RAHIM BAYARAN DUDA MAFIA

RAHIM BAYARAN DUDA MAFIA
BAB 39. MENDAPATKAN PETUNJUK


__ADS_3

Nayla mengelilingi setiap lorong hingga ke taman rumah sakit, tapi dia tidak menemukan Seyna. Lalu, dia duduk di bangku yang ada di taman sambil menangis. Nayla, teringat almarhum kedua orangtuanya. Dia merasa bersalah karena melalaikan janji untuk menjaga adiknya.


Aira mendekati Nayla, lalu diapun duduk dan memberikan sapu tangan untuk Nyonya sekaligus sahabatnya itu.


"Hapuslah air matamu Nay, apa tidak sebaiknya kita beritahu Abang dan Tuan Damar?" tanya Aira.


"Jangan dulu Ai, kita tunggu instruksi dari Dewo. Aku tidak mau Dewo kena masalah karena Abang dan suamiku pasti bakal memberikan hukuman untuk kelalaian para bawahannya."


"Iya Nay. Tugas tetap tugas, tidak pandang meski itu sahabat. Jadi jika melakukan kesalahan tetap harus bertanggungjawab."


"Dewo sudah sangat baik terhadap ku, aku tidak mau dia sampai di hukum karena kelalaian yang tidak dia sengaja. Ibunya sedang sakit, tentu saja membuat dia khawatir."


"Ayo kita cari lagi sambil menunggu Dewo datang," ajak Nayla.


Saat Nayla hendak bangkit, ponselnya berdering, lalu dia melihat nomor tak dikenal yang sedang memanggilnya.


"Angkat saja Nay, barangkali dari si penculik meminta tebusan barangkali," ucap Aira.


"Iya, tapi aku takut Ai."


"Aku akan rekam percakapan kalian, jadi jangan takut. Kita pasti akan menemukan Seyna."


Nayla pun mengangguk, lalu dia mengklik tanda menerima panggilan.


"Kalau kau ingin adikmu selamat, datang ke alamat yang aku kirimkan nanti, ingat! jangan membawa siapapun jika tidak ingin nyawa adikmu melayang!"


Belum sempat Nayla menjawab, panggilan pun terputus.


"Bagaimana ini Ai, ternyata itu telepone dari si penculik."


"Kamu beritahu Dewo, kita jangan gegabah karena nyawa Seyna taruhannya," ucap Aira.


"Kenapa dia menginginkan aku ya Ai, bukan meminta tebusan. Memangnya aku ini siapa, hanya orang miskin yang tidak memiliki harta dan orangtua lagi. Mereka dendam apa sama aku, padahal aku merasa tidak pernah menyakiti siapapun," ucap Elena.


"Ingat Nay, kamu sekarang istri pengusaha, jadi bukan orang miskin lagi. Barangkali dengan menyanderamu, mereka bisa mendapatkan lebih banyak lagi dari Tuan. Atau bisa jadi, mereka adalah musuh Tuan, yang ingin menjebaknya melalui dirimu."

__ADS_1


"Ayo kita kembali ke ruangan Seyna, barangkali Dewo sudah sampai."


Nayla dan Aira pun bergegas menuju ruang rawat Seyna, mereka berharap akan segera mendapatkan titik terang dari penculikan Seyna.


Sesampainya di sana, pengawal sedang berkumpul, Dewo membutuhkan penjelasan dari para pengawal, bagaimana penculikan Seyna bisa terjadi, sementara dirinya sebelum pergi sudah memperketat penjagaan.


Nayla dan Aira yang baru tiba, langsung mendekati Dewo, lalu berkata, "Wo, penculik Seyna sudah menghubungiku, dia ingin aku kesana sendiri jika ingin adikku selamat."


"Benarkah Nya, lalu berapa banyak tebusan yang mereka minta?" tanya Dewo.


"Tidak sepeserpun!" jawab Nayla.


"Aneh! Jadi apa sebenarnya motif penculikan ini. Apakah mereka musuh Tuan? Kalau musuh Nyonya, aku nggak yakin. Setahuku Nyonya Nayla, tidak pernah memiliki musuh bahkan orang-orang di pasar sangat menyayangi Nyonya," ucap Dewo yang sedang mengingat-ingat , saat mereka sama bekerja di pasar.


"Bisa aku lihat nomor telepon si penculik Nya!"


"Ini lihat dulu rekaman telepon dari si penculik Wo," ucap Aira sembari menyerahkan ponselnya.


Dewo mengambil ponsel dari tangan Aira, lalu dia mulai memutar rekaman tersebut. Masih penasaran, dia terus mengulangnya.


