RAHIM BAYARAN DUDA MAFIA

RAHIM BAYARAN DUDA MAFIA
BAB 23. MEMILIH PAKAIAN PENGANTIN


__ADS_3

Bety dan Tisa masuk ke kamar Seyna dengan mengendap-ngendap, agar tidak ada yang melihat mereka, tapi sayang, Aira melihat mereka saat menutup pintu.


Lalu Aira pun bergegas untuk memberitahu Bi Luna bahwa kedua biang kerok itu masuk ke kamar Seyna.


Bi Luna pun bergegas naik, dia ingin tahu, apa yang akan Bety dan Tisa lakukan terhadap Seyna.


Seyna terkejut saat membuka mata, kedua pelayan itu sudah memegang kain, siap ingin membekapnya.


"Kalian mau ngapain?" teriak Seyna.


"Pergi! Aku tidak pernah mengganggu, kenapa kalian selalu ingin membuatku celaka!" teriak Seyna lagi.


"Diam! atau aku akan menutup mulutmu hingga kau tidak akan bisa ngomong selamanya!" ancam Bety.


"Kau tahu salah apa dengan kamu?" tanya Tisa.


"Aku tidak pernah melakukan apapun terhadap kalian!" ucap Seyna.


"Kamu ceritakan kepada siapa perlakuan kami kemaren hah! Dan siapa yang mengotori selimut kami. Pasti suruhan kalian bukan!" bentak Tisa.


"Mana kami tahu! Aku dan kakak, saat itu berada di rumah sakit," ucap Seyna.


"Omong kosong! Kalian bisa saja membayar orang lain untuk melakukannya!" ucap Bety.


"Sekarang terima pembalasan dari kami," ucap Tisa yang mau membekapkan bantal ke mulut Seyna.


Seyna berusaha melawan dengan mendorong Tisa, tapi tenaganya yang lemah tidak bisa menahan paksakan dari Tisa.


Selimut itupun sudah membungkam mulut Muti hingga dia kewalahan bernapas. Hal itu bertepatan dengan masuknya Bi Luna di kamar itu.


"Hentikan! Apa yang kalian lakukan!"


Bety dan Tisa terkejut lalu selimut yang mereka pegangpun jatuh menutupi wajah Seyna.


"Kalian mau jadi pembunuh ya, kalau begitu kalian tidak pantas bekerja di sini lagi. Pergi sekarang juga atau Tuan yang akan mengusir kalian!" ucap Bi Luna marah.


"Tolong Bi, izinkan kami tetap di sini. Kami mohon, jangan usir kami, dimana lagi kami akan bekerja dengan gaji yang besar seperti di sini yang bisa mencukupi kebutuhan keluarga kami Bi!" ucap Bety.

__ADS_1


"Makanya jangan membuat ulah, jika tidak ingin aku tendang dari sini," ucap Bi Luna yang memang sangat marah.


"Tolonglah Bi, bagaimana nanti nasib anak-anak kami jika kami di pecat," ucap Bety dan Luna bersamaan.


"Bi, tolong jangan pecat mereka, kasihan anak-anak mereka Bi," pinta Seyna.


"Kenapa kamu malah membela mereka Non, bukankah mereka sudah berniat ingin membunuhmu?" tanya Bi Luna.


"Bi, walau tidak di bunuh oleh mereka, aku tetap akan mati. Hidupku tidak akan lama lagi Bi, hanya tinggal menunggu waktu giliranku tiba," ucap Seyna.


"Hush, nggak boleh ngomong gitu Non!"


"Coba kalian lihat! Apa kalian tidak merasa malu hah! Non Seyna memaafkan kalian?"


Kedua pelayan itu pun mendekati Seyna, mereka meminta maaf karena telah berbuat kasar terhadapnya.


Seyna tidak pernah dendam, dia lalu berkata, "Aku tidak mau punya musuh di sini. Aku hanya ingin punya teman-teman yang baik, sebelum ajal menjemputku."


"Sekarang kembali kerjakan pekerjaan kalian, sebelum Tuan pulang dan melihat dan mendengar perbuatan kalian!"


"Iya Bi," jawab keduanya.


Sementara Damar yang sudah sampai di butik, memutuskan untuk tidak turun dulu dari dalam mobilnya, karena Nayla masih tidur dengan bersandar di bahunya.


