
Seyna gelisah dan mengigau dalam tidurnya, dia bermimpi buruk, sepertinya Seyna trauma dengan penculikan atas dirinya kemaren.
Aira membangunkan Seyna, lalu memberinya segelas air.
"Minumlah Dek, kamu kenapa? Apa kejadian kemaren membuatmu takut dan trauma?" tanya Aira.
"Aku bermimpi Kak, mereka menyakiti Kak Nay, aku tidak mau kak Nayla celaka. Biarlah aku saja, karena hidupku juga tidak bakal lama lagi Kak!"
"Jangan ngomong gitu Dek, kamu harus optimis sembuh, kasihan pengorbanan Nayla. Dan Bos Damar juga sungguh-sungguh mengusahakan pengobatan demi kesembuhanmu. Buktinya sekarang, mendengar kamu diculik, Bos langsung berangkat pulang."
"Tapi, tubuhku terasa makin lemah Kak, lihatlah kulitku mulai menghitam dan tubuhku terasa panas Kak," ucap Seyna.
"Nggak apa-apa Dek, itu memang reaksi obat," ucap Aira yang berusaha menghibur Seyna. Padahal Aira sendiri merasa khawatir dengan keluhan Seyna. Efek buruk kemoterapi mulai dirasakan oleh gadis malang itu.
Kakak istirahatlah, sebentar lagi pagi dan Kak Aira sudah harus bangun menyiapkan keperluan kami.
"Nggak apa-apa Dek, kamu tidurlah, kakak sudah terbiasa."
Pesawat Damar sudah mendarat di bandara pada pukul 5 pagi. Dewo yang sudah diberitahu sebelumnya oleh Arkan, berangkat ke bandara sejak pukul 4 pagi bersama beberapa orang pengawal. Jadi, pada saat Damar tiba, mereka sudah menunggunya di pintu kedatangan.
"Selamat pulang kembali Tuan," sapa Dewo.
"Heemm, apakah kalian sudah sejak tadi menungguku?" tanya Damar.
"Tidak Tuan, kami juga baru sampai. Ayo silahkan naik Tuan," ucap Dewo sembari memasukkan koper Damar ke dalam bagasi mobil.
"Bagaimana kabar Seyna, apa kalian belum menemukannya juga?"
"Sudah Tuan! Tadi malam kami berhasil menyelamatkan Nyonya dan Nona Seyna."
"Apa! Jadi, istri saya juga di culik Wo?"
"Maaf Tuan, Kami tidak bisa memberi kabar karena Tuan sedang berada di atas pesawat."
"Kemaren, Nyonya nekat pergi sendiri untuk menemui sang penculik, hampir saja kami kehilangan jejak Nyonya. Dan Untung saja, Arkan memberitahu jika ada alat penyadap yang Tuan pasang pada liontin yang Nyonya pakai dan Arkan mengizinkan Saya untuk masuk ke ruang kerja Tuan guna melacak keberadaan nyonya dari sana."
"Oh, syukurlah. Jadi, bagaimana keadaan Nyonya sekarang?"
"Nyonya berhasil kami selamatkan Tuan, dengan bantuan sopir taksi online yang mengantar Nyonya ke tempat penyekapan Seyna. Sekali lagi maafkan atas kelalaian Saya Tuan. Saya siap di hukum."
"Aku sebenarnya tidak suka jika anggota ku lalai, dunia bisnis yang ku geluti kejam Wo, jadi bisa saja musuh-musuh ku mengancam keselamatan keluarga ku."
__ADS_1
"Bekerja lah lebih hati-hati, karena nyawa kalian jadi taruhannya, jika sampai terjadi apa-apa dengan keluargaku."
"Siap Tuan! Terimakasih, Tuan mau memaafkan Saya."
"Sudah kamu perketat penjagaan mansion?"
"Sudah Tuan dan Saya meminta Nyonya dan Nona jangan keluar tanpa memberitahu kami."
"Bagus! Oh ya, bagaimana dengan penculiknya? Apa mereka berhasil kalian tangkap?"
"Tidak Tuan, yang ada di sana hanya pengawalnya saja. Dua orang kami lenyapkan dan satu lagi berhasil kami lumpuhkan dan sekarang kami sekap di tempat penyekapan ruang bawah tanah yang ada di mansion Tuan."
"Apakah dia tidak mau mengaku?"
"Tidak Tuan, dia setia dan memilih terus bungkam, padahal kami sudah menyiksanya."
"Aku ingin lihat, seberapa setia dia dengan Tuannya daripada nyawanya sendiri."
"Iya Tuan. Kami tidak berani melenyapkannya sebelum Tuan tiba. Barangkali, dia akan menyerah saat Tuan yang mendesaknya."
