalam di tempat Andara.
Di saat Andara masih sarapan. Tiba-tiba terdengar suara mesin mobil berhenti di depan rumahnya.
Suara itu sudah tidak asing lagi bagi Andara. Suaranya begitu familiar pada indra pendengaran Andara. Siapa lagi kalau bukan Wildan. Pria yang selama ini selalu mengantar Andara check up ke rumah sakit
"Waalaikum salam" Ucap Andara dan berjalan ke arah pintu
"Kak Wildan. Ayo masuk, Apa mau sekalian sarapan. Kebetulan aku lagi sarapan dan membuat 2 sandwich. Ayo kak Wildan sekalian sarapan bareng Dara. Dara buatkan susu sebentar ya"
"Baiklah Dara, Kebetulan aku juga belum sarapan" Ucap Wildan dan mengekor di belakang tubuh Andara
5 Menit kemudian. Andara sudah membawa segelas susu putih untuk Wildan. Biarpun tidak suka susu putih, Tapi Andara selalu punya stok buat jaga-jaga saat ada Wildan di sana.
Andara sudah menganggap Wildan seperti kakaknya sendiri. Dia tidak pernah peka perasaan Wildan yang sebenarnya.
__ADS_1
"Ini kak susunya. Ini roti sandwich nya kak" Ucap Andara sambil memberikan roti sandwich juga segelas susu putih hangat
Wildan memandang Andara begitu dalam. Entah kenapa kebersamaan mereka membuat perasaan Wildan menjadi semakin tumbuh dan semakin tak bisa di kendalikan
"Seandainya status kita menjadi suami istri, Mungkin aku akan menjadi laki-laki paling beruntung bisa memiliki istri seperti kamu Dara, Kenapa kak Raiden begitu bodoh melepaskan bidadari seperti kamu"Wildan bermonolog dalam batinnya
"Silahkan di makan kak. Maaf ya pagi ini aku memang tidak masak, Hanya membuat roti sandwich saja" Ucap Andara sambil menikmati sepotong roti sandwich yang ada di tangannya
"Iya Dara. Makasih ya. Selain cantik dan sholehah, Ternyata kamu juga pinter masak. Beruntung sekali laki-laki yang berhasil menjadi imam kamu" Ucap Wildan sambil memandang Andara
"Kak Wildan bisa aja deh. Nanti yang menjadi istri kak Wilda juga pasti beruntung banget punya suami kayak kak Wildan" Ucap Andara sambil melirik ke arah Wildan
"Aku maunya kamu yang menjadi wanita beruntung itu Dara" Ucapnya dalam batin
Setelah itu mereka melewati sarapan pagi ini hanya dengan keheningan saja. Sesudah sarapan, Andara masuk ke dalam kamarnya dan bersiap-siap untuk check up ke rumah sakit.
30 menit kemudian. Andara turun dengan pakaian yang sudah rapih. Gamis hitam juga hijab pasmina warna milo menjadi pilihan Andara hari ini
Melihat Andara seperti itu membuat Wildan menatap tanpa mau berkedip. Andara benar-benar cantik dan mempesona di mata Wildan
"Kenapa kamu harus sempurna seperti itu Dara. Seandainya saja aku bisa menjadi pria beruntung seperti kak Raiden, Aku tidak akan pernah melakukan hal bodoh seperti apa yang sudah dia lakukan" Ucap Wildan dalam batin
"Ayo kak, Aku sudah siap" Ucap Andara dengan senyum merekah dari kedua sudut bibirnya
Andara berjalan lebih dulu. Sedangkan Wildan mengekor di belakang Andara sambil terus memandang wanita itu tanpa henti
"Kamu benar-benar seperti bidadari Dara" Batinnya lagi
1 Jam kemudian, Andara dan Wildan sudah tiba di rumah sakit BUDI UTOMO . saat Andara berjalan beriringan tiba-tiba ada pria yang tidak sengaja menabrak tubuhnya hingga membuatnya oleng dan hampir terjatuh, Namun tangan orang itu dengan cepat menangkap tubuh Andara
__ADS_1
"Kamu!" Ucap Andara
Siapakah laki-laki itu?