
Di saat Nadia sedang fokus memperbaiki Riasannya, Tiba-tiba ada sebuah panggilan masuk dari Wildan. Dengan cepat Nadia mengusap tombol hijau di layar ponselnya.
📞:Halo pak Wildan
📞:Saya sudah menunggu di kantin. Tolong secepatnya kesini, Soalnya saya masih ada urusan penting setelah ini Nadia
📞:Baiklah pak, Saya akan segera ke sana
Setelah itu, sambungan telponnya terputus. Nadia segera menyelesaikan urusan membenarkan riasan wajahnya. Mendengar suara Wildan saja Nadia sudah merasa jantungnya berdegup kencang, Bagaimana jika nanti sudah bertemu dengan Wildan dan hanya berdua.
"Sebenarnya apa yang mau di katakan pak Wildan ya! Apa ini soal bu Diana?" Ucap Nadia pada dirinya sendiri
Kemudian, Nadia keluar dari dalam ruangannya, Langkahnya entah kenapa terasa begitu berat. Padahal biasanya Nadia paling cepat jalan dan bisa di andalkan. Tapi kenapa saat mau bertemu dengan Wildan rasanya sangat susah untuk mempercepat langkahnya.
Setelah beberapa menit berjalan, Akhirnya Nadia sudah tiba di depan kantin. Dari kejauhan wanita itu sudah bisa melihat adanya Wildan di sana yang tentunya sedang menunggu kedatangannya.
"Aduh, Kenapa saat liat pak Wildan rasanya jantung ku mau lompat begini. Tahan Nadia, Jangan sampai pak Wildan menyadari apa yang saat ini sedang kamu rasakan" Ujar Nadia pelan
Melihat Nadia sudah masuk ke dalam kantin, Wildan menyiapkan diri untuk mengatakan apa maksudnya mengajak Nadia bertemu berdua seperti ini, Biar pun sudah tidak jarang mereka bicara berdua, Namun kali ini rasanya beda.
Jika selama 1 tahun ini Wildan bertemu Nadia hanya untuk membahas kondisi sang mama, Berbeda dengan apa yang akan dia bicarakan untuk saat ini.
"Ayo Wildan, Kamu bisa. Kamu pasti bisa mengatakan pada dokter Nadia tentang apa yang saat ini sedang ada dalam pikiran mu. Tapi bagaimana jika dokter Nadia menolak, Bukan kah dia sedang dekat dengan pria itu" Raiden bermonolog dalam batinnya.
"Permisi pak Wildan, Mohon maaf saya terlambat. Tadi masih ada pasien yang gawat darurat" Ucap Nadia setelah tiba di sana
Raiden tak langsung menjawab, Pria itu masih mengambil nafas pelan. Yang ada dalam pikiran Wildan saat ini hanyalah satu. Bagaimana caranya mengatakan pada dokter Nadia.
"Tidak masalah dokter, Maaf ya kalau saya ngajak dokter bertemu di sini"
"Tidak masalah pak. Ada hal apa yang mau pak Wildan bicarakan dengan saya, Siapa tau saja saya bisa membantu"
Mendengar pertanyaan Nadia membuat Wildan semakin bingung. Bagaimana caranya untuk bisa mengatakan pada Nadia tentang apa yang sedang ada dalam pikiran Wildan.
"Lebih baik kita pesan makan dulu ya dokter, Ini kan sudah waktunya makan siang. Dokter Nadia juga pasti sudah lapar bukan?"
"Baiklah pak" Ucap Nadia yang masih berpura-pura santai.
Padahal, Jauh dari lubuk hatinya, sebenarnya Nadia begitu grogi dengan keadaan saat ini."Jangan salting Nadia. Jangan menunjukkan kalau kamu mencintainya. Harus tetap berusaha biasa saja" Ucap Nadia dalam batinnya sambil sesekali mencuri pandang pada Wildan.
"Astaga, Kenapa semakin hari dia semakin tanpa saja sih. Jiwa ingin memiliki itu semakin meronta-ronta. Ya gusti tolong jadikan laki-laki ini sebagai jodoh ku" Batin Nadia lagi
"Dokter Nadia, Mau pesan apa?" Tanya Wildan pelan. Namun dokter Nadia hanya diam tak menjawab apa-apa.
Wanita itu ternyata sudah mulai masuk ke dalam dunia lamunannya. Nadia sampai tidak sadar saat Wildan memanggil namanya.