Pak Sopir pun tidak berani bersuara, saat melihat Damar memberi kode untuk diam dengan menutup mulutnya dengan jari telunjuk.


Sekitar setengah jam mereka hanya di dalam mobil, menunggu Nayla bangun. Karena gerakan kecil dari Damar yang merasa pundaknya kebas, Nayla pun terbangun.


Nayla mengerjapkan mata, lalu dia terkejut dan menggeser tubuhnya menjauh dari Damar, "Maafkan aku Tuan, maaf jika lancang bersandar ke bahu Anda!" ucap Nayla yang takut Adam marah.


"Hemm, ayo kita turun! Waktu kita tidak banyak lagi di sini, masih banyak yang harus aku urus!" ajak Damar.


Damar dan Nayla segera turun, lalu masuk ke dalam butik. Pelayan butik segera menanyakan apa yang mereka butuhkan.


Damar meminta mereka menyiapkan gaun pengantin terbaik untuk Nayla.


Pelayan toko pun mengajak Nayla ke ruang ganti untuk mencoba gaun terbaik yang ada di toko mereka. Kemudian, memakaikan sebuah gaung putih ketat yang membentuk tubuh Nayla, hingga Nayla terlihat sangat seksi.

__ADS_1


Nayla tertunduk saat Damar memperhatikannya dari atas hingga ke bawah. Lalu Damar pun berkata, "Tolong tukar! Aku tidak suka. Baju itu terlalu ketat, tidak pantas untuknya. Aku tidak mau keseksian tubuhnya di nikmati orang lain!"


Nayla senang mendengarnya, dia memang berharap, agar Damar tidak menyukai gaun ketat yang saat ini dia pakai. Nayla malu, pasti pandangan mata kaum laki-laki akan tertuju ke lekuk tubuhnya.


Kemudian pelayan toko membawakan gaun lain yang menurutnya pasti Damar akan suka.


Kini Damar melihat Nayla sangat anggun dalam balutan gaun putih panjang dengan hiasa bordir pada bagian pinggang, lengan serta dada bagian atas yang berwarna gold di tambah pemakaian hijab yang senada.


"Sempurna," ucap Damar.


Kemudian dia berkata lagi, "Aku ambil yang ini dan tolong siapkan gaun lain yang sederhana tapi tetap indah.


Pelayan toko menunjukkan stok mereka kepada Damar, lalu Damar memilih beberapa helai. Nayla yang melihat pilihan Damar merasa bersyukur, ternyata selera Damar sesuai dengan seleranya.


Kini giliran Damar mencoba pakaiannya, diapun meminta pendapat Nayla. Nayla memilihkan beberapa helai kemeja, kaos, batik juga jas dan celana keper.


Ternyata pilihan Nayla langsung di setujui oleh Damar dan dia meminta pelayan untuk mengemasnya.


Damar memesan sepatu serta sendal untuk dirinya juga Nayla. Dan dia juga membelikan untuk Seyna walaupun Arkan sudah mengatur semua keperluan Seyna.


"Bagaimana Nay, apa ada yang kurang?" tanya Damar.


"Nayla menggeleng lalu dia berkata, "Sepertinya sudah semua Tuan."


"Baiklah sekarang kita pulang, bukankah sore ini kamu ada jadwal perawatan tubuh?" tanya Damar.


Nayla mengangguk, dia tidak menyangka jika Damar tahu setiap jadwal kegiatannya. Jangan-jangan Damar juga melihat dari layar CCTV tersembunyi saat dirinya tanpa sehelai benang pun sedang melakukan perawatan dengan uap rebusan rempah-rempah.


"Kenapa kamu malah bengong!" ucap Damar.


"Eh, iya. Ayo kita pulang. Seyna pasti sedang menantiku," ajak Nayla.


Damar membayar jumlah tagihan atas belanjaan mereka barusan. Setelah itu dia pun meminta Nayla untuk naik ke mobil, masalah barang-barang biar menjadi urusan pihak toko dan di bantu oleh pelayan.


Setelah selesai semua urusan, Damar pun pamit dan pak sopir segera melajukan mobilnya kembali ke mansion.


Aira dan Bi Luna menyambut kepulangan Nayla dan Damar, lalu Bi Luna memberitahu Nayla bahwa orang-orang yang akan memberikan perawatan sudah datang.

__ADS_1


Nayla pun di minta Damar untuk bersiap sementara dia sendiri kembali ke kamar untuk beristirahat.


__ADS_2