RAHIM BAYARAN DUDA MAFIA

RAHIM BAYARAN DUDA MAFIA
BAB 89. MENCARI CAROLINA


__ADS_3

"Nay, aku tinggal dulu nggak apa-apa 'kan? Aku sudah tidak sabar ingin memberi wanita-wanita itu pelajaran. Biar mereka tahu, bagaimana menghargai dan menyayangi orang lain. Mereka ibu, tapi kenapa tega mencelakai calon ibu."


"Tapi ingat Mas, redam emosi demi anak kita."


"Iya Nay, kalau tidak sudah aku habisi mereka dari kemaren- kemaren. Aku hanya tidak menyangka, jika dalang dari semua ini adalah wanita ular itu."


"Ya sudah, pergilah Mas. Biar Aira menemaniku di sini."


Damar pun meninggalkan ruangan Nayla, dia melajukan mobilnya dengan kencang.


Tadinya Damar ingin kembali ke rumah menyamperin kedua pembantu reseknya, tapi Damar urungkan, lalu dia putar balik melajukan mobilnya mencari Carolina.


Tapi sayang, sesampainya Damar di sana, rumah itu terlihat sepi, bahkan para penjaga tidak mau mengatakan bos mereka ada di mana saat ini.


Damar memukul stir mobilnya dan pergi dari sana, tapi dia mengurungkan niat lalu putar balik, saat melihat mobil suami Carolina melintas di depannya dan masuk ke pekarangan rumah.


Rendra turun dari mobil, tapi Carolina tidak terlihat sedang bersamanya. Para pengawal mendekat dan mengatakan jika tadi ada tamu laki-laki yang mencari Nyonya mereka.


Rendra mengepalkan tangan, lagi-lagi berhubungan dengan pria. Dia paling tidak suka jika Carolina terlihat bersama pria lain.


"Bagaimana ciri-ciri pria itu?" tanya Rendra.


"Tidak terlalu jelas Bos, dia memakai masker dan topi. Tapi saat kami tanya ada keperluan apa, eh dianya malah pergi."


"Ya sudah, jika dia datang lagi, bilang saja Nyonya sedang keluar negeri."


"Baik Bos."


Rendra pun masuk ke dalam rumahnya dan Damar pun meninggalkan tempat itu. Percuma saja dia masuk, jika tidak ada Carolina di sana.


Damar ingat, Carolina pernah mengatakan ingin balikan dengannya, mungkin ini bisa menjadi jebakan untuk Carolina.


Kemudian Damar melajukan mobilnya menuju cafe di mana dulu dirinya dan Carolina sering nongkrong bersama teman-temannya.


Damar ingin menyelidiki keberadaan Carolina lewat temannya. Barangkali salah satu dari mereka, tahu di mana Carolina sekarang berada.


Sesampainya di sana, Damar langsung masuk dan ternyata ada beberapa teman lamanya sedang minum dan bercengkrama dengan para gadis.


Melihat Damar datang, Bima langsung bangkit dan mengulurkan tangan.


"Apa kabar sobat! Sudah lama sekali kamu tidak kesini. Ada angin apa nih!"


"Ah, rindu saja dengan kalian! Ternyata kalian masih setia nongkrong di tempat ini."


"Ayo duduk, biar aku pesankan minum."

__ADS_1


Kemudian Bima memanggil pelayan dan dia memesankan minuman untuk Damar. Bima masih ingat jika Damar penggemar orange jus.


"Oh ya Mar, aku dengar kamu sudah menikah lagi ya?"


"Darimana kamu tahu Bim?"


"Biasa, mantan kamu!"


"Heemm, ngomong apa dia!"


"Dia mengamuk beberapa hari lalu dan mabuk di sini, dia bilang ingin kembali denganmu. Dia menyesal, dulu meninggalkanmu."


"Lalu, apalagi yang dia katakan?"


"Katanya kamu bodoh, mau saja dibohongi istrimu. Istrimu hamil dengan pria lain, apa benar kamu mandul Mar," bisik Bima.


Damar tertawa mendengar ucapan Bima, dia tidak menyangka Carolina menyebarkan kebohongan lagi tentang rumah tangganya dengan Nayla.


"Lho, kok malah tertawa. Memangnya apa yang dikatakan Carolina tidak benar ya."


"Dia yang bodoh, kenapa malah aku yang di bilang bodoh."


"Aku lebih tahu bagaimana istriku, bahkan dia gadis lugu bukan seperti Carolina yang menjajakan kehormatannya untuk pria lain."