Saat ini Nadia sedang membayangkan masa depan yang indah bersama dengan Wildan. Namun saat gambaran indah itu sedang muncul dalam pikiran Nadia. Tiba-tiba suara Wildan berhasil mengejutkan Nadia.
"Dokter Nadia mau pesan apa?" Tanya Wildan lagi.
"Haa. Kenapa pak? Apa tadi yang pak Wildan katakan?" Tanya Nadia yang baru tersadar
"Mau pesan apa dokter Nadia?"
"Saya pesan bakso saja pak. Minumnya lemon tea"
"Baiklah" Ucap Wildan sambil memanggil penjual bakso di kantin itu.
"Mau pesan apa pak?"
__ADS_1
"Bakso 2 porsi, Sama lemon tea nya 2"
"Baik, tunggu sebentar ya pak"
5 Menit kemudian. Ibu-ibu itu sudah kembali dengan membawa nampan berisi bakso di tangannya.
"Ayo silahkan di makan dokter Nadia" Ucap Wildan sambil memberikan satu mangkok bakso pada dokter Nadia
"Terimakasih pak"
Nadia dan Wildan melewati makannya tanpa ada pembicaraan apa-apa. Wildan yang masih begitu bingung harus mengatakan apa. Sedangkan Nadia merasa begitu gugup.
Hingga bakso itu habis tanpa sisa. Nadia dan Wildan sama-sama menoleh sehingga kedua manik mata mereka itu bertemu.
Di saat seperti itu, Wildan mengambil tangan Nadia dan mengatakan jika Wildan mau melakukan pendekatan pada Nadia.
"Nadia, Boleh kah jika aki mai mendekati mu' Ucap Wildan sambil menggenggam tangan Nadia
Deg! Jantung Nadia berdetak jauh lebih cepat dari pada sebelumnya. Apakah ini hanyalah sebuah mimpi? Pikirnya
Mendengar perkataan Wildan yang Nadia pikir hanya halusinasinya saja membuat wanita itu diam. Kedua matanya masih tetap menatap dalam kedua sorot mata. Wildan.
"Astaga. Apa aku sudah benar-benar tidak waras. Bisa-bisa nya aku menghayal jika pak Wildan mengatakan hal itu. Dasar Nadia" Batinnya
"Dokter Nadia" Panggilnya lagi
Mendengar suara itu lagi membuat Nadia tersadar"Maaf pak. Apa yang pal Wildan katakan tadi?" Tanya Nadia yang baru saja tersadar dari lamunannya.
"Apa dokter Nadia benar-benar tidak fokus. Lebih baik aku mengatakan nya lagi lain waktu saja, Sepertinya ini memang bukan waktu yang tepat" Wildan bermonolog dalam batinnya
"Oooh itu, Tadi saya menanyakan perihal mama" Bohongnya
•
•
•
Tanpa terasa jam terus berputar dan terasa begitu cepat. Hari sudah sore, Chandra dan Andara baru saja tiba di apartemen milik Chandra yang ada di jakarta.
Karna sudah terlalu sore, Chandra memutuskan untuk istirahat terlebih dahulu, Kalau soal ke tempat orang tuanya Hana dia memutuskan untuk pergi besok pagi.
Chandra membawa Andara masuk ke dalam Apartemen itu, Tiba-tiba saja Andara kembali merasa kepalanya pusing saat melewati setiap koridor di sana.
Tempat itu seperti tidak asing untuknya, Andara melihat ada bayangan yang tiba-tiba saja muncul dalam ingatannya.
Sebuah bayangan indah yang pernah dia rasakan di masa lalu."Tempat ini" Ujar nya sambil memegang kepalanya yang sudah semakin pusing.
Chandra yang melihat itu mendekat lalu membantu memegang tubuh Andara yang sudah terlihat sedikit oleng.
"Kamu kenapa Dara?" Tanya Chandra panik
"Tempat ini seperti tidak asing buat saya pak. Saya seperti mengingat pernah ada di tempat ini sebelumnya" Ucapnya sambil terus mencoba mengingat apa yang terlintas dalam ingatannya
"Sudah, Jangan terlalu dipaksakan. Semakin kamu memaksa, Maka kamu akan semakin merasakan sakit Dara" Ucap Chandra lembut
Andara tak menjawab. Wanita itu tiba-tiba saja mengingat sosok Raiden. yang menurut informasi yang Andara dapat, Dia adalah mantan suaminya.
"Apa dia benar-benar mantan suamiku yang sangat mencintaiku. Kenapa di bayangan itu, Terlihat jelas jika pria itu memperlakukan aku dengan sangat lemah lembut." Ucap Andara dalam batinnya
__ADS_1
"Lebih baik kita masuk sekarang ya"Ucap Chandra Pelan.
