
"Papa mau makan apa?"
"Ayam pecak, kita makan di tempatnya saja ya," pinta Richard.
"Terserah Papa, kami ngikut saja."
Dewo mengantar Tuannya hingga di sebuah lesehan yang menjual menu ayam pecak.
Kedua Bosnya sudah turun, lalu Dewo menyusul masuk ke dalam.
Pengunjung cafe tersebut sangat ramai, hingga mereka mendapatkan kursi di bagian pojok yang rada tertutup meja yang lain.
Sang Papa sebenarnya tidak mau makan di sana karena melihat situasi cafe, tapi Radit mengatakan di situ makananannya sangat enak, makanya Richard mau tidak mau menuruti Radit.
"Ayo di makan Pa! Papa pasti suka. Aku juga sudah pesan buat di bawa pulang. Nayla sangat suka makanan di sini. Bahkan pernah tengah malam dia ngidam masakan cafe ini."
"Jadi, tidak kamu turuti! Kasihan calon cucu Papa. Awas saja kalau dia lahir dan ileran, kamu yang salah. Hal sepele saja tidak bisa kamu turuti!" ucap Richard.
"Sudah lho Pa, malam itu juga aku ajak Nayla kesini. Padahal mereka sudah tutup, tapi saat kami gedor dan mohon, akhirnya koki yang menginap di sini bersedia memasakkan menu yang Nayla minta."
"Nah gitu, itu belum seberapa perjuanganmu demi menjadi seorang Ayah."
"Iya, Papa benar. Aku takut membayangkan perjuangan Nayla nanti saat dirinya melahirkan."
"Nyawa taruhannya."
"Iya, aku berjanji Pa, tidak akan menyia-nyiakan Nayla dan anak kami."
"Harus! Papa saja tidak mau menyia-nyiakan kamu."
"Terimakasih Pa, Papa telah memperlakukan aku layaknya anak kandung Papa."
"Hemm, awas jika kamu sampai menyakiti menantu."
"Siap Pa! Papa boleh pegang janjiku."
"Ayo kita makan, Papa sangat lapar! Kamu Wo, buruan duduk! mau sampai kapan kamu berdiri di sana. Cafe ini akan tetap ramai sampai tutup. Sini duduk dekat kami!" pinta Richard.
Dewo segan, bangku yang kosong hanya tinggal satu dan dia harus makan bareng dengan para Bos.
Namun, karena Richard dan Damar memaksa, akhirnya Dewo menyerah dan bergabung untuk menikmati makanan.
"Kamu kapan mau menikah! Jangan lama-lama, dunia sudah tua, nanti kamu nggak kebagian bahagia karena keburu kiamat," ucap Richard kepada Dewo di sela makannya.
Dewo terbatuk dan tersedak, lalu Richard mengulurkan minuman.
__ADS_1
"Kenapa? Belum ada jodohnya? Jika belum ada, nanti aku carikan. Para putri sahabatku banyak yang belum menikah dan mereka cantik-cantik."
"Sudah ada jodoh Saya Tuan."
"Minggu depan aku melamarkan gadis itu untuknya Pa!"
Mendengar ucapan Damar, Dewo terperanjat, dia tidak menyangka Bosnya seserius itu menanggapi hubungannya dengan Aira.
"Oh, syukurlah. Wanita itu baik 'kan?
"Iya Tuan, dia baik."
"Bagus! Ayo, cepat habiskan makananmu, kasihan menantuku, kelamaan menunggu Damar."
"Papa sih, tolong jangan pergi diam-diam lagi Pa. Aku kan jadi khawatir."
"Kamu tenang saja, aku bisa menjaga diriku sendiri!"
"Damar tidak mau berdebat lagi, lalu dia buru-buru menghabiskan makanan. Setelah itu dia memanggil pelayan untuk membawakan bill tagihan atas makanan mereka."
Pelayan pun datang membawa bill tersebut beserta sebungkus makanan yang Damar pesan untuk Nayla.
Nayla menanti kepulangan Damar dengan harap cemas, dia takut jika terjadi hal buruk terhadap Papa juga suaminya.
Kemudian Nayla turun ke bawah, mencari Bi Luna. Nayla ingin Bi Luna menemaninya ngobrol sampai Damar tiba.
"Bi, tolong temani aku ngobrol! Aku tidak bisa tidur. Aku cemas, kenapa Mas Damar dan Papa belum juga pulang?"
"Tenang Non, sebentar lagi pasti pulang. Jika ada masalah pasti Tuan menghubungi kita. Minimal meminta para pengawal untuk membantu mereka."
"Mudah-mudahan nggak ada masalah ya Bi."
"Duduk sini Non atau Non mau Saya temani di kamar biar Non bisa sekalian istirahat?"