Nayla kemudian memeriksa ponselnya, ternyata belum ada pesan apapun.


"Belum ada pesan masuk dari siapapun. Sampai kapan kita harus seperti ini, aku takut si penculik menyakiti Seyna."


"Kita harus tenang, kalau memang dia menginginkan Nyonya, pasti penculik tidak akan menyakiti Seyna."


Sementara di mansion, Bi Luna merasa khawatir, karena sampai sore hari, Nayla dan Seyna yang dikabarkan akan pulang dari rumah sakit, belum juga sampai. Kemudian beliau pun memutuskan untuk menelepon Aira.


Aira yang mendengar ponsel di dalam saku berdering, buru-buru mengeluarkannya, dia takut sang Abang yang sedang menelepon. Saat melihat panggilan tersebut dari Bi Luna, Aira pun memandang ke arah Nayla dan Dewo, "Bi Luna menelepon! Bagaimana ini, apakah kita harus mengatakan jika Seyna menghilang atau kepulangan di tunda."


"Katakan saja yang sebenarnya Ai, cepat atau lambat Tuan dan Arkan pasti akan tahu, aku harus menanggung resiko karena ini memang kesalahan ku," ucap Dewo.


"Tapi Wo...!" ucap Nayla.


"Nggak apa-apa Nya, akan jauh lebih baik jika Tuan tahu langsung dariku ketimbang dari orang lain. Aku akan menelepon Arkan sekarang juga dan kamu Ai, jujur saja kepada Bi Luna," pinta Dewo.

__ADS_1


Kemudian Dewo menelepon Arkan untuk menjelaskan yang terjadi terhadap Seyna, dia tidak mau Arkan dan Bosnya tahu kabar itu nantinya dari Bi Luna.


Saat panggilannya tersambung, Dewo langsung berkata, "Arkan, aku minta maaf."


"Ada apa Wo! Kenapa kamu meminta maaf, memangnya apa yang sedang terjadi di sana?" tanya Arkan penasaran.


"Nona Seyna di culik!"


"Apa! Bagaimana kamu bisa melakukan kesalahan itu Wo, aku telah mengingatkanmu untuk memperketat penjagaan, kenapa hal ini bisa sampai terjadi!"


"Aku salah Kan, aku bersedia untuk menanggung hukuman," ucap Dewo.


Kemudian Dewo pun menjelaskan semuanya, dia merasa menyesal dan pasrah dengan apa yang bakal Arkan dan Damar lakukan sebagai konsekuensi atas kelalaiannya.


"Sekarang tetap pantau ponsel Nyonya, barangkali ada pesan masuk, aku akan cerita dulu kepada Bos, barangkali Bos punya solusi lain agar bisa menemukan Nona Seyna."


"Baiklah Kan, aku tunggu kabar darimu, sementara ini aku dan yang lain akan minta tolong pihak rumah sakit untuk cek CCTV sambil menunggu kabar dari si penculik," ucap Dewo.


"Semoga segera ada titik terang Wo, karena Bos pasti tidak akan suka mendengar kabar ini!" ucap Arkan.


Dewo pun mematikan panggilan, lalu dia meminta pengawal tetap menjaga keamanan Nayla, sementara dirinya akan menemui security untuk membawanya menemui pimpinan rumah sakit.


Security dan Dewo bergegas menuju ruangan pimpinan, lalu Dewo menceritakan semua yang terjadi. Pimpinan pun mengizinkan Dewo untuk melihat rekaman CCTV di sekitar lorong menuju ruangan VIP tempat Seyna di rawat.


Pihak pengawas ruang CCTV memutar ulang rekaman dan benar saja, mereka menemukan seorang wanita sedang ngobrol dengan perawat jaga, tapi wajah wanita itu tidak jelas karena mengenakan masker dan juga topi.


Pihak rumah sakit pun segera mengajak Dewo untuk menemui perawat yang tadi bertugas dan ternyata dia sudah tidak ada di ruangan tugasnya.


Menurut perawat yang lain, perawat jaga itu belum lama permisi pulang dengan alasan sakit perut.


Kemudian Dewo meminta data dan alamat perawat tersebut, dia dan pengawal yang lain ingin mencari serta menyelidiki, siapa tahu perawat itu memang terlibat persekongkolan dengan si penculik.


Bersambung.....


Selamat siang menjelang sore sobat, hari ini aku bawa rekomendasi karya sahabatku, mampir yuk dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dalam karya kami ya, biar kami semangat berkarya. Terimakasih 🙏😘

__ADS_1



__ADS_2