
Arkan membuka mata, sayup-sayup dia mendengar suara isak tangis. Aira yang melihat sang kakak sadar, segera menghambur ke dalam pelukannya.
"Hiks...hiks...hiks."
"Hei, kenapa kamu menangis Dek? Abang tidak apa-apa kok! Sebentar lagi juga sembuh, benarkan Dok?"
"Iya, Nona. Kondisi Abang kamu sudah stabil, hanya tinggal pemulihan saja."
"Kamu berat lho, kamu bukan anak kecil lagi, sesak nafas Abang kamu peluk seperti ini!" ucap Arkan.
Aira pun malu, lalu dia melepaskan pelukannya dan berkata, "Aku tidak mau kehilangan Abang, cuma Abang yang aku punya. Aku lebih baik mati saja jika Abang pergi meninggalkan ku sendirian di dunia ini!" ucap Aira.
"Hush, jangan ngawur! Hidup harus tetap berjalan meski orang-orang yang kita cintai pergi meninggalkan kita satu persatu. Itu takdir, kodrat kehidupan yang pasti terjadi di dunia ini," ucap Arkan.
"Makanya, Abang ingin melihatmu menikah dan memiliki anak. Jadi, jika tiba saatnya Abang harus pergi, kamu masih memiliki orang-orang yang menyayangimu."
"Jangan khawatir Ai, Bang Arkan, kami semua keluarga kalian. Kalian tidak sendiri di dunia ini," ucap Nayla.
"Bang Arkan malah memintaku menikah, seharusnya Abang duluan kan Nya!" ucap Aira.
"Kalau bisa kalian berdua sama-sama menikah!" ucap Nayla.
__ADS_1
"Aduh Nya, tidak akan ada yang mau dengan pria dingin dan buruk seperti ku!" ucap Arkan.
"Jika ada yang mau bagaimana? Apakah Abang mau?"
"Ya, jika memang wanita itu mau menerimaku apa adanya, aku pun bersedia menikah dengannya."
"Bagaimana jika wanita itu adikku Bang?"
"Nyonya jangan bercanda, mana mungkin Nona Seyna mau dengan Saya," ucap Arkan.
"Jika dia mau bagaimana Kan? Apa kamu tidak keberatan mempunyai istri yang memiliki penyakit?" tanya Damar.
"Jika Nona Seyna tidak keberatan menerima keadaanku, aku pun bersedia Bos," ucap Arkan.
"Iya Nya, aku ikhlas."
"Terimakasih Bang. Aku hanya ingin melihat Seyna bahagia Bang. Abang tahu kan bagaimana kondisinya dan apa yang dokter prediksi tentang kondisi penyakitnya?"
"Tahu Nya, aku akan sangat senang jika bisa membuat Seyna bahagia di sisa usianya. Aku janji Nya, akan menjaga dan menyayangi Seyna seperti menjaga nyawaku sendiri," ucap Arkan.
Nayla menangis, dia tidak menyangka masih ada orang yang mau menikahi sang adik yang vonis usianya tidak akan lama lagi.
__ADS_1
"Aku ikut bahagia Bang, Seyna gadis baik, jadi dia pantas bahagia," ucap Aira.
"Apakah boleh aku membicarakan hal ini sendiri kepada Nona Seyna Nya?" tanya Arkan.
"Itu akan lebih baik Kan, kalau kami yang berbicara kesannya kami memaksamu untuk menikahinya," jawab Damar.
"Baiklah Bos, setelah aku pulih, aku akan mengajukan lamaran langsung kepada Seyna. Yang penting saat ini, aku sudah mendapatkan izin dari Bos dan Nyonya," ucap Arkan lagi.
"Kalau kalian mau mengadakan resepsi dan honeymoon, biaya aku yang tanggung semua Kan, sebagai hadiah buat kalian!" ucap Damar.
"Jika menurutku kami lebih baik menikah sederhana saja Bos, aku tidak ingin Nona kelelahan. Tapi jika honeymoon, mungkin akan lebih baik untuk kesehatan Nona, meski hanya di tempat terdekat saja. Tapi nanti hal ini bisa aku bicarakan dengan Nona Seyna dulu."
"Mudah-mudahan Nona tidak menolakku ya Bos!" ucap Arkan.
"Kamu tenang saja, aku akan membantu mewujudkan niatmu Kan. Aku senang jika kalian memang benar menikah," ucap Damar.
"Bagaimana jika kita siapkan kursi roda saja untuk Abang, agar bisa secepatnya Abang menemui Nona Seyna. Aku rasa, makin cepat, semakin baik," ucap Aira.
"Kamu benar Ai. Jika memang Bos dan Nyonya tidak keberatan, aku setuju saja."
"Baiklah kalau begitu Bang. Nanti aku akan meminta tolong Dewo untuk membelikan kursi roda buat Abang," ucap Nayla.
__ADS_1
Akhirnya mereka sepakat ingin secepatnya menyatukan Arkan dan Seyna dalam ikatan pernikahan.
Apakah Seyna akan setuju? ikuti terus yuk kelanjutannya....