"Nggak usah Bi, di sini saja."
"Oh ya, bagaimana dengan kandungan Non Nayla? Apa yang Non rasakan sekarang?"
"Bayiku sudah mulai bergerak Bi, walau masih sesekali."
Betty dan Tisya yang mengintip dari balik tirai, terkejut mendengar tentang kehamilan Nayla. Mereka juga tidak percaya jika itu anak Damar.
Selama ini, kabar yang mereka dengar, Damar ditinggalkan oleh istri pertamanya karena mandul.
Ini kabar besar bagi mereka, lalu keduanya berjingkat pergi dari sana sebelum ketahuan.
__ADS_1
Mereka menuju kamar dan ingin menyampaikan kabar tersebut. Mereka yakin Carolina akan membayar mahal atas berita yang ingin mereka sampaikan.
"Cepat Bet, telepon Nyonya. Ini berita besar, duit...kita pasti terima duit banyak kali ini."
"Sabar, aku sedang mencari kontaknya."
Setelah menemukan nomor kontak Carolina, Betty segera melakukan panggilan. Tapi akhirnya dia kesal ponsel Carol tidak aktif.
Jelas saja tidak aktif, Carolina sedang tidak bisa berkutik. Suaminya tidak membiarkan dia keluar dari kamar hotel seperti yang dikatakannya tadi.
Carolina gelisah, dia berusaha mencari kesempatan membuka ponselnya. Kehamilan Nayla membuat hatinya semakin busuk, sudah ada rencana di kepalanya untuk membuat Nayla celaka.
Saat sang suami sedang di kamar mandi, Carol bergegas mengambil ponselnya yang ada di atas nakas, lalu buru-buru dia mengecek panggilan maupun pesan masuk.
Dia melihat banyak panggilan tak terjawab dari pembantu resek di rumah Damar. Kemudian Carol membaca pesan yang mereka kirim.
"Dasar pembantu bodoh, masa mereka baru tahu jika Wanita brengsek itu hamil, aku yang di luar rumah itu bisa mengetahuinya lebih dulu. Tapi aku akan memanfaatkan mereka untuk membuat anak haram dalam kandungan wanita brengsek itu mati," monolog Carolina.
Saat mendengar suara derit pintu kamar mandi, Carol buru-buru mematikan dan meletakkan kembali ponselnya.
Carol tidak mau sang suami menambah hukuman, mengurungnya lebih lama di hotel tersebut.
Dengan pura-pura mengantuk, Carol menolak halus permintaan Rendra yang menginginkan pelayanan darinya.
Rendra tidak peduli, dia menarik paksa Carol karena dia ingin mereka secepatnya mendapatkan keturunan lagi.
Untuk apa harta banyak jika tidak memiliki pewaris. Itu yang saat ini ada dalam pikiran Rendra.
Carolina kesal, akhirnya dia terpaksa pura-pura terbuai dengan permainan Rendra. Padahal yang dia pikirkan dan hayalkan saat ini adalah Damar yang melakukan hal itu terhadapnya.
Rendra merasa puas, lalu dia tertidur karena pertempuran melelahkan yang baru dia lakukan. Kesempatan ini kembali Carol gunakan untuk menghubungi pembantu resek kaki tangannya.
Carol berjingkat turun dari tempat tidur, menyambar ponsel serta handuk, lalu dia bergegas ke kamar mandi.
Dengan menyalakan kran air, dia berharap, Rendra tidak akan curiga jika dirinya melakukan panggilan.
Carolina menelepon Betty dan kedua pembantu resek itu senang, akhirnya lahan duit mereka sudah datang.
Belum lagi Betty berbicara, Carollina langsung melontarkan kata-kata pedasnya.
"Bodoh kalian! kenapa kabar besar dan penting begitu, baru sekarang kalian ketahui! Aku sudah tahu lebih dulu! Tapi kalian bisa tebus kesalahan dengan menjalankan misi dariku!" ucap Carolina.
"Maaf Bos, kami lengah, jadi baru tahu jika gadis kampung itu hamil. Pokoknya Bos jangan sampai kalah, kami yakin itu bukan anak Tuan. Dia pasti selingkuh, biar bisa hamil dan bertahan di rumah ini," ucap Betty yang sengaja memanasi Carolina.
"Oh ya Bos tugas apa yang harus kami lakukan? Dan bayarannya pasti sesuai 'kan Bos? sahut Tisya yang merebut ponsel dari tangan Betty."
__ADS_1
"Besok akan aku beritahu, sekarang aku tutup dulu. Ada hal lebih penting yang harus aku lakukan," kilah Carolina. Padahal dia takut ketahuan Rendra.
Bersambung....