Namun langkah Chandra dan Andara terhenti saat mereka mendengar suara bising seperti orang yang sedang berdebat jalan ke arah mereka.
"Kenapa suara itu tidak asing, Kenapa aku merasa pernah mendengarnya. Tapi siapa ya?" Chandra bermonolog saat mendengar suara yang tidak asing pada indra pendengarannya.
Suara itu semakin dekat, Chandra memperlambat langkahnya karna begitu penasaran dengan orang pemilik suara, Betapa terkejutnya Chandra saat sudah membalikkan tubuhnya.
Begitupun dengan orang pemilik suara, Dia tidak lagi berbicara panjang lebar mengumpat Raiden yang tadi membawa mobilnya sangat cepat hingga membuat Hana mabuk perjalanan.
"Apa aku sedang bermimpi?" Ucap Hana sambil terus menatap Chandra penuh kerinduan
"Kenapa kau berhenti mengunpati ku. Apa sudah lelah?" Tanya Raiden yang menyadari perubahan Hana
"Aku tidak sedang bermimpi kan Rai?" Ucap Hana lagi yang bisa dengan jelas di dengar oleh Chandra.
"Mimpi bagaimana, Kamu saja belum tidur. Dasar wanita aneh" Cibir Raiden.
Kemudian saat Raiden baru menyadari pria yang saat ini sedang menatap Hana langsung tersadar jika dia adalah pria yang pergi bersama dengan Andara pagi tadi.
Chandra masih terdiam di tempat sambil terus menatap Hana begitu dalam. Kemudian saat sudah memastikan jika Andara baik-baik saja, Chandra mendekat ke arah Hana yang juga masih terdiam membeku.
Saat melihat Chandra. Kaki Hana terasa sangat sulit untuk sekedar melangkah.
"Hana, Kamu Hana istriku kan. Ini bukan mimpi kan?" Ucap Chandra yang terdengar begitu lirih sambil mendekat ke arah Hana.
"Mas Chandra" Ucap Hana sambil terus mencoba membawa langkah kaki beratnya menuju Chandra yang juga sedang berjalan ke arahnya.
"Hana" Pekik Chandra dan langsung memeluk sosok wanita yang selama ini Chandra rindukan.
Biarpun dulu Hana sangatlah dingin, Tapi terkadang sikapnya lebih hangat dari pada sikap Chandra.
"Ini bukan mimpi kan mas? Ini beneran kamu kan? Sudah satu tahun aku selalu berusaha untuk menemui mu mas, Tapi mereka selalu membuat ku gagal akan hal itu.
Mendengar perkataan Hana membuat Chandra melepaskan pelukannya. Chandra menjadi sangat penasaran dengan siapa yang Hana sebut mereka.
"Ini bukan mimpi sayang. Ini adalah nyata, Ternyata kamu benar-benar masih hidup"
"Iya mas, Aku masih hidup. Kejadian itu sudah membuat kita terpisah sangat lama. Dan semua itu karna dia"
Chandra semakin bingung dengan apa yang sedang Hana katakan. Mereka? Dia?. Hal itu menjadi pertanyaan terbesar yang terbesit dalam benak Chandra.
"Tunggu. Kenapa sejak tadi kamu hanya mengatakan mereka dan Dia. Siapa yang kamu maksud sayang?"
"Kak Felix" Ucap Hana sambil menatap Chandra.
"Apa maksud kamu sayang, Aku bener-benar tidak paham'
"Kak Felix yang sudah menyebabkan rumah sakit itu terbakar mas. Dia tidak mau aku mengatakan pada mu jika kak Felix lah yang selama ini yang selalu korupsi di perusahaan kamu mas"
"Apa!!! Tapi itu tidak mungkin Hana. Aku kenal betul bagaimana kak Felix"
"Terserah kalau pun kamu tidak mau percaya terhadap apa yang aku katakan mas. Tapi itu memang yang sebenarnya"
Ucapan Hana berhasil membuat Chandra terdiam, Antara percaya atau tidak. Chandra di buat bingung untuk hal ini.
Sedangkan Raiden menatap Andara begitu dalam sambil mendekat ke arah wanita itu. "Apakah kamu mengingat tentang tempat ini Dar. Tempat ini menyimpan begitu banyak kenangan manis kita berdua" Ucap Raiden sambil terus menatap Andara
"A....aku" ?lll
__ADS_1
?