"Heemm, kita lihat saja nanti, apa dia memilih tetap bungkam atau memilih mati di cabik-cabik Marissa."
"Maaf Tuan, siapa itu Marissa?" tanya Dewo heran.
Dewo menggeleng, "Apakah Marissa itu seorang wanita pemakan daging manusia Tuan?"
"Dia pengawal setiaku sebelum Arkan."
Dewo semakin bingung, tapi dia tidak berani bertanya lagi. Bosnya ini belum mau menceritakan siapa sebenarnya Marissa, jadi Dewo memilih diam dan membiarkan Damar memejamkan matanya.
Rasa kantuk membuat Damar tertidur sambil bersandar dan Dewo fokus dengan memperhatikan kondisi jalanan yang mulai ramai dengan lalu lalang kenderaan para pekerja.
Nayla sudah bersiap menyambut kepulangan sang suami, dia berdandan lebih cantik ketimbang biasanya hingga membuat Aira dan Seyna saling pandang lalu tersenyum.
"Hei, kalian kenapa? Memangnya ada yang aneh ya dengan wajahku! Apa dandananku terlalu norak?" tanya Nayla.
Keduanya bukan menjawab, malah tawa mereka pecah hingga membuat Nayla makin penasaran.
"Ayo Dek, beritahu kakak! Memangnya ada apa di wajah Kakak?" tanya Nayla lagi sambil mengusap-usap wajahnya.
"Ada deh, mau kakak hapus seratus kali pun masih tetap terlihat," ucap Seyna.
__ADS_1
Nayla yang merasa penasaran, berjalan ke arah cermin dan berdiri di sana, lalu dia memperhatikan wajahnya, tapi Nayla tidak melihat ada yang aneh.
"Kalian menggoda aku ya!" ucap Nayla sembari menggelitik adik dan sahabatnya itu."
"Ampun Kak! Geli, sudah Kak," pinta Seyna yang tidak tahan dengan gelitikan sang kakak.
Sementara Aira berlari menghindar saat Nayla mendesaknya untuk mengatakan apa yang mereka tertawakan.
Akhirnya, Aira pun menjawab, "Yang tidak bisa hilang dari wajahmu adalah pancaran kebahagiaan seorang istri yang merindukan kehadiran sang pangerannya."
"Kalian...dasar! Awas ya, sudah berani ngerjain aku!" ucap Nayla malu.
Keduanya pun kembali tertawa dan mereka tidak menyadari jika seseorang tengah berdiri di depan pintu yang sedikit terbuka dan mendengar candaan mereka.
Orang tersebut adalah Damar yang baru saja tiba. Dia senang melihat keceriaan di mansion miliknya. Setelah kedatangan Nayla dan Seyna hidupnya kini mulai kembali berwarna.
Senyum mengembang di wajah Damar, dia tidak ingin merusak tawa ketiga wanita di kamar itu. Damar memutuskan untuk kembali ke kamarnya untuk mandi.
Di bawah tangga, Damar melihat kedua pembantunya sedang celingukan, lalu tertunduk saat melihat kehadirannya di sana, "Kalian ngapain di sini! Kembali kerja. Ingat! jangan ganggu kebahagiaan mereka," ucap Damar.
"Eh, iya Tuan," jawab Betty.
Kemudian keduanya buru-buru pergi, menuju dapur. Damar menggelengkan kepala melihat ulah dan tingkah keduanya.
Sebenarnya Damar bisa saja memecat Betty dan Tisya demi kenyamanan di mansionnya. Tapi dia tahu kedua pembantunya itu masih membutuhkan pekerjaan, karena mereka menanggung beban keluarga di kampung.
Damar masuk ke kamarnya, lalu dia menyambar handuk dan baju mandi dan bergegas melakukan ritual mandi.
Untuk beberapa saat, Damar merendam dirinya di bathtub dengan air hangat yang sudah dia tetesi dengan minyak aromaterapi lavender kesukaannya.
Setelah selesai, Damar mengeringkan rambut, lalu merebahkan dirinya di kasur untuk beristirahat sejenak sembari menunggu dan memberi kejutan kepada Nayla.
Nayla yang belum menyadari kepulangan sang suami, masih saja ngobrol dan bercanda dengan Seyna dan Aira.
Ketika Nayla melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 9 pagi, barulah dia tersadar dan merasa khawatir. Kenapa Damar telat sampai di mansion, padahal menurut jadwal penerbangan, seharusnya pukul 8 pagi tadi, suaminya itu sudah tiba di rumah.
Nayla pamit kepada Seyna dan Aira untuk kembali ke kamar mengambil ponselnya yang tertinggal karena dia ingin menelepon Damar.
Bersambung.....
Mampir yuk sobat ke karya baruku dan jangan lupa ya tinggalkan jejak, agar aku tetap semangat 🙏😘
__ADS_1