"Oh, tapi benar Mar. Aku lihat dia sangat menyesal, dia masih mencintaimu."


"Kenapa kamu cari dia? kamu mau balikan ya."


"Nggak, cuma ingin tahu saja, seberapa serius dia ingin kembali denganku. Aku ingin menguji Carol, apa benar dia sudah bertobat atau masih bejat."


"Jahat kamu Mar, orang mau berubah malah mau kamu permainkan."


"Bukan jahat, cuma penasaran. Mungkin bisa kupertimbangkan, jika memang benar dia mau berubah."


"Oh gitu. Kamu telepon saja!"


"Aku sudah tidak menyimpan nomor kontaknya lagi."


"Sebentar ya, aku telepone dulu barangkali dia mau mengangkat dan datang kesini."


Bima mencari nomor kontak Carolina, lalu dia mencoba melakukan panggilan. Telepon Carolina berdering, tapi tidak ada jawaban. Beberapa kali Bima ulangi, barulah tersambung.


Terdengar suara serak Carolina dan sepertinya dia sedang menangis.


"Hei Carol, ada apa denganmu, kamu menangis?"

__ADS_1


"Bim, tolong aku. Keluarkan aku dari sini!"


"Tunggu Carol, kamu di mana dan kenapa?"


"Aku di villa suamiku. Aku di kurung di sini, tolong Bim bantu aku. Mumpung suamiku sedang keluar."


"Serius kamu Carol?"


"Untuk apa aku bohong, ini saja keberuntungan ku. Biasanya ponselku dia bawa. Aku sekarang jadi istri pasungan yang tidak boleh keluar kemanapun tanpa dia."


"Kok bisa, biasanya kamu menjadi kesayangan dan bebas kemanapun serta uang juga melimpah?"


"Ceritanya panjang, aku ketahuan melakukan sesuatu yang membuatnya sangat marah."


"Aku tidak ingin punya anak lagi dari dia, tapi dia memaksaku. Kamu tahu kan Bim, aku ingin balik lagi dengan Damar, mana mungkin aku hamil anaknya lagi. Makanya aku pakai kontrasepsi, eh ketahuan. Makanya aku dikurung di sini sampai aku hamil. Tolong ya Bim, bawa dulu aku pergi dari sini, nanti aku ceritakan lebih detail."


"Baiklah, ini Da..." ucapan Bima terhenti karena Damar memberi kode agar jangan mengatakan jika Damar di sana.


"Bim, hallo Bim, Bim...kamu masih di situ?"


"Eh iya Carol."


"Cepat bantu aku, sebelum suamiku datang. Pokoknya apapun nanti yang kamu minta aku turuti, asal aku bisa keluar dari sini."


"Baiklah, katakan alamat villa itu, dan sekarang juga aku kesana."


Carolina mengatakan alamat villa Rendra, lalu dia kembali meminta Bima agar secepatnya datang.


Setelah panggilan terputus, Bima meminta pendapat Damar.


"Biar aku saja yang menjemputnya Bim, dimana tadi alamatnya."


Bima pun mengatakan alamat villa yang tadi Carol berikan, lalu Bima menepuk bahu Damar sambil berkata, "Ingat Mar, kamu sudah punya istri dan akan menjadi ayah, jangan sampai terjebak lagi dengan permainan Carolina."


"Siap Bim, percaya sama aku. Aku hanya ingin memberi dia pelajaran. Ada yang harus aku selesaikan dengan dia."


Kemudian, Damar pun meninggalkan cafe tersebut menuju alamat yang Bimo berikan.


Damar searching lokasi, ternyata membutuhkan waktu satu jam untuk kesana. Dia harus cepat sampai sebelum Rendra kembali.


Dengan kecepatan di atas rata-rata, Damar melajukan mobilnya, dia sudah tidak sabar ingin membalas perbuatan Carolina.


Tapi untuk berjaga-jaga, Damar meminta Dewo dan dua pengawal untuk menyusulnya. Damar pasti membutuhkan bantuan mereka untuk membawa Carol ke mansion.


Setelah satu jam perjalanan, Damar tiba di sana dan dia melihat 3 orang pengawal sedang berjaga-jaga di sana.

__ADS_1


Menghadapi 3 orang, merupakan hal yang mudah bagi Damar. Cukup picing mata dan beberapa kali tendangan, ketiganya terjungkal tidak sadarkan diri.


Damar bergegas, mendobrak pintu villa dan mencari Carolina di setiap kamar yang ada di sana.


__ADS_2